Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Bantal guling


__ADS_3

"Eh, maksudnya ini gimana, Mas? Suka dalam artian apa?" Amara diam sejenak, menatap Dimas dengan tatapan menuntut penjelasan. Lalu kemudian ia ekspresi polos itu berubah mendung lantaran merasa ada yang perlu diluruskan. "Maksud aku tuh dengan senang hati loh, Mas. Bukan yang lainnya. Mohon Mas Dimas jangan salah paham, ya."


Dimas tergelak saat Amara mati-matian mengklarifikasi dan kemudian memohon pengertian padanya dengan nada merengek. Wajah gadis itu merah padam lantaran menahan malu serta gusar.


Padahal baru digoda seperti itu ia sudah malu sebegitunya. Apalagi kalau sampai dirinya berbuat lebih?


Melihat bahasa tubuh Amara yang terlihat tak nyaman itu Dimas jadi tidak tega. Buru-buru saja ia berbicara dengan tujuan menenangkannya.


"Iya, iya. Gue percaya, kok. Lo merawat gue dengan senang hati, kan?" tanyanya lembut dengan bibir mengukir senyum.


Sementara Amara hanya mengangguk cepat sebagai jawabannya.


"Selayaknya perawat dengan pasiennya, kan?"


Amara mengangguk lagi.


"Ya, gue tau. Gue tau lo begitu menikmati peran itu. Sangat-sangat menikmati, malah. Iya, kan?" Kini Dimas mengatupkan bibirnya dan itu membuat Amara mengangkat alisnya. Sesaat kemudian, Dimas menyadari sepertinya ia salah bicara. Sebab, ketika itu ia melihat mimik wajah Amara berubah seketika. Dan kemudian gadis itu memekik setengah manja.


"Maaas ...! Apaan sih? Kalau udah nggak ada perlu lagi aku turun ke bawah, nih," ancamnya sambil berbalik badan. Namun, ketika hendak melangkah, buru-buru Dimas menahannya dengan kata-kata.


"Hey, siapa yang nyuruh lo turun? Sini!"


Amara memberengut, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak mau."


"Sini, nggak!" bentak Dimas tanpa maksud menyakiti. "Buruan sini! Baru segitu aja udah merajuk," ejek Dimas pula.


Akhirnya, Amara berbalik badan dan melangkah maju meski dengan hati terpaksa.


"Apa?" tanya gadis itu dengan malas setelah dekat.


Sementara Dimas tak menjawab pertanyaan itu dengan kata, melainkan sebuah tindakan. Yaitu menyibak selimut yang menutupi kakinya.


"Buruan naik," titahnya kemudian. Tatapannya juga terarah penuh tuntutan.

__ADS_1


Maka seperti biasanya, Amara akan menuruti segala perintah Dimas meski dengan terpaksa. Gadis itu duduk di sisinya dengan wajah cemberut dan enggan menatapnya. Sementara Dimas sendiri tampak tersenyum puas tanpa sepengetahuan istrinya.


"Gue pengen ngemil tapi tangan ini terlalu sibuk. Jadi tugas lo kali ini nyuapin gue cemilan." Dengan begitu santainya Dimas berucap. Rasa percaya dirinya juga begitu besar jika Amara mau melakukan.


Ya tentu saja. Toh tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Amara selain patuh. Dan kini gadis itu mulai menyuapi Dimas dengan popcorn manis buatannya.


Agak lama keduanya diam tanpa kata. Hanya suara kriuk-kriuk renyahnya popcorn manis dari mulut Dimas yang melingkupi keheningan kamar itu. Dimas fokus pada layar laptopnya, sementara Amara sibuk menyuap dan sesekali memperhatikan yang disuap.


Entah bagaimana bisa dalam kondisi apa pun sosok Dimas selalu membuatnya terpesona. Namun, seketika Amara langsung buang muka saat kedapatan oleh Dimas tengah memperhatikannya dengan penuh puja.


"Ngapain lo lihat-lihat gue?" tanya pria itu sambil mengulum senyum.


"Enggak. Siapa yang ngelihatin Mas Dimas?" elak Amara dengan kikuk.


