
Keluar dari bilik shower, Dimas yang hanya memakai handuk di bagian bawah tubuhnya berjalan menuju washtafel. Tangan pria itu sesekali bergerak mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Berdiri menghadap cermin, Dimas menatap wajahnya yang tampak segar setelah mandi. Sesekali ia bergaya sambil menegakkan dagunya dengan bangga memiliki wajah tampan dan nyaris sempurna.
Namun begitu melihat dagunya, ia mengernyitkan kening sambil mendekatkan wajahnya ke arah kaca. Ada bulu-bulu halus yang mulai tumbuh di sana dan itu sangat mengganggunya.
Dimas yang hendak mencukur bulu janggutnya tiba-tiba teringat akan Amara. Untuk apa mencukurnya sendiri jika masih ada gadis itu? Pemikiran itu tiba-tiba hinggap di kepalanya.
"Ah benar juga," ucap pria itu sambil menyeringai penuh arti.
***
Amara masih berkutat di kamar Dimas. Membereskan ranjang yang tadinya berantakan dan sebagainya. Ia mengabaikan begitu saja saat Dimas keluar dari kamar mandi dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Hooaaaam," Dimas menguap selagi melangkah menuju ranjang dan hal itu berhasil menarik perhatian perawatnya.
Amara yang saat itu tengah merapikan sprei sontak menatap Dimas dengan raut wajah keheranan. Lelaki itu seolah sengaja mempersulit pekerjaannya.
Apalagi yang bisa dilakukannya saat tubuh lelaki itu justru menghalangi, selain menegakkan punggung, mendesah pelan lalu berkacak pinggang. Tatapan heran tak urung tertuju pada pria itu.
"Mas Dimas bukannya udah mandi? Lalu kenapa masih mengantuk?" tanya Amara kemudian. Tentu saja ia merasa heran, sebab pria itu sudah terlihat rapi dengan rambut setengah basah, tapi mengapa masih menguap dan bahkan kembali berbaring di atas ranjang. Bukankah orang yang sudah mandi pasti tubuhnya akan segar dan bugar serta bebas kantuk?
"Lo nggak lihat bulu jenggot gue mulai tumbuh?" Tanya dijawab tanya. Dimas mengatakan itu sambil berbalik miring dan memeluk bantal guling.
Yang membuat Amara sebal, lelaki itu memasang wajah tak bergairah. Entah apa lagi yang direncanakannya untuk melancarkan aksi penolakan berjemur.
"Loh, apa hubungannya bulu jenggot sama ngantuk?"
Dimas langsung menatap Amara dengan posisi tangan menopang kepala.
"Lo nggak tau aja. Gue gampang ngantuk kalau bulu jenggot gue mulai tumbuh ...!"
"Ah, masa iya?"
"Ih nggak percaya."
__ADS_1
"Iya, lah. Orang aneh. Aku malah baru dengar ini."
"Itu karena gue yang ngalamin. Kan barusan gue ceritain. Kecuali lo punya jenggot sendiri, pasti lo juga ngalamin."
"Ih, aku kan perempuan!" sahut Amara dengan nada memprotes. Sedangkan Dimas malah tergelak.
"Oh lo cewek, rupanya?"
Amara langsung membelalak. "Maksud Mas Dimas apa ngomong gitu?"
"Nggak papa." Pria itu menjawab dengan enteng, dan seketika membuat kekesalan Amara langsung mencuat.
"Mas! Jelek-jelek gini aku juga wanita, tau!"
"Hahaha, sorry ya. Selama ini gue nggak pernah liat lo sebagai wanita."
"Ah, terserah. Yang pasti Mas Dimas nggak jadiin ini sebagai alasan untuk menghindar dari berjemur, kan?"
"Mau--"
"Tapi, lo harus cukurin jenggot gue."
"Hah?" Amara membelalakkan mata. "Nyukur jenggot? Ih, nggak mau! Cukur saja sendiri." Amara bersedekap dada dan memalingkan muka sambil menggembungkan pipinya.
"Ya, udah. Kalau gitu gue tidur lagi aja."
Sontak Amara menatap Dimas sambil membelalakkan mata. Tiba-tiba ia teringat pada isi surat kontrak kerjanya. Di sana mengatakan jika keputusan Dimas tak pernah salah. Ih, bener-bener ya! Kalau begini, mau tak mau harus aku yang lebih dulu mengalah. Ah, menyebalkan!
