Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Terjebak situasi


__ADS_3

"Mama ...."


Amara tidak melanjutkan niatnya berbicara. Nyalinya langsung menciut melihat bagaimana ekspresi Amel terhadapnya.


Sudah barang pasti, wanita yang semula sangat mendukungnya untuk memiliki Dimas itu berasumsi buruk pula terhadap keputusannya yang memilih pergi dari rumah. Lebih-lebih lagi ia pergi tanpa pamit layaknya budak yang melarikan diri. Yang tentu saja akan memicu kemarahan besar meskipun Amelia memiliki sifat lapang dada selapangan sepak bola.


Tak berniat menanggapi lebih jauh lagi Amara yang langsung mati kutu di depannya, Amel justru memilih mengalihkan perhatian pada Baskoro yang terlihat tegang saat menatapnya. Bukan karena Amara tidak begitu penting bagi dia, melainkan ada yang lebih penting lagi dari hanya sekadar mengintimidasi seorang gadis, yaitu keselamatan putranya sendiri.


"Bas, apa yang terjadi dengan Dimas? Kenapa dia bisa sampai pingsan dan masuk rumah sakit begini?"


"Anu Tante. Itu." Baskoro langsung salah tingkah. "Ini karena makanan Dimas tidak lagi terkontrol belakangan ini. Sekarang Dimas tidak memperhatikan asupan nutrisinya dan susah menerima masukan dari orang lain juga, makanya dia sakit gini," jelas Baskoro dengan sikap sungkan.


Amel menghela napas. "Ini semua pasti gara-gara kamu!"


Amara tersentak saat Amel tiba-tiba menuduhnya sembari menghunjamkan tatapan tajam. Terang saja Amara tak bisa berkata-kata kendati ia tak tahu apa-apa. Lagi-lagi rasa bersalah itu kembali mengganggunya hingga ia hanya bisa menelan ludah.


"Maaf Ma ...." Hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibir Amara. Ia tertunduk malu tanpa bisa membalas tatapan nyalang dari mertuanya.


Andai Mama berada di posisi aku, mungkin mama akan melakukan hal yang sama.


"Memang gampang bilang maaf. Semua orang juga bisa," tutur Amel lagi dengan nada sinis. Ini adalah kali pertama wanita itu bersikap kasar terhadap Amara. Jika bukan karena merasa tersakiti, Amelia tak akan bersikap seperti ini.


"Lalu Amara harus apa, Ma?" sahut Amara dengan penuh kesungguhan. Ia memberanikan diri menatap Amelia meski tak bisa menutupi kegetiran di hatinya hingga sepasang bola mata bening itu pun terlihat berkaca-kaca. "Amara rasa Amara sudah mengambil langkah benar dengan menepi dari kehidupan Mas Dimas. Mas Dimas sudah bahagia dengan Mbak Naura, Ma. Nggak ada gunanya lagi Amara berada di antara mereka."


"Sok tau, kamu!" sahut Amel dengan nada meremehkan. "Mama nggak mau tau. Kamu harus rawat Dimas sampai dia sembuh!"


"Tapi Ma, sepertinya bukan Amara yang mendapat jadwal merawat Mas Dimas."


"Hey, memangnya siapa yang minta kamu merawat Dimas sebagai seorang perawat?" Amel mengedikkan dagunya, menunjukkan sikap angkuh terhadap menantunya. "Mama mau kamu merawat Dimas sebagai seorang istri, Amara! Rawat Dimas dengan baik!" tegas Amelia penuh tuntutan.


"Lalu bagaimana dengan Mbak Naura, Ma? Saya nggak mau dia salah paham." Amara terdiam setelah mengatakan itu. Tatapan menikam sang mertua benar-benar menakutinya. Lebih-lebih lagi wanita itu kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya tak bisa berkutik lagi.


"Mama nggak mau dibantah, Amara!"


***


Entah sudah berapa lama Dimas tenggelam dalam ketidaksadaran. Yang jelas saat ia membuka mata, ruangan berukuran sedang dengan nuansa putih langsung menyambutnya. Aroma menyengat berbagai obat langsung menyapa indra penciuman. Ketika dirinya bergerak, rasa nyeri langsung menyerang di punggung tangan. Dan pakaian yang ia kenakan tadi sudah berganti piyama dengan model yang tidak ia sukai.


