
Dimas mengempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang. Sial sial sial! batinnya sambil mengacak-acak rambut. Bergolek ke kanan dan ke kiri, lantas terduduk dan meninju kasur tak berdosa itu dengan membabi buta. Ia kemudian bangkit, dan berjalan mondar-mandir dengan wajah gusar.
"Sialan! Pakai salah sasaran, lagi. Malunya nyampe ke tulang, tau nggak! Mana gue tau yang tidur itu Bi Eli!" Dimas diam sejenak, membuang napas kasar, lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. "Untuk aja gue bisa nge-les pura-pura minta kopi dan buru-buru kabur ke sini. Kalau nggak, nggak tau deh itu perawat sialan bakalan mikir gue lelaki apaan!" gerutunya kemudian dengan mimik wajah kesal.
Namun sejurus kemudian, terdengar suara ketukan dari luar pintu kamarnya. Dimas pun segera beranjak untuk membuka, dan mendapati Eli tengah berdiri di depan beserta secangkir kopi di tangannya.
Wanita paruh baya itu langsung terseyum ramah sambil menyodorkan cangkirnya. "Kopinya, Mas," ucapnya.
Dimas buru-buru mengambil alih kopi panas itu dengan wajah riang. "Makasih ya, Bi."
"Ada lagi yang Mas Dimas butuhkan?" tanya Eli menawarkan.
Dimas langsung menggeleng sebagai bentuk penolakan. "Nggak ada, Bi."
"Yakin, Mas? Mumpung Bibi belum tidur, sekalian aja. Daripada nanti Mas Dimas bingung nyariin Bibi."
"Nggak kok, Bi .... Yang ada aku nggak enak sama Bibi, masa tengah malam bangunin cuma buat minta kopi."
Eli sontak terkekeh sambil mengibaskan tangannya. "Mas Dimas, Mas Dimas. Pakai nggak enak segala, itu kan memang sudah tugas Bibi."
Tak tau harus menjawab apa, Dimas hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil meringis. "He-he." Setidaknya ia merasa lega telah berhasil meyakinkan Eli jika ia benar-benar membutuhkan kopi.
Wanita paruh baya itu pun kembali ke kamar Amara usai berpamitan pada Dimas, sementara Dimas sendiri langsung menutup pintu kamarnya sambil menghela napas lega.
Yang jadi pertanyaan sekarang, itu kopi panas mau diapakan? Sedang Dimas sendiri telah susah payah berusaha memejamkan mata untuk tidur tapi tak berhasil. "Masa iya mau ditambah minum kopi lagi? Yang ada gue bakal begadang kalau gue paksain nenggak nih kopi. Masa iya gue mesti ngeronda sampai pagi? Yang bener aja!" geramnya sambil menghentakkan cangkir itu ke atas meja dengan kesal.
***
Pagi harinya, pintu kamar Dimas terdengar diketuk dari luar saat pria itu sudah terjaga. Tak lantas beranjak dan bergegas, Dimas justru tetap bermalas-malasan di atas ranjang, menunggu Amara menyiapkan segala sesuatu untuknya seperti biasanya.
"Masuk! Gue udah bangun!" teriak Dimas dari dalam, karena berpikir yang berdiri di luar itu adalah Amara.
"Selama pagi, Mas Dimas," sapa Eli dengan ramah setelah ia membuka pintu. Iapun tetap melangkah masuk. Mengabaikan Dimas yang langsung melenting bangun di sergap keterkejutan, Eli langsung berdiri di sisi ranjang pria itu persis seperti yang Amara lakukan setiap harinya. "Mas Dimas mau mandi sekarang? Biar Bibi siapkan air hangat dulu, ya," tawarnya kemudian.
"Kok yang datang ke sini malah Bibi? Terus Amara mana?" tanya Dimas dengan wajah penasaran. Pria itu terus mengawasi gerak-gerik Eli--yang sedang merapikan kamarnya--dengan wajah penuh tanya.
"Amara masih lemes, Mas. Jadi untuk hari ini, tugas Amara akan saya ambil alih." Eli menjawab sambil menyusun buku kembali ke rak. Wanita paruh baya itu menggeleng samar mendapati secangkir kopi buatannya semalam masih utuh di atas meja.
"Jadi Amara masih sakit, Bi?" tanya Dimas penuh kesungguhan, dan dibalas anggukan serta senyuman oleh Eli. Dimas tertegun sejenak, lalu menggumam. "Apa gue segitu keterlaluannya ya, sampai bikin orang sakit?"
