Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Enam bulan


__ADS_3

Amara terduduk lemas pada kursi ruang makan, lalu meneguk air putih dingin dari gelas di tangannya hingga tandas. Gadis berpakaian perawat itu menghela napas panjang usai menaruh kembali gelas kosong di ke atas meja, sekadar menghalau perasaan berkecamuk yang berjejalan di dalam dada.


Hilang satu permasalahan, kini timbul lagi masalah baru. Tanpa ia duga-duga, reaksi Amel begitu berbunga-bunga mendengar Dimas menikahinya. Tentu saja hal itu benar-benar menjadi masalah bagi ia dan Dimas, mengingat jika tidak adanya rasa cinta di hati keduanya.


"Enam bulan? Astaghfirullah ...." Amara mendesah lemas. Gadis itu lantas memijat pelipisnya. Seketika itu juga, kejadian di ruang tengah beberapa saat lalu langsung hinggap di kepala.


Saat Dimas keluar kamar dan muncul dengan ekspresi ceria seperti biasa, itu sama sekali tak membuatnya heran. Ia bahkan melihat dengan jelas bagaimana ekspresi Eli yang tampak bingung melihat perubahan sikap Dimas.


Selama dua hari pria itu enggan keluar kamar, ogah bicara dengan siapa saja, dan bahkan malas-malasan untuk makan.


Jelas, ini menjadi tanda tanya besar di benak Eli, bagaimana bisa suasana hati pemuda itu bisa berubah secepat ini? Atau mungkin, Eli sempat berpikir, Dimas ini terlalu hebat memanipulasi keadaan dan menyembunyikan perasaan, hingga ia mampu bersikap seolah-olah baik-baik saja sekalipun hatinya rapuh porak-poranda.


Namun, bagi Amara ini adalah hal wajar, sebab sebelumnya telah terjadi kesepakatan di antara mereka.


Semalam, usai terjadi perdebatan di dapur dan membuat gadis itu menyerah dan memilih enyah usai melontarkan kalimat bernada ejekan, Dimas yang masih tak puas hati pada akhirnya memilih menyusul Amara yang hendak pergi ke kamarnya.


"Tunggu!"


"Ish, apa sih, Mas!" Amara geram sebab Dimas menghentikannya dengan cara menarik ujung jilbab. Terang saja tangannya langsung menahan agar kain penutup kepala dengan model segi empat itu tak terlepas dan memperlihatkan rambutnya.


"Maksud lo apaan main kabur-kaburan gitu?" Dimas mengedikkan dagunya saat Amara menoleh. "Gue belum kelar ngomong, tau nggak!"


"Ya udah, kalau mau ngomong ya ngomong aja. Nggak usah ngegas-ngegas juga. Bisa 'kan?"


"Bisa. Tapi bikinin kopi dulu buat gue."


"Kopi?" Amara melebarkan pupil matanya begitu mendengar ucapan Dimas baru saja. Meski terdengar datar, tetapi tetap saja itu sebuah perintah. Jelas saja ia merasa tak habis pikir. Setelah marah-marah nggak jelas, pria itu bahkan dengan percaya dirinya minta dibuatkan kopi.


"Kenapa malah melotot? Nggak usah sok heran gitu. Pala gue pusing. Butuh secangkir kopi buat nyembuhin. Biar bisa bahas ini dengan kepala dingin." Dimas yang menangkap ekspresi Amara tentu bisa membaca apa yang tengah dipikirkan gadis itu. Maka, ia memilih menjelaskan sebelum gadis itu membuka mulut untuk bicara yang tidak-tidak.


Terpaksa, Amara beranjak ke dapur meski hatinya masih merasa kesal.


"Nih, kopinya."


"Kok cuma satu?" tanya Dimas saat Amara mengangsurkan secangkir kopi di depannya. Gadis itu lantas duduk, mengambil posisi di kursi seberangnya. Kini mereka tengah berada di balkon lantai tiga, berselimut dinginnya malam, serta beratapkan langit cerah yang bertaburan bintang.

__ADS_1


"Aku nggak lagi pengen ngopi."


"Ya udah." Dimas menanggapi dengan enteng, lantas menggunakan tangannya meraih gagang set cangkir warna putih itu.


"Masih panas," ucap Amara mengingatkan.


Dimas sontak mengalihkan pandangannya pada Amara. Rupanya gadis itu tengah memperhatikan gerak-geriknya, padahal tadi ia sempat melihat Amara tengah mendongak menatap langit.


"Iya gue tau." Dimas mengulum senyum, setelahnya ia pun berkelakar. "Gue cuma pengen pegang cangkir ini Doang."


Amara mencebik. Gadis itu lantas memutar bola mata malas sebelum kemudian berbicara dengan nada mengingatkan.


"Katanya mau bahas masalah kita? Terus mana?"


"Yaelah bentar. Nggak sabaran banget." Dimas melirik kesal pada Amara, setelah itu ia menyeruput kopi itu sedikit dari bibir cangkir. Amara bahkan refleks ikut meringis saat ia kepanasan.


"Jadi gimana. Lo ada penyelesaian buat masalah kita?" Dimas bertanya dengan ekspresi serius usai menaruh lagi cangkirnya ke meja. Keduanya kini saling pandang, dan sejurus kemudian Amara menggeleng lemah.


"Maaf, Mas. Gara-gara aku ngajak ke makam orang tuaku, semuanya jadi kacau gini," lirihnya merasa bersalah.