Tidak salah lagi. Kini ia benar-benar terbaring di ranjang rumah sakit.


Baskoro. Ini pasti ulah Dia.

__ADS_1


"Brengsek lo Bas! Bedebah sialan! Lo mau bunuh gue, hah!"


Suara Dimas menggema dalam kesunyian. Dengan sisa tenaganya ia berusaha mengumpat, berharap Baskoro yang ia yakini ada di sana bisa mendengar keluhannya itu dengan jelas.


"Lo tau gue trauma rumah sakit, kan! Terus ngapain juga lo bawa gue ke sini!"


Sayangnya tak ada sahutan yang ia dengar. Hingga Dimas berpikir Baskoro cukup pengecut hanya untuk sekadar menghadapinya.


"Dasar pecundang!"


Dimas mendengkus. Semakin merasa geram terhadap sahabatnya, ia mendudukkan diri dan menyibak selimut yang menutupi setengah badannya.


Lagi-lagi ia terjebak dalam situasi semacam ini. Ia benci. Ia tak suka. Maka setelah menatap jarum infus yang terpasang di punggung tangan kirinya, tangan kanannya pun bergerak hendak melepasnya.


"Persetan sama lo, Bas. Pokoknya gue mau pulang sekarang juga!"


Namun, sebuah tangan lembut tiba-tiba memegangi tangannya untuk menahan, diiringi suara teriakan wanita yang begitu familiar di telinga.


"Mas Dimas, jangan!"


Entah dari mana datangnya sosok itu. Yang jelas, lengkingan suara serta gerakan cepat tanggapnya sukses membuat Dimas terkejut. Langsung saja ia mendongak dan mengarahkan pandangannya pada gadis itu.


Amara?


Suasana ruangan yang awalnya mencekam mendadak terasa indah laksana kebun bunga. Tak tergambarkan lagi bahagianya seperti apa kala panggilan yang selama ini dirindukan itu kini benar-benar menyapa gendang telinga.


Tatapan Amara terhadapnya bahkan masih sama seperti waktu itu. Teduh dan hangat. Serta ekspresi penuh kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya membuat Dimas merasa berarti. Mungkin itulah tandanya cinta, tapi sayangnya Dimas tidak peka.


Bahkan dirinya selalu merasa disayang oleh sikap peduli gadis itu. Dan yang selalu membuatnya rindu adalah bentuk perhatian dari seorang Amara.


"Mas Dimas jangan ke mana-mana dulu. Mas Dimas baru aja siuman dan masih lemah. Mas Dimas masih butuh perawatan di sini. Sekarang baring lagi, ya. Biar aku cek dulu tekanan darah Mas Dimas berapa."


Entah hipnotis apa yang Amara tebarkan kali ini hingga membuat Dimas begitu patuh terhadap segala perintah gadis itu. Baru juga lima kali namanya didengungkan oleh Amara, pertahanannya sudah runtuh seketika. Dimas, Dimas. Padahal harusnya ia mengaktifkan mode marah jika ingin rencananya berjalan lancar jaya.


Ia layaknya patung bernyawa yang hanya diam seribu bahasa menerima segala perlakuan Amara. Dimas hanya pasrah ketika Amara membaringkannya, menutupi setengah badan dengan selimut, lalu memeriksa tekanan darahnya menggunakan alat tensimeter.


Tak bisa dipungkiri, ia memang begitu merindukan hal ini. Rindu perhatian Amara, rindu cerewetnya dia, lebih-lebih lagi dengan belaian lembut jemarinya.


Namun, lama kelamaan Dimas mulai merasa tak tenang. Entah apa yang salah hingga jantungnya mendadak berdegup kencang. Badannya juga terasa panas dingin hingga membuat gadis itu kebingungan. Namun, untung saja ia lekas menguasai diri dan keadaan, hingga mampu menahan diri dari gejolak perasaan yang sudah membuncah.


Wajah Baskoro yang tiba-tiba melintas di kepala akhirnya sukses membuat Dimas mampu menahan diri. Menahan diri untuk tidak memeluk Amara. Untuk tidak menciumnya dan untuk tidak mengatakan jika ia benar-benar mencintai gadis itu.

