
"Mama?" Dimas sontak berbalik badan dan mendapati Amel berdiri di depannya.
"Kenapa? Kaget, ya?" tanya Amel sambil bersedekap dada dengan seringai di bibirnya.
"Ah, enggak. Cuma nggak nyangka aja tiba-tiba Mama di situ." Dimas menjawab sambil tertawa hambar lantaran terkejut. Ekspresinya sudah seperti maling ayam yang tertangkap basah oleh pemiliknya.
"Dari mana saja kamu seharian? Mama sengaja telpon Baskoro tapi katanya kamu nggak ngantor. Malahan semua pekerjaan hari ini kamu limpahkan sama dia. Jujur, kamu pergi ke mana?" desak Amel dengan ekspresi garang.
"Ya ... memang aku nggak ngantor, Ma ...." Dimas sengaja mengulur kata selagi berpikir keras mencari-cari alasan. Namun, setelahnya ia berbicara lancar ketika mendapat alasan yang tepat untuk mengelabui sang mama. "Tapi aku ketemu klien di luar kantor sama lokasi, kok. Banyak yang aku tinjau hari ini, makanya semua kerjaan di kantor aku limpahkan sama Baskoro. Dasar tuh anak. Hal sepenting ini malah nggak kasih tau Mama. Mama juga ngapain malah nanya ke Baskoro, bukannya ke aku langsung. Mama lagi main detektif-detektifan, ya? Ceritanya Mama lagi jadi detektif Conan–"
"Dimas!" potong Amel dengan intonasi tinggi yang seketika membuat Dimas bungkam. "Mama lagi nanya serius malah kamunya bercanda."
"Siapa yang bercanda, Ma ... ini Dimas juga serius."
Amara yang sejak tadi hanya diam memperhatikan keduanya berdebat tak bisa menahan diri untuk menengahi lantaran merasakan atmosfer ruangan yang kian memanas oleh perdebatan ibu dan anak.
"Ma, maaf Amara mau jelesin sesuatu," ujar gadis itu sembari maju dua langkah dan berdiri sejajar di samping Dimas.
Amel mengalihkan pandangannya dari Dimas dan menatap Amara. Namun, pada gadis itu ekspresinya seketika melembut.
"Jelasin apa, Amara?"
Sebelum memulai memberikan penjelasan, Amara menyempatkan diri untuk menatap Dimas sekilas. Rupanya pemuda itu juga tengah menatapnya dengan ekspresi wajah penasaran. Penasaran oleh apa yang akan ia katakan.
"Begini, Ma. Se–sebenarnya tadi Mas Dimas sempat kasih kabar sama Amara melalui whatsapp. Tapi karena ponsel Amara tertinggal di kamar, jadinya baru Amara baca. Maaf Ma, ini kesalahan Amara sepenuhnya. Harusnya Amara kasih tahu Mama biar Mama nggak bingung tanya sana-sini."
Tanpa Amel sadari, penjelasan Amara tadi membuat Dimas terperangah. Tidak pernah ada rencana semacam ini sebelumnya. Ini adalah murni ide gila Amara. Ia tahu betul gadis ini tak pandai dalam hal membohongi. Ia bisa menangkap jelas ekspresi takut serta suara terbata Amara. Gadis itu bahkan tertunduk agar sang mama tak menangkap kebohongan dari matanya.
__ADS_1
Untuk sesaat Dimas tercenung. Ada rasa tak enak hati yang menjari denyut nadi. Gara-gara ulahnya, Amara harus berbohong demi melindungi dia dari amukan sang mama.
"Benar begitu, Dimas?"
Dimas yang masih terbengong menatap Amara di sisi kanannya sontak menoleh ke sang mama ketika pertanyaan bernada memastikan itu menyapa gendang telinga.
"I–iya, Ma. Maaf, karena Dimas cuma kabarin Amara doang."
Seketika Amel menghela napas lega.
"Owalah, jadi gitu?"
Amara dan Dimas mengangguk bersamaan.
"Mama pikir kamu main pergi gitu aja tanpa pamit Amara."
