Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Terlalu pemalu


__ADS_3

Diana mengerutkan keningnya penuh tanda tanya ketika menoleh pada Amara. Entah Amara membiarkan saja ponselnya berderit di atas meja karena beberapa kali mendapatkan panggilan. Gadis itu melirik sekilas untuk melihat sang pemanggilan, lalu mendesah pelan dan kemudian bersikap abai dengan melanjutkan kembali kegiatannya yang saat itu tengah mengisi laporan.


Diana sendiri yang saat itu duduk di kursi sebelah Amara, hanya bisa memperhatikan gadis itu dengan penasaran. Tak biasanya Amara bersikap demikian.


"Mar, handphone kamu bunyi lagi, tuh. Dari siapa sih? Kok dibiarin aja dari tadi," tegur Diana dengan nada sopan. Seketika Amara menghentikan kegiatannya, balik menatap Diana, lalu menyunggingkan senyum rikuh kepadanya.


"Dari suami, Mbak," jawab Amara sambil mengambil ponselnya. Ia bukannya langsung menerima panggilan, malahan hanya menggenggamnya untuk menyembunyikan layar ponsel itu dari pandangan Diana. Sebab, nama dan foto profil Dimas yang tampan terpampang jelas di sana.


"Kalau dari suami kok dibiarin aja? Angkat lah, siapa tau ada yang penting."


Amara menunduk sambil menggeleng. Pipinya juga terlihat sedikit menggembung.


"Nanti aja aku angkat setelah pekerjaanku selesai. Dia memang gini. Suka usil kalau aku lagi sibuk," aku Amara sambil tersenyum malu ke arah Diana.


"Cie cie ... romantis banget. Dia maunya diperhatikan terus, tuh," goda Diana sambil tertawa pada Amara. Sedangkan Amara sendiri hanya tersenyum getir menanggapinya.


Romantis? Boro-boro, Mbak. Yang ada aku merasa tertekan dengan sikap pemaksa Mas Dimas akhir-akhir ini.


"Mar, suami kamu tuh siapa sih? Ada fotonya, nggak? Asli, aku penasaran." Diana memutar posisi tubuhnya, menghadap tepat ke arah Amara dan menatap gadis itu dengan ekspresi wajah serius.


Amara tersentak. Seketika ia menyadari kesalahannya. Bisa-bisanya ia keceplosan bercerita tentang suami walau hanya sedikit saja. Meskipun itu pada Diana, wanita baik yang menganggapnya adik, tapi tetap saja itu tidak dibenarkannya.


Bagaimana jika wanita itu penasaran sampai-sampai nekat mencari-cari informasi sendiri tentang suaminya? Ya kalau pernikahan dia dengan Dimas nantinya bakal langgeng, nah kalau putus di tengah jalan?


Dimas saja tidak berani menjamin kelaggengan rumah tangga mereka. Selamanya pria itu akan menganggap dirinya sebagai perawat, dan bukan sebagai istri. Memang benar, Dimas meyakinkan dirinya akan memberikan apa pun yang dia minta. Akan tetapi bukan sebagai nafkah, melainkan hanya gaji. Bukankah itu sudah menegaskan jika dirinya tidak pernah dianggap sebagai istri?


Itulah yang membuat Amara malas mengangkat telepon Dimas. Malas menjawab pesannya. Juga malas datang ke kamarnya.


Tiba-tiba Amara merasa menjadi wanita paling gampangan di muka bumi ini. Gampang ditekan oleh pria bernama Dimas Sanjaya. Gampang menuruti segala keinginannya. Bahkan yang lebih parahnya ... gampang menyerahkan tubuh untuk disentuh dan dipeluk-peluk. Ya Tuhan, tapi kenapa dia suka?


"Maaf, ya Mbak. Aku belum bisa cerita," lirih Amara dengan nada penuh sesal. Ia menundukkan kepala, lalu menggigit bibir bawahnya.


Sementara Diana yang begitu perhatian, hanya tersenyum penuh pengertian dan mengusap lembut bahu sahabatnya.


"Nggak pa-pa, Mar. Itu hak kamu. Aku cuma mau bilang, aku selalu ada kapan pun kamu butuhkan," ujar wanita istri seorang polisi itu penuh perhatian.