__ADS_1


"Tangan Mas Dimas dingin sekali? Padahal dahi Mas Dimas terasa panas."


Dimas hanya diam saat Amara bergumam lirih. Ia bahkan sulit membedakan apakah gadis itu hanya bergumam atau justru sedang bertanya. Tapi satu hal yang membuatnya kian berbunga-bunga. Amara terlihat cemas selagi menyentuh dahinya dan menggenggam telapak tangan dia secara bergantian. Bahkan saking paniknya, ia sampai menelpon Dokter Lucy untuk meminta tolong memeriksakan keadaannya.


"Mas Dimas sabar dulu, ya. Semua akan baik-baik saja. Sebentar lagi dokter Lucy datang untuk memeriksa keadaan Mas Dimas."


Kikuk. Begitulah bahasa tubuh Amara saat mengatakan itu pada Dimas. Entah atas dasar apa ia berkata demikian? Karena naluri seorang istri untuk menenangkan suami, atau hanya menempatkan diri sebagai perawat yang memang bertugas untuk menenangkan pasiennya?


Ah, terlepas dari apa pun alasannya, tapi sepertinya itu tidak perlu, sebab Dimas yang tengah berbaring itu terlihat tenang-tenang saja di tempatnya. Sama sekali tak menanggapi perkataannya. Bahkan terkesan tidak mempedulikan dia.


Harusnya kata-kata itu ditunjukkan oleh dirinya sendiri. Sebab pada kenyataannya Amara lah yang saat ini merasa tidak tenang. Badannya mendadak panas dingin, dan jantungnya berdegup sangat kencang.


Terjebak dalam situasi tidak nyaman, ia hanya bisa memaku diri sembari memindai ubin di bawah kakinya. Sesekali juga ia perlu membuang muka saat kedapatan oleh Dimas tengah memperhatikan pria itu secara diam-diam.


Mungkin ia bisa sedikit lebih tenang andai kata Dimas menyapanya dengan baik, dan memandangnya sehangat dulu. Tapi tatapan menusuk itu? Itu sudah cukup menunjukkan jika dirinya tak berarti apa-apa di mata pria yang pernah menikahinya.


Masih marahkah dia?


Situasi tegang sedikit berkurang seiring pintu ruangan yang berderit perlahan. Seorang wanita muda berjilbab muncul dengan senyuman manis, didampingi oleh wanita berpakaian serba hijau.


Dokter Lucy langsung menyapa dengan ramah dua orang yang sebenarnya memiliki ikatan tapi bersikap seolah-olah tidak saling kenal itu kemudian mulai memeriksa Dimas. Ia juga menekan lembut perut Dimas yang tentunya dengan izin terlebih dahulu.


"Apa kabar Pak Dimas. Apa yang Anda rasakan sekarang?"


"Cuma sedikit pusing." Dimas menjawab dingin, dan hanya dibalas senyuman oleh dokter Lucy.


"Boleh dibuka mulutnya? Berapa tekanan darahnya, Amara?" Dokter Lucy mengintruksikan kepada Dimas sebelum kemudian bertanya pada Amara.


"Delapan puluh per enam puluh mmHg, Dok," jawab Amara cepat. Sementara Dimas tampak malas-malasan membuka mulutnya untuk diperiksa.


"Sangat rendah, ya. Bagaimana perutnya. Masih sakit?" tanya dokter Lucy pada Dimas.


"Sedikit."


Lagi-lagi Dimas menjawab dengan malas. Namun, setelah melirik Amara yang hanya bergeming di tempatnya, ia memutuskan untuk bertanya pada sang dokter.


"Saya baik-baik aja, kan. Jadi, bisa tolong lepaskan selang infus ini biar saya bisa cepat-cepat pulang?"


Dokter Lucy tersenyum sebelum menjelaskan pelan-pelan.


"Begini Pak Dimas. Anda mengalami dehidrasi berat, darah rendah sekaligus infeksi pencernaan. Jadi, harap tahan sebentar keinginan Anda untuk pulang ya, sebab Pak Dimas masih membutuhkan perawatan di sini selama beberapa hari."

__ADS_1


Dimas membelalak. "Hah! Beberapa hari!"


__ADS_2