__ADS_1
Eli terseyum samar mengamati tingkah laku Dimas. Tanpa bicara, ia melangkah menuju kamar mandi guna menyiapkan air hangat untuk Dimas. Namun baru saja ia melewati ambang pintu, buru-buru Dimas memanggilnya.
"Iya, Mas. Ada apa?" tanya Eli sambil berbalik badan, dan menatap Dimas yang sedang turun dari ranjang.
"Saya bisa urus kebutuhan sendiri kok, Bi. Bibi selesaikan pekerjaan Bibi aja," tutur Dimas sambil melangkah menyusul menuju kamar mandi.
"Yang bener, Mas?"
"Iya, Bi," jawab Dimas meyakinkan dan berhenti tepat di depan Eli.
Eli terseyum senang. "Wah Mas Dimas pengertian. Kalau gitu Bibi balik ke dapur, ya. Mau bikinkan bubur buat Amara. Biar Euis yang bersih-bersih kamar Mas Dimas." Eli berucap dengan nada riang. Lalu menepi untuk memberikan jalan pada Dimas sebelum kemudian meninggalkan kamar itu.
***
Dimas sudah berpenampilan rapi saat keluar dari kamar. Dengan mengenakan pakaian serba putih, celana panjang santai berpadu dengan kaus model kerah tinggi.
Ia terdiam sejenak di depan pintu kamarnya dengan pandangan terarah pada pintu kamar Amara yang tertutup rapat.
"Masa iya, Amara masih tidur jam segini? Lagian, cuma di dalam kamar doang ngapain aja. Nggak bosan, apa?" gumamnya dengan nada setengah protes.
Di saat bersamaan, Eli muncul dari arah lain dengan membawa nampan berisi mangkuk berisi bubur.
"Itu buat Amara, Bi?"
"Iya, Mas. Amara lagi nggak enak makan, siapa tau dibikinkan bubur jadi mau makan."
Mata Dimas langsung berbinar senang saat mendapatkan ide dari sana. "Oh, Bi Eli lagi sibuk, ya? Kalau gitu Bibi balik lagi ke dapur aja, biar aku yang bawakan bubur ini buat Amara." Tanpa menunggu jawaban Eli, Dimas bergerak cepat mengambil alih nampan itu dari tangan Eli begitu saja. Meskipun masih bingung, tapi Eli tetap membiarkan nampan itu berpindah ke tangan Dimas, bahkan terseyum melihat niat baik pria itu.
"Mas Dimas merasa bersalah pada Amara, ya?" tanya wanita paruh baya itu kemudian, dan pemuda itu hanya tersenyum kecut sebagai jawaban.
"Aku mau coba minta maaf, Bi. Semalam aku lihat dia masih kesel sama aku."
"Semangat ya, Mas." Eli menepuk pelan bahu Dimas sebagai bentuk dukungan. Sedang Dimas menanggapinya dengan senyuman. "Amara itu gadis yang baik dan pemaaf. Bibi yakin pasti Amara sudah baikan sekarang."
"Ya, udah, aku ke kamar Amara dulu, ya." Dimas pamit, dan dibalas anggukan serta dukungan dari Eli.
Bermaksud menjaga privasi Amara, Dimas terlebih dahulu mengetuk pintu itu, lantas membukanya saat mendengar sahutan dari dalam.
Amara yang saat itu sedang berbaring miring di tempat tidurnya langsung terkejut melihat kedatangan Dimas yang ia pikir adalah Eli. Gadis itu nampak gusar, lantas memaksakan diri untuk duduk, meski kepalanya masih terasa pening. Ia menatap Dimas yang tengah menaruh nampan di atas nakas, kemudian memberanikan diri untuk bertanya. "Mas Dimas ngapain di sini?"
__ADS_1
"Mau nengokin elo," jawab Dimas singkat. Ia kemudian menarik kursi rias kamar itu untuk ia duduki di samping ranjang Amara.
"Saya nggak papa kok. Ngapain mesti ditengokin!" ketus Amara sambil menyusun beberapa bantal untuk ditumpuk, sebelum kemudian ia gunakan untuk bersandar.
Dimas terseyum remeh sambil mengaduk bubur. "Heleh, gue tau lo lagi sakit. Makanya gue datang buat bawain bubur ini. Nih, makan," tegasnya sambil menyodorkan mangkuk.
