
Kepiawaian Dimas menguasai situasi rupanya ampuh mengusir ketegangan yang dirasakan oleh Amara. Amara terlihat lebih santai dari sebelumnya. Wanita itu bahkan bisa tertawa lepas menanggapi candaan Dimas. Kadang juga tak sungkan menyebikkan bibir saat dirinya merasa kesal.
Bulan di langit sana kian bergeser pertanda malam semakin larut. Dimas mulai khawatir saat mendapati istrinya sempat beberapa kali terlihat menguap. Walaupun mereka kini tengah berada di atas ranjang dan di bawah selimut yang sama, tetapi mereka belum sempat melakukan apa-apa. Duduk sambil bersandar pada kepala ranjang, tangan kiri Dimas menggenggam tangan kanan istrinya yang duduk merapat di samping kiri.
"Udah ngantuk, ya?" Dimas akhirnya memutuskan bertanya setelah Amara membungkam mulut untuk yang kesekian kalinya.
"Hehehe." Amara hanya nyengir menanggapi tanya Dimas.
Tersenyum lembut, Dimas mengusap puncak kepala istrinya lalu berucap seperti memberi perintah sambil mengedikkan dagunya. "Tidur, gih."
Namun, alih-alih mengiakan, Amara justru menggeleng cepat.
"Loh, kenapa? Bukannya udah ngantuk ya?" Dimas bertanya sambil menautkan alisnya. Jelas penolakan istrinya menjadi sebuah tanya meski dalam hati ia tak ingin istrinya benar-benar tidur secepat itu.
"Sewa kamarnya sangat mahal. Masa iya kamu bayar mahal tempat ini cuma buat tidur doang."
Dimas tergelak mendengar jawaban tak terduga istrinya. Ia pun refleks mengacak rambut sang istri lantaran saking gemasnya.
"Terus ... maunya apa?"
Amara yang tengah membenahi rambut itu hanya membalasnya dengan gelengan kepala dan pasang wajah polos.
Lagi, Dimas tertawa sambil mengusap kepala istrinya. Mengecup sayang kening perawat itu, ia kemudian berucap, "Nggak pa-pa, Sayang. Kalau ngantuk ya tidur aja. Jangan pikirin sewa yang mahal. Tabungan aku hanya berkurang secuilnya saja untuk sewa tempat ini."
Dimas tertawa melihat Amara yang melongo. Mungkin gadis itu membayangkan berapa kekayaan keluarga Dimas seluruhnya. Ia kemudian meraih tangan Amara, lalu menggenggam jemari lentik itu dengan penuh kelembutan.
"Aku tau kamu capek banget karena seharian ini harus salamin ribuan orang. It's okay, nggak masalah. Aku akan tetap terjaga buat jagain kamu sampai besok pagi."
"Hah!" Mata Amara membeliak. Kemudian refleks menggeleng kuat. "Jangan!"
Dimas mengubah posisi bersandarnya sambil menatap Amara penuh tanya. "Kok jangan?"
"Iya lah! Itu nggak adil buat kamu." Bibir Amara mengerucut. "Masa iya kamu cuma jagain aku tidur?"
"Lah terus?" Dimas mengulum senyum sebelum melontarkan tanya dengan nada menggoda. "Kalau nggak mau dijagain, terus maunya diapain dong?"
Tiba-tiba wajah Amara bersemu malu lantaran pertanyaan Dimas itu. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan Dimas. Hanya saja otaknya yang sudah kadung melanglang buana ke mana-mana.
Semula Amara pikir malam ini Dimas akan menuntut haknya sebagai suami. Entah menunggu kerelaannya atau dengan cara memaksa.
Namun, sikap berbanding terbalik justru ditunjukkan Dimas malam ini. Terang saja ia merasa tak enak hati karena tak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Sayang?" Dimas menggamit dagu Amara lantaran istrinya itu hanya membeku saat ditanya. Ia memaksa Amara untuk membalas tatapannya.
Untuk sejenak Amara membeku. Tatapan iris tegas itu membuat jantungnya bertalu-talu. Demi apa pun, ia merasa menjadi wanita paling beruntung lantaran dinikahi pria yang nyaris sempurna di hadapannya itu.
__ADS_1
Untuk sesaat Amara lupa berkedip, lupa bergerak dan lupa bernapas. Ia terpaku memandangi ciptaan Tuhan yang begitu memesona itu. Hingga saat Dimas meniupkan udara ke wajahnya, barulah Amara mengerjap dan tergagap.
"Nggak pa-pa. A-aku cuma sayang duit sewanya!" kilah Amara sambil memalingkan wajah. Berusaha menyembunyikan jengah. Sudah susah payah menyembunyikan rasa malu, Dimas justru menggodanya dengan pertanyaan yang membuatnya kian malu.
"Yakin cuma sayang duitnya? Nggak ada yang lainnya, gitu?" Dimas tersenyum sambil memainkan alis tebalnya. Matanya masih intens menatap, bahkan seperti menyilidik.
