
POV : Dimas
Bersyukur. Itulah yang gue rasakan setelah tahu bagaimana sifat Naura yang sebenarnya. Ketika seharusnya bibir gue menyerukan kata-kata kecewa dengan lantang, hati ini justru merapalkan kalimat syukur sebab Allah telah membukakan mata dan hati untuk melihat dengan gamblang.
Gue bukannya nggak tau, bahwa menaruh harapan pada sesama manusia merupakan awal dari patah hati, bahwa mempercayai manusia seutuhnya adalah awal dari kecewa. Hanya saja, terkadang manusia sering dibutakan oleh cinta, hingga terjatuh di tempat yang sama untuk kesekian kalinya.
Gue dengar semuanya. Gue dengar dengan jelas bagaimana Naura mengungkapkan kebobrokannya. Gue juga dengar bagaimana Naura ngebodohin gue layaknya kerbau dungu yang nggak punya perasaan. Seketika itu juga rasa cinta yang besar langsung berubah jadi benci luar biasa. Segampang itukah? Ya, itulah nyatanya. Rupanya gue baru sadar, cinta gue terhadap Naura sebenarnya telah memudar. Entah sejak kapan.
Namun, yang lebih bikin gue tersiksa bukanlah rasa benci itu sendiri melainkan rasa takut luar biasa. Bahkan kebencian terhadap Naura tak sebesar ketakutan yang gue rasa. Gue takut Naura akan berbuat nekat. Gue takut Naura bakal nyakitin Amara. Dan ketakutan paling hebat gue adalah kehilangan Amara selamanya. Maka ketika itulah gue memutuskan untuk berpura-pura tak mendengar apa-apa. Bersikap bodoh seperti orang tak tahu apa-apa, padahal di balik itu gue lagi nyusun sebuah rencana. Nggak masalah gue pura-pura bodoh. Toh, gue pernah merasakan jadi orang yang benar-benar bodoh ketika sempat memilih mati demi orang seperti Naura.
Hahaha, pada akhirnya gue mikir, untuk orang yang pernah bikin seseorang kecewa dan sakit hati layak diberikan ucapan terima kasih sebagai apresiasi. Sebab apa? Karena dialah jiwa gue jadi lebih kuat dari sebelumnya. Bisa mengambil pelajaran dan pengalaman. Dan yang pasti, sebab dialah sosok Amara itu datang.
Dari sini gue belajar untuk bersikap lebih dewasa. Nggak perlu menyesali apa yang udah dialami. Toh, banyak hal yang baik yang lahir dari sebuah luka. Begitu pula kebahagiaan yang hadir setelah kecewa. Hidup tak selamanya harus baik dan bahagia. Terkadang kita perlu mendapat tempaan sebagai proses pendewasaan.
Hari itu gue benar-benar merasa lelah hati. Di hari yang sama gue dapat tekanan batin bertubi-tubi. Tak cukup mengetahui fakta tentang Naura, bahkan Juan tiba-tiba muncul bawa fakta mengejutkan pula tentang Amara. Dan dari situlah, rencana yang gue susun telah dimulai.
Gue bikin Amara merasa bersalah hingga gue punya alasan kuat buat ninggalin dia. Gue tahu, Amara bukanlah gadis yang gampang nyerah gitu aja sebelum berusaha. Gue udah bisa pastikan Amara bakal datang ke kantor buat minta maaf, jadi gue sengaja bawa Naura ke kantor buat pastiin gadis sialan itu ada ketika Amara tiba.
Tepat sasaran. Gue nggak perlu berbohong dan ngejelasin pada Naura panjang lebar, sebab gadis itu lihat sendiri dengan mata kepalanya bagaimana gue nolak Amara sampai-sampai ngusir istri yang gue cinta tanpa perasaan. Mungkin saat itu Naura terlihat iba pada Amara, tapi gue yakin, dalam hatinya Naura tengah bersorak bahagia.
Kalian tau, bagian mana yang paling nyesek di hidup gue? Yup, ketika lihat air mata Amara. Sumpah, gue nggak tega. Kalau aja ini bukan karena misi buat ngeyakinin Naura, gue bakal langsung minta maaf sama Amara, gue bakal langsung peluk dia, bahkan kalau perlu nangis sejadi-jadinya di depan dia. Bodo amat dengan rasa malu, yang jelas gue pengen dia tau kalau gue benar-benar cinta.
