
Amara merasa hidupnya hampa semenjak kepergian Dimas. Seolah-olah ada yang hilang dari kehidupannya hingga membuat dia merasa terpuruk dan kehilangan semangat hidup.
Namun, ia hanya bisa tawakal dan pasrah sebab pria itulah yang menginginkannya. Meski sempat memiliki keinginan untuk memaksa Dimas tetap bertahan dengan dalih orang tuanya, tapi sepertinya itu hanya sia-sia sebab Dimas sudah memintanya untuk mengikhlaskan.
Amara sempat merasa dirinya tidak waras dengan isi dalam otaknya. Ya, dia bisa bertahan dengan luka asal tetap bisa bersama Dimas selamanya. Andai bisa meminta, ia ingin tetap bersama Dimas sekalipun pria itu tetap menjalin cinta dengan Naura.
Cinta memang rumit. Cinta itu sakit. Dan menghilangkan kewarasan. Meski demikian Amara tak pernah menyalahkan Dimas, sebab definisi bahagianya adalah melihat Dimas bahagia. Entah pengorbanan semacam apa yang sempat menjadi pilihan Amara.
Amara bukannya hanya diam berpangku tangan. Ia pernah beberapa kali mendatangi kantor Dimas untuk meminta maaf kendati merasa ada yang janggal. Namun, ia justru hanya disuguhkan oleh pemandangan tidak mengenakkan dengan keberadaan Naura di sana yang sok merasa prihatin terhadap Amara sekalipun di balik itu Naura tertawa menyaksikan kehancurannya.
Lagi-lagi hatinya sakit dipukul oleh kenyataan yang ada. Ia tak bisa berbuat banyak selain segera pergi dari sana.
Waktu terus bergulir dan sudah lebih dari seminggu lamanya Dimas meninggalkan Amara. Pada akhirnya, kenyataan membuat Amara berusaha tegar dan menerima semuanya. Berdamai dengan keadaan dan mengikhlaskan apa yang telah hilang. Itulah yang Amara lakukan.
Pelan-pelan, ia mulai menata hidup dan mencari kebahagiaan bersama orang-orang yang mau menerima keberadaannya, serta semakin meningkatkan rasa cinta terhadap sang pencipta.
Itu lebih baik. Karena satu-satunya cinta yang dijamin tidak akan membuat sakit adalah cinta terhadap Allah.
Aku mungkin telah kehilangan sesuatu yang berharga, kehilangan orang yang aku cinta. Tapi selama aku masih memiliki Allah, niscaya aku masih memiliki semua yang aku butuhkan.
***
Memasuki ruang kerja milik Dimas, Baskoro lantas menghela napas panjang mendapati sang atasan tengah duduk di kursi putarnya sembari memejamkan mata. Bukanlah tengah tertidur, melainkan sengaja memejamkan mata akibat lelah hati yang luar biasa.
Menutup pintu di belakangnya itu dengan gerakan pelan, Baskoro lalu berjalan mendekat dan kemudian duduk mengambil posisi di seberang Dimas. Dengan jemari tangan yang terjalin di atas meja, ia masih diam selagi memandangi Dimas dengan rasa iba.
__ADS_1
"Berita apa yang lo bawa?" Tanpa membuka kelopak matanya, Dimas bertanya dengan nada datar pada sang asisten sekaligus sahabatnya.
"Sorry. Untuk sekarang, gue belum dapat informasi apa-apa tentang tempat tinggal Amara yang baru. Tapi gue yakin, nggak lama lagi–" Baskoro menghentikan ucapannya selagi menatap Dimas tengah membuka mata dan kini balik menatapnya dengan mata menyipit. "Sorry," sambungnya lagi dengan nada merasa bersalah.
"Cuma ngawasin satu cewek aja sampai kehilangan jejak. Ngapain aja kerjaan lo!" bentak Dimas penuh kemarahan sambil mengarahkan tatapan tajam. "Sejak awal keluar dari rumah itu gue langsung kasih lo tugas buat mantau Amara dari kejauhan. Gimana ceritanya sampai dia pindah lo nggak tau alamat dia!"
"Dim, sabar, Dim ... tenangin diri lo ...."
