
Di sebuah kursi besi di taman belakang, Amara duduk termenung sendirian. Apa lagi jika bukan karena memikirkan kata-kata mertuanya barusan?
Ia bukannya sakit hati, tapi justru merasa bersalah. Ia telah membuat wanita itu kecewa. Kata-kata Amelia tadi memang ada benarnya sekalipun diutarakan dengan sikap yang berlebihan. Serta kemarahan wanita itu memang wajar mengingat dia adalah ibu kandung dari Dimas.
Dirinyalah yang tidak bisa mengemban amanah dengan baik. Dirinyalah yang begitu lemah hingga tak mampu membujuk Dimas untuk tetap tinggal di rumah sakit.
Amara lah yang menandatangani surat pulang paksa, jadi dirinyalah yang harus bertanggung jawab atas segala konsekwensinya.
Berani sekali dia? Andai terjadi apa-apa dengan Dimas bagaimana?
Namun, lagi-lagi naluri Amara sebagai perawat pun berteriak kala nalurinya sebagai istri menjerit.
Dimas memang sakit, tetapi penyakitnya tergolong ringan dan bukanlah penyakit berat yang mematikan sekalipun bisa berakibat fatal andai tanpa perawatan.
Amara mengizinkan pulang tentu saja setelah melewati banyak pertimbangan. Ia akan merawat Dimas dengan baik. Mengontrol keadaannya setiap waktu dan asupan nutrisinya, serta memastikan pria itu mengkonsumsi obat yang terbaik.
Amara yakin, Dimas pasti segera sembuh. Mengingat jika pria itu trauma rumah sakit, menurutnya rumah memang tempat yang tepat untuk memulihkan kesehatan. Selain nyaman dan bersih, juga tenang tanpa adanya suasana mencekam seperti yang terkadang orang-orang pikirkan.
Karena bagaimanapun juga, tempat beristirahat memberikan pengaruh besar terhadap proses penyembuhan seseorang. Semoga saja keputusan yang diambilnya itu sudah tepat meskipun mendapatkan tentangan.
Namun, ada cerita seru di balik suasana menegangkan tadi. Dimas membela Amara dari kemarahan ibu kandungnya. Ah, tiba-tiba saja wajah Amara bersemu malu lantaran mengingat hal itu. Bibirnya pun tanpa sadar menyimpul senyum.
Coba tebak bagaimana perasaan gadis itu sekarang. Bagaimana rasanya dibela pria dingin yang begitu dicintainya? Seperti dilambungkan ke awan-awan, bukan? Sampai-sampai jantung gadis itu berdebar-debar.
Tiba-tiba Amara jadi memikirkan sikap Dimas. Dingin tapi membela. Apa maksudnya coba? Apa memang Dimas itu orang yang perhatian atau cuma dirinya saja yang besar kepala? Toh apa yang dikatakan Dimas itu memanglah benar, jadi wajar kalau pria itu meluruskan.
Ah, mendadak Amara jadi kecewa. Sudah melambung di atas awan tiba-tiba merasa dihempaskan.
Tak apa. Begini saja aku sudah merasa sangat bahagia, batinnya menghibur diri. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Suara decitan high heels yang berpadu dengan lantai berbahan marmer terdengar mendekat ke arah Amara. Seketika gadis itu bisa menebak siapa pemiliknya sekaligus orang yang datang mendekatinya. Gegas saja ia bangkit dari duduknya dan menyambut sosok itu dengan sapa dan senyum.
"Mama."
__ADS_1
"Ngapain kamu di situ? Nangis? Kamu sakit hati mendengar kata-kata Mama?" Suara Amelia masih terdengar angkuh saat bertanya kepadanya, disertai tuduhan pula, tetapi buru-buru Amara menggeleng disertai senyuman guna menyangkal kata-kata mertuanya itu melalui tindakan.
"Enggak kok, Ma. Amara cuma lagi nyantai di sini aja untuk cari angin. Karena Mas Dimas sedang tidak membutuhkan Amara, jadi Amara nggak ada kerjaan."
Amel terdengar mendengkus lirih sebelum berkata dengan nada mengingatkan.
"Ingat ya Amara, Mama masih mempercayakan Dimas pada kamu. Dan sampai kapan pun Mama akan pegang kata-kata kamu. Dimas itu sedang terpuruk, Amara. Dia butuh penghiburan!"
Amara terbelalak mendengar kata-kata terakhir Amelia.
"Terpuruk bagaimana maksud Mama?" tanyanya kemudian dengan wajah penasaran.
Terang saja pertanyaan bodoh Amara itu mengundang decak heran wanita di depannya.
