Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Seperti Tersengat


__ADS_3

Amara memutuskan untuk pergi ke kamar mendahului Dimas ketika hari semakin malam. Ketika terlibat obrolan santai dengan suami dan mertuanya, gadis itu kedapatan menguap berulang-ulang. Terang saja tiga orang yang ada di sana kompak menyuruh wanita berjilbab itu untuk pergi tidur cepat.


Gadis itu tak cukup pintar menyembunyikan wajah lelahnya, hingga mata merah sedikit berair itu terlihat oleh Dimas yang kebetulan berada di sisinya dengan begitu jelas.


Duduk di sofa panjang pada ruangan yang merupakan bukan ranah pribadinya, Amara tertegun dengan pikiran melanglang buana. Pipinya langsung memerah kala mengingat begitu manisnya perlakuan Dimas terhadapnya tadi.


Ya, dia bahkan dengan sepenuhnya menyadari jika hal itu Dimas lakukan semata-mata hanya sebagai penunjang akting mereka saja. Namun, deguban jantung yang bertalu-talu tak bisa membohongi jika ia sendiri menyukai hal itu.


Amara benar-benar terpesona oleh sosok pria bernama Dimas. Tak peduli seperti apa tengilnya dia dan betapa jahilnya pria itu, semua keburukan Dimas bahkan telah tertutup sempurna oleh sikap baiknya yang tak seberapa.


Ia menyadari, perlahan tetapi pasti, rasa cinta itu mulai menguasai. Rasa itu sangat kuat, hingga ia tak sanggup menghalau meski seberapa hebat ia berusaha.


Terjebak dalam jerat cinta bertepuk sebelah tangan benar-benar membuatnya tak menginginkan perasaan balasan. Ia hanya membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa menyembunyikan rasa. Sepertinya hal itu tidaklah sulit. Dari masa kanak-kanak ia bahkan sudah terbiasa menyembunyikan rasa. Perasaan terhadap Juan. Ia bahkan tak pernah menyangka jika kehadiran Dimas mampu menggeser keberadaan Juan di palung hatinya yang terdalam.


Amara sendiri tak mengerti, rasa cinta itu muncul akibat ikatan pernikahan yang terjalin, atau memang dorongan alami dari hati yang berulang kali dibuat berbunga-bunga oleh seorang Dimas Sanjaya.


Ia sungguh sadar dengan sesadar-sadarnya, menjatuhkan hati pada seorang Dimas itu sama halnya dengan melemparkan diri pada sebuah lubang yang sepenuhnya berisi duri. Ia hanya akan merasakan luka tanpa sedikitpun mendapatkan kesempatan cintanya akan terbalaskan.


Kendati demikian, ia sudah cukup siap menjalani takdirnya. Toh bagi Amara, luka dan dirinya ibarat teman yang sudah sejak dulu selalu berkelindan. Hatinya cukup kuat sebab sudah terbiasa mendapatkan tempaan. Satu hal yang selalu ia langitkan pada Tuhan di setiap sujudnya, yaitu sebuah rasa bernama tabah agar hatinya kuat dan tak akan patah.


Amara menghela napas berkali-kali demi mengusir rasa tidak nyaman di hatinya. Ia bergegas membaringkan tubuhnya di sofa panjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Gadis itu berharap bisa segera terlelap sebelum Dimas datang dan membuat perasannya kembali tak karuan.


Namun, baru juga hendak terlelap, gadis itu sudah terusik oleh sebuah sentuhan mendarat di pipinya. Ya, dengan perasaan setengah sadar telinganya masih bisa mendengar suara Dimas meski lamat-lamat.


"Mar, lo udah tidur?"


Amara berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, kemudian mengerjap-kerjap untuk mengumpulkan nyawa yang tadi sempat terpisah entah ke mana. Kepalanya dengan lemah menoleh ke kiri dan langsung disambut oleh senyuman Dimas yang begitu memesona.


