Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Cowok nggak peka


__ADS_3

Melihat Amara mengerutkan kening, Dimas tahu gadis itu sedang berpikir. Ia sengaja memilih pergi secepatnya tanpa memberi waktu untuk berpikir lama. Sebab ia bisa menebak gadis itu akan mengambil keputusan apa.


Dari kaca spion mobilnya, Dimas melihat Amara melambaikan tangan begitu mobilnya melaju kencang. Jelas ia terpingkal. Pura-pura saja tidak dengar. Melihat gadis itu kelimpungan benar-benar mengasyikkan. Sedikit siksaan demi kebahagiaan, bukankah itu menyenangkan?


Dimas kembali terbahak melihat Amara melepas sepatunya, lalu kembali berlari. Entah sedang mengumpat atau mengomel ketika gadis itu mengacungkan sepatunya.


"Haha rasain. Siapa suruh pake ngambek!"


Dimas sontak menginjak pedal rem ketika melihat Amara terduduk di aspal. Gadis itu terlihat memijat kaki kirinya.


"Tuh anak ngapain? Masa lari segitu doang kakinya udah terkilir?" gumamnya heran.


Tanpa pikir panjang, gegas Dimas memundurkan mobilnya demi untuk menjemput Amara. Ia merasa sudah cukup mengerjai gadis itu.


Amara yang melihat mobil Dimas kembali tampak merubah posisi menjadi bersila. Ia mendengkus sebal, lalu menatap mobil itu dengan wajah sinisnya.


"Woy, lo ngapain wirid di situ? Subuh tadi lupa atau gimana, heum?" Dimas berkelakar selagi keluar dari mobilnya. Ia lalu berlari kecil mendekati perawatnya, dan berjongkok tepat di depan gadis itu.


"Puas, Mas Dimas ngerjain aku!" Amara menggeram.


"Siapa yang mau ngerjain, lo! Yang nggak mau diajak tadi siapa coba? Yang sok-sok'an jual mahal siapa?" Jari Dimas menunjuk wajah Amara. Sedetik kemudian ia menunjukkan seringai penuh kemenangan, lalu tertawa saat Amara buang muka.


Melihat Amara tak bersuara, jelas saja Dimas jadi keheranan. Ia memiringkan kepala demi dapat memandang wajah gadis itu. Sikap Amara yang ogah-ogahan menunjukkan muka membuat Dimas mulai tak nyaman. Ia menyentuh bahu gadis itu dan memanggilnya dengan lirih.


"Mar, lo nggak papa, kan?" tanyanya khawatir.


"Pergi sana!" Amara menepis tangan Dimas.


"Loh, kok marah-marah! Salahku apa?"


Amara kian sebal. Sudah jelas-jelas pria itu berniat mengerjainya, tetapi masih berkelit juga. Dasar cowok nggak peka!


"Mau ke rumah sakit, nggak? Aku antar, yuk." Dimas berusaha membujuk. Ia menunjukkan senyum semanis gula.


"Nggak jadi. Biar aja laporan itu nggak usah diserahkan." Amara berucap tanpa memandang Dimas.


"Cie cie, berarti kamu pengen rawat aku seumur hidup, dong."

__ADS_1


Amara sontak mendelik mendengar Dimas menggodanya. "Dih, amit-amit," balasnya sambil memutar bola mata malas.


Lagi-lagi Dimas terbahak. "Iya, iya. Yang lo cinta itu Juan." Dimas tersenyum tulus.


Amara hanya menanggapinya dengan dengkusan.


"Kaki lo sakit ya. Sini aku pijitin."


Amara hanya bisa mendelik saat Dimas tiba-tiba menarik kaki kirinya. Layaknya tukang urut profesional, pria itu memijat kakinya–yang sebetulnya hanya kram–dengan penuh perasaan.


"Napa lo bengong gitu? Pasti keenakan." Tanpa memandang Amara, Dimas berucap dengan nada mengejek. "Malah melotot, lagi. Yuk, ah berangkat. Keburu telat."


"Eh, Mas nggak usah. Aku bisa sendiri." Amara berusaha mempertahankan saat Dimas mengambil alih sepatu dari tangannya.


"Nggak papa."


Mengabaikan penolakan Amara, Dimas bersikukuh ingin memakaikan sepatu perawatnya. Amara yang tak bisa berbuat banyak hanya bisa bersikap patuh. Ia sengaja meluruskan kaki untuk mempermudah pekerjaan Dimas.


