Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Denda


__ADS_3

Kembali duduk di sofa semula, Dimas menyodorkan kertas itu pada Amara.


"Dibaca dulu sebelum tanda tangan," tutur Dimas sambil menyandarkan punggungnya.


Amara segera meraih kertas itu lantas membaca setiap tulisannya.


PERJANJIAN KONTRAK KERJA


Yang bertanda tangan di bawah ini :


Dimas selaku pihak pertama


Amara selaku pihak kedua


Pasal satu


Selama bekerja, pihak kedua harus patuh pada pihak pertama. Tidak ada bantahan saat ada perintah. Pekerjaannya akan tetap berjalan sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.


Pasal dua


Pihak pertama tak pernah salah


Pasal ketiga


Apabila pihak pertama bersalah, maka kembali ke pasal dua


Pasal keempat


Honor untuk pihak ke dua sebesar Rp 200.000.000,00 dan setengahnya akan dibayar di muka sebagai tanda jadi.


Demikian surat kontrak kerja ini kami buat dalam keadaan sadar, sesadar-sadarnya. Dibuat, disetujui dan ditandatangani oleh kedua pihak setelah dibaca, dimengerti akan isinya dan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun juga.


Amara membulatkan matanya selagi membaca surat kontrak itu. Bukan hanya karena nominal yang tertera di sana, tapi juga pasal-pasal gila yang jelas-jelas memberatkan kubunya.


"Kenapa? Ada yang salah?" Seolah mengerti apa yang dipikirkan Amara, Dimas memutuskan lebih dulu menanyakannya.


Amara mengalihkan pandangannya dari kertas itu kemudian menatap Dimas. Tersenyum ringan, lelaki itu bahkan sudah tahu jika hal ini pasti akan memicu sikap protes dari perawatnya, dan ... benar saja.


"Kok isi pasalnya begini, Mas?"


Sesuai tebakan Dimas, Amara bertanya dengan wajah tak bersahabat untuk menunjukkan sikap protesnya.

__ADS_1


"Loh, kenapa?" Dimas melenting bangun dari sandaran dan menempatkan kedua sikunya bertumpu pada pangkal paha. Ia menatap intens pada Amara dengan jemari yang saling bertautan.


"Saya tau Mas Dimas rela memberi upah saya dengan bayaran mahal. Tapi isi dari kontrak kerja ini cenderung memberatkan saya!"


"Memberatkan gimana? Wong isinya udah pas, gitu kok." Dimas mengulas seyum, lantas mengangsurkan sebuah pulpen ke depan Amara. "Nih, buat tanda tangan."


"Nggak mau." Amara menjawab ketus sambil melemparkan lembaran kontrak kerja itu ke depan Dimas sebelum kemudian membuang muka.


"Hey! Lo mau, kerja nggak dibayar!" bentak Dimas yang seketika membuat Amara berjingkat karena terkejut. Gadis itu lantas menatap Dimas dengan ekspresi wajah miris.


"Saya nggak bisa diginiin ...," lirih Amara kemudian dengan wajah tertunduk sedih.


Dimas mendesah pelan, lalu beranjak berpindah tempat ke sisi Amara. Tangan kokohnya bergerak memutar tubuh Amara hingga menghadap padanya.


Amara terkesiap merasakan tindakan Dimas yang tak disangkanya. Ia kemudian menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mata Dimas yang terarah intens kepadanya.


"Gimana, sih .... Elo nggak bisa diginiin gimana, heum?" Dimas mengangkat dagu Amara untuk melihat wajahnya.


"Mas Dimas cuma memperalat saya, kan? Mas Dimas pasti mau menindas saya." Amara memberengut sebal. Ia tahu surat kontrak ini hanya alat untuk membelenggunya saja.


Sungguh, meskipun Dimas menawarkan dengan bayaran mahal, ia sama sekali tak tertarik jika kebebasannya harus terkekang. Terlebih sampai waktu yang tak bisa ditentukan.


"Saya tau, Mas Dimas sebenarnya sudah sembuh. Tapi kenapa malah membuat surat kontrak sampai waktu yang tidak bisa ditentukan? Seharusnya masa tugas saya selesai sebentar lagi? Kalau kayak gini kan kesannya Mas Dimas yang mengulur-ulur waktu!" protes Amara lagi.


