
"Aaaaa ... malunya ...!" Amara langsung mengerang kesal setelah memutus sambungan teleponnya. Entah mengapa ia merasa malu bukan kepalang, padahal di sekitarnya tidak ada orang.
Ternyata keberadaan Dimas benar-benar berpengaruh besar pada kehidupannya. Pria itu menjadikan hidupnya kian berwarna, hingga tak ada pria lain yang lebih menarik selain Dimas Sanjaya. Sosok Juan yang dulu pernah sangat ia idamkan kini terasa biasa saja. Ini bukan perkara rupa. Ini bicara tentang kenyamanan. Dimas benar-benar membuatnya nyaman dan merasa berharga.
Akhirnya Amara menyadari jika omongan teman-temannya tadi memang ada benarnya. Jatuh cinta bisa membuat sang pencinta jadi terlihat seperti gila. Senyum-senyum sendiri. Malu-malu sendiri. Ia bahkan diam-diam merancang masa depan. Bagaimana kelak kehidupannya andai berjodoh dengan Dimas Sanjaya.
Ah, tentunya itu hanyalah sebatas angan. Dan hatinya kembali merutuki diri karena telah berpikiran lancang.
Pak Mamad sudah datang ketika jam menunjukkan pukul lima. Pria itu menunggu di lobi dan tersenyum menyambut kedatangannya.
"Makasih udah jemput, Pak. Maaf jadi merepotkan. Harusnya saya pulang sendiri pakai taksi online saja." Amara merasa tidak enak pada sopir Dimas itu saat Mamad membukakan pintu mobil untuk dirinya.
"Kenapa harus merasa tidak enak, Amara. Ini kan sudah tugas saya sebagai sopir. Apalagi Amara ini istrinya Mas Dimas," ujar Mamad menenangkan.
"Istri apa sih, Pak Mamad. Kan Bapak tau sendiri gimana pernikahan kami."
Mamad tersenyum sopan sebelum berbicara. "Mungkin saat kalian menikah saat itu memang belum ada rasa cinta. Tapi siapa yang bisa menghindar jika ternyata Tuhan sudah menjodohkan?"
Amara mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Mamad. Ia pun menatap sopir itu dengan ekspresi tak paham.
"Bapak berharap kalian berjodoh selamanya, Amara," lanjut Mamad penuh harap. "Kehidupan Mas Dimas jauh lebih baik setelah ada kamu."
Amara benar-benar tak menyangka Mamad akan bicara demikian. Membuatnya sangat tersanjung sekaligus bahagia. Walau hanya seorang sopir, tetapi Dimas sudah menganggap pria itu layaknya keluarga. Dan ia yakin ungkapan Mamad itu benar-benar tulus dari hatinya.
Lantas Amara harus berkata apa?
"Saya nggak tau mesti ngomong apa, Pak. Saya hanya bisa pasrah menjalani peran saya dalam skenario yang sudah Tuhan atur."
Jawaban yang sangat bijak menurut Mamad. Ia bisa menilai gadis yang duduk di sampingnya itu sama sekali tidak munafik, juga terkesan tidak menampik. Ia bisa melihat ada cinta di mata Amara. Namun, gadis itu lebih memilih menyerahkan segalanya kepada sang pencipta.
"Bapak hanya ingin yang terbaik untuk kalian." Mamad tersenyum tulus sebelum kemudian melajukan mobil itu meninggalkan rumah sakit.
Malam itu Amara memutuskan untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Alasannya apa lagi jika bukan karena tidak adanya si bayi besar. Ia pamit pada sang mertua untuk masuk kamar setelah selesai makan malam. Tentunya tidak langsung merebahkan diri dan kemudian tepar. Ia terlebih dahulu mensucikan diri sebelum menunaikan kewajiban beribadahnya.
Melewati malam tanpa Dimas untuk yang pertama kali rupanya terasa aneh bagi Amara. Ia merasa ada yang kurang, entah itu apa. Sunyi dan sepi. Kenapa tiba-tiba dia tidak suka keheningan? Ia jadi lebih suka mendengarkan celoteh Dimas meski pria itu bicara kasar.
Kenapa ya? Apa karena ia sudah terbiasa sehingga saat pria itu tak ada ia jadi tidak biasa?
__ADS_1
Merebahkan tubuhnya dengan posisi miring, tangan Amara meraba-raba tempat kosong di sisinya yang biasa Dimas tempati saat tidur bersama.
Entah mengapa ada yang aneh dengan perasaannya. Ia ingin selalu bertemu dengan Dimas Sanjaya. Ingin selalu melihat senyumannya. Ingin selalu dalam pelukan ....
Oh tidak. Jangan. Jangan memikirkan hal yang tak mungkin.
Amara sontak memukul kepalanya saat pikiran liar itu hingga di benaknya. Tapi rasa itu begitu menggebu. Pesona Dimas telah berhasil meluluhlantakkan pertahanannya. Mungkinkah ia rindu?
Hingga jarum jam menunjukkan angka satu, Amara belum juga dapat terlelap. Ia bangkit dari pembaringan dan beranjak menuju lemari pakaian yang berada di bilik lain dalam ruangan kamar itu.
Gadis itu teringat pada hadiah sang mertua. Sebuah pakaian tidur dari kain sutra.
"Dipakai ya, Amara. Mama susah-susah membelikan ini buat kamu. Ini adalah baju tidur dari kain sutra. Bahannya yang lembut dapat membantu tidurmu lebih lelap dan berkualitas, sehingga saat bangun badan pun terasa lebih segar." Begitu kata Amelia waktu itu.
Entah mengapa Amara ingin membuktikannya sendiri. Hingga tanpa pikir panjang, Ia pun menukar baju tidur yang sudah ia kenakan dengan hadiah dari mertuanya.
