Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Lupa


__ADS_3

"Hati-hati kalau nyetir ya, Pa. Jangan ngebut, ini masih pagi banget." Dimas berpesan selagi menutup pintu mobil sang Papa dan dibalas senyuman oleh pria paruh baya itu.


Pagi itu setelah salat subuh berjamaah, Amel dan suami sengaja berpamitan pulang. Mereka menolak dengan halus tawaran Amara untuk menunda kepulangan agar bisa sarapan bersama dengan alasan akan bepergian pagi ini.


Tak ada yang Amara dan Dimas lakukan selain mengantar pasangan suami istri itu hingga ke teras rumah dan melepas kepulangan mereka.


Keduanya masih berdiri di sana hingga mobil Amel menghilang dari pandangan. Mereka berdiri bersisian. Dimas dengan posisi melipat tangannya di depan dada, sedangkan Amara memegang pagar besi yang berada di sisi kanannya.


"Mereka serasi sekali ya, Mas," celetuk Amara tiba-tiba. Senyum gadis itu terkembang lebar selagi menoleh ke arah suaminya.


"Ya, iyalah! Namanya juga jodoh." Alih-alih menimpali pujian Amara terhadap orang tuanya dengan kata-kata yang manis dan membahagiakan, Dimas justru berucap dengan nada ketus sebelum kemudian berlalu pergi begitu saja.


Amara hanya tertegun sambil menatap tubuh bagian belakang pria itu dengan ekspresi heran. Sejak bangun tadi Dimas menunjukkan gelagat yang tak biasa.


Amara memang terkejut saat membuka mata, dirinya terbaring nyaman di ranjang Dimas. Sementara pria itu justru tidur pulas di sofa panjang. Saat itu Amara langsung berpikir jika Dimas sengaja menukar posisi mereka karena sebuah alasan. Mungkin saja pria itu sadar, jika wanita lebih membutuhkan kenyamanan.


Tanpa berpikir panjang mengenai bagaimana cara Dimas memindahkan dia dan hal lain sebagainya, Amara bergegas bangun untuk membersihkan diri dan ambil air wudhu. Namun, hingga ia selesai menjalankan kewajiban salat subuh, Dimas masih saja belum terjaga. Kemudian muncullah niat Amara untuk membangunkan Dimas saat itu juga.


"Mas Dimas ... bangun dong."


Amara mengguncang pelan lengan Dimas yang tengah tidur dengan posisi terlentang. Awalnya ia hanya berdiri dan sesekali membungkuk saat berusaha membangunkan Dimas dengan sedikit memberi guncangan pada lengan. Namun, karena pria itu sama sekali tak terusik oleh tindakannya, Amara pun berlutut di lantai demi bisa lebih dekat dengan Dimas.


"Mas, bangun. Ada Mama sama Papa masa iya kamu mau bangun siang-siang, malu dong. Mas ...." Kali ini Amara menepuk pelan pipi Dimas dan sedikit menaikkan intonasi suara.


Berhasil. Dimas menunjukkan pergerakannya. Pria itu menggeliat ke kiri dan kanan sambil menggumam tidak jelas. Dan saat membuka mata, ia langsung terperanjat begitu melihat wajah Amara. Terang saja bahu Amara langsung mengedik heran lantaran Dimas berjingkat seperti baru melihat setan.


"Mas Dimas kenapa? Kok kayak kaget gitu? Mimpi buruk, ya?" Amara memberondong Dimas dengan kalimat tanya sembari mendekatkan tubuhnya. Dan tatapan mata dengan mimik lugu itu ... ah, Dimas sontak membuang muka. Andai Amara tahu apa yang telah terjadi antara mereka semalam, mungkin gadis itu tak akan berani berlaku demikian.


"Minggir, lo!"


Hanya itu yang bisa Dimas lakukan. Bersikap dingin supaya bisa menghindar. Ia mendorong bahu Amara lalu menyibak selimut yang menutupinya sebelum kemudian beranjak ke kamar mandi. Tentu saja gerakan mendorongnya itu pelan sebab sama sekali tidak ada niatan untuk menyakiti.


