
Amara setengah berlari mengikuti Dimas yang berjalan cepat seperti kesetanan. Ralat, bukan seperti lagi, tapi itulah yang terjadi. Pria itu kesal karena gadis itu mengerjainya.
Dimas benar-benar panik saat Amara mengatakan rem mobil yang dikendarainya mendadak blong. Didukung ekspresi ketakutan serta wajah tegang yang begitu meyakinkan. Bayangkan saja, mobil sedang melaju sangat kencang tapi rem tidak berfungsi. Lantas, bagaimana cara gadis itu menghentikannya nanti?
"Ah yang bener!" desak Dimas dengan ekspresi tegang. Tangannya sontak bergerak naik untuk meraih pegangan dan mencengkeranmya erat-erat. Amara bisa melihat wajah Dimas langsung merah padam. Mungkin karena ketakutan yang menjalar.
"Iya Mas, gimana dong ...," lirih Amara sambil terus menatap jalan. Memasang mimik seolah-olah sedang panik.
Dimas terlihat mengatur pernapasan yang seperti sesak. Sambil menggerakkan tangan kanannya, ia pun berusaha menenangkan Amara walau sejujurnya yang tidak tenang malah dia. Amara kan hanya pura-pura, hehe.
"Oke, oke. Lo tenang, jangan panik."
Amara hanya bisa mengatupkan bibir menahan tawa. Pria angkuh seperti Dimas mau saja dibodohinya. Bahkan tanpa sedikit pun rasa curiga.
Ah, melihat itu Amara jadi tak tega. Belakangan ia baru teringat jika Dimas masih mengalami trauma berkendara. Ia malah dengan sengaja mau mengerjainya. Lebih baik segera mengakhiri, dari pada ia dipersulitkan lagi.
Dimas yang tengah berpikir keras langsung menoleh saat laju mobil kembali stabil. Ia memicingkan mata melihat Amara yang membuka mulut dan tertawa. Dari sini ia sadar, gadis itu ternyata hanya mengerjainya.
"Jadi lo ngerjain gue?"
__ADS_1
"Hehe maaf Mas. Cuma iseng." Amara nyengir, menunjukkan deretan gigi putihnya yang tertata rapi. Namun, karena sibuk menatap jalan dan tenggelam dalam euforia kemenangan, ia tak menyadari tatapan berang pasiennya.
"Sialan," gumam Dimas. Tanpa pikir panjang ia lantas mengekspresikan kekesalannya pada sang perawat, hingga pekik tertahan Amara menggelegar memenuhi kabin mobil. Tak ayal, mobil matic itu mendadak oleng itu.
"Nyetir yang bener!" sentak Dimas sambil menyandarkan punggungnya pada kursi mobil, sementara tatapan tajamnya sama sekali tak beralih dari Amara.
"Iya, Mas." Gadis berjilbab itu mengangguk dengan wajah memberengut. Kemudian kembali melajukan mobil yang sempat ia tepikan tadi.
Sambil menenteng koper berisi berkas-berkas, Amara mengusap ujung hidungnya yang terasa nyeri. Sedikit memerah karena Dimas mencubitnya sangat kencang sebagai bentuk pembalasan. Ketika itu, ia hanya bisa pasrah menerima hukuman. Sisa kemarahan Dimas tadi bahkan masih terasa menakutkannya hingga kini.
"Lo di mana?" Dimas sontak berhenti saat menyapa seseorang di seberang telepon. Tak ayal, hal itu membuat Amara yang setengah berlari mengikuti, menabrak punggung lebarnya akibat tidak fokus. Dimas hanya melirik sekilas sebelum kemudian melanjutkan percakapan.
"Gue udah nyampe di lobi perusahaan mereka ini. Lo ngapain baru ngomong kalau mulas-mulas?" Dimas diam sejenak sambil mendengarkan yang di seberang bicara.
"Mata lo di mana, sih?" tanyanya dengan ekspresi kesal.
Amara mengangkat tangannya perlahan, lantas menunjuk matanya dengan jari.
"Ini," jawabnya dengan mimik wajah lugu.
__ADS_1
Dimas memutar bola mata malas, lantas memperhatikan kondisi sekitar.
"Meeting apaan ini. Masa klien datang nggak disambut."
"Selamat pagi, Pak. Dengan Pak Dimas, ya?"
Belum juga Dimas mengatupkan bibir, seorang wanita berpakaian formal dengan paras cantik telah menyapanya dengan ramah.
"Iya. Saya Dimas," jawab Dimas datar.
"Maafkan atas keterlambatan saya menyambut Anda, Pak. Perkenalkan, saya Vika, manager di PT Idraprana Company ini." Wanita cantik dengan pakaian formal itu mengulurkan tangannya dengan sopan selagi memperkenalkan diri.
Dimas menyambutnya sambil tersenyum tipis sebagai formalitas.
"Sungguh suatu kehormatan bagi kami, sebab Pak Dimas mau menyisihkan waktu yang begitu berharga dengan bersedia datang sendiri kemari. Mari, saya antar ke ruang meeting untuk membicarakan kerja sama ini dengan bos kami. Beliau sudah menunggu Anda sejak tadi." Wanita dengan rambut sebahu itu mengisyaratkan agar Dimas mengikuti.
Namun, ketika dilihatnya Amara juga mengikuti, ia menatap gadis dengan pakaian perawat itu dengan mata menyipit.
"Dia perawat saya." Seolah-olah tahu apa yang ada dalam benak wanita itu, Dimas memilih mengklarifikasinya sebelum gadis itu bertanya.
__ADS_1
"Owh, begitu. Apa itu berarti dia akan mengikuti Anda ke mana pun pergi?" tanya Vika heran.
"Ya." Dimas menjawab singkat. Tak ingin membicarakan hal itu lebih jauh, ia memilih melangkah lebih dulu seraya menarik tangan Amara. "Ayo, buruan."