
Usai mandi dan melaksanakan shalat maghrib, Amara lantas mengantarkan satu toples besar pop corn buatannya ke ruang home theater di kediaman orang tua Dimas itu sesuai permintaan Dimas.
Mengetuk pintu terlebih dulu, Amara lantas membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam. Sambil melangkah maju, pandangan Amara tertuju pada puluhan keping DVD yang tampak berserakan di lantai. Tubuhnya seketika menegang. Pikirannya seolah meneriakkan alarm peringatan untuk tetap waspada dan berhati-hati.
Terlebih tak jauh dari situ, tampak Dimas yang sedang duduk bersila tengah dengan sengaja mengeluarkan semua barang dari dalam lemari di bagian bawah. Tentu saja pikiran liar langsung merasuk di kepala Amara, mengingat semua kejadian buruk yang belakangan ini telah menimpanya.
Mungkinkah jiwa pemberontak Mas Dimas kembali meronta? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Amara.
"Ngapain lo mematung di situ?" Suara Dimas yang setengah berteriak mengagetkan Amara. Gadis itu masih berdiri terpaku dengan mata menatap ruangan yang tampak kacau itu. Tersentak, gadis itu kemudian bergegas melangkah menuju meja dan meletakkan pop corn beserta minuman yang ia bawa itu di sana.
Melihat Amara yang mendadak gugup dan menatapnya penuh waspada, Dimas meyakini jika gadis itu mengira ia tengah mengamuk dengan menghamburkan semua barang.
"Tenang aja, gue nggak lagi ngamuk, kok," celetuk Dimas dengan pandangan masih terarah mengawasi Amara. Pria itu lantas menunduk dan mengambil satu buah kepingin DVD sebelum kemudian meniupnya, seolah-olah ada debu yang menempel di sana. "Gue lagi bersih-bersih, malah," lanjutnya kemudian.
Amara hanya tersenyum kikuk di tempatnya sebab telah berpikiran yang tidak-tidak pada Dimas.
Dimas menaruh kepingan itu pada tumpukan kepingan lain di sisi kirinya, lantas kembali menatap Amara yang masih mematung di tempatnya. "Bantuin gue, napa! Biar bersih-bersihnya cepet kelar. Ini malah mematung kayak tiang jemuran!" makinya dengan mimik kesal saat menatap Amara.
Pria dengan pakaian santai serba putih itu terlihat kelelahan usai mengacaukan ruangan yang didisain khusus untuk menonton film seperti di bioskop itu. Sebuah LCD TV berukuran besar tampak menempel di dinding. Lengkap dengan sound sistemnya. Audio serta beberapa buah speaker yang ditempatkan di beberapa titik di sisi layar kian membuat efek dari suara semakin menggelegar.
"Apa yang perlu saya bantu Mas?" Sambil menekuk lutut duduk bersimpuh di lantai, Amara yang mengambil posisi di samping Dimas itu terlihat antusias saat bertanya.
Dimas melirik sekilas pada gadis itu sebelum kemudian mengembalikan pandangan pada kekacauan yang ia buat. "Bersihin ini lemari, terus balikin lagi semua ke tempatnya. Yang rapi ya, gue mau istirahat dulu." Menepuk pelan bahu Amara untuk memberi dukungan, Dimas pun bangkit dengan seringai di bibirnya.
Amara terperangah mendengar perkataan Dimas. Ia mengikuti langkah lelaki itu dengan pandangan. "Katanya suruh bantuin biar cepet kelar, tapi kok malah sayanya ditinggal?" tanyanya sambil memberengut kesal.
__ADS_1
Menjatuhkan diri di sofa yang empuk, Dimas menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Gue cuma mau istirahat bentar. Lo kan tau kalau gue nggak boleh capek-capek. Bahkan Lo sendiri yang negasin supaya gue nggak terlalu banyak aktifitas. Bener, kan ...." tuturnya setengah mengingatkan pada Amara.
Namun dengan seringai di bibir serta sepasang alis yang bergerak turun naik, Amara bisa memastikan jika lelaki itu kembali membuat ulah untuk mengerjainya. Jelas-jelas tempat ini begitu rapi dan terawat, mana mungkin ada debu menempel pada kepingan DVD itu.
Meraih toples yang berada di atas meja, Dimas lalu menikmati pop corn renyah itu dengan penuh suka cita. Menghentikan kegiatannya mengunyah, pria berkulit putih itu kembali mengangkat pandangan dan menatap Amara yang masih merenggut di sana. "Kok malah bengong, buruan kerjain!"