Amara hanya bisa diam melihat Dimas mengumpat sebal. Ia paham betul bagaimana perasaan pria itu sebab ia sendiri pun merasakannya. Ditambah lagi oleh rasa bersalah, Amara kian merasa tertekan. Takut jika Dimas akan membenci dia selamanya.


Namun, tampaknya ia bisa bernapas lega, setidaknya Dimas menyadari jika ini hanya kesalahpahaman semata.


"Mas ...."


Dimas menoleh saat Amara memanggilnya lirih setelah beberapa menit yang lalu keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Bukankah kita hanya nikah siri? Nikah siri itu tidak diakui oleh negara, kan? Seharusnya untuk urusan perpisahan juga gampang, kan?"


"Gampang gundulmu!"


Amara refleks berjingkat saat Dimas mengumpatnya. Gadis itu kemudian memberengut dan melirik Dimas dengan ekspresi sebal.


"Ya bener, nikah siri itu nggak diakui oleh negara. Tapi kalau diakui sama nyokap gue gimana?" Dimas mengedikkan dagunya dengan ekspresi menantang. Tentu saja hal itu sukses membuat Amara kian menciut.

__ADS_1


Amara ingat betul bagaimana orang-orang itu menyita ponsel Dimas dan menghubungi orang tuanya saat di kantor desa. Amel yang saat itu berada di luar negeri hanya bisa pasrah dan menitipkan pernikahan putranya pada orang-orang asing yang bahkan belum ia kenal.


"Lo nggak tau aja, nyokap gue itu orangnya penuh kejutan!" imbuh Dimas lagi yang lagi-lagi membuat Amara tercenung menyadari.


Seperti kejadian beberapa waktu lalu. Saat Amel bangkit dari duduknya. Amara bahkan berpikir wanita itu akan melakukan tindak kekerasan terhadapnya jika melihat ekspresi garang yang Amel tunjukkan. Namun, siapa sangka? Wanita itu justru duduk mengambil posisi di tengah-tengah, merangkul ia dan Dimas, lantas berucap syukur dengan penuh suka cita karena sang putra telah mendapatkan jodohnya.


Terang saja Ia dan Dimas melotot bersamaan karena saking terkejutnya. Meski telah mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi, Dimas bahkan tampak gelagapan hingga berujar dengan suara terbata-bata.


"Tt–tapi, Ma. A–aku dan Amara nggak saling cinta."


"Ah, cinta itu bisa datang belakangan. Mama dan Papa juga dulunya gitu. Nikah tanpa cinta." Tanpa sedikitpun beban, Amel menyahuti dengan enteng.


"Ma!" Berontak, Dimas berucap dengan intonasi tinggi. "Zaman dulu dan sekarang itu sudah beda! Sekarang udah nggak ada lagi jodoh-jodohan! Apaan itu, cinta datang belakangan? Zaman sekarang udah nggak ada! Yang ada malahan cerai entar. Asal Mama tau aja, aku dan Amara udah punya calon masing-masing, kok!"


"Calon?" Amel menatap Dimas dan Amara bergantian dengan ekspresi penuh tanya. Namun, tatapan itu lantas terpaku pada Dimas dengan sorot penuh peringatan. "Jangan coba-coba bohongi Mama, ya. Selama ini Mama nggak pernah lihat tuh, Amara jalan sama cowok lain selain kamu."


"Ma!" sahut Dimas. "Amara itu gadis alim. Nggak ada istilah pacar-pacaran dalam hidupnya. Apalagi jalan berdua doang sama cowok di tempat keramaian."


"Eh, tapi dia jalan sama kamu!" tegas Amel tak mau kalah.


"Itu karena kita terikat pekerjaan, Mama!" sahut Dimas pula tak mau kalah.


Amara hanya terdiam melihat ibu dan anak itu terlibat perdebatan. Mau bagaimana lagi, ia bahkan tak memiliki celah untuk menyahuti. Sepertinya doanya semalam belum diijabah oleh Yang Maha Kuasa untuk berpisah baik-baik dari Dimas.


Padahal ia sudah mempersiapkan dirinya dengan matang. Sudah mengemas pakaiannya ke dalam koper andaikata Amel mengusirnya. Bahkan menyiapkan mental sekuat baja andaikata wanita itu menghujatnya. Namun, apa mau dikata. Amel justru mendukung pernikahan putranya dengan dia.


"Dimas! Jujur sama Mama. Kamu sedang tidak berencana kembali pada Naura dan menikahinya, kan!"


Jelas saja Dimas langsung bungkam mendengar kalimat tanya bernada curiga yang terlontar dari bibir mamanya. Meski sejujurnya ia ingin mengakui di momen ini, tetapi jika melihat ekspresi garang yang tercetak di wajah Amelia Sonata ini ia jadi ciut nyali. Sontak saja, Dimas langsung memberikan penyangkalan untuk menyimpan rapat hubungan mereka agar aman dari sang Mama.


"Ya nggak lah, Ma."


"Bagus." Amel menyahut tegas sebelum kemudian melanjutkan dengan kalimat bernada tuntutan. "Enam bulan. Bertahanlah enam bulan saja menjalani pernikahan. Jika tetap tak ada perasaan, maka kalian akan Mama pisahkan."


"Enam bulan?" Amara dan Dimas terkejut bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2