
Amara langsung melepaskan diri dan menjauhi Dimas begitu Amelia dan Baskoro keluar ruangan. Apakah Dimas akan menyerah begitu saja? Tentu saja tidak. Pria itu kembali menarik tubuhnya dengan ringan untuk merapat.
"Ngapain jauh-jauh, sih? Sini dong, agak deketan," ujarnya tanpa tahu malunya.
"Jangan, Mas. Mama udah keluar," tolak Amara sembari berusaha melepaskan diri meski itu percuma. Sebab, kini Dimas mencengkeram erat pergelangan tangannya.
"Memangnya kenapa kalau Mama udah keluar? Terus kenapa juga kalau Mama masih di dalam?"
Seperti berusaha mengalihkan perhatian Amara dari hasratnya untuk menjauh, Dimas sengaja melontarkan pertanyaan yang tak penting. Namun, rupanya hal itu ampuh membuat perhatian Amara teralihkan dan berpikir sejenak.
Benar juga. Memangnya kenapa ya? batin Amara.
"Lo sakit, ya?"
"Hem?" Alis Amara sontak terangkat mendengar Dimas bertanya demikian. Ia memandang Dimas lekat-lekat, mengerjapkan mata sebelum kemudian menggeleng pelan. "Enggak tuh."
"Masa? Tapi kok tangannya dingin banget."
Wajah Amara langsung merona. Ia tak menyangka Dimas akan menanyakannya. Dasar pria tidak peka. Bukankah dia penyebabnya hingga Amara menggigil seperti ini?
"Nih, asli dingin banget." Dimas meremas tangannya dengan lembut, lalu kemudian menempelkan ke pipinya sendiri lalu memejamkan mata seolah-olah tengah meresapi dinginnya telapak tangan Amara.
Seketika darah Amara terasa berdesir. Perlakuan Dimas nyaris membuatnya bawa perasaan. Ingin rasanya ia menarik tangannya itu lalu menyembunyikan ke belakang tubuh agar tidak disentuh. Akan tetapi kenyataannya apa? Ia tidak bisa karena dia suka. Bagaimana coba?
"Sini mendekat."
Amara kian gugup saat tiba-tiba Dimas menarik tubuhnya kian merapat. Untuk apa coba? Pria itu malah seenaknya peluk-peluk dia.
Amara sontak meronta memohon untuk dilepaskan.
"Maaas jangaaan ...." Entah kenapa ia jadi merengek manja begini? Meski tubuhnya berusaha menolak, tapi kenyataannya hati memasrahkan diri. Benar-benar memalukan. Pada akhirnya Amara pasrah saja saat Dimas membenamkan kepalanya di dada bidang itu.
"Kenapa sih? Sejak kapan lo jadi pembangkang gini, heum?" Dimas akhirnya diam-diam tersenyum puas ketika Amara menyerah pasrah meski bahasa tubuhnya kaku dan tegang.
Tidak apa. Ini baru awal. Nanti juga lama-lama dia akan lebih santai saat berdua.
"Nah, kalau gini kan enak. Tubuh gue hangat, sedangkan lo dingin. Perpaduan sempurna, kan?"
Diam-diam Amara tersenyum dengan keadaan wajahnya yang tersembunyi di dada Dimas. Entah mengapa ia merasa setuju dengan pemikiran Dimas?
"Udah minum obat, belum?" Kini Dimas kian tak canggung menunjukkan perhatiannya. Ia menanyakan itu sembari mengeratkan pelukan dan mengusap lembut punggung belakang Amara.
Amara yang tidak merasa dirinya sakit langsung saja mengangkat kepala untuk bisa menatap wajah Dimas sebelum kemudian memberikan penyangkalan.
"Aku tuh nggak sakit, Mas. Aku baik-baik aja. Aku nggak perlu minum obat."
"Tapi badan lo panas dingin," protes Dimas. "Kalau bukan karena sakit terus karena apa coba?"
Tak bisa menjawab apa-apa, Amara memilih membenamkan lagi kepalanya. Jelas untuk menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Kenapa nggak jawab, sih? Kenapa coba?"
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Mas." Amara menggeleng. Mana mungkin ia akan mengaku panas dingin karena Dimas. Yang benar saja.
"Masa?"
Lagi-lagi Dimas mendesaknya. Apa maunya coba? Entah mengapa ia merasa Dimas seperti menjeratnya.
