Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Sepatu sebelah


__ADS_3

"Heh, maksud lo apaan? Siapa yang gila!" Dimas menarik bahu Juan hingga menghadap tepat padanya. Wajahnya kini sudah merah padam penuh kemarahan.


"Elo yang gila!" jawab Juan lantang. "Kenapa? Nggak terima? Emang kenyataannya lo nggak waras, kan? Makanya butuh Amara buat jagain lo?"


"Lalu? Bukannya lo sama gilanya dengan gue kalau mau ambil Amara!" balas Dimas tak mau kalah. "Nggak nyadar, apa? Elo sendiri yang gila tapi malah ngatain orang lain yang gila." Dimas tersenyum penuh kemenangan sambil melipat tangan di depan dada.


"Sialan!" Juan menggeram.


"Cih, nggak bisa jawab, kan?" Lagi, Dimas menyeringai bangga.


Juan mendengkus, lalu menatap Dimas tajam. Mendorong bahu Dimas hingga selangkah bergerak mundur, ia lantas berucap, "Gue males debat sama orang gila. Nggak ada gunanya! Yang ada malah gue ikutan gila."


Eh, ini Amara kok diam aja kemana ya? Apa dia sedang nangis di pojokan? Atau sedang melambung tinggi karena berasa jadi Kajol yang diperebutkan oleh Syah Rukh Khan dan Salman Khan di serial drama Korea? Oops salah ya? Maaf ya, author bercanda, hehe. Lanjut ....


Dimas meraih tangan Amara yang masih terbengong di tempatnya. Mencekal pergelangan ramping itu dengan kuat, sebelum kemudian menariknya.


"Ayo kita pulang."


Lagi, terjadi tarik-menarik saat Juan kembali menahan Amara. Jika terus-terusan begini, sampai Kucing beranak tikus juga nggak ada habisnya jika Amara tak segera bertindak mengentikan.


"Cukup!" Amara berteriak lalu mengentakkan tangan hingga cekalan Dimas dan Juan terlepas. "Dengar kalian ya, saya tidak suka diperebutkan seperti ini. Apa kalian pikir ini bulan Agustus sampai-sampai seenaknya main-main tarik tambang? Dan satu lagi, di sini bukan lapangan." Amara diam sejenak untuk menarik napas, sedangkan Dimas dan Juan, hanya saling pandang dengan ekspresi wajah kebingungan.


"Juan," panggil Amara dengan tatapan lekat namu tersirat penuh permohonan.


"Ya, Mar. Lo pasti milih ikut gue, kan?" tanya Juan dengan senyum percaya diri.


"Hey," Dimas mendorong bahu Juan hingga pria itu mundur selangkah. "Amara belum ngomong, bego!" lanjutnya penuh amarah.


Juan sontak menatap Dimas penuh peringatan. Bahkan mengepalkan tangannya dan hampir-hampir saja memukul pria itu andai saja tidak ada Amara di sana.


"Diem, lo!" bentak Juan kemudian. Ia hanya bisa memperlakukan Dimas sebatas itu demi menjaga perasaan Amara.

__ADS_1


"Sudah, ributnya? Puas, berantemnya? Apa kalian tidakk bisa diam sebentar dan kasih saya sedikit kesempatan untuk bicara?" Amara mulai kesal dan memarahi dua pria itu seperti sedang memarahi anak kecil. Sedang kedua pria itu kini hanya terdiam dengan ekspresi wajah penuh sesal.


"Juan," Amara kembali menatap Juan dengan senyuman yang terulas di bibir. Namun pria itu tak membalas dengan kata, hanya menunjukkan senyum serta balas menatap dengan Amara lekat, menunggu gadis itu menjawab.


Kini keduanya saling memandang dalam diam, namun sorot mata keduanya memancarkan binar-binar bahagia yang tak bisa lagi dilukiskan. Tak bisa menahan diri, Juan bahkan memegangi kedua belah telapak tangan Amara dan meremas penuh kelembutan di sana.


Seolah-olah menyukainya, Amara bahkan membiarkan Juan melakukannya semau dia. Toh tak bisa dipungkiri, ia juga merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan pria itu meski keadaan belum mendukung.


Sungguh, tiada hal yang lebih membahagiakan Amara selain bisa bertemu dengan Juan dan berbicara dengan jarak sedekat ini.


Mengetahui itu, sontak saja Dimas membelalak, seolah-olah tak terima dengan perlakuan Juan pada Amara yang menurutnya berlebihan itu. Namun di sisi lain ia tak bisa berbuat banyak sebab Dimas bisa melihat ada cinta di mata keduanya.


"Maaf, aku tidak bisa ikut dengan kamu." Jawaban Amara membuat wajah Juan langsung berubah kecewa, sementara ekspresi sebaliknya kini nampak di wajah Dimas.


"Kenapa, Mar? Apa gara-gara Mama yang bikin kamu menjauhi aku?"


"Bukan ...." Amara menggeleng samar sembari tersenyum.