"Gimana bisa tenang!" sentak Dimas seraya bangkit dari duduknya. Ia terlihat kian emosi hingga mencondongkan tubuhnya ke arah Baskoro selagi meneruskan kata-katanya. "Ini keberadaan istri gue lagi dipertanyakan, Baskoro. Dia nggak ada kabar!"
Menggeram frustasi, Dimas menggebrak meja sebelum kemudian mengempaskan tubuhnya kembali ke kursi setelah berucap penuh penekanan. Menyandarkan tubuhnya dengan ekspresi gelisah, ia lantas memejamkan mata dengan tangan kanan memukul-mukul dahinya.
Baskoro kian merasa iba. Sang sahabat kian terpuruk setelah melalui banyak masalah yang menghantam, melewati banyak ujian yang melelahkan. Akhir-akhir ini Dimas memang tengah menghadapi banyak tekanan, mulai dari perseteruan dengan orang tuanya, mengetahui kenyataan pahit tentang pengkhianatan Naura terhadapnya juga keributan dengan Amara yang memang telah direncanakannya. Dan kini, Dimas lagi-lagi harus merasakan tempaan dengan menghilangnya keberadaan Amara yang secara tiba-tiba keluar dari rumahnya.
Entah ke mana perginya gadis itu, hingga ia kesulitan saat melacaknya. Tak ada orang yang tau tempat tinggal gadis itu, tak ada pula yang bisa dimintai informasi.
"Dim ...." Baskoro memanggil nama Dimas sebab ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Namun, alih-alih membuka mata, Dimas justru membentaknya.
"Gosah panggil-panggil gue kalau lo nggak ada informasi tentang Amara. Pergi sana!" usirnya pula.
"Dim, dengerin dulu, napa. Jangan main-main usir, lah. Jangan bikin gue jadi orang terlantar." Baskoro mengerucutkan bibir selagi usaha membujuk Dimas. Walaupun hal itu percuma saja sebab Dimas masih betah memejamkan mata. "Lo jangan putus asa dulu, ya. Gue yakin Amara nggak pergi jauh, kok. Waktu gue cari informasi di rumah sakit, status dia masih kerja di sana, lagi. Barangkali aja dia lagi liburan buat ngisi masa cuti."
Mendengar itu Dimas sontak membuka matanya.
"Ah, yang bener, lo?" desaknya menuntut kepastian. Namun, tak bisa dipungkiri jika penuturan Baskoro barusan layaknya angin segar.
__ADS_1
"Beneran! Swear." Baskoro meyakinkan sembari mengacungkan dua jarinya. Setelah itu ia kembali menambahkan diiringi senyum penuh kepastian. "Lo percayakan aja sama gue, pasti Amara bakal kita temuin lagi. Udahlah, gosah melow-melow gitu ... baru juga dua hari."
"Dua hari pala, lo!" sangkal Dimas tak terima.
"Lah, kan emang dua hari Amara nggak ada kabar berita."
Dimas mendengkus lirih sembari menyandarkan tubuhnya.
"Tapi bagi gue ini udah lama banget, Bas. Gue nggak tenang!"
"Siapa suruh lo ninggalin dia kalau memang benar-benar cinta?"
Lagi-lagi Dimas terdiam mendengar Baskoro menyudutkannya. Ia memilih membuang muka demi menghalau rasa getir di relung hati.
"Terkadang, seseorang perlu mengorbankan kebersamaan demi keselamatan orang yang dia cinta, Bas." Dengan pandangan menerawang, Dimas berucap pelan setelah beberapa saat terdiam.
Namun, alih-alih menimpali perkataan Dimas, Baskoro justru mengerutkan keningnya seolah-olah tak memahami.
"Maksud lo, Dim?" tanyanya dengan ekspresi penasaran.
Dimas memutar bola mata malas sebelum kemudian menggeleng tak habis pikir.
"Emang susah ya ngobrol sama jomlo sejati. Biarpun gue ngomong sampai mulut ini berbusa lo juga nggak akan ngerti!"
Baskoro sontak membelalak dengan pandangan mengikuti Dimas yang bangkit kemudian berjalan.
__ADS_1
"Sialan lo ngatain gue jomlo sejati! Gue udah ada yang naksir, kali! Woy, Dim! Tungguin gue, ngapa!" seru Baskoro lantas bergegas menyusul Dimas yang lebih dulu keluar dari sana.