Tiba-tiba Dimas menutup laptopnya dan menatap Amara dengan serius.


"Gue udah memutuskan, besok gue udah mulai kerja," ujarnya kemudian tanpa mengalihkan pandangannya.


"Beneran Mas Dimas mulai kerja besok? Mas Dimas benar-benar udah sehat?" Pertanyaan Amara itu menyiratkan kecemasan. Dimas bisa melihatnya dengan jelas.


"Alhamdulillah kalau gitu. Berarti tugas aku udah selesai, kan?"


Kening Dimas berkerut mendengar Amara mengatakan itu. Entah mengapa terasa ada yang tak enak dari perasaannya.


"Maksudnya?" Dimas akhirnya memutuskan untuk bertanya.


"Katanya Mas Dimas udah sehat."


"Iya. Gue memang udah sehat." Tapi bukan berarti lo mau ninggalin gue, kan Mar.


"Kebetulan besok lusa aku udah mulai kerja, Mas. Izin libur aku buat ngerawat Mas Dimas habisnya besok lusa," jelas Amara. Sementara Dimas, hanya mengangguk paham sambil berucap singkat.


"Owh."

__ADS_1


Untuk sejenak tak ada percakapan yang terjadi. Keduanya sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Bahkan Dimas sampai tak lagi berselera menyantap popcorn kesukaannya.


"Lo mau gue bayar berapa?" Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Dimas, sedangkan Amara langsung menggeleng dengan senyuman tulus.


"Nggak usah, Mas. Aku bener-bener tulus pengen ngerawat Mas Dimas. Toh Mas Dimas nggak pernah minta dirawat sama aku, kan. Tapi akulah yang maksa."


Dimas tak bisa lagi berkata-kata. Tutur Amara itu benar-benar membuatnya kian bangga akan sosoknya. Akan tetapi rasa bangga ini tak berarti apa-apa jika gadis itu tak tahu bagaimana perasaannya.


Sekarang Dimas benar-benar merasa pusing memikirkan bagaimana cara menahan Amara untuk tidak pergi dari sana. Bukan tidak mungkin lusa Amara akan pergi sebab berpikir dirinya tak dibutuhkan lagi.


"Ngapain masih kerja? Bukannya harta Juan sangat banyak, ya."


"Maksud Mas Dimas apa? Juan ya Juan. Aku ya aku. Aku ini butuh makan dan yang lain-lainnya, Mas. Masa iya aku harus ngandalin harta orang lain!"


Sepertinya pertanyaan Dimas itu kurang tepat ditujukan pada Amara. Sebab kini gadis itu diam-diam merasa kesal kepadanya. Dimas benar-benar menyesal. Buru-buru saja ia meminta maaf dengan tutur kata yang lembut dan tulus.


"Sorry. Kenapa marah gitu sih?"


"Habisnya, Mas Dimas gitu." Amara mendengkus lirih. Wajahnya juga cemberut.


"Udah lah, kan gue juga udah minta maaf." Dimas menggenggam tangan Amara dan itu sukses membuat gadis itu berjingkat. "Tidur, yuk. Udah malam. Gue udah ngantuk. Besok harus bangun pagi sebab besok gue kerja lagi."


Amara mengangguk. Ia kemudian menaruh laptop Dimas ke atas nakas dengan rapi, kemudian menutup tubuh Dimas yang sudah berbaring itu dengan selimut.


"Mau ke mana?" tanya Dimas saat Amara hendak beranjak. Gadis itu sontak berhenti lalu berbalik dan menatap Dimas sembari meringis.


"Mau ke bawah, Mas."


"Mau ngapain ke bawah?"


"Mau balikin gelas kopi." Amara menunjukkan cangkir kopi kosong bekas Dimas.


"Bisa besok, kan? Buruan naik ke ranjang! Jangan pura-pura amnesia lo, ya."

__ADS_1


Amara menghela napas lalu kemudian naik ke ranjang sesuai permintaan Dimas. Sepertinya biasanya, ia akan berperan layaknya bantal guling yang memasrahkan dirinya di peluk pria itu entah dengan alasan apa.


__ADS_2