Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Kafe


__ADS_3

Dimas yang saat itu tengah berada di lokasi proyek tempat kerjanya, langsung meluncur menghampiri Baskoro begitu sang asisten memanggilnya. Ia terlihat begitu bersemangat sebab sang asisten mengatakan melihat Amara berada di sana.


Namun, sesampainya di tempat yang merupakan sebuah kafe itu Dimas hanya menemukan Baskoro tengah duduk sendirian dengan wajah cemas.


"Alhamdulillah, Dim ... akhirnya lo datang juga! Gue udah nggak betah jadi sandra tau nggak." Baskoro langsung bangkit untuk menyambut kedatangan Dimas dengan ekspresi lega dan bahagia.


Namun, alih-alih menanggapi perkataan Baskoro, Dimas justru sibuk celingukan mengedarkan pandangan ke sekeliling kafe yang terlihat tengah banyak pengunjung itu tanpa sedikitpun memandang Baskoro. Setelah beberapa lama tak menemukan apa-apa, barulah ia menatap sang sahabat sembari bertanya dengan wajah penasaran.


"Bas, Amara mana? Tadi lo bilang dia ada di sini, kan?"


Tak langsung menjawab pertanyaan Dimas, Baskoro justru terlihat salah tingkah.


"Bas! Amara-nya mana? Gue udah nggak sabar mau ketemu dia." Sembari menatap Baskoro lekat, Dimas bertanya dengan penuh harap.


"Iya, ada. Amara ada di sini, kok," jawab Baskoro tanpa memandang Dimas, sedangkan tangannya bergerak menggaruk-garuk tengkuk dengan ekspresi salah tingkah.


"Iya, gue tau, kan tadi lo bilang gitu. Tapi Amara-nya mana?" desak Dimas lagi penuh penekanan dengan nada tak sabaran. Ia masih menatap Baskoro yang seperti menghindari tatapannya.


"Bas. Lo nggak berniat bohongin gue, kan?"


Baskoro sontak menoleh ketika dengar pertanyaan Dimas itu bernada curiga. Benar saja, kini Dimas tengah menatapnya dengan mata menyipit seperti menyelidik. Terang saja hal itu membuatnya kian salah tingkah, lantas buru-buru saja meyakinkan sang sahabat demi menghindari amukan macan.


"Nggak, Dim! Sumpah." Baskoro mengacungkan dua jarinya dengan mimik meyakinkan. "Tadi Amara ada di sini, kok. Beneran!"


Merasakan firasat buruk telah terjadi, terang saja membuat Dimas langsung emosi. Pria dengan atasan kemeja digulung hingga bawah siku itu refleks mencengkeram kerah baju Baskoro dan menatapnya penuh ancaman.


"Lalu sekarang Amara di mana? Di mana, Bas!" bentaknya penuh kemarahan dengan mata menyorot tajam. Tubuh Baskoro yang tinggi dan berisi bahkan begitu mudah ia guncang-guncang.


"Sabar, Dim ... sabar, tenangin diri lo, ya. Biar gue jelasin pelan-pelan." Baskoro yang meringis ngeri hanya bisa berusaha menenangkan Dimas dengan mengusap-usap lengan kokohnya. Tapi mau bagaimana lagi, melawan juga percuma sebab ini memang salahnya. "Lepasin dulu tangan lo ini, lah. Malu dilihat orang."

__ADS_1


Benar saja, ketika Dimas mengarahkan pandangan ke sekeliling, rupanya mereka berdua tengah menjadi pusat perhatian. Terang saja ia langsung menghentakkan tangannya dengan geram sebelum kemudian mendudukkan dirinya di sofa kafe.


Baskoro menghela napas lega sembari membenahi kerah kemejanya. Pemuda itu lantas mendudukkan diri mengambil posisi tepat di samping Dimas. Masih belum membuka mulut untuk bicara, ia menatap sang sahabat yang terlihat masih marah itu dengan wajah prihatin.


"Mau berkilah apa lagi lo kali ini?" Dimas akhirnya angkat bicara dengan nada meremehkan.


"Demi Allah, Dim ... Amara tadi ada di sini! Tapi karena sesuatu hal, gue jadi gagal untuk membuntuti."


"Hah?" Dimas langsung menatap Baskoro dengan mata menyipit. "Maksud lo?" tanyanya kemudian dengan nada tertarik.


"Jadi gini ...."


Baskoro langsung menceritakan tentang bagaimana perjuangan dia saat menguntit Amara secara diam-diam. Awalnya ia memang sengaja mengintai gadis itu dari kejauhan. Ia tahu, saat ini Amara tengah bekerja di shift siang dan baru pulang ketika sore hari menjelang.


Tak ingin kehilangan jejak lagi untuk yang kesekian kali, Baskoro sengaja datang ke rumah sakit lebih awal. Sekitar pukul tiga ia meninggalkan tempat kerja, berpamitan pada Dimas dan meluncur ke tempat kerja Amara.


Pukul lima sore ia mendapatkan titik terang. Amara muncul di pintu gerbang dan naik sebuah motor dengan pengendara yang memakai jaket seragam ojek online.