"Beneran!" Amara berucap tegas agar Dimas percaya. Tapi ternyata tidak semudah itu meyakinkan pria itu. Pria itu malah mengangkat wajahnya dan memperhatikan dengan seksama.
"Tapi lo pucet loh, Mar. Lo nggak nyadar, hah?"
Rupanya tindakan yang Dimas ambil itu tidak tepat. Ketika mata saling pandang dengan jarak yang begitu dekat, debaran jantungnya pun kian bekerja dua kali lipat. Mata itu. Pipi itu. Bahkan bibir ranum Amara membuat angan liarnya melanglang buana. Ia ingin merasakan kembali lengkung merah jambu yang kenyal dan manis itu.
Demikian pula dengan Amara yang hanya membeku tanpa bisa berbuat apa-apa. Tatapan tegas penuh hasrat itu seperti mengunci pergerakannya. Melumpuhkan syaraf-syarafnya. Wajah Dimas sangat memesona hingga ia lupa segalanya.
Dan ketika deru napas memburu, hasrat menguasai dan rasa nikmat telah menjadi candu, tanpa sadar Dimas mendorong wajahnya kian dekat. Sayangnya, saat beberapa senti dua bibir hampir bersentuhan, pintu mendadak terbuka dari luar dan merusak segalanya.
Amara yang sangat terkejut langsung melepaskan diri dan menjauhi Dimas hingga duduk di ujung sofa.
Dimas semakin bertambah kesal ketika dilihatnya Baskoro tengah melangkah masuk ke dalam sambil cengengesan tanpa merasa berdosa. Manusia apa bukan sih dia? Bisa-bisanya bersikap santai seperti itu setelah merusak momennya dan membuat Amara merasakan malu luar biasa.
"Hehehe, HP gue ketinggalan, Bro," ujar Baskoro sambil meraih ponselnya yang tergeletak di meja.
Dimas menggeram lalu menghunjamkan tatapan tajam pada sahabatnya.
"Bedebah sialan lo, Bas." Dia memaki dengan tatapan masih mengikuti langkah Baskoro.
"Apaan, sih Dim? HP gue beneran ketinggalan, tau! Entar kalau pacar gue telepon gimana, coba?"
"Gue tau penyakit jomlo lo, itu udah akut, Bas!" maki Dimas dengan kesal.
Baskoro bergegas keluar setelah menggoda Dimas dengan mengedipkan mata.
Dimas mendesah pelan. Ia sih tenang-tenang saja. Dimas justru mengkhawatirkan kondisi Amara yang pastinya sangat malu oleh kekacauan ini. Ia takut Amara tak mau lagi berdekatan dengan dia.
"Mar, sini dong." Dimas mulai membujuk setelah diam dan memperhatikan Amara beberapa saat. Akan tetapi Amara hanya geleng kepala sambil gigit bibir bawahnya.
"Amara." Meski diucapkan dengan pelan, tetapi tekanan dari nada panggilan Dimas itu sukses membuat Amara tak bisa mengelak. Gadis itu mengembuskan napas sebelum kemudian beringsut mendekat dengan terpaksa.
"Sini," titah Dimas saat Amara berhenti di jarak beberapa jengkal.
Amara cemberut, lalu geleng kepala.
"Kenapa nggak mau?" tanya Dimas penasaran. "Lo takut?"
Amara memandang Dimas sebentar sebelum kemudian kembali menunduk. Ekspresi Amara itu tampak seperti mengiyakan tebakan Dimas.
"Sini, Amara. Kejadian seperti tadi nggak akan terulang lagi. Gue jamin. Tempat ini tuh Aman dari jangkauan siapa pun. Baskoro aja tuh yang iseng. Dia bahagia kalau gue susah. Sini dong," bujuk Dimas lagi.
"Malu, Mas. Biar gimana juga Mas Baskoro itu manusia."
Dimas tersenyum menanggapi kata-kata Amara. Sifat pemalu gadis itu benar-benar membuatnya semakin kagum.
__ADS_1
"Lo boleh malu, Mar. Karena itu sebagian dari iman. Kemuliaan seorang wanita tidak hanya terletak pada paras rupanya, ilmu yang dimiliki serta harta yang dipunya. Namun, wanita akan mulia dan cantik jika di hatinya tertanam rasa malu pada lawan jenisnya. Atau pun setelah melakukan dosa. Wanita itu ibarat mutiara dan berlian. Semakin tersembunyi kecantikannya maka akan semakin berharga pula nilainya. Mahalkan diri dengan menjunjung tinggi rasa malu. Wanita tak perlu merendahkan maruwah atas nama cinta yang tidak halal. Tetapi tentunya lo bisa bedain mana yang halal dan mana yang haram, bukan?"