"Ada apa?" tanya gadis itu dengan suara parau khas bangun tidur. Sekuat tenaga ia menatap Dimas dengan ekspresi penuh tanya. Kini ia bisa mengetahui dengan jelas jika pria itu tengah berlutut di lantai, lengan bertumpu pada sofa, sementara tubuh Dimas begitu condong ke arahnya.

__ADS_1


Ia bisa memastikan jika Dimas baru saja mandi di tengah malam buta. Rambutnya setengah basah, sedangkan dari tubuhnya menguar aroma wangi dari sabun dan sampo. Dan lagi-lagi, kesan tampan dan menggoda benar-benar tak bisa lepas dari dia.


"Pindah, ya. Jangan tidur di sini."


"Hah!" Seketika itu juga, tubuh Amara melenting bangun dan kemudian terduduk karena begitu terkejut. Dimas memang berucap sangat pelan dan terkesan hati-hati. Namun, hal itu secara langsung membuatnya panik sebab berpikir telah merebahkan tubuh di tempat yang salah dan tidak semestinya. Seketika Amara mengedarkan pandangannya dan menyadari jika ia benar-benar tidur di sofa.


"Terima kasih sudah membangunkan ya, Mas." Gadis itu mengusap wajahnya kemudian beranjak. Ia berpikir hendak turun ke lantai bawah untuk tidur di kamarnya sendiri.


"Heh, lo mau ke mana?" Sembari berbicara lirih, tangan Dimas dengan cepat bergerak menahan Amara hingga gadis itu kembali terduduk di sofa. Karena masih dalam keadaan sangat mengantuk, Amara lantas menjawab pertanyaan Dimas dengan nada lemah setengah melenguh.


"Katanya aku disuruh pindah."


"Bukan pindah ke bawah. Mama sama Papa tidur di sana soalnya. Lo pindah ke ranjang gue, ya. Biar tidur lo lebih nyaman."


"Engg." Amara melenguh sambil geleng kepala. Ia lantas menyandarkan tubuhnya dan kemudian memejamkan mata.


"Mar ... gue bilang pindah." Dimas kembali mengingatkan Amara dan gadis itu lagi-lagi cuma geleng kepala. Rasa kantuknya sangat kuat hingga ia berpikir tidur di mana saja sudah cukup merasa nyaman. Ia bahkan tak lagi membutuhkan ranjang.


Dimas yang masih berdiri hanya bisa mendesah pelan sambil geleng kepala.


"Dasar. Disuruh pindah malah merem lagi. Minta diapain nih orang." Dimas menggerutu. Ia mengalihkan pandangannya ke pintu untuk sejenak, sebelum kemudian mengembalikan lagi pada sosok Amara yang bergelung selimut dengan nyaman. Ia berniat membangunkan, tetapi, wajah teduh Amara yang tengah terpejam itu membuatnya jadi tak tega.


Bingung, Dimas menggaruk kepalanya yang tak gatal. Gadis ini terlihat sangat mengantuk hingga tak bisa diajak untuk berembuk. Percuma saja ia membicarakan sebuah rencana jika lawan bicaranya tertidur pulas. Maka tanpa pikir panjang, Dimas segera membungkuk untuk meraup tubuh Amara dan membawanya ke dalam gendongan. Ia lantas dengan sangat hati-hati merebahkannya ke atas ranjang.


Saat dilihatnya Amara tak bereaksi, Dimas lantas berkata pelan di dekat telinga istrinya.


"Sorry, Mar. Gue terpaksa mindahin lo dan bikin nggak nyaman. Ini keadaan genting soalnya. Mudah-mudahan lo nggak marah, ya."


Sesaat kemudian, Dimas segera naik ke atas ranjang. Menyusup ke sisi Amara dan masuk ke dalam selimut, tangannya lantas bergerak melingkar di perutnya Amara yang tengah terlelap dengan posisi terlentang.

