Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Mau sih, tapi malu


__ADS_3

Keadaan kembali normal setelah kejadian buruk di rumah sakit itu berlalu. Amara kembali bekerja dan berhubungan baik dengan teman-temannya. Begitu pula dengan Kalina CS. Mereka tak akan melupakan kebaikan Amara dan berjanji akan bersikap baik terhadapnya.


Pagi itu, Dimas sengaja bersiap lebih awal sebab akan mengantar Amara ke sebuah tempat yang berada di pinggiran kota. Rumah sakit tempat Amara bekerja sedang merayakan hari jadi dan mengadakan acara bakti sosial sebagai wujud rasa syukur.


Rumah sakit mengerahkan sebagian pegawainya untuk ikut serta dalam kegiatan itu. Amara menjadi salah satu perawat yang terpilih untuk ikut andil di dalamnya.


Dimas hanya bisa tersenyum melihat sikap antusias istri sirinya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama Amara mengikuti kegiatan Amal semacam ini. Gadis itu telah mempersiapkan diri sebaik mungkin, mengingat jika hari ini akan menjadi hari melelahkan sekaligus menyenangkan karena banyak hal yang akan dilakukan.


Kegiatan bakti sosial itu mencakup banyak hal dalam pelayanan kesehatan, antara lain khitanan massal, USG gratis untuk ibu hamil, periksak kesehatan mata, serta periksa kesehatan gratis untuk para lansia.


Persiapan sudah matang, tenaga medis profesional di rumah sakit itu sendiri telah diberikan tugas sesuai dengan bidang mereka masing-masing. Pihak rumah sakit juga mengadakan acara donor darah yang tentunya terselenggara berkat kerja samanya dengan PMI. Selain untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap sesama, hal itu juga dilakukan demi tercukupinya persediaan darah yang kebutuhannya terus meningkat.


Rumah sakit mencatat angka kecelakaan lalu lintas belakangan ini sangat tinggi, berikut pasien dengan penyakit tertentu seperti thalasemia, kanker, dan hemofilia yang membutuhkan transfusi darah secara rutin. Ditambah lagi beberapa kondisi pasien dengan keluhan lain yang sesegera mungkin membutuhkan darah tambahan.


Acara itu disambut hangat oleh masyarakat, terlihat dari banyaknya masyarakat yang ikut mendaftarkan diri. Kegiatan ini sendiri memang sudah disebarluaskan jauh hari sebelum acara terselenggara.


Sebetulnya ada kendaraan khusus yang membawa para tenaga kesehatan itu menuju tempat dilaksanakannya kegiatan. Namun, Dimas memaksa mengantar Amara demi mengetahui tempat beraktivitas istrinya nanti.


Ketika mendekati tempat tujuan, Dimas mengurangi laju kendaraan karena jalan di depan mereka dipadati oleh ratusan orang pria dan wanita. Tepatnya di depan kantor sebuah perusahaan hingga sampai ke tepi jalan. Kendati demikian, keadaan terlihat tertib dan kondusif.


"Ada apa ya Mas? Kok tiba-tiba ramai?" Amara bertanya sambil mengerutkan keningnya.


"Sepertinya ada aksi demo deh, Mar. Tuh mereka berorasi." Ekor mata Dimas menunjuk ke arah pria yang memakai toa dari kejauhan.


Sontak pandangan Amara mengikuti arah pandang Dimas, lalu kemudian gadis itu berucap penuh harap. "Mudah-mudahan nggak terjadi kericuhan ya, Mas."


"Iya, mudah-mudahan."


Dimas menghentikan mobilnya ketika sampai di tempat yang dituju. Ia memutuskan tidak ikut turun sebab sedang terburu-buru.


"Hati-hati di jalan ya, Mas." Amara menyempatkan diri mencium tangan Dimas sebelum turun dari mobil. Gadis itu tersenyum pada pria di sampingnya lalu kemudian menambahkan. "Makasih banget udah ngantar."


"Lo juga hati-hati ya, jaga diri baik-baik," balas Dimas pula. Wajah pria itu menunjukkan sikap tulus.


Amara mengangguk, lalu kemudian tangannya bergerak meraih tuas pintu. Namun, ketika ia hendak membukanya, tiba-tiba Amara merasakan sebuah sentuhan di tangan kanannya disusul panggilan dari Dimas.


"Mar."


"Ya?" Amara membatalkan niatnya membuka pintu dan turun. Ia refleks menoleh kearah Dimas dan menatap pria itu dengan wajah ingin tahu.


"Ada apa, Mas?"


Dimas tak langsung menjawab pertanyaan Amara. Ia justru terlihat bingung hendak mengatakan apa. Terlebih mata Amara terus saja menatapnya menuntut penjelasan. Makin dipandangi gadis itu, jantungnya juga makin bertalu-talu.


"Mas."