Seperti biasanya, Amara menyiapkan hidangan sarapan selagi Dimas berkemas untuk kerja. Pagi ini ia membuat sosis bakar yang diberi saus beserta mayonaise di atasnya.

__ADS_1


"Mas, sarapan yuk." Seperti biasanya pula, Amara akan menyambut dengan senyuman ketika Dimas muncul menuruni tangga. Pandangannya juga tak lepas dari sosok tampan itu dengan ekspresi netral sebagai teman.


Dimas duduk mengambil posisi seperti biasa. Amara pun dengan cekatan bangkit untuk menghidangkan sosis bakar hasil kreasinya. Tak lupa pula alat makan Dimas yang berupa garpu dan pisau.


Dimas menaruh ponselnya di sebelah kiri, melirik Amara sejenak, lantas menatap sosis bakar berukuran besar di hadapannya.


"Pagi ini aku pengen bikin sosis bakar," ujar Amara sambil duduk di kursi sebelah kanan Dimas. Mereka memang selalu duduk berdekatan ketika Naura tak ada. Tentu saja bertujuan untuk mempermudah jangkauannya saat melayani Dimas.


"Tumben," celetuk Dimas asal. Namun, meski begitu ia tetap mengambil garpu dan pisau, bersiap untuk makan.


"Kan aku bilang tadi pengen ...," timpal Amara dengan nada mengingatkan. Memandang Dimas yang tengah menyantap makanan itu, ia kemudian menambahkan dengan nada menawarkan. "Mas Dimas mau pakai nasi?"


Dimas hanya menggeleng sebagai jawaban.


"Ya, udah." Amara mengangkat bahunya dan memilih bersikap tak acuh. Meskipun merasakan kejanggalan dari sikap Dimas pagi ini, tetapi ia memutuskan untuk bungkam dan tak berniat mencari tahu.


Berbeda dengan cara makan Dimas yang rapi dan elegan, Amara memilih bersikap biasa dengan menggigit langsung sosisnya yang menancap di garpu. Sebuah gigitan besar itu membuat pipinya tembam akibat kepenuhan. Serta porsi saus yang berlebih membuat area bibirnya belepotan dengan sisa saus itu sendiri.


Dimas yang tanpa sengaja melihat itu hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya.


"Dilap atau gimana gitu, kek. Gue nggak bisa makan sambil lihatin muka jorok kayak gitu," imbuh Dimas masih dengan ekspresi tadi.


"Ya udah. Kalau jijik ngapain mesti dilihat, sih?" Amara menyahut dengan nada enteng tanpa menatap wajah Dimas. Entah apa yang tengah dilakukannya hingga terlihat asyik sendiri dengan ponselnya.


Dimas lantas menyahut kotak tisu dan menyodorkan itu pada Amara.


"Nih, dilap tuh mulut jelek," tuturnya dengan nada perintah.


Amara sontak mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah Dimas. Saat melihat kotak tisu di tangan pria itu seketika senyumnya terkembang. Namun, karena tangannya sedang sibuk berbalas pesan, terlebih tak berniat mengusap bibirnya sebab ingin melihat bagaimana reaksi Dimas, ia pun berucap dengan nada menggoda.


"Dilapin ...." Amara mencondongkan wajah sembari memanyunkan bibirnya. Hal itu terang saja membuat Dimas sontak membelalak. Secara, bibir itulah yang membuat pertahanan pria itu nyaris saja runtuh semalam.


Seolah-olah paham akan reaksi keterkejutan Dimas itu, Amara pun segera berbicara memberikan klarifikasinya.

__ADS_1


"Aku lagi balas chat-nya dokter Khanza, Mas. Ini darurat. Harus cepat dibalas. Ada pasien kecelakaan soalnya. Kalau nggak sambil makan gini, entar aku nggak sempat sarapan. Kalau nggak mau usapin yang nggak pa-pa sih, aku cuma becanda kali, Mas, nggak usah serius gitu ... hehe." Amara sengaja nyengir demi meyakinkan Dimas jika memang dirinya benar-benar hanya bercanda. Ia bisa menangkap dengan jelas ekspresi tegang di wajah Dimas. Ini jelas berbeda dari biasanya. Pria itu lebih banyak diam. Berbicara hanya seperlunya saja, itu pun karena menimpali perkataan dia.