Nah, ketika gue lagi pusing mikirin cara buat ngebongkar aib Naura, tiba-tiba ponsel yang gue taruh di sebelah kanan meja kerja berdering dan memunculkan nama Bella sebagai penelpon. Bella adalah manager Naura sebagai model, yang memang ke mana-mana selalu dampingi Naura ketika bekerja.
"Dim, lo bisa ke rumah sakit sekarang, nggak?" Nada bicara Bella terdengar sangat cemas dari ujung telepon. "Naura tiba-tiba jatuh dari tangga dan mengalami perdarahan hebat. Naura nggak sadarkan diri, Dim. Gue bingung harus ngelakuin apa. Orang tuanya ada di luar negeri sekarang, jadi cuma lo yang bisa gue andalkan."
"Oke, oke. Gue ke sana sekarang."
Tanpa pikir panjang, gue langsung meluncur ke sebuah rumah sakit yang disebutkan oleh Bella. Kebetulan rumah sakit itu bukanlah tempat kerja Amara. Naura sengaja dilarikan ke rumah sakit terdekat demi keselamatan gadis itu sendiri.
Sesampainya di sana, gue lihat Bella lagi mondar-mandir sambil gigit ujung telunjuknya. Gadis berambut pirang itu kelihatan cemas banget. Dan gue yang notabenenya adalah kekasih Naura, jelas harus pasang muka lebih sedih sebagai penyempurna sandiwara.
"Bell, apa yang terjadi sama Naura?" Gue nanya sambil megang lengan Bella dengan wajah mode panik.
Bella yang semula kelihatan kebingungan langsung lega pas lihat gue datang. Setelah menjauhkan jari telunjuk dari mulutnya, dia lantas buru-buru jawab dengan tatapan cemas.
"Dim, gue nggak ngerti kejadiannya kayak gimana. Tapi kata crew pemotretan yang lihat, Naura jatuh akibat keteledoran dia sendiri. Dia jalan sambil main ponsel, sementara high heels-nya sangat tinggi! Dim–" Tak melanjutkan perkataannya, Bella justru menggigit bibir bawah. Gadis itu seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi seperti tercekat. Mungkin khawatir akan reaksi gue.
__ADS_1
Meski sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Bella, gue yang pura-pura tak tahu apa-apa, berpikir perlu nanyain hal itu. Maka, masih dengan ekspresi wajah panik, gue mengguncang bahu Bella dan kemudian mendesak gadis itu untuk bicara.
"Bell, kenapa malah diam?"
"Kata dokter ... anu. Kata Dokter–"
"Bell, ngomong yang jelas, dong! Gue nggak ngerti maksud lo apa!" desak gue lagi sebab Bella justru malah garuk-garuk kepala.
"Kata dokter ... Naura mengalami keguguran, Dim. Apakah janin yang dikandung Naura itu adalah bayi lo?"
***
Pada sebuah kursi yang terletak di sisi ranjang pasien, gue duduk di sini sambil lihatin Naura yang masih terbaring tak sadarkan diri dengan balutan pakaian pasien. Gue emang sengaja nggak akan melewatkan momen ini gitu aja. Momen di mana gue lihat dia membuka mata, di mana gue lihat dia kepanikan menyadari keadaannya, dan kemudian kaget karena pada akhirnya keburukannya terbongkar dan bikin gue tau semuanya.
Sudah lebih dua jam gue dalam posisi ini. Bersedekap dada dengan mata tak bergeser dari sosok Naura. Harusnya gue iba lihat dia terbaring lemah dengan wajah pucat dan jarum infus terpasang. Harusnya gue iba karena orang yang kucinta sedang tak memiliki daya. Tapi faktanya gue justru bahagia dan lega. Lega, sebab sebentar lagi semuanya akan segera berakhir.
Gue melebarkan bola mata ketika anggota tubuh Naura mulai menunjukkan pergerakan. Jarinya berkedut di susul kelopak mata yang terbuka sebelum kemudian mengerjap-kerjap.
Bola mata sayu itu menatap langit-langit kamar sebelum kemudian bergerak memutar dan berakhir menatapku.
"Kamu ada di rumah sakit, Naura."
"Hah?" Dia tampak terkejut, kemudian memejamkan mata seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Kau terjatuh dari tangga hingga tak sadarkan diri, kemudian Bella berinisiatif membawamu ke sini."
Gue bantu dia mengingat semuanya, dan berhasil. Naura sontak berjingkat seperti menyadari sesuatu hal. Tiba-tiba saja dia meringis sembari memegangi perut bagian bawah, kemudian natap gue dengan ekspresi penuh tanya.
"Kamu mengalami perdarahan hebat. Kamu keguguran hingga dokter terpaksa mengangkat rahim agar kau bisa selamat."