"Amara, Amara. Kemana aja sih kamu? Sampai-sampai hal yang terjadi dengan suamimu saja kamu nggak tau."
"Tapi Amara memang bener-bener nggak tau, Ma." Kali ini Amara memberanikan diri untuk menegaskan, tanpa sedikitpun niatan untuk tidak sopan. Namun, bukannya lekas memberi tahunya, Amelia justru menggeleng tak percaya.
Diamnya Amelia kali ini membuat Amara kian penasaran. Ia pun sengaja mendekati sang mertua sebelum kembali bertanya mengenai suaminya.
Pertanyaan Amara itu membuat Amel memperhatikan wajah menantunya dengan seksama. Raut penasaran serta kecemasan yang tergambar di sana betul-betul menunjukkan jika Amara tak tahu apa-apa. Ia pun mendesah pelan, lantas menjelaskan dengan suara yang melemah.
***
"Mas Dimas!"
Dimas yang baru saja keluar dari toilet dibuat terkejut oleh jeritan histeris Amara. Lebih-lebih gadis itu menitikkan air mata dan menubruknya tanpa permisi. Bahkan kemudian menangis sesenggukan sembari memeluknya.
"Mar, ini ada apa? Lo nggak kesambet, kan?" tanyanya bingung tanpa niatan membalas pelukan. Sedangkan Amara justru makin sesenggukan karena mendengar pertanyaannya.
"Loh, malah makin kenceng aja nangisnya?" Dimas menangkub wajah Amara dengan lembut dan memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Lo kenapa, sih? Dimarahi Mama lagi? Udah Mar, jangan dipikirin. Mama emang gitu orangnya," ujarnya menenangkan.
Namun, alih-alih mengiyakan, Amara justru menggeleng. Bikin Dimas tambah bingung, kan.
__ADS_1
"Terus kenapa?" tanya Dimas lagi, tapi kali ini dengan nada putus asa.
Masih dengan tangis sesenggukan, Amara pun mulai bicara.
"Mas Dimas kenapa nggak bilang-bilang kalau putus sama Mbak Naura?"
"La habisnya lo nggak nanya!"
Amara menggeram kesal. Ia betul-betul khawatir pada Dimas sedangkan pria itu justru asal saja saat menjawab.
"Mana mungkin aku berani nanya-nanya gitu, Mas ... itu bukan ranah aku!" Amara menjeda ucapannya sembari mengusap air mata. "Jadi Mas Dimas sakit seperti ini karena dia? Karena hubungan kalian yang kandas?"
"Enggak! Gosah ngawur kalau ngomong."
"Mas, jangan bohong!" desak Amara sambil menghentakkan kakinya. Mungkin karena jengkel Dimas selalu mengelak.
"Siapa yang bohong, Mar ... orang gue fine-fine aja."
"Bohong!" bantah Amara lagi dan itu membuat Dimas berdecak. Amara lantas menatap mata Dimas lekat-lekat sebelum kemudian berbicara. "Mas, aku tau kamu terpuruk. Sejak awal kita jumpa setelah sempat berpisah, aku bisa lihat mata kamu menyiratkan luka. Kamu patah hati kan, Mas?"
Dimas tergelak menanggapi sikap sok tahu istrinya itu. Tapi tak mungkin juga ia mengatakan jika sakitnya dia itu karena Amara lah penyebabnya. Bukannya tidak mau, hanya saja belum saatnya.
"Kalau nggak tau gosah sok tau lo."
Amara meringis saat jari tangan Dimas menyentil jidatnya.
"Mas sakit," keluhnya dengan wajah memberengut.
"Makanya! Jadi orang jangan sok tau! Udah lepas-lepas! Gue engap nih dipeluk-peluk terus." Dimas sedikit mendorong tubuh Amara dengan ekspresi nyeleneh setengah tak nyaman. Bukan, bukan karena benar-benar tidak nyaman. Melainkan khawatir jika Amara akan bisa mendengarkan dengan jelas bagaimana debaran jantungnya yang tak terkendali.
Sementara Amara yang menyadari tangannya masih melingkar di pinggang Dimas sontak saja mengurainya dan mundur dua langkah. Tak ada raut marah atau tersinggung di wajahnya. Yang ada hanya rasa malu dan canggung. Entah ide gila dari mana hingga dia begitu beraninya memeluk Dimas.
Terlepas dari apa pun masalah Dimas, setidaknya ia merasa lega sebab sempat melihat Dimas tertawa karena tingkah konyolnya.
__ADS_1
Dan seperti pada janjinya dengan Amelia tadi, Amara akan merawat Dimas dengan baik sekaligus membantu pria itu mencari bahagianya.