Amara terdiam dengan kening yang berkerut. Matanya pun menatap wajah Dimas dan mangkuk itu bergantian.
"Ini aman, nggak ada racunnya!" terang Dimas, seolah-olah tahu apa yang sedang Amara pikirkan saat ini. Gadis itu mendengkus. Menatap sebal pada Dimas yang tengah tersenyum senang, lalu terpaksa menggerakkan tangannya yang masih lemas untuk menerima mangkuk bubur itu.
"Nah, gitu dong. Makan yang banyak biar cepet sehat." Dimas memperhatikan Amara yang sudah hendak menyuapkan bubur itu ke mulutnya. "Gue bukan manusia yang tidak tahu balas budi! Yang tutup mata tutup telinga lihat perawatnya sakit kayak gini. Kurang baik apa coba?"
Amara menghentikan tangannya yang sudah hampir memasukkan ujung sendok berisi bubur ke dalam mulut. Ia lantas mengangkat pandangannya, menatap Dimas dengan wajah sebal. Dasar pamrih! umpatnya dalam hati.
Dimas yang bukan tak tahu arti tatapan Amara hanya tersenyum lebar. "Kenapa lihat guenya kayak gitu amat? Lo pasti lagi ngumpat gue kan?"
Tak menjawab dengan kata, Amara malah mengentakkan mangkuknya di atas nakas. Seolah tak memiliki lagi rasa takut, gadis itu memasang wajah garang walau masih pucat, hingga mengundang decak dari Dimas.
"Hey, hey, santai dong ..., gue kan cuma bercanda." Dimas mengambil lagi mangkuk itu, lantas memberikannya kembali pada Amara. "Ambil dong. Lo kan gadis berjilbab yang manis, masa iya nggak menghargai jerih payah gue," bujuknya pada Amara yang masih segan menerima mangkuknya. Tak tanggung-tanggung, ia bahkan memasang wajah melas hanya untuk melancarkan aksinya.
Mendesah pelan, pada akhirnya Amara mau menerima bubur itu lagi, walau dalam hatinya ingin sekali menumpahkan bubur itu ke wajah Dimas.
"Baca doa dulu sebelum makan. Biar makanan yang masuk ke perutmu itu menjadi berkah." Lagi, Dimas membuat Amara harus menahan tangan yang hampir menyuap.
Kesal, gadis itu mengentakkan sendok pada mangkuk hingga menimbulkan suara dentingan yang nyaring, sementara pandangannya menatap Dimas penuh peringatan.
Memegang mangkuk dengan tangan kanannya, tangan kiri Amara menunjuk pintu. "Mas Dimas tau kan, untuk keluar dari sini bisa lewat sana?"
Dimas mengikuti ke mana arah telunjuk Amara, lantas mengembalikan pandangan pada perawatnya itu dengan sorot tidak suka. "Lo ngusir gue? Belagu lo, ya! Mentang-mentang--" Dimas menggantung ucapannya dengan mata mendelik sempurna. "Mar, turunin nggak tangan lo? Lo nggak ada niat buat nimpuk gue pakai bubur sarapan lo, kan?" tanyanya dengan wajah miris.
Tak menjawab dengan kata, Amara hanya semakin meninggikan tangan kanannya, dan itu cukup membuat Dimas ketakutan.
"Iya, iya, gue keluar!" seru Dimas seraya bangkit, lalu perlahan melangkah mundur hingga mencapai pintu. "Dasar galak. Awas kalau sampai sedikit saja lukai gue, lo bakalan berurusan sama nyokap. Lo ingat kan, diamanahi gue sama dia?"
Dimas terseyum kemenangan melihat ekspresi Amara yang nampak melemah. Haha, rasakan. Kalau soal amanah, pasti lo merasa bersalah, kan? Mau sok galak sama gue, ya tetep menang gue, lah!
"Iya, iya gue pergi!" seru Dimas dengan sikap penuh waspada saat Amara kembali mengangkat mangkuknya. Buru-buru ia berlari keluar kamar sambil berseru, "Kabur ...!" Sebelum mangkuk itu melayang.
Tak segera menurunkan tangannya, mata Amara masih saja mengawasi daun pintu yang terbuka. Bisa saja kan, Dimas kembali lagi untuk menggodanya, dan benar saja. Tak lama setelah itu, wajah Dimas kembali menyembul sambil menjulurkan lidah dan menjulingkan mata. Lantas kembali enyah sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Bersambung