Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Menangis lah


__ADS_3

Suara ledakan dari tembak yang dipegang Dimas seperti menggelapkan mata Amara walau gadis itu terpejam. Tubuh mungil yang gemetaran itu merasa ada yang menimpa kepalanya, namun ia tak berani membuka mata hanya untuk memastikan kematiannya.


Tiba-tiba Amara merasa bodoh. Kenapa tadi ia tidak lari dan kabur saja? Persetan dengan sumpah jabatan andai ia akan berakhir dengan menjemput kematian. Terlebih pada pria gila yang tak memiliki perasaan.


Tapi, kenapa ia tidak merasakan sedikitpun kesakitan? Bukankah setelah ditembak seseorang akan merasakan sakit meski hanya peluru latihan?


Rasa penasaran itu mendorong Amara untuk membuka mata. Hal pertama yang dilihatnya adalah sosok Dimas yang seperti membeku di seberang sana. Pria itu masih menatapnya dengan mata membelalak.


"Jj-jadi. A-aku belum mati?" gumam Amara lirih dan terbata. Bibirnya yang memucat itu bergetar. Tangannya yang gemetaran lantas terangkat dan menyentuh atas kepala yang basah. Rupanya basah oleh serpihan apel yang hancur.


Brugggh!


Tubuh Amara terduduk bersamaan dengan lepasnya tembak Dimas dari tangan hingga jatuh menimpa tanah.


Tubuh gadis itu masih bergetar dalam diam. Napasnya tersengal-sengal. Perasaan tak menentu masih bergemuruh di dalam dada. Tak tahu harus bagaimana. Ia baru saja melewati masa-masa yang begitu mencekam.


Beginikah rasanya orang yang hampir menghadapi kematian? Ketakutan yang luar biasa sampai-sampai sekujur tubuh bergetar hebat. Kaki pun seolah tak mampu menopang tubuh.


Dengan kepala yang tertunduk, Amara terisak lirih. Ya Allah, ampuni aku yang terlalu takut dan tunduk pada sesama manusia. Padahal hambamu tahu, hanya engkau yang patut ditakuti.


Sementara Dimas, ia seperti tak percaya berhasil melawan ketakutannya. Bahkan tanpa sadar melepaskan tembak itu dari tangan. Ia menatap kedua telapaknya dengan perasaan begitu senang.


"Aku sembuh, Amara. Aku sembuh ...!" Luapan bahagia itu menggema di bibir Dimas. Pria itu tak hentinya berucap syukur.


Seolah ingin berbagi kebahagiaan, ia berlari menghampiri si gadis yang tengah bersimpuh di ujung sana. Ia menekuk lutut, lalu berjongkok di depan Amara yang masih tertunduk dengan tangan meraup wajah. Menatap perawatnya dengan mata yang berbinar senang, Dimas lantas menyentuh bahu Amara untuk menarik perhatian.

__ADS_1


"Gue berhasil, Amara. Lo seneng, kan?" Dimas mencengkeram lembut kedua bahu Amara, lalu sedikit mengguncangnya sebagai luapan bahagia. Ia begitu senang sampai-sampai tak menyadari wajah berang perawatnya.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi Dimas setelah kedua tangannya terhempas dari bahu Amara. Menyentuh pipinya, Dimas lantas menatap Amara dengan tatapan tak percaya.


"Mar?"


"Diam!"


Dimas tercengang melihat reaksi penuh amarah Amara. Gadis itu beringsut mundur menarik tubuhnya lebih menjauh. Menatap Dimas dengan nyalang tajam, lalu mengusap wajahnya yang basah dengan kasar.


"Sudah cukup Mas Dimas menindas saya! Sudah cukup kamu merendahkan saya!" Amara berucap lantang sambil menuding wajah Dimas dengan telunjuknya. Kata-katanya pun terucap penuh penekanan. "Saya hanya manusia. Saya memiliki batas kesabaran. Saya juga bisa berontak jika diperlakukan bagai binatang! Pernahkah anda menganggap saya ini sebagai manusia dan memperlakukan dengan manusiawi, wahai Tuan Dimas yang terhormat!" Amara bahkan terseyum sinis seusai berucap.


Terdiam, Amara menggemertakkan gigi, lantas meremas jemarinya sebelum kemudian menghempaskannya ke udara. Gadis itu tertunduk dalam. Ada rasa sesak di dada yang kemudian kembali membuat matanya berkaca-kaca. Tak bisa lagi menahan, ia lantas terisak dengan tangan meraup wajah.


