Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Suasana tak nyaman


__ADS_3

Sampai di depan sebuah pintu yang tertutup rapat, Vika mengetuknya terlebih dahulu sebelum kemudian membuka perlahan.


"Selamat pagi, Pak. Pak Dimas dari PT Sanjaya Bakti telah tiba untuk melakukan meeting dengan Anda," ucapnya ketika sampai di dalam pada seseorang yang duduk pada kursi direktur dengan posisi membelakangi.


"Antar beliau masuk ke ruang meeting, Vika," titah pria itu. "Aku akan segera menyusul."


Seketika Dimas dan Amara yang berada satu ruangan dengan mereka, saling memandang. Alis bertaut, sedang mata mereka seperti saling bicara. Antara percaya dan tidak, suara itu seperti tak asing lagi bagi keduanya.


"Baik, Pak," jawab Vika. Gadis cantik itu lantas mempersilahkan Dimas Amara menuju ruang meeting. Selagi berjalan menuju ruangan yang memakan waktu beberapa menit itu tak ada obrolan yang terjadi. Dimas dan Amara masih sibuk bergelut dengan pikirannya, sedangkan Vika tetap berusaha menjalankan tugasnya dengan sebaik mungkin.


"Silahkan, Pak. Sebentar lagi atasan saya akan datang menyusul," tutur Vika sangat ramah.

__ADS_1


Dimas terseyum tipis, lantas menempati sebuah kursi yang sudah Vika tunjuk. Namun, sebelum itu ia menyempatkan diri melirik Amara, dan mengisyaratkan melalui pandangan mata agar perawatnya itu mengikuti ke mana pun ia pergi.


Amara patuh. Ia mengangguk samar, lalu melangkah dan berdiri memposisikan diri di belakang pasiennya.


Sesaat kemudian pintu ruangan itu terbuka di susul sosok pria mengenakan stelan jas warna silver masuk ke dalam. Ketika itu juga Amara dan Dimas mengalihkan pandangan ke arah pintu bersamaan, sembari Dimas bangkit dari duduk untuk melakukan penyambutan. Namun, keduanya sama-sama tergemap ketika tahu sosok di depannya adalah seseorang yang telah mereka kenal.


***


Sedangkan sang klien yang duduk di seberang, tak ubahnya seperti Dimas. Pria berperawakan tinggi itu tak henti-hentinya mengarahkan pandangan pada sosok berjilbab yang senantiasa berdiri pasang badan di belakang Dimas. Ada rasa tak rela yang selalu membelenggu acap kali menatap gadis itu tetap bersikukuh pada pendiriannya. Entah sudah berapa kali ia tampak mendesah panjang seraya membuang muka demi meredam rasa sesak di dada.


Meeting belum dimulai, akan tetapi hawa panas sudah menguasai sejak tadi, padahal ruangan itu bersuhu dingin dengan beberapa buah AC tampak terpasang di dalamnya.

__ADS_1


"Ehemm," Dimas berdeham kecil sambil mencondongkan wajahnya pada Amara. Entah apa yang ada di benaknya, tetapi Dimas begitu santai dan tenang saat melakukannya. Diabaikannya pula ekspresi sang klien yang seolah tak terima.


Seolah-olah memahami apa maksud pasiennya, Amara bergegas mengambil sebuah sapu tangan berwarna putih yang tersimpan di dalam tas berisi keperluan Dimas. Gadis itu mendesah pelan sebelum kemudian mengusap pipi Dimas dengan penuh kelembutan.


Dimas terseyum senang melihat kliennya mengepalkan tangan.


"Thank you, perawatku," ucapnya pada Amara dengan nada menggoda. Setelahnya ia tersenyum dan kembali mengarahkan pandangan pada klien nya. Melihat pria di seberangnya tampak geram, ia justru semakin merasa menang.


"Jadi gimana, Pak Juan. Bisa kita mulai meeting nya?" tanya Dimas memulai percakapan setelah sebelumnya hanya tercipta keheningan.


Bukannya menjawab pertanyaan Dimas, Juan justru sibuk memperhatikan Amara. Gadis itu tampak tertunduk kikuk. Terlihat sekali ia merasa tak nyaman terjebak dalam situasi seperti sekarang. Berada di antara dua pria yang tengah bersitegang dalam keheningan. Jika bisa memilih, jujur ia ingin segera enyah dari tempat ini.

__ADS_1


"Pak Juan ... bisa tolong jaga pandangan Anda?" Dimas berucap penuh penekanan usai menatap Amara dan Juan bergantian. "Dia adalah perawat saya, jadi mohon sopan terhadapnya!" lanjutnya dengan nada tinggi.


__ADS_2