Lantaran gusar, Amara malah menyebik sambil membelakangi suaminya. "Ish, apaan sih. Ya iya, lah! Memangnya apa lagi?" ketusnya.
Dimas tergelak sambil memukul pelan kasur kosong di sampingnya. Jelas, ia tahu kegelisahan sang istri yang mendadak gusar dan salah tingkah. Ia sangat paham gadis itu pemalu. Namun, ia juga merasa jadi pecundang lantaran belum menemukan cara tepat untuk mengawali malam pertama mereka itu.
"Sayang," panggil Dimas setelah menghentikan tawa. Ia menjulurkan tangannya, membelai lembut rambut panjang itu berulang-ulang. Sadar jika tawanya itu bisa jadi akan membuat istrinya tersinggung dan berakhir merajuk, ia buru-buru mendekati istrinya dan membujuk.
Sayangnya, Amara yang sudah kadung malu masih enggan menanggapi panggilan suaminya. Sehingga Dimas terpaksa memilih opsi lain untuk membujuk cintanya itu.
"Aku mau nyeduh kopi. Apa kamu mau juga?" tawarnya pelan seraya mencondongkan wajah. Bibirnya sengaja memberikan sentuhan lembut pada daun telinga milik istrinya.
Tindakan Dimas itu membuat Amara membeliak dan sontak menoleh ke arah Dimas. Bukan hanya karena detak jantungnya yang bekerja dua kali lipat, tetapi tawaran kopi dari suaminya.
"Mas Dimas mau kopi? Biar aku aja yang seduhkan, ya. Aku mau ke dapur sebentar."
"Sayang." Dimas mencegah Amara yang hendak bangkit dengan cara memegang lengannya. Ia tersenyum lembut sembari mengedipkan mata. "Biar aku aja. Kamu tunggu di sini, oke."
"Tapi–"
"Sudah, aku aja." Dimas mengisyaratkan agar Amara duduk manis di sana. Ia bangkit dari ranjang setelah mengusap pipi sang istri dengan lembut menggunakan ibu jari.
Dimas yang sekarang sangat berbeda dengan Dimas yang dulu pertama kali ia kenal. Dimas sekarang takkan pernah mau memaksakan kehendaknya. Bahkan sekalipun pria itu sangat menginginkan, Dimas pasti akan menunduk dan menunggu kesiapannya.
Seketika Amara beringsut dari duduknya. Ia menyibak selimut lalu menurunkan kaki untuk berpijak di lantai. Ia tak boleh bersikap egois. Ini adalah malam pertama mereka dan Dimas harus mendapatkan haknya.
Amara melangkah dengan hati-hati. Kakinya yang tanpa alas kaki mengakibatkan tak adanya suara ketika melangkah. Ia mencari ruangan yang merupakan dapur di dalam kamar hotel itu. Dan ketika menemukan, ia menipiskan bibir mengulas senyum saat mendapati suaminya tengah melakukan sesuatu hal dengan posisi membelakangi.
Dimas yang tak menyadari kehadiran Amara tampak serius berjibaku dengan peralatan menyeduh kopinya. Ia menyiapkan dua pasang cangkir beserta tatakannya, membubuhkan kopi beserta gula, lalu terakhir menuangkan air yang masih mengepulkan asal ke dalamnya.
Ketika sedang mengaduk, tangannya terpaksa menghentikan kegiatan lantaran merasakan sentuhan dari belakang. Mula-mula sentuhan itu terasa lembut dan pelan. Namun, lama kelamaan sentuhan itu kian menjalar dan ia merasakan sesuatu merapat di area belakang tubuhnya.
Sejenak, Dimas hanya bisa memejamkan mata, menikmati sensasi geli bercampur hangat yang menyerang seluruh urat syarafnya.
"Ngapain nyusul ke dapur, Sayang?" Dari cincin melingkar di jari manis pada tangan yang menyatu di perutnya, Dimas bisa menebak itu siapa. Cincin kawin yang baru ia sematkan pada jari manis gadis cantik pagi tadi. Siapa lagi jika bukan Amara? Bahkan lembutnya sentuhan serta hangat pelukannya masih selalu diingat Dimas. Ya, wanita itu tengah memeluknya dari belakang.
Dimas hanya tersenyum meski Amara tak menjawab pertanyaannya. Namun, ketika wanita itu malah mengeratkan pelukan dan menggesekkan pipi pada punggungnya, Dimas sontak memejamkan mata seraya menggemertak. Kepalanya menengadah menahan denyar aneh yang merambat. Bulu kuduknya meremang dan sesuatu di bawah sana kian mengeras.
Entah disengaja atau tidak, Amara telah membuat hasratnya yang sejak tadi ditahan-tahan itu kian berkobar.
"Sayang ... jangan sentuh aku demi keselamatanmu." Dimas menggeram seraya mengepalkan tangan. Ia berusaha menahan diri dan memberi peringatan.
