Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Satu Paket


__ADS_3

Selama sakit, Dimas hanya menghabiskan banyak waktu di dalam kamar dengan berbaring dan bermalas-malasan. Sehingga tak ada pilihan lain bagi Amara selain menemani pria itu di sana.


Amel dan suaminya sudah bertolak ke Amerika sejak hari itu juga, meninggalkan tugas berat pada Amara untuk menjaga Dimas, putranya.


Seperti pagi itu, Dimas ogah-ogahan makan dan lebih suka bermain dengan laptopnya. Amara sendiri sampai kesal sebab Dimas sulit sekali dibujuk untuk makan. Terpaksa, Amara harus menggunakan jurus memelas untuk memaksa dengan alasan Amelia. Ia yakin jika Dimas tak kuasa untuk menolak lantaran khawatir gadis itu akan jadi bulan-bulanan mamanya kelak.


Aneh, bukan? Benci, tapi tak ingin aku disakiti.


"Cukup, Mar, gue udah kenyang," pinta Dimas saat Amara menyodorkan sendok berisi makanan ke mulutnya. Ia menggelengkan kepala dan menahan tangan Amara saat gadis itu bersikeras memaksanya.


"Sedikit lagi, Mas. Tanggung ini," ujar Amara beralasan sembari menunjukkan piring yang masih menyisakan sedikit makanan.


"Gue udah nggak sanggup lagi, Mar. Lidah masih berasa pahit, nggak enak banget buat makan."


Amara mendesah pelan. Padahal hari ini makanan yang ia ambil untuk Dimas benar-benar lebih sedikit dari biasanya, tetapi tetap saja pria itu tidak mampu menghabiskan. Lebih-lebih dengan pandangan memelas pria itu kepadanya, membuat Amara tak kuasa untuk memaksa.


"Ya udah deh. Tapi obatnya diminum ya," pinta Amara memberikan syarat. Dan Dimas mengangguk mengiyakan.


Amara tersenyum puas saat Dimas telah menelan semua obat yang diberikannya. Sementara Dimas sendiri hanya bisa mendengkus kesal lantaran hanya bisa patuh terhadap keinginan gadis di depannya.


Sejujurnya ia sudah sangat bosan berhubungan dengan obat-obatan. Bayangkan saja, tiga kali dalam sehari Amara memaksanya mengonsumsi banyak pil pahit itu. Andai bisa memilih, sejujurnya ia lebih baik tidak makan dari pada minum obat. Tetapi sialnya, justru lantaran tidak makan itulah ia jadi masuk rumah sakit dan bertemu dengan obat-obatan itu. Bahkan ia tidak diperbolehkan minum obat tanpa lebih dulu makan. Huh, benar-benar sebuah kaitan yang terjalin sangat erat. Dan itu membuat Dimas makin tak bersemangat.


Jika bukan karena gadis di depannya, mungkin Dimas sudah membuang obat itu tanpa mau meminumnya. Jika mengingat asal muasalnya sakit ia jadi ingin tertawa.

__ADS_1


Jika ada pakar logika yang mau menganalisa dirinya, mungkin orang itu akan mengklaim dirinya sudah gila. Bayangkan saja, mana ada manusia waras yang ingin sakit hanya untuk melancarkan sebuah tujuan.


Di saat semua orang mengatakan sehat itu mahal, Dimas justru rela menggadaikan kesehatannya demi mendapat simpati sang pujaan hati. Untung saja rencananya tepat sasaran. Coba kalau gagal, bisa benar-benar gila dia.


"Lo keluar, sana," usir Dimas sambil mengedikkan dagunya. Gue lagi pengen sendirian."


Amara mengangguk. Ia tahu Dimas sedang ingin fokus dengan pekerjaannya yang sempat terbengkalai akibat sakit yang ia derita. Terhitung sudah dua hari ini pria itu membuka laptopnya dan mulai melanjutkan sebuah rancangan di sana.


