Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Ini hanya ujian


__ADS_3

Pagi yang cerah. Matahari baru saja muncul di balik dedaunan pohon yang masih basah oleh embun dan memancarkan cahayanya yang cerah keemasan. Birunya langit tanpa awan yang menggantung, semakin memberikan semangat kepada para makhluk bumi untuk menjalani hari ini.


Dengan celemek menempel di badan, Amara yang sudah rapi dengan pakaian dinasnya memilih menyiram bunga untuk mengisi kekosongan waktu. Sebab tak ada yang bisa dilakukannya sebelum Dimas bangun dan menyita habis seluruh waktunya.


Seiring dengan kesehatan Dimas yang semakin membaik, lelaki berperawakan tegap itu semakin senang saja memberikan pekerjaan aneh dan cenderung tak masuk akal kepada Amara yang notabene-nya adalah seorang perawat.


"Harinya cerah, ya." Suara berat tiba-tiba terdengar memecah keheningan. Amara yang terkejut segera menoleh ke arah sumber suara. Bola matanya melebar dengan alis yang terangkat saat pandangannya menangkap sosok menjulang tengah berdiri tak jauh dari posisinya saat ini.


"Mas Dimas?" panggil Amara setengah tak percaya sembari mengernyit bingung. Bukankah sepuluh menit lalu kulihat dia masih mendengkur di kasur? Batinnya dalam hati. "Mas Dimas sudah bangun?" Tanyanya pelan sambil mematikan kran air.


"Pakai nanya, Lo pikir gue ngigau terus jalan sampai kemari?!" Dimas yang sedang berkacak pinggang menjawab dengan nada kesal. Lalu menatap sinis pada Amara yang tengah berjalan mendekatinya.


"Terus Mas Dimas kesini mau apa? Nyariin saya?" tanya Amara ragu saat ia telah berada dekat dihadapan Dimas.


"Ge-er Lo," Lelaki yang rambutnya sudah tumbuh lebat itu menjawab dengan nada mengejek sembari membuang muka. "Gue lagi jalan-jalan aja, eh taunya Lo ada di sini."


"Saya kan memang tiap pagi nyiram bunga di sini Mas." sahut Amara.


"Siapa?" Tanya Dimas yang langsung melempar pandangan dan menatap Amara.


"Saya." Amara menjawab cepat.


"Yang nanya!" teriak Dimas sambil mendekatkan mulutnya di telinga Amara yang tertutup jilbab. Membuat gadis itu seketika membeliak dan mengusap telinganya yang seketika terasa pengang.


Dimas menarik sudut bibir hingga membentuk sebuah seringai puas saat melihat Amara yang tertunduk gusar.


Seolah begitu menikmati permainan, ia semakin suka melihat Amara dengan berbagai ekspresi wajahnya. Hingga ia selalu berusaha memutar otak mencari cara untuk mengerjai gadis polos di hadapannya itu.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, suasana hening pun membentang. Sebab keduanya sama-sama diam, tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Gue laper nih," celetuk Dimas tiba-tiba, dan memecah keheningan singkat itu. Tanpa menoleh pada yang diajak bicara, ia berucap begitu santai tanpa beban.


"M-mau sarapan apa Mas?" gelagapan, wajah Amara memucat saat menyadari hari berat telah dimulai.


"Rendang."


"Hah?"


Dimas menoleh dan menatap Amara dengan kening yang berkerut. "Kenapa kaget gitu?" tanyanya kemudian dengan tatapan heran, lalu memutar tumit berbalik badan dan meninggalkan Amara yang masih terbengong mengenaskan.


Habislah aku. Kapan aku pernah masak rendang? Bumbunya apa coba? Ya Allah, tolonglah hambamu, batin Amara pilu.


Gadis berjilbab itu lantas berlari kecil menyusul Dimas yang telah melangkah jauh. "Mas Dimas," panggilnya seraya berlari dengan napas terengah. "Setahu saya masak rendang itu lama loh Mas. Kalau Mas Dimas keburu laper tapi belum mateng gimana?" tanyanya sembari berjalan mengikuti Dimas yang hanya berjarak dua langkah saja darinya.


Tersenyum kaku, mau tak mau Amara pun mengaku. "Ha-ha iya." Jawabnya sambil nyengir malu-malu.


"Hilih, gue udah tau! Tipe cewek kaya elo mana pernah pegang spatula!" ledek Dimas dengan seringai meremehkan di bibirnya.


Menatap dengan pandangan tak suka, Amara menunjukkan sikap protesnya. "Siapa bilang nggak pernah? Pernah kok!" ketusnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Ya elah, cuman megang doang. Bayi juga bisa," sahut Dimas enteng lantas berlalu melanjutkan langkahnya.