Amara memanggilnya lagi. Kini sudut bibir gadis itu tertarik ke samping hingga membentuk sebuah senyuman tipis. Sangat manis. Alisnya juga terangkat sebagai perwakilan pertanyaan.


Ragu, tetapi Dimas tak bisa menahan diri untuk mengatakan keinginannya itu.


"Cium dulu." Suara Dimas nyaris tercekat di tenggorokan. Meski begitu masih bisa didengar oleh Amara dengan jelas. Kini gadis itu tengah menatapnya dengan bibir sedikit ternganga, seolah-olah merasa tak percaya.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Lo nggak tuli, kan Mar?" Dimas mendesah kesal. Amara itu bukanlah gadis bodoh yang perlu dijelaskan berulang-ulang hanya untuk sebuah ciuman. Atau gadis itu memang sengaja pura-pura polos hanya untuk mempermalukan dirinya?


Dimas benar-benar kesal. Namun, jika ia tidak nekat memaksa maka Dimas tidak akan mendapatkan apa-apa.


"Iya Mas, aku dengar. Tapi–" Amara menggantung ucapan ketika melihat Dimas menunjuk pipinya sendiri. Seketika ia paham, Dimas tengah memberinya perintah untuk mencium. Namun, di detik berikutnya ia justru bingung harus melakukan apa.


Haruskah benar-benar mencium Dimas?


Mau, sih. Tapi malu.


"Buruan!" Melihat Amara hanya mematung membuat Dimas terpaksa mengeluarkan jurus andalannya. Memaksa. Usahanya pun berhasil. Meski sempat melihat rona merah di wajah Amara, tetapi gadis itu akhirnya melabuhkan bibir ke pipi kirinya meski malu dan terpaksa.


Bodo amat. Yang penting dapat ciumannya.


Hanya sedetik saja bibir Amara menyentuh kulit pipi Dimas. Sebab di detik lain, gadis itu sudah menarik diri dan buru-buru membuka pintu.


Merasa tak puas hati, Dimas bergerak cepat menarik tangan Amara hingga gadis yang nyaris berdiri itu terduduk kembali. Amara menoleh ke arah Dimas tapi ternyata malah mendapatkan sambutan spesial.


Hening. Saat itu Amara merasa jarum jam seperti hanya jalan di tempat. Bumi seolah berhenti berputar melalui porosnya. Ia terkesiap kala Dimas menyatukan bibir mereka tanpa peringatan. Cenderung memaksa tapi tidak kasar. Bahkan tak memberinya kesempatan untuk meraup udara lebih banyak agar bisa mensuplai oksigen di paru-parunya lebih lama.


Seketika Amara lupa caranya bernapas. Lupa caranya mengelak dan lupa segalanya. Meski di awal mata bening itu sempat mengerjap bingung, tetapi lama kelamaan tanpa sadar terpejam dengan sendirinya lantaran terbuai oleh permainan Dimas yang memabukkan.


Seolah-olah tak ingin melepaskan, tangan kiri Dimas menahan tengkuk Amara. Sementara tangan kanannya mendekap punggung gadis itu agak erat. Bermain-main di bibir ranum gadis itu agak lama.


Amara yang sangat polos bahkan hanya memasrahkan dirinya. Hingga ketika ia kehabisan udara, Amara pun tersengal hingga Dimas terpaksa melepaskannya.


"A-aku harus pergi." Amara berucap gugup lalu buru-buru keluar dari sana. Ia takut jantungnya tak bisa berfungsi dengan baik jika terlalu lama berdekatan dengan Dimas. Sementara Dimas sendiri hanya bisa tersenyum lucu melihat tingkah malu istri sirinya.


"Baik-baik di sini, ya!" Dimas berseru ketika Amara sudah beranjak beberapa langkah. Amara yang mendengarnya sontak menoleh, lalu mengangguk dan tersenyum. Antara malu dan ragu, pada akhirnya Amara melambaikan tangan ketika mobil Dimas mulai bertolak meninggalkan.


***


Butuh waktu dua jam untuk Dimas sampai ke kantornya. Wajahnya yang semringah membuat Baskoro yang lebih dulu datang akhirnya bertanya heran.


"Bahagia bener pagi-pagi. Dapat rezeki nomplok lo?"


Namun, bukannya jawaban memuaskan yang ia dapatkan, tapi justru ejekan yang menyebalkan.


"Mau tau aja lo jomlo. Daripada kepoin urusan orang mending cari istri sana."


"Sialan." Baskoro mengumpat sebal.


Tak ingin terus berdebat, Dimas memilih fokus pada pekerjaannya. Selama seminggu ditinggal menginap di rumah sakit rupanya membuatnya sedikit kewalahan. Beruntung, Baskoro selalu cekatan membantu hingga pekerjaan itu bisa diselesaikan tepat waktu.


Usai makan siang, Dimas dan Baskoro sepakat keluar kantor untuk meninjau lokasi proyek baru mereka. Seorang konglomerat di kota itu hendak membangun rumah megah menggunakan jasa mereka.


