
Hari menjelang malam, tapi tampaknya kegiatan istri sang tuan muda Sagara masih belum selesai.
Dea berdiri sambil menatap sisi tembok pembatas di mana dia seharian berkebun menanami tanah di sana dengan bibit bunga yang dia dapat melalui pesanan online.
"Huftthhh!!
Pat! Pat! Pat!
Gadis itu menepuk tangannya sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Untuk mengisi waktu kosongnya di mansion itu, Dea menanam bunga dan berharap bunga-bunga itu akan mewarnai hutan belantara yang dipenuhi dengan warna hijau itu.
"Hah... Capek juga!" Gumam gadis.
Dia bukan orang yang bisa berdiam diri di rumah tanpa melakukan apa pun. Melihat halaman belakang yang hanya diisi dengan rumput hijau, gadis itu berinisiatif mengisi sisi tembok dengan bunga bunga yang dia beli.
"Nona, sebenarnya kita tidak boleh melakukan ini," ucap Siska dengan wajah gugup. Pelayan di rumah itu dilarang menyentuh taman rumput milik Sagara, tapi Dea dengan berani mengubah hampir setengah bagian halaman belakang.
Dea membersihkan tangannya dan meletakkan sisa bibit di atas kursi sambil tersenyum menatap Siska.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir Siska, itu malah semakin bagus hihih!!" Ucap Dea.
"Bagus? Nyonya, anda tahu tidak, tuan muda sangat benci kalau tamannya diganggu, saya khawatir nyonya akan dimarahi nanti," ucap Siska cemas.
"Tenang saja, aku akan bertanggungjawab," ucap Dea sambil menepuk bahu pelayan itu.
"Hahahahha... Sepertinya aku tahu cara agar dikeluarkan dari rumah ini, membuat dia kesal dan mengganggu semua yang sudah dia atur di rumah ini," batin Dea sambil tersenyum licik.
Sepertinya gadis itu masih belum menyerah untuk keluar dari kediaman Sagara.
Saat asik menata hasil pekerjaannya di sore hari, tiba-tiba dua orang pelayan datang dan mengambil bibit bunga milik Dea.
"Nyonya apa yang anda lakukan!? Kami semua akan dihukum karena ulah anda, ini jelas di larang!!! Kenapa anda merusak taman tuan muda yang indah ini!?" Tukas pelayan perempuan itu.
Dea berbalik dan menatap gadis yang jelas sekali menunjukkan bahwa dia membenci Dea.
"Tuan sudah mengatakan aku bisa melakukan apa pun di rumah ini, kalau dia mau marah, biar dia marah," ucap Dea.
"Kau!!" Teriak pelayan yang lain.
"Aku akan mengambil ini, dasar pengacau!!'" tukas pelayan itu dengan sangat marah.
Mereka mengambil kantong benih Dea lalu berjalan ke sisi taman yang sudah ditanami dengan bibit bunga dan menginjak-injak semuanya begitu saja.
"Ka.. kalian!! Aku sudah lelah menanam itu, kenapa di injak-injak!!!" Teriak Dea.
__ADS_1
"Ini tidak layak, tuan akan marah, kau membuat kekacauan di mansion ini!!" Balas kedua pelayan itu.
"Bibit ini akan ku bakar!" Ucap pelayan itu setelah menginjak-injak hasil pekerjaan Dea.
"Berikan itu!!!" Teriakan Dea menggelegar ke seluruh penjuru mansion Tulip yang tadinya tenang kini malah dipenuhi dengan keributan.
"Tidak, dasar putri tidak berguna, kau merasa dirimu nyonya di rumah ini ya!?" Teriak pelayan yang membenci kehadiran Dea.
Dia memprovokasi semua pelayan untuk membenci Dea. Tak senang dengan kehadiran gadis baru yang menurutnya akan mengganggu hubungan tuan muda Sagara dengan nona muda yang dia layani.
Di mansion itu, seorang perempuan lain tinggal dan dilayani khusus oleh para pelayan. Gadis cantik dengan karakter lembut, tumbuh dengan baik di lingkungan keluarga yang berada dan dipenuhi dengan kasih sayang.
"Cih... Berikan itu padaku sekarang!!" Teriak Dea dengan wajah kesal sambil berusaha menarik kantong berisi bibit bunga itu dari tangan Pelayan menyebalkan itu.
"Tidak, dasar perempuan tidak tahu diri, kau sadar tidak kalau tuan muda membencimu!!" Teriak pelayan yang lain.
"Aku tahu, aku sangat sadar, sekarang berikan itu!!!' teriak Dea. Dia mencoba menahan amarahnya karena diganggu oleh para pelayan nona muda yang tinggal di mansion itu.
"Kalah kau sadar, seharusnya kau tidak menganggu kediaman nona muda kami, kenapa kau menikah dengan tuan, kau pikir dirimu cocok dengan tuan muda, lihat saja, pengantin mana yang ditinggalkan suaminya saat malam pernikahan, dan lagi kau menikah terpisah dengan tuan muda!!" Tukas yang lain.