__ADS_1


Dimas benar-benar mengikis jarak. Merapatkan tubuhnya dengan Amara dan memeluknya penuh kehangatan sebelum kemudian ikut memejamkan mata. Tangan kirinya bahkan ia telusupkan di bawah kepala Amara seolah-olah dijadikan bantal.


Beberapa waktu telah berlalu. Dimas masih dalam posisinya seperti sedang menunggu. Benar saja. Sesaat kemudian, pintu kamar terdengar berderit perlahan seperti dibuka dengan gerakan sangat pelan. Dimas tahu itu siapa, maka ia bersikap seolah-olah tengah tertidur pulas.


"So sweet sekali mereka, Pa. Lihat, mereka tidur berpelukan. Mereka benar-benar tidur satu kamar."


Suara Amel yang berseru girang sukses membuat Dimas harus berjuang keras menahan untuk tidak tertawa. Pria itu masih bertahan pada posisinya dan memejamkan mata dengan rapat. Sesaat kemudian ia mendengar suara lain yang ikut berbicara.


"Ssttt. Jangan keras-keras, Ma. Nanti mereka bangun gara-gara Mama berisik." Handoko memperingatkan. "Sudah. Ayo kita kembali ke kamar. Kau sudah melihat apa yang ingin kau lihat, bukan?"


"Iya. Aku sudah puas dan lega, sekarang," jawab Amel. Dan kemudian, Dimas mendengar pintu kembali berderit dan menyisakan keheningan ruangan.


Demi memastikan semuanya, Dimas pun segera membuka mata dan melongokkan kepalanya ke arah pintu. Benar, sosok papa mamanya sudah tidak ada di sana dan itu membuatnya menghela napas lega.


"Berhasil." Ia bersorak pelan penuh kepuasan. Setelah itu ia melirik Amara yang tak tahu apa-apa dan kemudian berbisik sambil tersenyum. "Thank's, ya Mar. Good job," pujinya.


Dimas memandangi wajah Amara sebentar sebelum kemudian mengangkat kepala gadis itu dengan tangan kanan. Tentu saja agar tangan kirinya bisa ditarik keluar tanpa mengusik kenyamanan tidur gadis itu.


Namun, yang terjadi justru di luar perkiraan. Amara yang sebelumnya tidur terlentang mendadak memiringkan badan dengan tangan kiri yang bergerak melingkari pinggang Dimas.


Karena terkejut pria itu sontak membelalak sambil memindai tangan Amara. Dilihatnya pula mata gadis itu yang masih terpejam rapat.


Mungkinkah gerakannya barusan membuat Amara terusik dan refleks bergerak memeluk sebab mengira dirinya adalah bantal guling?


Ah, batin Dimas langsung berkecamuk tak menentu. Ia buru-buru memegang tangan Amara, berniat untuk memindahkannya. Namun, gadis itu justru mencengkeram piyama bagian belakang Dimas, bersikap seolah-olah tak mau dipindahkan. Gadis itu malah bergerak merapatkan wajahnya pada dada hangat Dimas yang lagi-lagi membuat pria itu membelalak.


Entah mengapa, jantung yang sebelumnya berdetak tenang sebagaimana mestinya, kini tiba-tiba bekerja dua kali lebih cepat. Tak dapat Dimas pungkiri, kehangatan tubuh Amara benar-benar menghadirkan sensasi nyaman. Aroma harum yang menyapa indra penciuman juga terasa menenangkan.


Di saat ia tengah memandangi setiap inci wajah istrinya dari samping, tiba-tiba sosok Juan yang tengah marah langsung muncul di pelupuk mata dan itu membuat Dimas seperti tersengat.

__ADS_1


"Mar, plis ... jangan gini, dong. Ingat Juan, Mar. Entar kalau dia marah gimana?" lirihnya dengan ekspresi miris.


__ADS_2