"Mau pesan apa, Kak?"


Baskoro yang tengah menguping pembicaraan Amara sontak berjingkat saat ada seorang pelayang yang bertanya. Karena tak ingin ketahuan oleh Amara ia segera menjawab sekenanya.


"Kopi latte aja, Mbak."


"Baik, Kak." Gadis dengan seragam kafe itu mengangguk sopan sebelum akhirnya beranjak dari sana.


Dengan wajah di tutupi koran yang dibawanya dari mobil tadi, Baskoro lantas melanjutkan pengintaian. Gayanya sudah seperti detektif profesional, mengintai sang target dari kejauhan dan berusaha menguping percakapan. Ia mendengar Amara memesan beberapa makanan, dan kini gadis itu tengah duduk di kursi sembari menunggu pesanan datang.


Kali ini Baskoro sama sekali tak mengalihkan pandangannya demi misi yang lancar jaya. Tangannya juga bergerak dengan lihai mengambil gambar Amara melalui kamera ponsel pintarnya. Tak lupa pula mengabari sang atasan sebab berpikir Amara akan lama berada di sana. Ia bahkan mengabaikan kopi pesanannya yang telah datang karena saking gembiranya.

__ADS_1


Namun, beberapa saat kemudian, ia dibuat terbelalak sebab pelayan tadi menghampiri Amara dengan beberapa kantong makanan di tangannya. Bahkan Amara langsung menyodorkan sejumlah uang sebelum kemudian beranjak dari sana.


Terang saja Baskoro gelagapan. Ia langsung bangkit guna melanjutkan peranannya sebagai detektif untuk mengikuti Amara hingga tempat tinggalnya. Bodo amat sama Dimas yang nanti datang dan tak mendapati seseorang. Bukankah yang penting alamat tempat tinggal Amara yang sekarang sudah ada di tangan? Begitu pikir Baskoro.


Tanpa pikir panjang, Baskoro bergerak keluar dengan langkah mengendap-endap, tentunya agar tidak ketahuan oleh Amara. Namun, belum sempat ia melangkah keluar, seseorang telah lebih dulu menghadangnya.


"Kakak mau ke mana? Jangan bilang kalau mau kabur, ya!"


Baskoro yang tengah memperhatikan Amara, terpaksa mengalihkan pandangan pada gadis yang berkacak pinggang di depannya. "Heh! Siapa juga yang mau kabur! Enak aja nuduh orang sembarangan."


"Kalau gitu bayar dulu, dong! Kakak mau, saya suruh nyuci piring gara-gara lari dari tanggung jawab bayar?"


Baskoro berdecih. "Timbang bayar kopi doang. Bayarin kafe sama pelayannya juga gue bisa." Dengan nada meremehkan, ia menyelipkan jari tangan ke saku celana. Namun, sesaat kemudian matanya mengerjap tak percaya saat merasakan ada aneh di sakunya.


"Lah dompet gue ke mana?" Panik, Baskoro langsung menyisir lantai kafe dengan pandangannya untuk mencari-cari sesuatu di sana. Ia lantas membungkuk dan sampai-sampai mencari-cari di bawah kolong meja.


Terang saja ia menjadi pusat perhatian dan bulan-bulanan, sebab kebanyakan pengunjung kafe adalah wanita, dan mereka berpikir Baskoro memiliki niatan tidak baik terhadap mereka.


"Hey, Kak. Mana uangnya?" gadis pelayan tadi kembali mendesak.


"Duh, maaf Mbak, dompet saya nggak ada." Dengan ekspresi tak karuan, Baskoro berusaha menjelaskan. "Gini aja, karena saya lagi buru-buru, nanti saya balik lagi buat bayarin itu kopi, ya. Sepuluh kali lipat, deh," bujuknya pada sang pelayan.


"Eh enak aja! Nggak bisa gitu, Kak!"


"Plis, ya Mbak. Ini darurat." Baskoro tetap mendesak. Tak ingin buang waktu lagi, ia bergegas keluar kafe untuk kembali melanjutkan tugasnya. Namun, sayang seribu sayang. Amara dan kang ojek itu sudah tak lagi ada di sana.


"Sial! Kemana perginya Amara? Haduh. Bisa kena amuk lagi, gua. Arrgh!" Baskoro menggeram frustasi. Ia kehilangan jejak Amara lagi. Dan dalam situasi kacau begitu ia dibuat berjingkat karena terkejut saat tiba-tiba disergap seseorang dari belakang.


"Hayo! Nggak bisa kabur lagi kamu, Kak. Buruan bayar!" desak gadis pelayan itu dengan ekspresi mengancam. Lebih-lebih di belakangnya berdiri dua sosok pria bertubuh besar dengan balutan pakaian keamanan. Terang saja hal itu membuat Baskoro tak bisa berkutik lagi.

__ADS_1


Dengan ekspresi wajah meringis miris, Baskoro hanya bisa pasrah sembari berteriak, "Emak! Anakmu kena tilang, Mak!"


__ADS_2