Mendengkus, Amara kemudian melepas lipatan tangannya dan bergerak mengguncang tubuh Dimas untuk membangunkan.
"Mas, bangun! Ayo deh, aku cukurin jenggotnya ... tapi Mas Dimas harus berjemur, ya." Amara berucap seperti menjalin kesepakatan dengan anak kecil.
Dimas terseyum penuh kemenangan dan sontak melenting bangun.
"Sepakat." Pria itu berucap mantap lalu tertawa senang. Sedang ekspresi sebaliknya justru ditunjukkan oleh Amara.
__ADS_1
***
Amara mulai membubuhkan krim cukur pada bagia wajah Dimas yang mulai ditumbuhi bulu halus. Dengan sangat hati-hati ia melakukannya, tentu saja untuk menjaga agar tidak membuat pria itu marah dan berubah pikiran.
Saat hendak mulai menempelkan alat cukur pada dagu Dimas, Amara justru berjingkat sebab Dimas tiba-tiba menguap. Tentu saja gadis itu terkejut karena Dimas mendadak buka mulut.
Tidak ditutup pula, apa mungkin dia sengaja Ingin menggigit tanganku? Pikiran buruk sangka akhirnya berkeliaran juga di benak Amara.
Duduk pada kursi santai di balkon kamarnya, Dimas yang selonjoran dengan posisi punggung setengah baring membuat pria itu terlihat nyaman merebahkan tubuhnya. Matanya yang terpejam juga ditutupi kaca mata hitam. Tentu saja untuk menghindari kontak langsung dengan Matahari.
Mengernyit sambil menatap heran pada Dimas, Amara memulai mencukurnya saat merasa pria itu sudah diam tenang. Gadis berjilbab itu bahkan berpikir si pasien sudah terlelap dan berkelana ke alam mimpi.
Pelan-pelan dan sangat hati-hati Amara menggoreskan alat cukur itu. Selain agar Dimas tak terluka, juga agar tidur pria itu tak terganggu. Gadis itu bahkan mendekatkan wajahnya supaya pandangannya semakin lebih jelas.
Sejenak Amara tertegun menatap wajah itu. Dengan jarak sedekat ini, wajah Dimas bahkan tetap terlihat halus dan mulus setelah dicukur, bahkan bersih tanpa noda.
Kok bisa, sih, wajahnya mulus seperti wanita? Pikiran liar tiba-tiba merasuk di kepala Amara.
Gadis itu bahkan baru menyadari jika Dimas sesungguhnya sangat tampan. Hidungnya yang tinggi, bibirnya yang kemerahan, bahkan garis tegas di rahangnya. Dengan tubuh proporsionalnya, sepertinya tak ada wanita yang menyangkal pesona dari pria ini.
Namun bagi Amara, tetap Juan saja yang selalu ada di hatinya. Ia bahkan tak bisa jamin ada orang lain yang mampu menggeser posisi pria itu pada ruang terdalam di sanubarinya.
"Kenapa? Terpesona sama gue ya?"
Amara sontak membelalak saat tiba-tiba Dimas mengeluarkan suara. Gadis itu mengerjap kecil lalu menatap pria yang terbaring di bawah tubuhnya itu penuh selidik.
Apa? Kok dia ngomong? Apa dia ngelindur? Bukannya tadi dia mendengkur?
Demi memastikan kebenarannya, Amara memberanikan diri untuk membuka kaca mata pria yang sejak tadi hanya diam tak bergerak sambil bersedekap dada itu ... dan, gubrak! Gadis itu terlonjak mendapati Dimas yang ternyata membuka mata. Bahkan menyeringai puas melihat wajah Amara yang langsung merona merah.
Karena gugup, Amara sontak menarik langkahnya untuk mundur. Namun karena ia lupa di belakangnya terdapat kursi kecil, ia pun tanpa sadar mendudukinya. Dengan posisi tubuh yang tak imbang membuat gadis itu pun limbung jungkir balik ke belakang karena saking gugupnya.
Tak ayal, adegan terjatuh Amara itu mengundang gelak tawa Dimas yang hanya melihat ujung kaki Amara dari tempat baringnya.
Bersambung
__ADS_1