"Iya, Mas," sahut Amara dengan senyuman yang dipaksakan. Lalu memasang mimik sebal saat sudah membelakangi Dimas yang tengah duduk dengan kaki menyilang itu.
Amara menghela napas berat sambil mengedarkan pandangannya. Menatap barang-barang yang berserak di lantai itu benar-benar membuat kepalanya pusing tujuh keliling. Belum juga memulai kegiatan, ia sudah merasa lelah duluan.
"Woy, buruan dikerjain!" Amara sontak menoleh pada Dimas saat lelaki itu berseru. "Sampai kucing beranak tikus juga nggak akan kelar kalau tugas yang gue kasih cuma diliatin doang!"
Amara sontak menggemertakkan giginya. Gadis itu memutar bola mata malas dan kemudian menghela napas dalam untuk menetralkan perasaan. Dan pada saat Dimas mendelik, ia buru-buru memasang senyum semanis madu pada pria yang sudah mengangkat remote kontrol setinggi kepala itu.
"Habis ini pilihkan satu judul film buat gue tonton."
Belum juga selesai, Amara sudah mendapatkan tugas lainnya. Mau bagaimana lagi. Ia hanya bisa mengangguk patuh, terseyum manis dan bersikap seolah dia menerima tugas itu dengan bahagia.
"Dengan senang hati, Mas Dimas," tuturnya sambil mengacungkan jempol dan terseyum sambil mengedipkan mata.
"Pinter." Dimas pula terseyum tak kalah manis sambil mengacungkan jempolnya.
"Mau dicarikan sekarang juga bisa, kok." Amara menatap Dimas dengan senyum menggoda. Kemudian meletakkan kemocengnya, lantas kembali duduk di lantai menghadap begitu banyak kepingan DVD dihadapannya.
Mengedarkan pandangan pada kepingan yang entah berapa jumlahnya itu, Amara lantas mengarahkan pandangan pada pasien spesialnya itu. "Mas Dimas mau film genre apa? Dari luar negeri atau dalam negeri? Mau yang romantis apa aksi?" cecarnya dengan pertanyaan sambil memilah-milah DVD dengan berbagai judul tersebut.
__ADS_1
Dimas menelan popcorn yang baru dikunyahnya. "Menurut lo yang bagus buat gue film apa?" tanyanya dengan malas, lalu kembali menyuapkan popcorn itu sebelum kemudian mengunyahnya.
Amara menyebik sambil melirik Dimas sekilas. "Mana saya tau Mas Dimas sukanya apa."
"Gue sukanya film aksi." Dimas menjawab cepat dengan mulut penuh makanan.
"Film aksi?" Amara sontak bertanya dengan mata membulat sempurna.
Dimas pun membalas tatapan gadis itu dengan kening yang berkerut. "Kenapa lo kaget gitu? Emangnya nggak cocok, gue nonton film aksi?"
Amara diam sejenak untuk berpikir. Kepalanya masih mengarah pada Dimas, namun bola matanya sedikit berputar ke arah lain, sebelum kemudian kembali menatap Dimas. "Film aksi itu yang isinya baku hantam semua bukan?" tanyanya dengan wajah penasaran.
"Ya macam-macam." Dimas memasukkan lagi popcorn ke dalam mulut lalu mengunyahnya. 'Kraus, kraus.' Suara popcorn yang berteriak-teriak di mulut Dimas saat lelaki itu mengunyahnya.
Lelaki itu lantas mengembalikan lagi pandangan pada gadis yang ternyata masih menunggunya lanjutkan kata dengan wajah penasaran.
"Selain baku hantam, ada juga adegan berdarah lainnya yang sangat mengerikan. Pemerkosa. Pembunuhan. Penusukkan, mutilasi dan lain sebagainya," terang Dimas dengan seringai jahat untuk menakuti Amara.
Mendengar itu Amara sontak membeliak. Pikirannya langsung melanglang buana ke hal lainnya. Tiba-tiba ketakutan pun menyeruak menyusul bayangan mengerikan jika sampai Dimas menonton adegan itu. Bisa-bisa penyakit Dimas kambuh dan kemudian menyerangnya dengan tanpa perasaan.
"Tidak!"
Dimas berjingkat penuh keterkejutan saat tiba-tiba Amara berteriak sambil menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam.
Bersambung
__ADS_1