Dengan telaten, pria itu memasangkan sepatu Amara. Ia melakukannya dengan senang hati tanpa maksud apa-apa. Setelah selesai, Dimas segera bangkit. Ia setengah membungkukkan badan lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Amara berdiri.


"Aku bisa sendiri, Mas." Merasa tak enak hati, Amara berusaha menolak bantuan Dimas kali ini.


Mau tak mau, Amara pun menyambut uluran tangan pemuda itu. Dengan bantuan Dimas, ia berusaha berdiri tegak.


"Kakinya masih sakit? Apa perlu gue gendong?" Sambil memeriksa kaki Amara, Dimas kembali bertanya demi untuk memastikan.


Amara mencebik. Bukannya menjawab dengan benar, gadis itu malah terkesan meremehkan.


"Gegayaan mau gendong. Padahal juga entar aku dijatuhkan."


"Heh, lo ngeremehin gue! Lo pikir gue nggak kuat gendong badan lo yang mungil itu?"


"Bukan! Bukan beg–" baru hendak menyangkal, tubuh Amara sudah berpindah ke gendongan Dimas. Tentu saja gadis itu berontak karena ketakutan dan tak menyangka. "Mas, turunin nggak! Aku takut jatuh!" teriaknya penuh peringatan. Amara menggoyang-goyangkan kakinya, sedang pandangannya menatap ngeri ke arah bawah. Melihat bagaimana selama ini Dimas sering sekali mengganggunya, bukan tidak mungkin kali ini pria itu akan benar-benar menjatuhkan tubuhnya ke jalanan.


"Bisa diam, nggak!" Dimas menekan kata-katanya, sedang matanya menatap Amara dengan sorot tajam.


Benar-benar ketakutan, Amara menelan ludah dengan susah payah. Kini ia tak berani bersuara pun bergerak. Hanya tangannya yang mau tak mau memperkuat pegangan pada bahu Dimas demi keselamatan. Ia hanya diam dan pasrah ketika Dimas membawanya menuju mobil.

__ADS_1


"A–aku bisa masuk sendiri," lirih Amara ketika Dimas berhenti di samping mobil.


"Buka pintunya," titah Dimas, mengabaikan perkataan Amara barusan.


Tak ada yang bisa Amara lakukan selain patuh mengikuti keinginan Dimas. Tangan kirinya kemudian bergerak menarik tuas pintu.


Usai mendudukkan Amara dan menutup pintu bagian penumpang, Dimas berjalan mengitari mobil dan kemudian duduk di balik kemudi. Derit yang berasal dari ponsel yang tersimpan di sakunya memaksa pria itu untuk membuka.


Melihat ekspresi Dimas yang mendadak berubah serius, tak urung membuat Amara penasaran.


"Kenapa Mas? Ada masalah?" tanya gadis itu kemudian.


"Nggak ada yang serius, kok. Cuma kayaknya rencana ketemuan sama Juan diundur dulu. Tiba-tiba Baskoro manggil gue buat datang ke kantor," jelas Dimas. Ia kemudian mengetik pesan balasan untuk asistennya dan setelah itu memulai perjalanan.


Kelihaian Dimas dalam berkendara memang tak bisa diragukan lagi. Perjalanan yang harusnya ditempuh dalam waktu setengah jam, di tangan Dimas hanya memakan waktu separuhnya. Amara bahkan harus menahan napas karena ngeri dengan cara menyetir Dimas. Dan ketika mobil telah memasuki area rumah sakit, barulah Amara bisa bernapas lega.


Turun dari mobil dan menutup kembali pintunya, Amara tersenyum pada Dimas yang masih setia memandangnya.


"Makasih ya, Mas, udah antar aku," ucap gadis itu tulus.


"Iya," jawab Dimas. "Entar baliknya jam berapa?"


"Emmm, belum tau. Tergantung situasi. Memangnya kenapa?" Amara balik bertanya dengan posisi tubuh setengah membungkuk. Demi bisa melihat ekspresi Dimas dengan jelas.


"Entar gue jemput lagi."


"Ih, nggak usah."


"Nggak papa."


"Nanti merepotkan."


"Enggak."


"Ya, udah." Amara mengangguk lemah.


"Entar telpon kalau udah mau balik, ya."

__ADS_1


"Oke." Amara mengacungkan jempolnya. Gadis itu masih berdiri di tempat hingga mobil Dimas hilang dari pandangan. Ia mendesah pelan, sebelum kemudian berbalik badan dan beranjak dari sana.


__ADS_2