"Apa? Rahimku diangkat? Itu artinya ...."
Naura tak melanjutkan kata-katanya. Matanya kemudian berkaca-kaca, dan tak lama kemudian isak tangis lolos begitu saja dari bibirnya.
"Dimas ... aku bisa jelaskan semuanya."
"Nggak perlu." Gue berucap datar. "Aku cukup tahu, setelah semua yang kulakukan, hanyalah kekecewaan yang kudapatkan."
__ADS_1
"Dimas ... aku minta maaf. Aku benar-benar cinta sama kamu! Leo udah ngejebak aku!"
"Aku maafin kamu, Naura."
Mata Naura melebar penuh harap ketika gue bilang gitu. Mungkin dia berpikir tinggal bikin gue iba maka gue akan balik nerima dia. Tapi kenyataannya itu cuma jebakan biar dia terbang melayang sebelum kemudian gue empaskan hingga ke dasar jurang.
"Kamu maafin aku, Dimas? Kamu menerima kesalahanku?"
Gue ngangguk.
"Ya. Aku maafkan kesalahanmu."
"Dimas ... aku tahu kalau kamu pria yang baik dan penyayang. Kamu pasti akan tetap mencintaiku meski aku tak bisa memberimu keturunan, bukan?" Naura berucap penuh haru sambil raih jemari gue dan genggam dengan erat. Tapi buru-buru gue lepas dengan ekspresi wajah datar tanpa emosi. Naura terperangah, dan menatap gue dengan ekspresi kebingungan.
"Memaafkan bukan berarti bersedia bersama lagi, bukan?" ucap gue dengan maksud tersirat yang sukses bikin mata Naura membeliak.
"Maksud kamu?" tanya Naura seolah-olah tak mengerti.
"Sejak aku tau kamu hamil dengan orang lain, maka sejak saat itu pulalah kau bukan kekasihku lagi." Gue berucap dengan nada pelan tetapi penuh penekanan. "Aku sangat kecewa. Aku sangat terpukul. Aku telah memberikan segalanya tapi balas itu dengan luka."
"Aku tahu, kau begini karena Amara, kan? Karena gadis itu, kan!" Bukannya mengakui kesalahan, Naura justru mengkambing hitamkan Amara.
"Bukan." Gue jawab dengan nada datar. "Bukankah kamu lihat sendiri bagaimana gue usir dia dari kantor dan ninggalin dia dari rumah. Itu ganjaran bagi wanita yang udah bikin aku kecewa! Ini semua nggak ada sangkut pautnya dengan Amara. Semua ini nggak akan terjadi kalau kamu tetap setia dan menjadikan aku satu-satunya. Aku nggak habis pikir, gimana bisa kamu nggak mandang seberapa besar pengorbananku. Aku hanyalah anak durhaka yang menentang keinginan orang tuanya. Pernahkah kamu hargai itu?"
Naura menggeleng cepat di sela isak tangisnya.
"Itu nggak benar, Dimas. Itu nggak benar!"
"Maaf. Aku harus pergi, Naura. Aku minta jangan pernah menyalahkan Amara sebab ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan dia."
"Dimas!" Naura nahan gue yang hendak beranjak dengan mencekal pergelangan tangan. "Aku tau aku ini orang jahat! Aku orang kotor yang berlumuran dengan dosa. Aku memang sampah. Tapi jika kau memang mencintaiku, bukankah tidak ada salahnya jika tetap mendampingiku dan menuntun ke jalan yang benar? Apalah aku tanpa kamu, Dimas? Aku benar-benar butuh kamu? Kamu lihat keadaanku sekarang ini, kan?"
Gue cuma tersenyum hampa sambil lepasin tangan dia.
"Naura ... dengarkan aku, ya." Gue berucap lembut sambil tatap matanya lekat-lekat. "Seburuk apa pun masa lalu kamu, sekotor apa pun noda melekat, kau tetaplah manusia dan bukan sampah. Setiap orang pasti punya pengalaman buruk, tetapi percayalah ... jika kelak akan datang seseorang yang bisa menerimamu apa adanya, merangkul bahumu dan menjadi penyemangat hidupmu lagi. Berhati sabar dan membimbingmu ke jalan yang benar. Tapi ... yang jelas itu bukan aku."
Antara tega dan nggak tega, gue benar-benar ninggalin Naura yang tergugu pilu di tempatnya. Dan gue pastikan sejak saat ini, semua cerita tentang kami berdua telah berakhir untuk selama-lamanya.
__ADS_1