"Hei kalian sudah berlebihan, itu urusan tuan muda, jangan mengungkitnya!!" Teriak Siska, pelayan yang ditugaskan melayani di bangsal Dea.
"Jadi kau sudah membela perempuan asing ini!? Lihat saja dia pasti akan segera ditendang keluar!!" Ucap pelayan itu dengan angkuh
"Aku tidak peduli, kembalikan bibit bunga ku!!" Teriak Dea marah.
"Aku akan mengembalikannya selama kau berlutut di depanku!!" Ucap pelayan itu dengan berani.
"Friska apa yang kau katakan, dia nyonya rumah ini, berani sekali kau!!' teriak Siska membela Dea.
"Diamlah, jangan ganggu kami, kau akan lihat kalau dia memang tidak berguna, sangat berbeda dengan nona Lucy!!' ucap Yaya pelayan yang lain dengan tatapan sinis.
"Yaya, Friska apa kalian tidak takut tuan marah!??" Ucap Siska.
"Tidak, sekarang berlututlah dan minta ini padaku!!" Ucap Friska dengan angkuh sambil mengangkat kantong bibir itu.
Friska dan Yaya berpikir kalau Dea adalah pengganggu. Dea dikenal sebagai pembawa sial dan bukan anak yang diakui oleh keluarga bangsawan Eldrich.
Dea benar benar didesak. Dia sangat marah saat ini, direndahkan dan di ejek berkali-kali tak peduli di mana dia berada.
"BERIKAN PADAKU!!" pekik Dea sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Wahh.. dia sudah mulai marah hahaha... Wleekk tidak mau, dasar anak pembawa sial, katanya saat kau lahir ibumu mati, betapa sial nasib ibumu saat melahirkanmu, atau jangan jangan Ibumu tidur dengan laki-laki lain dan akhirnya punya anak...
__ADS_1
Plak!!!
Satu tamparan melayang ke wajah gadis pelayan yang sudah kelewat tidak sopan itu.
"Sialan, beraninya kau berkata hal buruk tentang Ibu ku!!!!' pekik Dita sambil menahan air matanya.
Pelayan itu tersenyum sinis,"KA.. kau... Beraninya kau!!!" Ucap perempuan itu sambil mengangkat tangannya. Namun di saat yang sama dia melihat Sagara datang.
Pelayan itu menjatuhkan dirinya dan memegangi wajahnya sambil menangis.
"Arrkhhh.. ampun nyonya.... Ampuni saya... Ampuni saya nyonya hiks hiks hiks... Tuan muda tidak suka warna cerah. Kalau anda menanam bunga di sini maka akan mengganggu kenyamanan tuan muda, maafkan saya Nyonya huwaa...."
Friska duduk di atas rumput sambil menangis sesenggukan.
" Tu.. tuan muda hiks hiks hiks, nyonya memukul wajah Friska karena kami melarangnya menanam bunga di sini, tuan maafkan kami " ucap Yaya yang ikut dengan akting mumpuni dari Friska.
"Ka.. kalian!! Kenapa kalian memutarbalikkan fakta!?" Ucap Dea tak percaya.
"Dea Eldrich!" Teriak Sagara dengan suara lantang, dia berjalan ke arah mereka sambil mendengus kesal.
Dia menatap tubuh Dea yang sangat kotor. Wajahnya juga dipenuhi bekas tanah dan terlihat berantakan.
"Bukan aku!! Dia yang mulai!!" Teriak Dea sambil menangis.
"Apa yang kau lakukan di sini!? Kenapa menyentuh taman itu tanpa ijin!?' ucap Sagara.
"Tapi kau bilang....
"Saya sudah bilang agar nyonya tidak menyentuh taman itu, tapi anda memukul saya hiks hiks... Maafkan saya tuan, saya tidak becus menjaga rumah!" Ucap Friska sambil menangis sesenggukan.
Sagara hanya terus menatap Dea, menatap gadis itu seolah siap untuk memakannya.
Dea berdecak kesal," Dia yang mulai, aku melakukan apa yang ku inginkan seperti ucapanmu, tapi dia datang dan menghancurkan semuanya!! Kalian mau menyalahkan aku!? Silahkan!!! Aku sudah biasa!!!" Pekik Dea sambil menarik kantong bibitnya lalu pergi dari sana dengan wajah kesal.
"Hehehehe.... Rasakan kau, posisi nona Lucy tak akan pernah digantikan olehmu!!" Batin Friska.
Yaya sendiri tersenyum dengan licik menatap Dea .
"Rencana tuan akan berjalan lancar, gadis itu sudah dipastikan tidak akan membuat kekacauan bagi rencana tuan muda kedua!" Batin Yaya sambil menatap sinis ke arah Dea dan Sagara.
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen 🤗