Pria Pilihan Sang Perawat

Pria Pilihan Sang Perawat
Iblis betina


__ADS_3

Seorang gadis cantik dengan postur tubuh semampai tampak berjalan keluar dari walk in closed dalam kamarnya. Gadis bernama Naura itu menjatuhkan tubuh di atas ranjang setelah mengambil ponselnya dari atas nakas.


Keningnya sontak bertaut mendapati beberapa panggilan terlewat dari seorang teman. Maka, buru-buru ia menekan nomor itu untuk melakukan panggilan balasan.


Tak lama kemudian panggilan tersambung dan terdengar suara wanita menyapanya dari ujung sana.


"Hay, Ra. Lo dari mana aja kok nggak angkat telepon gue?"


"Sorry, Clau, gue baru aja mandi. Jadi nggak dengar kalau handphone gue bunyi. Kenapa sih, kayaknya ngebet banget pengen ngobrol sama gue." Naura bertanya sembari menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Ada nada curiga ketika dirinya melontarkan tanya.


"Nggak ada apa-apa, sih. Gue cuma kangen sama lo doang. Akhir-akhir ini lo susah banget ditemuin. Sekali-kali clubbing lagi yuk."


"Sorry, Clau, gue nggak bisa." Naura membalas cepat tanpa pikir panjang. Terang saja hal itu menuai protes keras dari sahabatnya yang bernama Claudia itu mengingat Naura adalah gadis penyuka dunia malam sejak dirinya menjadi model.


"Loh, kenapa Ra? Lo nggak lagi sakit, kan?" tanya Claudia dengan nada cemas.


"Gue sehat. Gue baik-baik aja, kok."


"Terus?"


Naura mendesah pelan sebab bingung harus beralasan bagaimana. Ia tahu, Claudia itu adalah gadis keras kepala. Ia tak akan berhenti mendesak sebelum mendapatkan jawaban yang meyakinkan.

__ADS_1


"Ra, jangan bilang kalau sekarang lo lagi bunting."


Lagi-lagi Naura hanya bisa menghela napas. Kalimat tebakan bernada curiga Claudia barusan benar-benar tepat sasaran. Apa lagi yang bisa dilakukannya selain mengaku pada sahabatnya. Toh gadis itulah yang paling tahu bagaimana kehidupannya di belakang Dimas.


"Iya, gue hamil."


"Astaga, Naura!" Claudia berseru kaget dari ujung sana. "Kok bisa, sih? Ini karir lo lagi bagus-bagusnya loh. Masa iya lo mau buang kesempatan gitu aja gara-gara mengandung itu bocah. Terus gimana sama si Leo, dia mau tanggung jawab sama perbuatannya nggak?"


"Leo? Gue minta tanggung jawab sama dia? Ish, ya ogah, lah! Kalau bapaknya aja bangs*t begajulan, entar anaknya mau jadi apaan?"


"Lah terus, lo mau minta pertanggungjawaban sama siapa? Secara ... yang sebenarnya berbuat itu adalah Leo."


"Tentu aja si Dimas. Pacar gue yang tajir, baik hati dan rajin nabung. Eh, ditambah blo'on nggak ketulungan yang udah berkali-kali berhasil gue tipu."


"Sialan, lo! Gini-gini juga lo yang ngajarin, kali."


"Gue?" Claudia berseru dengan nada tak terima. "Sorry, ya. Itu keahlian lo sejak dulu! Gue aja diajarin sama, lo."


"Serah lo, deh Clau. Yang jelas sekarang gue lagi pusing mikirin cara gimana bisa tidur sama Dimas. Gue udah berkali-kali usaha tapi gagal terus, Clau. Gue takut kalau ini perut keburu buncit dan gue belum berhasil jebak dia. Lo ada saran, nggak?"


"Nggak ada." Claudia menjawab cepat dengan nada tak suka. "Sorry, ya Ra, untuk masalah ini gue nggak mau ikut-ikutan. Dimas itu orang baik, Ra, masa iya mau lo jebak?"

__ADS_1


"Biarin. Siapa suruh dia cinta mati sama gue."


"Dasar, lo emang iblis betina, Ra. Sejak kapan lo jadi berubah gini? Perasaan lo dulu baik-baik aja."


"Sejak gue kenal, elo!" sahut Naura cepat yang membuat Claudia tak terima. Terang saja gadis merasa kesal dan seketika melayangkan protes keras.


"Heh, itu nggak bener, ya! Gue tuh kalem, tau!"


"Kalem kalau di rumah, tapi kalau di luar, lo udah kaya kadal minta kawin. Blingsatan nggak jelas."


"Sialan, lo Ra!" umpat Claudia, pura-pura kesal terhadap sahabatnya. "Eh, tunggu deh, Ra. Bukannya si Dimas itu udah nikah ya. Makanya lo frustasi sampai mau tidur sama sembarang cowok. Nah, lo yakin mau ngerebut Dimas dari istrinya? Lo yakin? Nggak takut dicap sebagai pelakor, gitu?"


"Heh, yang ada si Amara tuh yang pelakor! Kan dia yang ngerebut Dimas dari gue. Lo tau, Clau ... dia satu-satunya penghalang gue buat dapatin Dimas. Kalau dia masih nekat juga nggak mau mundur, gue nggak akan segan-segan babat habis dia."


"Naura plis, ya. Lo jangan bertindak kejauhan cuma buat nutupin aib lo itu. Gue emang cewek Bangs*t. Tapi gue ngerti norma-norma, Ra. Nggak kayak lo yang rela melakukan segala cara demi kepuasan sendiri."


"Mendingan lo diem deh, Clau. Kalau mau ceramah ke masjid aja sono! Jangan di sini. Gue nggak butuh. Sama-sama pendosa aja pake sok-sok'an nasehati gue, lagi."


"Terserah lo ya, Ra. Gue sebagai teman udah berusaha kasih nasihat buat lo apa yang bener. Kalaupun lo nggak terima, ya udah. Tanggung jawab gue buat ngingetin lo udah lepas."


"Diem, Ra! Kata-kata lo bikin gue emosi jiwa, tau nggak!" Naura memutuskan sambungan sembari menggeram kesal tanpa kalimat perpisahan. Jujur, sebenarnya ia sangat sadar jika yang dilakukannya adalah sesuatu yang tidak benar. Namun, demi kelangsungan hidup janin yang ada di perutnya, ia harus melakukan itu entah apa yang akan menjadi resikonya nanti. Baginya yang terpenting sekarang, adalah mendapatkan ayah bagi si calon bayi.

__ADS_1


Naura yang tengah melamun itu sontak terkejut tatkala mendengar suara pintu kamar terbuka dari luar. Matanya kian membelalak mendapati sosok Dimas lah yang ternyata berdiri di sana. Panik luar biasa, Naura sontak mengubah posisi duduknya sembari menatap Dimas dengan ekspresi gelisah dan seperti tak percaya.


"Sayang, ss–sejak kapan kamu berdiri di situ?" tanyanya dengan suara terbata.


__ADS_2