Tanpa banyak kata, Amara mulai menata peralatan makan kotor bekas makan Dimas. Namun, saat itu tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar hingga memaksa keduanya menoleh ke arah sana. Lebih terkejut lagi rupanya yang muncul adalah sosok Naura yang tampil sangat cantik dengan balutan dress warna hitam tanpa lengan dengan panjang sebatas lutut.


"Dimas ...." Gadis itu menyapa lembut selagi berjalan mendekat.


Sapaan hangat Naura itu rupanya berbanding terbalik dengan sambutan yang didapatnya. Alih-alih menyambutnya dengan hangat dan sopan, Dimas justru mendengkus kesal sembari melontarkan pertanyaan menyakitkan.


"Ngapain lo ke sini!"


Naura sendiri tak langsung menjawab pertanyaan Dimas akan tujuan kedatangannya. Namun, ia melirik ke arah Amara sejenak dengan ekspresi tidak nyaman sebelum kemudian melontarkan sebuah pertanyaan.


"Dim ... bisakah kita bicara berdua saja?"


Amara bukanlah gadis bodoh yang tak mengerti maksud perkataan Naura. Pertanyaan Naura itu secara tidak langsung telah menyuruh Dimas untuk mengusirnya dari sana.


Amara cukup tahu diri ia bukan siapa-siapa sekalipun hatinya terasa perih seperti disayat-sayat, sehingga ia buru-buru pamit undur diri sebelum Dimas benar-benar mengusirnya utama yang kedua.

__ADS_1


"Silahkan ngobrol, Mbak. Dienakin aja. Aku juga udah mau keluar, kok."


Hal di luar dugaan kembali terjadi. Tangan Amara yang hendak mengambil nampan di nakas mendadak terasa berat. Itu karena Dimas menahannya sebelum kemudian pria itu berucap padanya penuh penekanan.


"Tetap di sini dan jangan pergi."


Maksudnya?


Amara menatap Dimas dengan ekspresi penuh tanya. Bingung juga. Barangkali saja indera pendengarannya mengalami gangguan hingga ia salah dengar.


"Mau ngomong ya ngomong aja, Naura," kata Dimas dengan nada yang melemah tanpa melepaskan pegangan tangan pada pergelangan Amara. Sangat erat, seolah-olah tak ingin membiarkan gadis itu meninggalkannya.


"Tapi Dimas–"


"Tapi apa, Naura?" potong Dimas dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. "Ada Amara atau tidak buat aku sama aja. Tapi buat aku sih lebih baik dia ada. Soalnya apa? Kita itu satu paket. Belahan jiwa. Apa yang aku tau Amara harus tau juga."


Kata-kata Dimas itu bukan hanya mampu menyakiti hati Naura, tetapi juga sukses membuat Amara membelalakkan mata. Apa maksudnya coba? Tadi mengusirnya, tapi sekarang nggak mau ditinggal, bahkan bilang kalau mereka itu belahan jiwa.


Amara nyaris melambung tinggi andai kata lupa jika ini adalah upaya Dimas untuk memanas-manasi mantan pacarnya. Jujur ia kecewa lantaran merasa dimanfaatkan. Tetapi seharusnya dia patuh karena mungkin ini demi kebaikan Dimas. Namun, melihat mata berkaca-kaca Naura yang begitu jelas menunjukkan luka menganga, kok Amara jadi tidak tega ya.


Buru-buru saja Amara menarik tangannya dan berusaha melepaskan diri dari cekalan Dimas. Sementara Dimas justru kian mengeratkan genggaman.


"Mas, lepas. Biarkan aku keluar. Alangkah baiknya masalah kalian ini kalian bicarakan berdua!" pinta Amara setengah memohon sembari terus menarik tangannya. Ia benar-benar kesulitan sebab Dimas sepertinya tak mau melepaskan.

__ADS_1


Namun, lagi-lagi Dimas membuat gebrakan yang sukses membuat dirinya tercengang sekaligus mabuk kepayang.


"Kalau aku bilang tetap di sini itu artinya jangan pergi, Sayang! Kamu tau aku nggak mau dibantah, kan?"


__ADS_2