Segera Amara menyusul. Tak terima dengan ledekan Dimas, Amara menatap punggung lelaki tinggi dihadapannya itu penuh ancaman. "Maaf Mas Dimas, saya memang tidak jago masak sedari dulu. Tapi dari dulu saya sudah jago memegang jarum jahit dan juga benang. Apalagi menjahit mulut orang yang suka meledek saya, kecil itu mah. Hup--" Amara membulatkan matanya lebar-lebar saat Dimas mendadak berbalik badan hingga wajah mereka saling berhadapan sangat dekat. Membuat tubuh Amara seketika terpaku dengan bibir terkatup rapat.


"Kalau lo berani, jahit saja bibir gue ini," bisik Dimas dengan nada menggoda, sedangkan bibirnya menunjukkan seringai yang sulit Amara pahami.

__ADS_1


Tanpa bisa berkata-kata, gadis perawat itu dibuat gagal fokus saat pandangannya tertuju pada bibir kemerahan Dimas yang berjarak begitu dekat dengannya saat ini.


Usai mengamati setiap inci wajah Amara yang berubah pasi, laki-laki yang rambutnya mulai memanjang itu kembali berlalu meninggalkan Amara yang masih tertegun kaku di tempatnya.


Masih berdiri dan meneguk slavinanya berat, Amara lantas menggerakkan tangannya mengusap dada, tempat dimana jantungnya yang tiba-tiba berdegup kencang seolah ingin melompat keluar.


***


Suasana sebuah dapur mewah bernuansa modern dengan memadukan warna dominan putih dan krem, dimana tampak seorang lelaki tengah berkutat dengan spatula dan teflon panas yang berada di atas kompor menyala. Sedang si wanita hanya memperhatikan si lelaki yang tampak lihai menyajikan makanan dan hanya berdiri di sisinya.


Seolah sudah terbiasa, tangan Dimas begitu luwes mengaduk-aduk rendang hingga menyajikannya pada piring yang terletak di meja pantry yang terbuat dari marmer berwarna putih gading itu.


"Tuh kan, gue cepet kalau cuma masak rendang doang," ucap Dimas penuh penekanan sambil melirik Amara dengan sorot tajam. Laki-laki pemilik rahang tegas itu lantas melangkah menuju wastafel dan meletakkan teflon panas itu di sana.


"Jelas aja cepet, kan cuma manasin doang," gumam Amara setengah memprotes. Namun wanita berhijab itu hanya menunduk, sebab tak memiliki keberanian cukup untuk menatap langsung wajah lelaki yang tengah berjalan ke arahnya.


Menempati kursi kosong di pantry, Dimas lantas melirik pada Amara yang berdiri tak jauh darinya. "Nasi dong." Ucapnya dengan nada memerintah.


"Oh iya, bentar." Dengan tergopoh Amara melangkah menuju tempat rice cooker berada, lantas menciduk nasi dari sana dan memindahkannya ke sebuah piring porselen. Merasa sudah cukup, ia pun kembali dan memberikannya kepada Dimas. "Silahkan Mas." ucapnya sopan. Lantas mundur selangkah dan berdiri dengan jemari yang saling bertaut, berjaga jika nanti Dimas membutuhkannya.


Usai menerima piring itu, Dimas lantas menuangkan rendang daging hangat itu di atas nasinya. "Lo sudah makan?" tanyanya kemudian sambil menyuapkan sendok berisi nasi dan rendang ke mulutnya.


Melihat pertanyaan Dimas yang bernada lembut, sontak saja membuat Amara yang tengah menunduk pun seketika mendongak takjub. Dalam hatinya bahkan memuji sikap baik pasiennya itu dan berharap sifat-sifatnya kembali seperti sedia kala. "Sudah kok Mas, terima kasih karena sudah menawari saya." jawabnya sopan dengan bibirnya tersenyum senang.


Ekspresi senang Amara itu rupanya terbaca oleh Dimas, karena lelaki itu langsung menertawakannya. Namun gelak tawa yang lolos dari bibir Dimas itu terdengar aneh dan mengandung sejejak ejekan. "Siapa yang nawarin Lo makan woy! Orang gue cuma nanya! Ge-er banget sih Lo," ucapnya kemudian dengan nada mencemooh.


Amara yang tak bisa berkata-kata hanya bisa diam menahan kekesalan. Tangannya terkepal sementara giginya menggemertak jengkel. Ish dasar nggak beradab. Senang betul bikin orang melambung, habis itu dihempaskan ke bawah seenak jidat. Sabar Amara, sabar. Ini hanya ujian ..., batinnya berusaha menenangkan diri.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2