Amara sontak mengangguk. Bagaimana hatinya tidak akan tersentuh jika Dimas menyanjungnya seperti ini?
"Tapi jangan nakal." Entah Amara mendapatkan keberanian dari mana hingga memberikan persyaratan seperti itu. Dan Dimas yang sangat pengertian itu tampaknya tak keberatan.
"Iya, iya, gue janji," ucapnya sambil mengacungkan dua jari. Ia pun tersenyum puas saat Amara mendekat walaupun tidak merapat.
Tentunya Dimas tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan membuat Amara tidak nyaman. Ia pun berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan topik pembicaraan.
"Oh ya, itu apa?" tanyanya sambil mengedikkan dagu ke arah kotak di atas meja. Kotak itu adalah barang bawaan Amara tadi.
"Itu oleh-oleh dari Mama, Mas. Katanya kesukaan Mas Dimas," jawab Amara. Namun, kini ekspresinya tidak setegang tadi. Mungkin karena merasa aman dan tidak terancam.
"Gue mau dong." Kenapa Dimas mesti repot-repot bilang begitu jika memang menginginkan kue itu? Toh memang dibawa khusus untuk dia. Apa lagi jika bukan karena ingin disuapi oleh Amara. Dan perawat dan sekaligus istri yang begitu perhatian itu langsung bergerak cekatan membuka kotak dan kemudian menyuapinya menggunakan sendok.
"Emmm, enak banget." Dimas mengunyah dan menikmatinya dengan penuh penghayatan. Kue dengan tekstur lembut dan yummy itu benar-benar nikmat di lidah. Apalagi disuapi yang tercinta.
"Ini beneran enak banget. Lo nggak mau nyoba?"
Amara langsung menggeleng. "Nggak Mas, aku udah makan kok. Buat Mas Dimas aja, ya."
Dimas menggeleng sambil menelan makanan di dalam mulutnya. "Nggak bisa gitu, dong. Nggak adil kalau yang makan cuma gue doang."
Ia tiba-tiba mengambil alih sendok dari tangan Amara. Lalu kemudian dengan santai menyendok kue itu dan menyodorkan ke depan mulut Amara.
"Aa'," titahnya agar Amara membuka mulut.
"Nggak, Mas, terima kasih." Amara bersikeras menolaknya dengan berbagai pertimbangan. Mana mungkin ia bersikap di luar batas dengan memakan makanan dan alat makan yang sama. Akan tetapi penolakan itu tidak mudah, sebab Dimas lagi-lagi memaksanya.
"Jangan bantah."
Akhirnya, terpaksa ia membuka mulut dan pasrah Dimas menyuapinya.
Entah Dimas yang tidak ahli dalam menyuapi atau dirinya yang kurang hati-hati. Sebagian makanan itu malah mengenai sudut bibirnya dan menimbulkan noda di sana. Sebenarnya Amara tak menyadari itu, tetapi Dimas merasa terganggu.
"Lo kalau makan gimana, sih Mar? Masa celemotan gitu."
"Oh ya?" Amara ingin menyentuh bibirnya, tetapi Dimas bergerak cepat mencegahnya.
"Jangan. Kotor."
Amara hendak meraih tisu, tapi lagi-lagi Dimas mencegahnya.
"Biar gue bantu."
Kalau sudah begitu bisakah Amara menolaknya? Tidak. Tidak ada pilihan lain baginya selain patuh, hingga akhirnya ia memasrahkan bibirnya pada Dimas.
Amara tak mampu menatap wajah Dimas dengan jarak sedekat itu. Ia hanya bisa menutup mata sembari berdoa agar jantungnya masih tetap pada tempatnya.
Jujur, awalnya Amara tak berpikiran buruk pada Dimas. Ia begitu percaya Dimas akan mengusap bibirnya menggunakan tisu yang sempat pria itu raih sebelum dirinya memejamkan mata. Namun, hati orang tidak ada yang tahu, bukan. Begitu pula dengan niatan Dimas.
__ADS_1
Benar saja. Tubuh Amara sontak menegang saat dirasakannya sentuhan lembut singgah di bibirnya. Ia tahu betul itu bukanlah usapan dari tisu. Terlebih lagi embusan udara yang terasa hangat menerpa wajahnya.
Tidak salah lagi, Amara tahu ini apa.