Baju tidur itu terdiri dari dua lembar. Bagian dalam tanpa lengan, sementara kimono panjang yang berenda itu digunakan untuk lapisan luar.
Ternyata benar-benar nyaman. Amara tersenyum sambil mengusap permukaan kain itu. Ia menyisir rambutnya sebelum kemudian naik ke ranjang untuk benar-benar tidur di sana. Namun, sebelumnya ia meraih sebuah bingkai foto berukuran kecil yang terpasang foto Dimas di sana.
Untuk apa dia mengambilnya?
***
Tak disangka, rupanya pekerjaan Dimas selesai lebih awal dari yang ia perkirakan. Sehingga ia dan Baskoro sepakat memutuskan untuk pulang saat hari sudah lewat tengah malam.
Security yang bertugas menjaga rumahnya membantu Dimas membuka pintu pagar. Selanjutnya pria itu memasuki rumah yang sudah dalam keadaan gelap gulita. Tak ada tujuan lain di benaknya selain ruangan bernama kamar dengan tujuan untuk mengistirahatkan badan.
Saat itu juga ia tersadar jika belum memberi tahu Amara jika dirinya pulang malam ini juga. Semoga saja gadis itu tidak mengunci kamarnya hingga ia tidak perlu tidur di kamar lain.
Ketika memutar kenop pintu, Dimas bisa bernapas lega lantaran Amara tidak menguncinya.
Dimas membuka pintu itu dengan sangat pelan dan tanpa suara. Tentunya bertujuan agar tidak mengusik Amara dari tidurnya. Gadis itu pasti lelah setelah seharian bekerja.
Dimas menembus pekatnya kamar berjalan ke arah meja untuk mencharge ponselnya yang kehabisan daya. Ia melirik ke ranjang, di mana Amara menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Gadis itu sepertinya sengaja mematikan lampu tidur miliknya dan hanya menyalakan lampu tidur milik Dimas saja. Amara suka gelap ternyata.
Walaupun sebenarnya Dimas sudah merasa sangat rindu, tetapi ia sama sekali tak berniat untuk menyentuh Amara dengan keadaan seperti itu. Tanpa mandi dan mengenakan pakaian yang ia gunakan sejak pagi. Walau tak bisa dipungkiri jika tubuhnya selalu wangi, tapi tak ada salahnya juga jika ia memberikan yang terbaik untuk istrinya. Toh dengan mandi tubuhnya juga akan merasa lebih segar setelah seharian beraktivitas. Tidur pun lebih nyaman.
__ADS_1
Dimas berjalan santai tanpa bersuara setelah keluar dari walk in closed saat berpakaian. Ia langsung naik ke atas ranjang, menyibak selimut dan kemudian masuk ke sana. Saat itu ia belum sadar jika ada kejutan telah menantinya. Hingga ketika Dimas hendak merapat pada Amara, jantungnya sontak berdegup kencang melihat surai hitam nan panjang itu tak lagi tertutup oleh jilbabnya.
***
Amara merasakan ada sebuah benda menyentuh lengannya. Gerakannya sangat lembut, hingga membuatnya merinding karena kegelian. Ia juga merasakan sebuah benda kenyal bertubi-tubi hinggap di bibirnya, lalu bergerak menjalar pada kening dan menjelajahi pipi. Ia sangat terusik. Hingga meski rasa ngantuk masih menguasai, ia berusaha membuka mata yang terasa berat hanya untuk memastikan.
Sebuah wajah tampan menyambutnya dengan senyuman manis saat kelopak mata terbuka. Jaraknya begitu dekat. Wajah itu bersinar layaknya bulan purnama, rambut basahnya berkilau indah diterpa sorot lampu yang memancar.
Tanpa sadar Amara tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya, takut diri jadi tidak waras karena isi kepalanya hanya dipenuhi oleh sosok Dimas saja. Bahkan sekarang, entah ini mimpi atau hanya khayalannya. Dimas benar-benar ada di mana-mana. Hingga ia kembali memejamkan mata, berharap saat terbuka bayangan Dimas sudah enyah dari sana.
"Hai."
Amara mengerjap-kerjap saat kembali membuka mata. Kenapa suara itu seperti nyata? Bukankah Dimas sedang ada di luar kota, lantas yang sedang membungkuk di depannya itu siapa?
"Mas Dimas?" Amara memanggil nama pria itu dengan suara parau khas bangun tidur, dan menatapnya seperti tak percaya. Hanya untuk memastikan saja.
"Iya. Gue udah pulang."
"Hah?" Amara memekik. Punggung ramping itu sontak melenting bangun karena saking terkejutnya. "Kok nggak bilang-bilang mau pulang sih, Mas?"
"Nggak sempet, Mar. Pulangnya dadakan."
Amara menunduk dan mengembuskan napas pelan. Berusaha mengumpulkan nyawa yang beberapa saat lalu bertebaran entah ke mana. Ia merasa kepalanya pusing, tetapi saat hendak memijat kening, rupanya sebuah benda masih berada dalam genggamannya.
Amara sontak melihatnya dan langsung terperangah.
Astaghfirullah!
Amara langsung panik. Saat itulah dia teringat, sebelum tidur tadi sempat mengambil foto Dimas untuk ia peluk sebagai pengantar tidur.
Jangan-jangan?
Amara langsung menatap Dimas yang rupanya sedang senyum-senyum tanpa sebab. Mencurigakan. Terlebih lagi pandangan pria itu terarah pada tangannya yang sedang memegangi bingkai.
Oh tidak!
Seketika Amara merasakan wajahnya memucat. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Membuatnya ingin pingsan saat itu juga.
__ADS_1
Foto? Rambut? Lingerie?
Siapa pun, tolong aku!