__ADS_1
Sayangnya, Amara terlalu bebal untuk mematuhinya. Wanita itu justru menggelengkan kepalanya. Dan bagi Dimas itu seperti menggodanya.
"Sayang." Dimas memperingatkan sekali lagi. Sedangkan Amara bersikukuh pada pendiriannya. Sehingga ... sesuatu yang diinginkan pun terjadi.
Tidak ada peringatan yang ketiga kali. Dimas melepas jalinan tangan Amara dan bergerak cepat memutar tubuhnya. Amara yang sudah menduga ini terjadi sontak mendongak, menatap iris tegas berbalut nafsu itu tanpa takut.
"Dasar nakal. Sejak kapan kau menjadi bebal? Kenapa tidak mengindahkan peringatanku?"
Amara hanya tersenyum kecut ditanyai seperti itu. Ia menggigit bibir bawah saat Dimas menajamkan tatapannya. Entah bagaimana awal mulanya, tiba-tiba kini Amara sudah duduk di atas meja pantry berbahan marmer itu. Dimas yang mengangkat tubuhnya ke sana layaknya kapas tanpa beban.
Amara hanya bisa memekik saat Dimas menarik tubuhnya untuk merapat. Tangannya refleks melingkar di leher sang suami dengan tujuan untuk berpegangan. Sementara wajah mereka sudah berhadapan sangat dekat dan saling tatap.
Jujur, semangatnya sangat berapi-api beberapa saat tadi. Namun, setelah situasinya seperti ini, kenapa Amara jadi ciut nyali?
Tangan Dimas sudah memeluk pinggangnya seperti mengunci. Yang jelas membuatnya tak bisa kabur lagi.
Jantung Amara berdentum hebat. Pori-pori kulitnya mulai mengembun meski sekujur badan dilingkupi hawa dingin. Amara juga bisa merasakan jika wajahnya mulai memucat. Meski ia sudah memantapkan tekat, tetapi tak bisa dipungkiri jika rasa takut itu tetap ada. Terlebih tatapan mata berbalut nafsu itu terus saja menghunjamnya. Ditambah lagi kata-kata penuh ancaman yang terlontar dari bibir Dimas selanjutnya.
"Aku sudah dua kali memperingatkan tetapi kau malah bersikap seperti menantang. Jangan salahkah aku jika mengambil sesuatu yang berharga dari dirimu."
Meski takut, Amara tetap berusaha bersikap tenang. Ia membalas tatapan Dimas tanpa gentar. "Itu adalah hakmu. Ambillah dan lakukan sesukamu," balasnya setengah berbisik.
Seperti mendapat rezeki tak terduga, Dimas tak ingin menyia-nyiakannya. Ia langsung menyambar bibir ranum Amara dan melahapnya penuh kenikmatan.
Dimas melepas pagutan itu setelah beberapa saat hanya demi melihat bagaimana reaksi Amara. Tuluskah bersedia disentuhnya atau justru hanya terpaksa?
Sayangnya Dimas tak menemukan apa yang ditakutkannya. Wanita itu tak menunjukkan perlawanan ataupun sedikit pun penolakan, meski semburat merah begitu jelas menghiasi wajah.
Amara tersenyum tulus kepadanya, seolah-olah mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Bahkan jemari lembut itu meraba wajah Dimas dan memberikan usapan lembut di sana.
Lagi, Dimas menggeram. Matanya memejam, menikmati denyar nikmat yang merambat. Tanpa ingin membuang waktu lagi, ia kembali menyambar bibir Amara dan menikmatinya dengan rakus.
Tak nyaman dengan tempat yang mereka gunakan sekarang, Dimas membopong tubuh Amara untuk ia bawa ke kamar mereka. Merebahkan tubuh dengan bungkus piyama yang letaknya tak lagi sempurna itu tepat di tengah ranjang.
Dimas melahap Amara begitu dahaga. Pekik serta ******* yang lolos dari bibir Amara bahkan semakin memantik gairahnya.
Meski sempat merasakan sakit akibat Dimas merobek sesuatu miliknya, tetapi tak bisa dipungkiri jika Amara merasakan kenikmatan yang tiada tara. Dimas memperlakukannya seperti bidadari. Membawanya terbang ke awan dan menikmati indahnya nirwana.
Amara tak bisa melukiskan kebahagiaan yang dirasakannya. Hanya rasa syukur pada Sang Pencipta karena telah menyatukan cintanya dengan cinta pria yang kini tengah mendekapnya begitu erat dalam peraduan.
Selesai ~~~
Hai hai hai semuanya. Senang sekali bisa menyapa kalian lagi dengan kisah Dimas dan Amara ini.
Aku mengucapkan mohon maaf lahir batin pada kalian walaupun telat tetapi tidak mengurangi rasa hormat. Juga menyampaikan rasa terima kasih atas kebersamaan kita di sini dan pada kalian yang bersedia memberikan dukungan sekalipun Dimas udah nggak update.
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga di karyaku yang lain dan kita bertemu di sana. Terima kasih semuanya 🙏🥰