"Jangan sentuh saya!" bentak Amara sambil menepis keras tangan Dimas. Tatapannya pun terarah begitu tajam hingga menusuk relung hati Dimas.


Kemarahan Amara itu rupanya berakibat buruk pada Dimas. Pria itu tak lagi iba. Justru malah tersulut emosinya. Ia bahkan tidak sedikitpun menyadari kesalahannya dan menganggap reaksi Amara begitu berlebihan.


"Terserah!" geram Dimas penuh penekanan. Ia bangkit lalu menunduk menatap Amara dengan kesal. "Lo pikir siapa yang mau nyentuh lo! Gue juga nggak peduli sama lo! Gue udah nggak butuh Lo lagi! Gue nggak butuh perawat! Pulang sana! Ngadu sama orang tua lo! Ngadu sama kakek nenek lo! Ngadu sama semua keluarga lo. Atau kalau perlu ngadu sama seluruh tetangga kalau lo menderita di sini karena telah gue bikin sengsara! Pergi Lo! Gue nggak butuh elo lagi!" Dimas berteriak dengan kemarahan yang berapi-api, bahkan sengaja meneriakkannya tepat di telinga Amara.


Gadis itu semakin tergugu sambil menutup kedua telinganya. Ia tak tahan. Ia tak kuat mendengar perkataan Dimas yang seolah-olah menyudutkannya. Terlebih pria itu menyebutkan seluruh anggota keluarga yang kini tak lagi dimilikinya. Itu sungguh-sungguh membuatnya semakin pilu.


Dimas berbalik badan lalu pergi begitu saja. Dengan wajah geram meninggalkan yang masih tergugu pilu di tempatnya.

__ADS_1


Langkahnya terhenti sejenak saat bertemu dengan Eli di pintu keluar. Ia hanya terdiam sambil mendengkus, lantas berlalu begitu saja meninggalkan Eli yang masih kebingungan.


"Mas Dimas, ada apa ini?"


Dimas mengabaikan teriakan Eli yang menuntut penjelasan. Dan tetap melangkah pergi dengan jemari tangan yang terkepal.


Eli masih mengawasi punggung Dimas yang semakin jauh meninggalkannya dengan tatapan heran, lantas menoleh kearah dalam dan mendapati Amara yang tengah bersimpuh di tanah. Tentu saja ia langsung berlari menghampiri dengan wajah panik.


Eli sendiri datang setelah mendengar suara tembakan dari tempat itu. Ini untuk yang pertama kalinya terjadi setelah Dimas mengalami kecelakaan. Rasa penasaran lah yang mendorong untuk datang.


Berniat untuk memberi dukungan andai lelaki itu benar-benar sedang latihan, namun yang ia dapati justru di luar dugaan. Suasana justru menegang melihat ekspresi kedua orang itu tanpa ada seseorang pun yang memberi penjelasan.


"Amara, kamu kenapa, Nak?" Eli berjongkok sambil mengguncang bahu Amara menuntut penjelasan.


Amara yang tengah terisak nampak terkejut merasakan sentuhan Eli. Gadis itu seketika menoleh, kemudian berhambur memeluk Eli dengan erat. Tangisnya pun pecah saat menyandarkan dagu pada bahu ramping wanita paruh baya itu. Air matanya luruh dengan deras, seolah-olah menemukan sandaran untuk berbagi kesedihan.


Tak bisa berkata-kata, Eli hanya mampu mengusap lembut punggung Amara untuk sekedar menenangkannya. Ia terdiam, membiarkan gadis itu meluapkan segala beban yang memberatkan pikirannya.


Entah mengapa, melihat tangisan Amara membuat hatinya ikut berdesir perih. Eli merasakan panas pada kedua matanya hingga membuatnya berkaca-kaca. Tangannya cepat-cepat bergerak mengusap sebelum bulir bening meluncur bebas dari netranya.


"Bibi ...," lirih Amara di sela-sela tangisannya.


"Iya, Sayang. Menangis lah, jika itu bisa membuatmu tenang. Bibi ada di sini bersamamu," tuturnya sambil menepuk pelan bahu Amara untuk memberikan dukungan. Suaranya terdengar bergetar sebab berucap sambil menahan tangis.


Wanita tetaplah wanita. Meskipun setegar apa hati Amara, tangisan tetaplah senjata saat hatinya lara. Dan ini adalah kali pertama Eli melihat air mata Amara.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2