Amara mengangkat kepalanya, memandang Diana begitu penuh haru. "Makasih, Mbak."


"Sama-sama."


Amara menghela napas panjang. Dua puluh lima panggilan tak terjawab sepertinya sudah cukup membuat Dimas kesal. Ia ingin melihat bagaimana reaksi pria itu ketika dia datang.

__ADS_1


"Mbak, aku pamit mau ke kamar pasien, ya." Amara berdiri dari duduknya, dan memasang senyum cerah pada Diana yang sudah kembali menghadap laptop.


"Oke." Diana mengacungkan jempolnya sambil tersenyum. Wanita itu sepertinya tidak curiga jika Dimas ternyata adalah suami Amara.


***


Amara berusaha menormalkan perasaannya ketika berdiri di depan pintu kamar Dimas. Ia terlebih dahulu menenangkan diri sebelum masuk ke dalam sana. Setidaknya ia harus siap dengan apa pun yang akan Dimas lakukan. Entah pria itu akan, ngambek, menghujatnya, atau bahkan mengusirnya.


"Assalamualaikum." Amara mengucapkan salam ketika tangannya mendorong pintu. Pandangannya langsung menangkap sosok Dimas yang sedang duduk di atas ranjang. Di depannya terdapat meja kecil tempat makanan. Dan terdapat hidangan makan siang lezat yang sudah tertata rapi untuk dua orang.


Dua orang?


Batin Amara bertanya-tanya saat berjalan mendekat.


Dimas menjawab salamnya sambil menyunggingkan senyum paling ramah. Tak ada raut kesal di wajah pria itu. Dimas bahkan terlihat segar, ceria dan ... makin tampan.


Stop, Amara. Kondisikan otak kamu.


"Makan, yuk. Gue udah nungguin lo dari tadi," ajak Dimas dengan nada yang ramah. Sikap baik pria itu membuat Amara bingung sekaligus curiga. Ekspektasi buruknya terhadap Dimas benar-benar terpatahkan.


"Mas Dimas belum makan?" Amara bertanya heran pada Dimas yang terus memandangnya. Ia bukannya duduk di atas ranjang, berseberangan dengan Dimas, melainkan berdiri di sisi ranjang, tepat di sisi kiri pria itu.


Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Ia berpikir Dimas sudah makan bersama dengan Baskoro yang tadi sengaja datang hanya untuk membicarakan pekerjaan. Ternyata dia salah besar.


"Emmh, gombal." Amara mendengkus.


"Ayo dong, gue udah laper, tau." Dimas meraih tangan Amara dan mengguncangnya dengan pelan. Pria itu benar-benar tanpa segan melakukan kontak fisik terhadap Amara.


Tahu, apa yang saat ini Amara rasakan? Ia jadi merasa bersalah pada Dimas. Sangat merasa bersalah karena membuat pria itu menunggunya, dan bertahan dengan perut lapar.


Amara menghela napas pelan, memasang wajah muram lalu duduk di tempat yang Dimas inginkan.


Tak seperti biasanya. Jika Sebelumnya, Dimas selalu minta disuapi saat makan, kali ini pria itu justru merelakan dirinya kerepotan dengan menyiapkan alat makan untuk dirinya dan Amara. Ia mengambil peran Amara. Sementara Amara sendiri, hanya diam memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan tatapan heran.


"Mau makan sendiri-sendiri? Nggak minta disuapin?" Amara akhirnya memutuskan bertanya untuk memastikan.


"Iya. Biar bareng. Lo juga pasti laper banget, kan? Nggak bisa makan tanpa ada gue."


"Ih, kepedean." Amara lagi-lagi mendengkus. Menyangkal kata-kata Dimas walau ungkapan pria itu seratus persen benar.


Sedangkan Dimas sepertinya tak ingin mendebatkan masalah ini lagi. Ia hanya tersenyum santai menanggapi sikap istrinya, lalu mengambil sendok dan garpunya.

__ADS_1


"Makan, yuk," ajaknya. Amara pun menuruti ajakan Dimas dengan mulai mengambil sendok dan garpunya. Baginya, makan bersama hari ini adalah makan bersama paling romantis sepanjang sejarah mereka. Bagaimana dia berpikir demikian?


