Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Ucapan Selamat


__ADS_3

Obrolan hangat yang sempat terhenti karena kedatangan Dimas itu kini berlanjut kembali. Bahkan, kehadiran sosok Dimas yang supel dalam pergaulan kian menambah seru suasana. Tak jarang, sikap konyol Dimas itu berhasil menggelitik urat tawa, hingga membuat Winda dan Frans terhibur bahkan terpingkal dibuatnya.


Di tengah suasana hangat itu berlangsung, tiba-tiba terdengar suara lembut seorang gadis menyapa, hingga menarik perhatian semua orang untuk menoleh ke arahnya.


"Permisi ... maaf, boleh saya gabung?" Dengan senyum manis yang mengembang, gadis itu bertanya penuh percaya diri.


Seluruh pasang bola mata dalam kerumunan itu kompak terpaku pada gadis cantik itu, tak terkecuali dengan Amara. Seperti menghipnotis, bahkan gadis itu sukses membuat keadaan hening untuk sejenak.


"Mbak Naura?" lirih Amara setengah tak percaya.


"Naura? Dia siapa, Amara?" Winda yang sama sekali belum mengenal sosok Naura, pada akhirnya tak bisa menahan diri untuk bertanya. Wajar sih jika wanita itu benar-benar ingin tahu, sebab di acaranya tiba-tiba muncul orang asing yang ingin bergabung.

__ADS_1


"Saya adalah kekasih Dimas, Tante." Tanpa rasa berdosa, Naura melingkarkan tangannya pada lengan kokoh Dimas, lalu bergelayut manja di sana dengan bangga.


Terang saja bola mata Amara membulat karena mendengarnya. Merasa ada yang janggal, ia lantas mengalihkan pandangan pada Dimas dengan ekspresi menuntut penjelasan.


Dimas yang paham akan maksud perawatnya itu segera mengambil tindakan dengan memberi penjelasan. Tentunya demi untuk menghindari kesalahpahaman. Bagaimanapun juga, sejauh yang ia tahu, pandangan Amara terhadap Naura hanyalah keburukan. Selain menjadi penyebabnya mengalami kecelakaan, gadis itu bahkan sama sekali tak hadir memberikan dukungan saat ia dalam proses penyembuhan.


"Mar, a–aku bisa jelaskan." Dimas menggeser posisinya dan kian dekat dengan Amara. Ia diam sejenak ketika meneliti bagaimana reaksi gadis itu. Ketika Amara hanya diam tetapi justru alisnya yang bergerak naik seolah menunggu penjelasannya, barulah ia buka suara. "Naura udah jelasin semuanya. Ini cuma kesalahpahaman aja, Mar. Dia sama sekali nggak bersalah. Bukan dia penyebab gue kecelakaan."


"Kami sepakat melanjutkan hubungan lagi."


Amara tercekat. Ia tak bisa berkata-kata. Pengakuan Dimas barusan benar-benar sangat mengejutkan. Ia masih tak habis pikir, setelah mengalami fase berat dalam hidupnya, semudah itukah Dimas memberi maaf pada Naura? Bahkan dengan sengaja memvonis semua yang terjadi hanya kesalahpahaman semata.

__ADS_1


Sebagai orang awam dalam kehidupan Dimas, rasanya ia sulit dipercaya jika ini benar-benar salah paham. Selama berbulan-bulan Dimas dalam keterpurukan, bahkan dalam perawatan tingkat berat, sebagai seorang kekasih Naura itu menghilang ke mana?


Sebagai seorang manusia yang tak tahu apa-apa, salahkah jika ia menaruh curiga? Naura memang bersalah. Gadis itu tak peduli pada Dimas. Bahkan setelah mengetahui Dimas kecelakaan parah, ia justru bahagia. Namun, setelah melihat bagaimana Dimas saat ini, ia menggunakan berbagai cara untuk bisa kembali. Dengan kecantikan yang ia miliki, sepertinya hal itu bukanlah perkara susah. Begitulah kiranya yang ada di benak Amara.


"Mar."


Melihat Amara hanya Diam terpaku dengan tatapan yang sulit diartikan, Dimas sengaja menyentuh lengan gadis itu seperti tengah menyadarkan.


Seperti tersadar, mata Amara sontak mengerjap kecil. Menatap Dimas dan Naura bergantian, gadis itu menyunggingkan senyum terpaksa, lalu berusaha berucap meski sebenarnya ia tak rela. "Selamat, ya Mas. Aku turut bahagia."


"Makasih, ya Mar."

__ADS_1


__ADS_2