Dimas yang saat itu tengah berbincang dengan Baskoro langsung mengalihkan perhatian pada ponselnya ketika benda pipih itu berdering.


"Siapa? Kok nggak diangkat?" Baskoro bertanya penasaran lantaran Dimas mengabaikan panggilan itu.

__ADS_1


"Nggak penting." Dimas menjawab asal. Ia menaruh ponselnya Di meja lalu kembali fokus pada layar laptop Baskoro.


Lagi-lagi ponselnya berdering ketika keduanya fokus pada pembicaraan. Hingga dua kali panggilan setelahnya, Dimas masih mengabaikan. Namun, setelah ponsel itu kembali berdering untuk yang keempat kali, Baskoro mulai risih hingga membuatnya mendesak Dimas untuk mengangkat.


"Siapa sih, Dim? Ganggu banget. Angkat gih biar nggak telepon mulu. Barangkali aja ada hal penting yang mau disampaikan."


"Hal penting apa yang mau Naura sampaikan, Bas. Paling-paling juga mau minta balikan kayak kemarin-kemarin."


"Itu video call, kan?" Baskoro kembali memastikan setelah melirik layar ponsel Dimas.


"Yup." Dimas mengangguk. "Kalau lo mau angkat ya angkat aja. Siapa tau dia lagi pengen ngobrol sambil boker, kan lo dapat rezeki nomplok lihat pisangnya."


"Iiuuuu jorok. Cantik-cantik masa VC sambil boker." Baskoro memasang muka jijik.


"Ya kan mana tau." Dimas tertawa setelah berhasil menggoda Baskoro. "Kalau mau diangkat ya angkat aja. Gue mah ogah."


"Gue angkat ya. Penasaran aja dia mau apa." Baskoro mengambil ponsel Dimas dan menggeser icon warna hijau untuk menerima panggilan Naura. "Halo." Ia menyapa sambil tersenyum.


Awalnya layar menampilkan gambar Naura yang tersenyum bahagia. Namun, seketika senyuman itu pun berganti dengan ekspresi kesal setelah tahu yang menerima panggilan bukanlah orang yang diinginkan.


"Dimas mana?" tanya Naura ketus. Sedangkan Baskoro justru makin bersemangat menggoda Naura.


"Dimasnya lagi sibuk berduaan sama istrinya."


"Bohong!"


"Ih, dibilangin nggak percaya."


"Terang aja nggak percaya. Orang sekarang aku lagi sama Amara, kok. Mau tau Amara lagi apa? Mau lihat video dia? Aku bisa tunjukkin, kok."


Dimas yang berada tak jauh dari Baskoro langsung tersentak mendengar nama istrinya disebutkan. Tangannya refleks merebut ponselnya dari tangan Baskoro hingga ia bisa melihat wajah Naura dan Naura pun bisa melihat wajahnya dengan jelas.


Dimas bisa mendengar tawa Naura menggema di seberang sana. Gadis itu menggerai rambutnya dan membiarkan tertiup angin dengan bebas. Layar ponsel itu memperlihatkan Naura tengah berada di alam terbuka. Bukan di dalam ruangan seperti biasanya.


"Hai Dimas Sayang. Apa kabar?" Naura menyapa masih dengan ekspresi bahagia. Akan tetapi keceriaan Naura itu sama sekali tak menular pada Dimas seperti saat pacaran dulu.


"Ini peringatan terakhir buat kamu, Naura. Jangan ganggu Amara dan jangan usik ketenanganku!" tegas Dimas dengan nada mengancam.


Bukannya sakit hati, Naura justru tergelak menanggapi perkataan Dimas.


"Kalau aku pengen ganggu Amara gimana dong? Bahkan sekalipun status kamu sebagai suami sah pun kamu nggak bisa berbuat apa-apa, Dimas. Kamu jauh di sana, sedangkan aku?" Naura mengubah posisi ponselnya hingga membuat pemandangan yang tersorot kamera pun berubah.


Awalnya Dimas masih bisa bersikap biasa lantaran berpikir Naura hanya menggodanya saja. Namun, ketika kamera terarah fokus pada satu sosok berpakaian serba putih tengah berlindung, mau tak mau Dimas memperhatikan itu dengan seksama.


Alangkah terkejutnya Dimas setelah melihat sosok istrinya di sana. Kemudian tawa Naura kembali membahana setelah melihat wajah panik Dimas, hingga tanpa sadar Dimas mengumpat pada wanita yang tengah tertawa penuh kemenangan itu.


"Bsngs*t! Lo apain istri gue, hah! Baj*ngan lo Naura! Lo apain istri gue!"


❤️❤️❤️


Hai semuanya. Maaf lambat update karena kesehatan sedang menurun.

__ADS_1


Stay safe and keep healthy, ya! Percayalah, sakit itu nggak enak


__ADS_2