
Setelah berjalan agak jauh, akhirnya Amara menemukan kedai yang menjual kemasan air mineral dingin. Ia tersenyum lega sambil menyeka keringatnya. Gadis itu begitu senang mendapatkan yang dicari.
Dari tempat Dimas menunggu tadi, jaraknya agak jauh memang. Ia harus berjalan agak lama hingga menemukan lapak di pinggir jalan ini. Tapi biarlah, demi minuman yang lelaki itu inginkan. Siapa suruh dia cerewet dan begitu pemilih meski hanya urusan minuman.
Dengan begitu bersemangat, Amara mengambil dua botol air putih dari kulkas. Saat itulah ada sebuah mobil menepi dan turun beberapa orang gadis dari sana sambil bercanda dan tertawa cekikikan. Amara sendiri memilih untuk acuh dan tak memperhatikan, sebab orang-orang itu bukanlah urusannya.
Amara menyerahkan selembar uang untuk membayar. "Terima kasih, Bang," ucapnya setelah menerima kembalian, lalu berbalik badan.
Namun tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang ada di belakangnya hingga dua botol yang ada di tangan terjatuh dan menimpa kaki yang ia tabrak. Sontak saja ia panik bukan kepalang sebab si gadis yang ia tabrak marah-marah karena kesakitan.
"Astaghfirullah." Tanpa melihat siapa yang ia tabrak, Amara berjongkok untuk mengambil minumannya, lalu kembali berdiri. Melihat heels mahal yang terpasang di kaki mulus itu, ia bisa memastikan jika yang ditabraknya adalah seorang gadis. Maka dari itu, Ia segeea meminta maaf sambil setengah membungkukkan badannya berulang-ulang tanpa menatap. "Maaf Nona, maafkan saya. Sungguh saya nggak sengaja."
"Hey, mata lo nggak lihat ada orang di belakang! Gara-gara botol minum sialan lo itu, kaki gue ketimpa!" teriak gadis itu lantang penuh kemarahan.
"Iya, tapi saya nggak sengaja, Nona."
"Nggak sengaja nggak sengaja, alasan lo doang, kan! Eh tunggu--" gadis itu mengangkat dagu Amara dengan telunjuknya, lantas mengamatinya dengan seksama. "Jadi lo Amara!" seru gadis itu dengan nada tak percaya sambil membulatkan matanya lebar-lebar.
Amara yang yang juga tak menyangka akan bertemu gadis itu di sini tak dapat menutupi keterkejutannya. "Gladys?" lirihnya pula dengan ekspresi tak percaya.
"Oohhh ...! Jadi lo di sini!"
__ADS_1
"Dys, elo kenal siapa dia?" Salah seorang teman Gladys yang sejak tadi hanya diam memperhatikan akhirnya buka mulut untuk bertanya. Ia mendekati Gladys dan menatap Amara dengan seksama.
"Jelaslah, gue tau siapa dia!" Gladys menyahuti cepat.
"Temen lo?" tanya teman lainnya lagi.
"Bukan!" Gladys menatap Amara dengan sorot tajam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Seringai liciknya muncul tatkala memindai penampilan gadis perawat itu dengan seksama.
Amara sendiri masih diam sambil membalas tatapan Gladys. Entah mengapa firasat buruk langsung menyergap begitu saja melihat senyum jahat tersungging dari bibir kekasih sahabatnya itu. Mengingat kejadian buruk telah menimpanya saat terakhir kali mereka bertemu.
"Terus?" Salah seorang lagi mendekat di sisi kiri Gladys, tentu saja dengan pandangan mengamati keseluruhan penampilan Amara.
"Iya kali, gue temenan sama orang rendahan macam dia." Gladys berucap dengan nada meremehkan yang seketika membuat tangan Amara langsung mengepal. "Asal kalian tau, dia yang berusaha merebut Juan dari gue!"