Amara tertegun mendengar perkataan Dimas. Ia berpikir ucapan lelaki itu memang ada benarnya. Meski sudah terlihat normal, tapi sebenarnya Dimas belum sembuh benar. Pria itu masih membutuhkan pantauan yang ketat bila tidak ingin kembali kumat.


"Lagian, lo udah dapat amanah dari Mama, kan? Harusnya lo bisa jaga amanah itu setidaknya sampai Mama balik."


Lagi-lagi Dimas berusaha menyentuh sisi iba di hati Amara, dan sukses. Gadis itu benar-benar merasa tak tega.


"Atau honornya masih kurang? Gue bisa kok, tambahi lagi berapapun yang lo mau," ucap penuh semangat untuk melancarkan aksi membujuknya, tapi Amara buru-buru menolaknya.


"Enggak, Mas, enggak! Segini juga udah kebanyakan buat aku." Gadis itu segera meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di tempat yang tersedia tanpa pikir panjang. Bukan karena uang, melainkan karena bujukan Dimas yang seperti memelas.


Sambil bertopang dagu, Dimas memperhatikan Amara yang tengah menanda tangani berkas itu. Pria itu mengulas senyum melihat sikap murah hati Amara. Gadis polos itu benar-benar sangat mudah untuk dibujuk, terlebih jika menyangkut tentang Amanah dari mamanya.


"Nah, gitu dong. Gue janji nggak akan nindas lo lagi. Gue bikin kontrak kerja ini semata-mata untuk lo, kok. Biar lebih jelas aja." Dimas terseyum manis, lalu mengambil pulpen dari tangan Amara untuk kemudian membubuhkan tanda tangan.


Dimas membagi surat itu menjadi dua, lantas menyerahkan yang satu pada Amara.


"Nih, simpan buat lo. Dan yang ini buat gue."

__ADS_1


Amara mengangguk saat menerima lembaran itu. Namun wajahnya masih menunjukkan ekspresi berat.


"Mar, gue tegaskan sekali lagi. Gue sama sekali nggak ngambil keuntungan dari ini. Gue butuh dedikasi lo, ya ... walaupun buat lo ini nggak sepadan. Tapi lo ngerti maksud gue, kan?"


Amara hanya mengangguk patuh sebagai bentuk persetujuan.


"Bagus. Anak pintar ...," goda Dimas seraya mengusap puncak kepala Amara.


"Ish, Mas Dimas! Aku bukan anak-anak lagi ...!" sungut Amara sambil mengalihkan tangan Dimas.


Dimas justru tergelak, lantas menautkan tangannya untuk kemudian dijadikan bantal. "Iya, iya, gue tau. Buruan bersihin meja kerja gue, gih. Habis itu baru sama-sama istirahat. Udah malam."


Amara bergegas menuruti perintah Dimas. Membersihkan meja kerja pria itu dengan penuh semangat. Tentunya agar secepatnya bisa segera beristirahat. Ia pun tak memperhatikan apa yang sedang Dimas lakukan di tempatnya.


Namun tak berapa lama kemudian, ponselnya berdering menandakan ada notifikasi masuk. Amara mengentikan kegiatannya sejenak dan menyempatkan merogoh ponselnya dari saku baju.


Gadis berjilbab itu menatap layar ponselnya dan seketika membelalakkan mata.


"Mas, apa-apaan ini?" Tatapan tak percaya lantas terarah pada pria itu.


Bersikap biasa saja, Dimas justru pura-pura tak mendengar pertanyaan Amara. Pria itu malah sok asik dengan gawai di tangannya.


"Mas!" panggil Amara sekali lagi dengan intonasi lebih tinggi yang mau tak mau membuat Dimas menatapnya karena kebisingan.


"Apa, sih?" tanya pria itu enteng.


"Ini Mas Dimas beneran transfer ke rekening aku sebesar seratus juta?"


"Enggak. Bukan gue." Dimas sok acuh.


"Bohong!" bantah Amara. Gadis itu lantas mendekati pria itu dan berdiri di depannya dengan mimik kesal.


"Aku nggak mau! Nih, ambil balik!" Amara menyodorkan ponselnya dengan wajah merengut sebal.


"Ogah. Itu kan hal lo!"


"Nggak mau! Ini kebanyakan."


"Lupa, kalau lo udah teken kontrak? Mau, gue denda lima ratus juta gara-gara lo ngebatalin secara sepihak?"


"Hah!" teriak Amara sambil membulatkan bola matanya tak percaya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2