Selama ini permintaan Amara tak muluk-muluk. Dimas tidak rewel dan mengganggunya saja ia sudah bahagia, apalagi ditambah bonusnya? Entah setan baik mana yang merasuki Dimas hingga pria itu memperlakukannya penuh kelembutan. Menyuapi, bahkan mengusap bibirnya saat Amara makan berantakan.


Waktu terus berjalan hingga beberapa hari pun berlalu. Dimas dan Amara masih sama-sama teguh pada pendirian masing-masing. Namun, anehnya mereka malahan diam-diam sangat menikmati kebersamaan.


Saat bersama, Amara masih terus berusaha membujuk Dimas, sedangkan Dimas tetap mengajukan persyaratan yang sama. Tak ada yang mau mengalah hingga keduanya terlelap dalam pelukan hangat.


"Selamat pagi ...."


Amara langsung membuka mata ketika mendengar suara familiar itu menyapa telinga. Suara Bibi koki yang bertugas mengantarkan makanan untuk pasien.


Apakah Bibi datang untuk mengantarkan menu sarapan? Mungkinkah ini sudah pagi? batin Amara bertanya-tanya.


Ia menatap ke sekeliling dan langsung menyadari masih berada di kamar Dimas. Melirik jam tangan di pergelangan, matanya sontak melotot saat menyadari jarum jam sudah menunjuk pada angka tujuh. Sementara dirinya sendiri masih terkurung dalam pelukan Dimas yang tampaknya juga masih pulas.


Sial. Amara bangun kesiangan. Dia harus apa sekarang?


Melompat dan lari ke dalam toilet?


Oh tidak. Bibi Koki pasti akan memergokinya. Wanita itu sudah masuk ke dalam ruangan dan tengah menyusun hidangan untuk Dimas.


Lalu ia harus apa?


Jalan satu-satunya hanyalah menarik selimut dan menutupi sekujur tubuhnya.


Dimas yang merasakan pergerakan Amara langsung terbangun dari tidurnya. Ia menatap bingung pada sosok terbungkus selimut di sampingnya, lalu mengatupkan bibir menahan tawa ketika menyadari keberadaan Bibi Koki di antara mereka.


"Pagi, Pak Dimas. Baru bangun, ya?" sapa Bibi Koki saat menyadari Dimas terjaga. Di matanya, pria itu selalu tampan, apa pun keadaannya.


"Pagi juga, Bibi," balas Dimas dengan nada ceria. Ia sama sekali tak beringsut dari tempatnya. Tangannya bahkan mengelus-elus kepala Amara yang tertutup oleh selimut.


"Istrinya ya, Pak? Kok tumben jam segini belum berangkat kerja?" tanya Bibi koki. Ia yang setiap hari bertugas mengantar makanan, pastinya tahu kebiasaan pasien di sana. Termasuk Dimas.


Amara yang bisa mendengar percakapan keduanya bahkan merasa heran dengan keakraban keduanya. Memangnya apa saja yang Dimas ceritakan pada Bibi Koki? Hingga wanita itu sampai tahu kebiasaannya yang telah pergi dari sana setiap kali pagi menjelang.


"Hari ini dia kesiangan, Bi. Mungkin karena kelelahan," balas Dimas sambil melirik pada Amara.


"Napasnya nggak engap tuh, pak? Kok ditutup selimut sekujur badan?"


Kini Amara merasa kesal pada Bibi Koki yang makin akut jiwa keponya. Apalagi Dimas ikut-ikutan menanggapinya dengan hendak membuka ujung selimut. Terang saja ia menahannya sekuat tenaga demi tidak bisa terlihat oleh wanita paruh baya itu. Sialnya lagi Dimas malah terbahak menertawainya, seolah-olah menikmati kepanikannya.

__ADS_1


"Istriku terlalu pemalu, Bibi. Jadi maaf, dia belum bisa menunjukkan wajahnya untuk sekarang."


"Ah, begitu ya?" Intonasi bibi Koki terdengar menyayangkan. Ia hanya bisa memandangi rambut hitam lurus yang menyembul keluar di balik selimut itu sebelum berpamitan pergi.


__ADS_2