"Diam Lo!" sentak gadis bersurai pirang itu dengan tatapan penuh ancaman. Sambil mengibaskan rambut sebahunya, pacar Juan itu tersenyum bangga pada teman-temannya sebelum kemudian berkata. "Kalian tau nggak, karena keributan yang gue buat, dia bersedia bayar lima juta buat ganti rugi. Bodoh banget tau nggak sih, gue yang salah tapi dia yang bayar. Sumpah ya, gue pengen ngakak liat wajah blo'on dia waktu itu. Dasar orang susah, mau aja ditipu daya, ha-ha-ha!" Lagi-lagi tawa mengejek itu menggelegar.
Mendengar kenyataan itu, rahang Amara sontak mengetat penuh kemarahan. "Jadi kau sengaja melakukannya waktu itu!"
"Iya! Kenapa? Nggak terima!" sinis Gladys di depan wajah Amara. "Lo tau duitnya buat apaan?" Gladys diam sejenak sambil mengamati ekspresi Amara yang nampaknya kian terbakar, dan hal itu benar-benar membuatnya senang. "Gue pakai buat clubbing. Hahaha!"
Amara menggelengkan kepalanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Karena uang itu, ia harus menanggung hutang dan menjalani hari berat saat mengurus Dimas. Namun dengan begitu jahatnya, Gladys justru menggunakan uang itu untuk berbuat maksiat.
__ADS_1
"Kau benar-benar tak memiliki hati nurani."
"Lo yang nggak punya malu!" sentak Gladys sambil meraih lengan Amara sebelum kemudian meremasnya dengan kuat. Kecemburuannya benar-benar membutakan mata hingga tanpa segan menyakiti Amara.
"Lepas." Amara memukul tangan Gladys dengan botol air di tangannya hingga terlepas. Remasan Gladys benar-benar kuat hingga meninggalkan sensasi nyeri dan membuat kulitnya memar.
Amara kini semakin tersudut. Layaknya ikan kecil yang terjepit batu karang, ia tak bisa bergerak ke kiri ataupun ke kanan. Ia sudah terhimpit oleh empat gadis yang semakin mendesak mengelilinginya itu. Pemilik kedai yang sebenarnya tahu malah bersikap tak mau tahu dan memilih menyembunyikan diri.
"Kalian lihat, mana ada maling yang mau ngaku." Gladys terseyum mencemooh sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. "Hahaha dia memanglah maling. Ma-ling pa-car o-rang!" Ia mengucapkan kalimat itu lambat-lambat dengan penuh penekanan dengan nada yang kental akan ejekan yang seketika disusul tawa menggelegar dari teman-temannya.
"Sudah kukatakan itu tidak benar! Tapi kenapa kau terus saja mencelaku!" Tak terima, Amara meninggikan intonasi suaranya. Namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tangannya tidak berulah tanpa kendali dan berbuntut dengan pemerasan Gladys terhadapnya seperti saat insiden itu.
"Karena kau memang patut untuk dicela. Dasar pelakor," sinis pacar Juan itu kemudian.
"Hahaha ... pelakor ya pelakor aja! Ngapain pakai nutupin kedok busuk lo itu dengan jilbab?" sela gadis berambut sebahu lainnya sambil menarik ujung jilbab bagian belakang Amara hingga gadis perawat itu mendongak akibat tarikan. "Kau benar-benar lebih menjijikkan dari wanita jalang yang menjajakan diri dipinggir jalan."
"Cukup!" teriak Amara sambil mengempaskan tangan si gadis. Dengan wajah yang mulai panik, ia lantas memegangi jilbabnya agar tak lepas dari kepala. Sedangkan matanya menyorot penuh peringatan pada keempat gadis itu. Ia masih bisa menahan diri dengan hujatan tak beretika dari mereka, tapi ia benar-benar marah saat seseorang mencoba mengusik jilbabnya. "Kalian benar-benar keterlaluan. Tidak seharusnya kalian mencela sesama wanita hingga seburuk itu tanpa adanya fakta."
"Ini memang fakta yang sudah jelas-jelas ada! Masih mau menyangkal? Dasar naif! Kau adalah wanita paling munafik di dunia ini! Ayo, kita buang saja jilbabnya. Biar semua orang tahu keburukan wanita ini di balik jilbabnya."
"Tidak! Jangan!"
__ADS_1
Bersambung