"Bagus." Amel mengacungkan jari jempolnya, lantas ia kembali menjelaskan panjang lebar pada putranya. "Sekarang kalian ini sudah jadi suami istri. Suami istri itu harus saling menghargai satu sama lain. Jangan lantaran belum saling cinta, kamu bisa sakiti hati dan tinggalin Amara seenaknya. Ingat ya Dimas, selama Amara masih jadi istri kamu, selama itu juga Amara jadi tanggung jawab kamu. Jangan sampai jadi suami yang dzalim terhadap istri, ya. Ingat itu!"
"Iya, Ma. Dimas akan selalu ingat," ujar Dimas seketika itu juga. Namun, dengan nada yang lemah, seolah-olah tak yakin dengan perkataannya.
Usai berbicara panjang lebar dan memberikan wejangan, Amel kemudian pamit ke kamar untuk menunaikan ibadah. Amara dan Dimas masih berdiri di tempatnya sembari menatap punggung Amel yang bergerak menjauh. Setelah wanita paruh baya itu menghilang dari pandangan, barulah keduanya menghela napas lega bersamaan.
"Hufft ... untung aja, Mama percaya." Dimas berucap setengah menggumam. Pria itu menghela napas dalam. Wajah bersih yang semula pucat kesi, kini tampak segar kembali. Ia lantas menghadap ke arah Amara dan memandangi istrinya yang masih diam terpaku dengan mata menatap pintu yang tadi dilalui Amel itu dengan seksama. Kemudian, lantaran penasaran Amara hanya bergeming tanpa berkedip, ia mengguncang bahu sang istri seperti tengah menyadarkannya.
"Mar, woy ... sadar dong. Ngomong, ngapa. Atau kedip, kek. Lo nggak lagi kesambet, kan?" tanyanya memastikan.
Gadis itu tak langsung menjawab dengan kata, melainkan lirikannya yang terarah begitu tajam pada Dimas. Sontak saja Dimas terkejut dan nyaris berjingkat karena menyangka Amara benar-benar kerasukan.
__ADS_1
"Gara-gara Mas Dimas aku jadi bohongi orang tua, kan!" tuding Amara dengan ekspresi sedih di wajahnya.
"Hah, kok salah gue?" Dimas membulatkan bola mata seraya menunjuk dirinya sendiri. Namun, karena melihat bagaimana ekspresi sedih istrinya yang terlihat jujur tanpa dibuat-buat, hatinya pun melunak dan berniat meredam kemarahan Amara dengan kekonyolannya.
"Mar, gue nggak pernah minta lo bohongin Mama! Orang gue aja sampai kaget pas denger lo ngomong kayak gitu tadi. Lo nggak lihat, muka gue sampe bengong gitu tadi?"
Dasar Dimas, lihat Amara kesal ia justru berbicara asal. Bukannya malah menenangkan.
"Enggak!" pekik Amara. Gadis itu memberengut, lantas berbalik badan dan berlalu meninggalkan Dimas. Terang saja Dimas langsung bergerak menyusul dan menarik lengan gadis itu untuk menghentikan langkahnya.
"Sorry, Mar. Maafin gue. Gue janji, lain kali nggak bakal lakuin hal kek gini lagi. Gue janji nggak bakal bikin lo bohongin mama lagi."
Amara terdiam. Ucapan Dimas yang begitu tulus, mau tak mau membuat hatinya luluh. Ia menoleh dan menatap Dimas demi melihat air muka pria itu. Rupanya dia juga tengah menatapnya.
Namun, yang membuat hatinya bergetar adalah sorot mata Dimas yang memancar dengan penuh kelembutan. Begitu meneduhkan. Terlebih senyumannya yang begitu memesona.
"Mar, kok lo diem aja? Ngomong dong, biar guenya lega dan entar bisa bobo nyenyak."
"Tapi janji, ya. Jangan diulangi lagi!" tegas Amara memastikan.
"Janji. Gue kalau udah janji nggak akan pernah mengingkari. Sini kelingking lo." Dimas meraih jemari Amara dan menekuk empat jari gadis itu hingga menyisakan kelingkingnya saja yang lurus.
"Buat apa sih, Mas?" tanya Amara yang masih belum mengerti akan maksud Dimas. Namun, meski begitu ia pun pasrah oleh apa pun perlakuan suaminya.
"Biasanya, anak kecil kalau mengikat janji itu pakai simbol, dan simbolnya kayak gini," jawab Dimas setelah menyatukan kelingking mereka.
Sontak saja Amara terbahak. Dimas memang ada-ada saja.
__ADS_1