"Lalu?" tanya Juan dengan raut menuntut penjelasan. Seolah-olah ingin menunjukkan kesungguhan, pria itu bertekuk lutut di tanah dan kepalanya mendongak menatap Amara dengan wajah memelas.


"Juan bangun! Kenapa kamu berlutut seperti ini? Cepat bangun, Juan. Aku nggak suka kamu begini!"


"Tidak, Amara. Aku baru akan bangun setelah kau memenuhi permintaanku. Ikutlah denganku dan jadilah perawatku. Aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi aku bisa jamin kamu akan bahagia bersamaku." Sudah memohon dengan cara yang didramatisir begitu tiba-tiba Dimas menyahut dan merusak suasana romantis yang tadi sejenak sempat tercipta.


"Hey, harusnya kau tanya dulu bagaimana pendapat pacarmu, baru merencanakan untuk membawa Amara kembali. Huh, apa kau tidak tau jika pacar gilamu itu baru saja mempermalukan Amara di depan umum!"


"Mas!" Amara menatap Dimas dengan sorot tajam untuk memperingatkan agar pria itu diam. Namun Dimas malah bersedekap dada sambil menyebik, dan melirik sinis pada Juan.


Mendengar itu, Juan sontak bangkit dari posisinya dan menatap Amara penuh selidik. Di tangkupnya dua sisi bahu Amara sebelum kemudian bertanya dengan penuh penekanan.


"Jadi Gladys menyakitimu lagi?"

__ADS_1


Sungguh aura gelap yang seketika menguar dari sosok Juan benar-benar membuat Amara khawatir. Bukan pada dirinya sendiri, melainkan Gladys dan mama Juan. Amara hapal betul bagaimana pria itu rela melakukan apapun demi melindunginya, termasuk ribut dengan dua wanita terkasihnya itu.


"Tidak, Juan ... Mas Dimas membohongimu. Itu hanya alasan dia agar aku tidak pergi."


"Kau yang berbohong." Perkataan Juan tidak meleset. Ia bahkan tahu betul bagaimana saat Amara jujur dan seperti apa saat gadis itu berbohong.


"Kau yang tidak percaya kepadaku." Amara berucap tanpa berkedip. "Sudahlah, Juan. Aku tak ingin bahas ini lagi. Seperti yang Mas Dimas katakan tadi, kami terikat kontrak. Jadi, aku mohon maaf, tidak bisa bekerja padamu untuk saat ini dan sampai nanti." Meski dadanya terasa sesak, tapi Amara berusaha bersikap tenang saat berucap. bahkan matanya tak berkedip demi untuk meyakinkan hati pria itu.


Seketika hati Juan berdenyut perih mendengar penolakan Amara. Seperti benda tajam telah menyayat-nyayat hati di dalam sana. Berdarah dan menganga. Ia tak percaya Amara bisa melakukan itu kepadanya.


"Baik. Untuk saat ini aku akan membiarkanmu pergi. Tapi aku tetap akan datang lagi sampai akhirnya kau mau." Juan berucap lambat-lambat seperti sedang mengatakan sumpah.


"Sudah, yuk. Kelamaan." Tanpa peringatan, Dimas tiba-tiba meraih tangan Amara lalu menariknya.


"Eh, Mas. Sebentar!" Amara membungkuk dengan tangan berusaha meraih hingga ia mendapatkan satu sepatunya. Namun kemudian ia harus melangkah pergi saat pria itu menariknya dengan paksa. Amara dan Juan saling memandang dalam suasana kekalutan, hingga tubuh gadis itu menghilang dari pandangan.


Sampai di tempat di mana Juan tak terlihat lagi, mereka pun kemudian mengentikan langkah.


"Mas, kenapa narik-narik gini?" Setelah melepaskan tangannya, Amara menatap Dimas sambil memberengut dengan mata yang berkaca-kaca. Sesekali ia masih menoleh ke belakang, di mana Juan masih berada di sana.


"Kenapa? Lo nyesel ikut gue? Lo mau balik lagi ke sana?"


Menatap Dimas sambil menggigit bibir bawah, Amara lantas mengangguk penuh sesal.


Dimas berdecak sambil buang muka. Raut wajahnya pun seketika terlihat kecewa. Pria itu mendengkus kesal. Tapi mau bagaimana lagi, gadis ini menginginkannya. Ia tak mau menjadi pria dengan peran antagonis dan memisahkan dua orang yang saling cinta.


"Elo cinta mati sama dia sampai mau balik lagi ke sana?" Dimas kemudian bertanya sambil menunjuk ke arah tempat tadi.


Amara menggeleng lemah dan hal itu membuat Dimas bertanya-tanya.


"Kalau bukan, lalu karena apa?" tegas Dimas mulai kesal.

__ADS_1


"Sepatu aku ketinggalan sebelah ...." Gadis itu berucap sambil menunjukkan satu sepatu sebelah kiri yang di dekapnya.


Bersambung


__ADS_2