
Pagi hari ketika membuka mata, Amara tak menemukan Naura tidur di sisinya. Pantas saja gadis itu sudah terbangun, rupanya jam weker yang berada di nakas sudah menunjukkan pukul enam pagi. Amara terlambat bangun pagi ini. Buru-buru gadis itu beranjak dan bersiap-siap salat Subuh.
Usai mandi dan bersiap diri, Amara lantas pergi ke dapur guna memasak seperti biasanya. Tak seperti biasanya, pagi ini ia mencium aroma harum masakan yang menguar dan menusuk indra penciuman. Sambil menerka-nerka siapa si pemasak, ia melangkah mantap menuju ke dapur.
Benar saja. Dari ambang pintu, ia melihat Naura tengah berdiri di depan kompor sembari mengaduk-aduk masakan di dalam wajan. Karena terlalu sibuk dengan kegiatan memasaknya, gadis dengan piyama sutra dan rambut tergerai itu tak menyadari kehadirannya. Berniat untuk mengapresiasi, Amara pun menghampiri sembari menyapa.
"Mbak Naura masak apa?"
Seketika Naura menoleh dan tersenyum mendapati Amara sudah berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Masak capcay kuah, Mar. Aku manfaatin sayuran yang ada di kulkas kamu. Maaf, ya," ujar gadis itu dengan mimik sesal.
"Ah, nggak pa-pa, Mbak. Aku berterima kasih karena Mbak berinisiatif masak," balas Amara.
"Sekalian latihan buat layani Dimas, Mar. Hehe, siapa tau pas kalian udah cerai dan kami nikah nanti aku udah terbiasa masakin buat Dimas. Aku udah nggak sabar nunggu hari itu tiba. Dimas pasti bahagia punya istri cantik dan pinter masak kayak aku." Gadis langsing dengan tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter itu tersenyum penuh arti sambil menatap Amara. Kemudian, dengan gayanya yang feminim, ia menyibak rambut yang menghalangi wajah sebelum kemudian kembali mengaduk masakannya.
Entah mengapa hati Amara mendadak berdenyut nyeri. Meski Naura bersikap baik dan selalu menyunggingkan senyum, tapi ia merasa gadis itu terkesan membanggakan diri dan meremehkan dia. Dari nada bicaranya barusan Naura telah memperlihatkan sikap sombong yang tersembunyi di balik kelembutannya.
Ah, entahlah. Semoga itu hanya pikiran burukku saja. Ia membatin.
__ADS_1
"Sudah matang."
Suara Naura berhasil membuat Amara tersadar dari lamunannya. Amara mengerjap. Ia memperhatikan Naura yang mematikan kompor dan memindahkan sayur matang ke piring saji. Sesekali menyunggingkan senyum saat pandangan mereka beradu. Ya, senyuman getir.
Jika melihat dari segi fisik dan gerak-gerik Naura dalam melakukan aktivitas, Amara hanya bisa menelan ludah sebab mereka jelas-jelas tak sebanding. Naura benar-benar cantik dan mempesona. Ia begitu terawat dan kecantikannya yang paripurna bisa Dimas nikmati kapan saja.
Sementara dirinya berbanding terbalik dengan Naura. Mahkota indahnya tertutup jilbab. Dari segi tampilan benar-benar tak ada yang bisa dibanggakan sebab tertutup oleh pakaian yang sopan. Kendati demikian, ia tetap bersyukur dan berbangga diri. Ia bisa menjaga sesuatu yang berharga dari dirinya hanya untuk yang mencintainya kelak. Dan hanya orang spesial seperti Juan sajalah yang bisa benar-benar mencintainya. Juan bahkan mengetahui bagaimana dia secara keseluruhan. Tak pernah meremehkan, apalagi merendahkan harga dirinya.
Ah, lagi-lagi itu hanya angan, sebab saat ini keadaan telah berbeda. Amara bahkan tak tahu pada siapa kelak rasa cintanya akan bermuara.
__ADS_1
"Wah, kalian kompak banget. Jam segini udah pada sibuk masak di dapur, pula. Keren."
Dua wanita itu kompak menoleh ke arah pintu, di mana Dimas tengah berdiri sambil menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan.