Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Doooor!!!!


__ADS_3

"Ha'cung! Ha'cung!" Amara meraih tisu lalu mengusap hidungnya yang basah. Meski sudah minum obat, tapi flu yang menyerangnya belum juga reda. Sejak tadi iapun tak henti-henti bersin-bersin.


Baru juga ingin merebahkan tubuh, tapi suara ketukan pintu yang tiba-tiba terdengar membuat tubuhnya seketika menegang karena terkejut.


"Siapa, sih?" gumamnya bertanya-tanya.


"Mar! Buka woy! Awas lo kalau tidur." Suara teriakan itu dibarengi gedoran pintu. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Dimas. Pria stress yang belakangan ini membuat tidur Amara tak nyenyak. Makan pun tidak enak.


Amara mendesah kasar. Wajah gadis itu langsung berubah miris. Ia bergegas bangun dan berjalan menuju pintu dengan langkah berat. Sebelum membuka pintu ia terlebih dahulu memasang mimik wajah ceria agar terlihat kuat di mata Dimas.


"Iya, ada apa Mas?"


Awalnya wajah Dimas terlihat biasa sebelum Amara membuka pintunya. Namun begitu pintu terbuka, ia langsung mengerutkan keningnya. Melihat wajah gadis di depannya itu agak pucat, sementara mata dan hidungnya tampak memerah, tentu saja mengundang tanya bagi Dimas.


Namun ekspresi yang di tampilkan Amara kontras dengan keadaannya. Gadis itu justru tersenyum secerah mentari pagi.


"Lo baru nangis?" tanya Dimas dengan wajah penasaran.


"Ah, enggak!" elak Amara sambil mengibaskan tangannya.


"Itu hidung lo merah kayak habis ditonjok." Dimas menunjuk hidung Amara dengan pandangan mata penuh keseriusan. "Mata juga kayak baru liat pacar jalan sama selingkuhan."


Sialan. Maksud dia apa?


"Enggak kok, Mas. Aku cuma sedikit flu. Kan tadi di guyur air sama Mas Dimas. Sampai masuk hidung masuk mata! Aku kan jadi influenza!"


"Lah, malah ngegas, Lo!" seru Dimas sambil menonyol dahi Amara dengan telunjuknya.


Tentu saja hal itu membuat Amara kesal, hingga gadis itu merengut dan menatap Dimas penuh peringatan.


"Apa lo, melototi gue kayak gitu?" tanya Dimas sambil mengedikkan dagu dengan tatapan mengancamnya. "Lo nggak terima? Harusnya gue yang marah gara-gara lo kerjain!" lanjutnya sambil berkacak pinggang.


Sontak saja hal itu membuat Amara langsung menggelengkan kepalanya lalu tertunduk dalam. Dengan ekspresi yang ditunjukkan itu sudah barang pasti Dimas tengah menebarkan sebuah ancaman yang kelak akan menyulitkannya.


"Yok ikut gue." Dimas meraih lengan baju Amara lalu menariknya setengah memaksa.


"Eh, mau kemana, Mas?" Meski dengan ekspresi gugup, tapi Amara tetap mengikuti langkah pria itu.


Dimas hanya diam, namun kakinya tetap berjalan dengan tangan masih menjimpit lengan baju Amara.


Rupanya Dimas membawa Amara menuju halaman belakang, berlawanan arah dengan jalan menuju kolam renang.


Amara sendiri meskipun bingung tetap tak berani bertanya dan memilih patuh mengikuti langkah pasiennya.


Keduanya sampai pada tempat yang dituju. Amara menatap ke sekeliling. Area belakang rumah yang begitu luas sisi kiri ini berbanding terbalik dengan area sisi kanan. Jika di sisi kanan terasa asri dan nyaman dengan taman bunga serta kolam renang, di sisi kiri ini nampak luas dan terbuka, lebih mirip dengan tempat latihan untuk menembak memanah dan semacamnya.


Nampak di ujung sana, sebuah gabus persegi bergambar lingkaran dari ukuran kecil hingga semakin besar. Terdapat pula titik-titik yang di keempat sisinya. Amara meyakini itu adalah target sasaran Dimas latihan.


Amara sendiri baru sekali datang ke sini meskipun hanya berada di belakang rumah. Tempat ini memang sedikit tertutup dari area luar, sebab ada tembok tinggi yang mengelilingi.


"Mas Dimas mau ngapain ke sini?" Amara menatap Dimas dengan wajah penuh tanya.


"Masa iya mau dansa. Ya mau nembak, lah." Dimas melirik sinis pada Amara, lalu melangkah meninggalkan gadis itu.


Amara mendesah kesal sambil menatap punggung Dimas yang semakin menjauh. Gadis itu menggeram dalam hatinya. Tidak bisakah lelaki itu menjawab pertanyaannya dengan nada yang sedikit sopan? Sedikit ... saja. Menghargai orang kan tidak ada salahnya.


Entah kenapa Dimas suka sekali berbicara ketus dan belum menerima kehadiran Amara. Bukankah seharusnya pria itu bersyukur, dengan datangnya Amara membuatnya merasa terbantu. Dan yang jelas, kesehatannya semakin membaik berkat kedatangan gadis itu.


Amara menatap Dimas yang tengah mempersiapkan peralatan menembaknya. Pria itu terlihat serius dan cekatan melakukannya, seolah hal itu sudah biasa ia lakukan.


Sudah siap, Dimas lantas mengenakan penutup telinga serta kaca mata yang sejak tadi terletak di atas meja. Pria itu terlihat mengepalkan tangan lalu membukanya hingga berulang-ulang, seolah-olah tengah melemaskan otot-otot jemarinya.

__ADS_1


Dimas kemudian membawa tembaknya berdiri sejajar dengan papan sasaran dengan posisi kuda-kuda. Tangannya terangkat hingga sejajar dengan bahu. Mata elangnya begitu fokus menatap ke arah depan dengan sebelah terpejam. Menghela napas dalam, kemudian--


Dor! Peluru mainan itu melesat tepat pada sasaran.


"Yes! Berhasil." Dimas sontak terseyum senang sambil mengepalkan tangannya sebagai selebrasi kemenangan.


Rupanya Amara yang berdiri tak jauh darinya juga terlihat senang atas keberhasilan Dimas. Gadis itu tersenyum seraya berucap syukur dalam hati. Ini adalah pertanda baik. Tentu saja ia bisa secepatnya pergi jika Dimas sembuh dan syaraf- syaratnya kembali bekerja dengan normal.


Kebahagiaan Amara itu rupanya tak luput dari pengamatan Dimas. Pria itu lantas berkata dengan bangganya, "Gue keren, kan."


"Hemm," Amara berusaha menampilkan senyuman semanis mungkin untuk membuat pria itu senang. Dari pada dia pula yang jadi sasaran. "He-he, iya Mas, Mas Dimas keren," ucapnya sambil mengacungkan jempol.


Dimas kemudian mengulangi latihannya hingga berulang kali, dan kesemuanya selalu tepat sasaran hingga Amara yang menyaksikan dari jarak aman pun dibuatnya terheran-heran.


Hingga setelah beberapa lama, Dimas kemudian menurunkan tembaknya. Pria itu mendesah pelan dengan wajah yang terlihat murung. Entah mengapa Dimas mendadak seperti hilang semangat.


Merasa khawatir, Amara lantas melangkah mendekat. "Mas Dimas kenapa?" tanyanya kemudian untuk memastikan.


"Nggak tau, nich. Tiba-tiba aja gue merasa bosan." Dimas berucap lemah tanpa menatap Amara.


"Kalau bosan mending istirahat aja. Yuk, aku antar Mas Dimas ke kamar," ajak Amara dengan nada lembut.


"Nggak mau." Dimas menggeleng cepat sambil mencebik seperti anak kecil. "Gue masih pengen latihan."


"Lah, bukannya tadi bilang bosen?"


Dimas langsung menatap Amara dengan sinis. "Bukan latihannya yang ngebosenin!" ketusnya.


"Lalu?"


"Sasarannya." Dimas menjawab singkat, lalu mengalihkan pandangan ke arah depan.


"Udah nggak seru, Amara .... Itu terlalu mudah buat gue. Kurang menantang. Nggak ada greget-gregetnya."


Amara sedikit bergeser hingga semakin dekat dengan Dimas. Gadis itu memiringkan kepala agar bisa melihat wajah Dimas yang sedang memaling. "Bagaimana kalau dimundurkan saja? Biar agak jauh. Lumayan, kan, sedikit nambah adrenalin," bujuknya kemudian sambil tersenyum ramah.


"Eng-gak ma-u!" tolak Dimas cepat penuh penekanan. Ia kemudian menatap Amara dengan sorot mata tajam seolah sedang kesal, hingga membuat gadis itu menarik diri dan mundur beberapa langkah. "Gue mau yang lain, bukan dimundurin! Ngerti, Lo!"


Amara menganggukkan kepalanya berulang-ulang. "Iya, Mas. Aku ngerti," jawabnya dengan nada pasrah. Ia memilih untuk mengalah dari pada emosi Dimas kembali membuncah.


Haduh, mau dia apa lagi, sih? Bikin pusing aja.


Diam diam sejenak, lantas mengamati Amara dengan seksama. Tak lama setelahnya, ia mengangguk samar sambil tersenyum penuh arti.


"Mas Dimas kenapa lihatin saya kayak gitu?" Amara yang mulai tidak nyaman memberanikan diri untuk bertanya.


"Nggak papa. Gue nggak naksir sama lo, jadi, jangan besar kepala!" tegas Dimas saat Amara menyilangkan tangannya ke depan dada. Ia lantas berdecih sambil membuang muka.


Amara yang gusar lantas menurunkan tangannya dan tertunduk malu. Keadaan hening sejenak sampai Dimas kembali menatap Amara, namun kali ini tatapannya terlihat berbeda.


"Mar," panggilnya. Dan Amara sontak mendongakkan kepala. "Bisa bantu gue, nggak?" tanyanya kemudian sambil tersenyum dengan mimik memohon.


"Hah?" Amara menggumam. Ia menatap Dimas dengan wajah heran. Jika sebelumnya pria ini tak pernah meminta sesuatu dengan kata-kata ramah, lantas mengapa kali ini justru berbeda? Bukannya senang, Amara justru malah merasa curiga. Terlebih dengan senyuman yang Dimas tunjukkan. Terlihat sekali jika lelaki itu sedang ada maunya.


"Kok bengong? Mau bantu, nggak?"


"Mau, kok. Mau." Amar menjawab cepat sambil menganggukkan kepala. "Mas Dimas mau saya bantu apa?"


Dimas meraih satu buah apel merah besar yang terletak di atas meja, lalu memberikannya pada Amara. "Lo bawa apel itu ke sana, ya," perintahnya kemudian sambil menunjuk ke arah papan sasaran.


Amara memeriksa apel di tangannya dengan seksama lalu menatap Dimas dengan wajah bertanya-tanya.

__ADS_1


"Udah, bawa aja! Nggak usah bawel." Dimas menyela, bahkan sebelum Amara membuka mulut untuk bertanya.


Amara hanya bisa mengangguk, lalu berlari kecil menuju tempat yang Dimas tunjuk. Tepat di sisi papan, ia berhenti, lalu menatap Dimas dengan penuh isyarat.


"Taruh apel itu di atasnya!" Dimas setengah berseru, agar Amara bisa mendengarnya dengan jelas.


Amara yang berada di ujung sana mengangguk faham, lalu menaruh apel itu di atas papan. Ukuran papan yang tidak begitu tebal rupanya menyulitkan Amara menaruh apel itu di sana. Seberapa kali gadis itu menaruhnya, sejumlah itu pula apelnya jatuh di tanah. Hingga gadis itu merasa kesal sendiri dibuatnya.


"Woy! Serius nggak sih lo mau bantu?" Dimas yang sejak tadi menunggu sudah terlihat tak sabaran. Ia menatap Amara sambil berkacak pinggang.


"Bukannya nggak mau bantu, Mas! Tapi memang apelnya nggak bisa ditaruh di sini."


"Ya kalau gitu taruh aja di atas kepala Lo!" celetuk Dimas asal karena semakin kesal. Semula itu hanyalah luapan kekesalan saja.


Namun entah mengapa ia merasa celetukannya tadi merupakan sebuah ide brilian, hingga kemudian membuatnya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Woy! Lo denger nggak sih, gue tadi ngomong apa?"


Amara yang berada di sana hanya terbengong, menatap Dimas seperti tak percaya.


"Buruan taruh di atas kepala Lo!" ulang Dimas lagi.


Tak langsung menuruti, Amara justru meremas apel di tangannya itu. Entah mengapa ia merasa Dimas memiliki niatan tidak baik, dan hal itu benar-benar membuatnya sangat curiga. "Buat apa sih, Mas? Mas Dimas nggak berniat menembak saya, kan!" tegasnya penuh keberanian. Sengaja. Agar Dimas tak lagi-lagi berniat untuk menindas.


"Hey, siapa juga yang mau nembak lo. Buruan taruh! Kalau nggak, elo yang bakalan gue tembak!" Dimas menodongkan senjatanya seolah-olah hendak benar-brenar menembak. Tentu saja itu hanya pura-pura dan untuk lebih meyakinkan Amara saja.


"Jj-jangan dong Mas!" sergah Amara dengan suara terbata. Entah mengapa ia begitu takut Dimas akan benar-benar menembaknya. Sebenarnya ia tak ingin memiliki pemikiran buruk, tapi melihat perilaku Dimas belakangan ini, bukan tidak mungkin, kan? Terpaksa, demi keselamatan ia harus menurutinya. "Iya, iya, saya taruh di kepala." Terang saja Amara merasa ketakutan berada di bawah ancaman. Berniat untuk keselamatan diri, ia benar-benar menaruh apel itu tepat di atas kepalanya.


Dimas terseyum puas melihat kepatuhan Amara. "Nah, gitu dong. Bagus. Jangan gerak-gerak ya!" serunya sambil mengangkat senjata hingga sejajar dengan bahu. Lantas memfokuskan pandangan seolah sedang membidik mangsa.


Terang saja hal itu membuat Amara semakin ketakutan. Sekelebat bayangan buruk akan nasipnya tiba-tiba memenuhi isi kepala. "Apa-apaan ini Mas! Jangan bilang Mas Dimas mau nembak apel ini!" Amara berhasil menyuarakan kepanikannya dengan memprotes kelakuan Dimas. Ia hampir menurunkan apel itu, namun Dimas keburu mencegahnya.


"Woy! Kalau sampai lo turunin, peluru ini bakal bersarang di jidat Lo!"


Dalam keadaan Dimas yang sudah siap menarik pelatuk, tak ada pilihan lain bagi Amara selain diam mematung.


"Gila!" teriak Amara dengan posisi tubuh terpaku. Tubuhnya bahkan sudah bergetar saking ketakutan, namun ia tak berani sedikitpun bergeming. "Kamu memang gila!Tidak ada manusia waras yang ingin membahayakan nyawa orang lain!"


Teriakan Amara itu rupanya mengusik Dimas yang sedang membidik sasaran. Pria itu mendesah kasar lalu menggeser pandangan untuk menatap Amara. "Diam Lo!" teriaknya penuh kemarahan.


"Enggak!" teriak Amara tak kalah keras untuk menunjukkan sikap penolakan. Ia berusaha pembangkangan. Namun pastinya itu hanya terlontar di bibir saja, sedang tubuhnya membeku tak dapat bergerak. Setidaknya ia menyuarakan isi hatinya. Biar saja pria marah, yang penting membatalkan eksekusi gilanya. Tapi sepertinya percuma, Dimas seolah tak mau mendengar jeritannya.


Benar-benar pilihan yang sulit. Menuruti Dimas hanya akan membuat tersiksa, namun berlari juga akan membuatnya celaka. Sungguh seperti makan buah simalakama.


"Diam, dan jangan bergerak walau hanya sedikitpun." Dimas menggeram lambat-lambat, namun penuh penekanan. Kata-katanya terdengar penuh tuntutan, dan tak ingin mendengarkan penolakan.


Seolah mengabaikan ketakutan Amara, pria itu kembali memfokuskan diri untuk membidik. Pria itu sudah memejamkan sebelah matanya, sedang tangan kanan sudah siap untuk menarik pelatuk.


"Mas Dimas sadar! Kumohon jangan lakukan itu, aku takut ...!" Amara mengerang histeris dengan bibir yang bergetar. Bahkan sekujur tubuhnya gemetaran hebat dengan keringat bercucuran. Tangisnya bahkan tak dihiraukan oleh Dimas. Hanya wajah mendiang orang tuanya yang melintas di kepalanya saat ini.


Ibu, Ayah, mungkinkah secepat ini kita akan bertemu? Kata-kata itu yang menggaung di benak Amara. Gadis itu terisak, lalu memejamkan mata. Berusaha melafalkan doa andai hari ini ia harus menjemput maut oleh perbuatan Dimas. Andai hari ini ia tutup usia, setidaknya ia sudah melakukan pertobatan.


Sementara di seberang sana, Dimas tengah berusaha mengendalikan ketakutannya. Membuang traumatis yang akhir-akhir ini membelenggu pikirannya. Ia hanya membutuhkan satu kali uji coba. Satu, saja. Baru ia akan menjalani hidup secara normal seperti sebelumnya.


Tubuh Dimas mulai bergetar. Bahkan keringat dingin mulai bercucuran. Sungguh ia hampir saja tak kuat melanjutkannya. Bayangan perselingkuhan Naura kembali membesit pikiran, menyayat hati dan melukai perasaan. Ia butuh pelampiasan. Ia ingin melenyapkan semua beban yang menggangu pikirannya selama ini.


Dan Dimas menganggap apel itu adalah Naura. Ia ingin melenyapkan apel itu agar lepas dari keterpurukan.


"Gue kuat. Gue harus bisa." Dimas berucap lirih penuh tekad, sebelum kemudian memutuskan niatan dengan mantap. Dan kemudian, Dooor!!!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2