Terang saja ini terasa janggal bagi Amara. Sekian waktu hidup bersama Dimas dari masih menjadi perawatnya, Dimas tak pernah bersikap sedemikian dingin dan diam seperti ada yang disembunyikan.


Meski sebenarnya itu tak terlalu berimbas pada hubungan mereka, tetapi tetap saja Amara merasa ada yang kurang. Ia lebih suka Dimas yang banyak bicara sekalipun itu melukai perasaannya. Sebab, jika dipikir-pikir, perkataan Dimas selalu ada benarnya. Sebenarnya pria itu sangat perhatian, hanya saja dia memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan. Dan itu sudah menjadi candu bagi Amara. Entah sejak kapan.


Dimas mendesah pelan. Mau tak mau ia menuruti keinginan Amara untuk mengusap bibir gadis itu. Setelah mengambil dua lembar tisu dari tempatnya, ia lantas mengalihkan pandangannya ke arah Amara.


"Sini bibir lo!"


Amara yang tengah menunduk spontan mengangkat pandangan ke arah Dimas. Pria itu tengah menatapnya dengan tangan memegang tisu seperti siap mengusap bibirnya. Terang saja hal itu membuat mata Amara berbinar senang lantaran tak menyangka. Ia hanya bercanda, dan ternyata Dimas serius menanggapinya. Ya walaupun tampak jelas ekspresi Dimas begitu terpaksa. Maka tanpa pikir panjang, Amara langsung mencondongkan wajahnya.


Amara membiarkan Dimas membersihkan sudut bibirnya dengan gerakan pelan. Sebisa mungkin ia tersenyum ceria demi mengapresiasi niat baik Dimas.


Namun, Amara tak tahu bagaimana perasaan Dimas saat ini. Bagaimana pria itu mengetatkan rahang demi menahan diri untuk tidak menyambar bibirnya lagi. Ia tak tahu bagaimana Dimas berusaha keras melupakan kejadian semalam yang begitu lekat di ingatan. Dan Amara tak tahu bagaimana Dimas berusaha mengendalikan debaran jantungnya agar tak berbuat nakal dan melompat keluar dari tempatnya. Dimas benar-benar nyaris frustasi. Dan gadis itu malah bersikap seperti menantang dengan begitu tanpa tahu diri.


"Sudah." Dimas berucap datar sambil meremas tisu di tangan. Kemudian berpura-pura baik-baik saja dengan kembali fokus pada piringnya.


"Hehe, terima kasih," ucap Amara masih dengan nada ceria. Gadis itu pun mengembalikan perhatiannya lagi pada ponselnya. Ia bahkan tak tahu jika satu-satunya pria yang ada di sana tengah mencuri-curi pandang.


Sesaat kemudian, ponsel Dimas yang tergeletak di sisi kiri pria itu tiba-tiba berdering. Dimas langsung mengangkatnya usai melihat dulu siapa si penelponnya.


"Halo, Sayang, ada apa?" Dimas bertanya dengan nada yang biasa, malahan sambil meraih gelas jus di sebelah kanan sebelum kemudian meneguknya.


"Mau sampai kapan kamu biarkan aku di hotel sendirian, Sayang."


"Uhuk!" Dimas tersedak saat itu juga. Meski Naura mengucapkan itu dengan nada pelan, tetapi penekanan di setiap katanya itu benar-benar menyiratkan sebuah kemarahan.


Dimas gelagapan dan buru-buru mematikan ponselnya dan menaruh gelas kembali ke meja. Amara yang memperhatikan gelagat Dimas sejak pria itu mengangkat telepon, tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Ada apa sih, Mas?"


"Gue samperin Naura dulu, ya. Bisa-bisanya gue lupa ninggalin dia sendirian di hotel."

__ADS_1


"Hah!" Mulut Amara sedikit ternganga. Ia hanya bisa geleng kepala sambil memperhatikan Dimas yang pergi dengan langkah tergesa-gesa.


__ADS_2