Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 135


__ADS_3

Dengan semua bukti yang begitu jelas bahkan isi rekaman laboratorium tersembunyi Ivan pun turut dibawa, Sagara dan timnya melakukan rencana besar mereka.


Sagara menatap istrinya dengan wajah khawatir," Apa kau yakin mau melakukan hal ini? Sangat berbahaya Dea," Sekali lagi Sagara menanyakan keputusan Dea untuk menjadikan dirinya umpan demi menangkap Ivan.


Dea memeluk suaminya," Aku yakin, karena ada kau di sisiku," ucap Dea.


Sagara menghela nafas, Ivan memang sangat sulit di lacak keberadaannya. Sedang perempuan yang menyamar sebagai Anna itu harus mereka kelabui seolah semua baik baik saja.


Sagara akan memancing Anna palsu dan membuatnya sibuk seharian. Sedangkan Dea melakukan rencananya bersama Dyroth dan yang lainnya.


Ivan Maxim tampak memasuki sebuah restoran masakan China setelah mendengar laporan dari anak buahnya kalau Dealora, perempuan yang membuat hatinya tertarik bahkan sampai terobsesi tengah berada di sebuah restoran tanpa seorang pengawal pun.


“ Tumben sekali tidak ada pengawal yang ikut bersamanya?” ucap Ivan sambil tersenyum dengan pikiran liarnya.


“ Saya dengar, wanita itu mengusir semua pengawalnya karena bertengkar dengan pria itu tuan,” jelas Kobe asisten pria itu.


“ Bertengkar dengan Adam? Apa mereka sedekat itu sampai mereka bertengkar?” tanya Ivan.


“ Siapa yang tahu hubungan antara pria dan wanita lajang, mungkin saja hubungan mereka renggang tuan, setahu saya , wanita itu tak memiliki pasangan!” ucap Kobe.


Ivan tersenyum dengan wajah menyeringai. Dia tidak tahu kalau Dea adalah istri dari pemilik sah perusahaan itu dan menganggap kalau Dea hanya seorang karyawan biasa yang memiliki hubungan tidak biasa dengan Adam Maureer, pria yang membuat istrinya menjadi gila.


“ Kau siapkan obat itu, aku akan membawanya hari ini, pastikan bajingan itu diawasi dengan ketat!” tukas Ivan.


“ Siap tuan!” balas Kobe.


mereka melangkah dengan cepat memasuki restoran itu. Tanpa tahu kalau sejak mereka tiba di sana, Gernal telah mengirimkan anak buahnya untuk menjaga Dea.


Sementara itu, di dalam restoran itu, Dea tampak duduk lesehan di atas bantal duduk, menatap ke arah sungai kecil di dekat ruangan di mana dia makan.


Dea sengaja memili ruangan khusus yang terpisah dengan sebuah tirai untuk menarik perhatian musuhnya.


Sambil menikmati teh hangat di sore hari, Dea menatap sungai itu dengan senyuman kecil.


“ Kak Albert, aku merindukanmu,” gumamnya pelan sambil menatap bebek liar yang berenang begitu riang di sungai kecil itu.


Sungai kecil itu mengingatkannya akan mendiang kakaknya. Sama seperti di masa lalu, Dea dan Albert bersama Amira sering bermain di sungai kecil di belakang kediaman bangsawan Eldrich. Tempat itu menjadi lokasi favorit mereka bertiga.

__ADS_1


Saat Dea tengah asyik menikmati tehnya sambil menatap pemandangan indah itu, tiba-tiba seorang pria duduk di hadapannya.


“ Apa Anda nona Lora?” ucap orang itu dengan suara berat sambil menatap Dea.


Dea terkejut saat mendengar suara itu, dia langsung menoleh secepat kilat dengan wajah melongo. Di hadapannya kini ada seorang pria dengan topeng menutupi setengah wajahnya. Rambutnya panjang dikuncir setengah, tubuhnya kekar dengan balutan kemeja polos berwarna hitam, duduk sambil menatapnya dengan senyuman di bibirnya.


Tangannya tampak begitu kasar, bahkan terlihat beberapa bekas luka yang biasanya didapat akibat latihan keras.


“ a.. Anda siapa?” tanya Dea dengan wajah tertegun.


Gernal menatap ke kiri dan kanan lalu menatap ponselnya seolah membandingkan wajah di ponsel itu dengan Dea,” ahh maafkan saya nona, saya kira Anda perempuan yang saya cari, saya sepertinya salah ruangan,” ucap Gernal sambil tersenyum.


Dea terdiam, dia terus menatap sosok pria itu. Rasanya sangat familier, tapi tidak mungkin kakaknya hidup kembali setelah kebakaran mengerikan itu. Jelas mereka menemukan potongan tubuh Albert di sana.


“ Gernal di sebelah sini!” panggil seorang gadis cantik yang duduk di seberang mereka. Perempuan cantik berwajah lembut itu melambai sambil tersenyum ramah ke arah Gernal dan Dea.


“ Maafkan dia nona, sepertinya dia sedikit rusak hahaha..” ucap gadis itu sambil tertawa.


“ hahahah... Lora.. kau bisa saja,” ucap Gernal sambil bangkit berdiri.


Entah kenapa, Dea langsung berdiri seolah dia sedang berbicara dengan orang yang sangat dekat dengannya,” Sa... saya Dealora... Dealora Eldrich! Saya Dealora Eldrich!” ucap Dea mempertegas namanya, berharap orang di hadapannya itu adalah kakaknya.


Gernal tersenyum lalu menjabat tangan Dea,” Senang bertemu denganmu,” ucapnya.


“ Saya ke sana dulu, maaf atas gangguan tadi,” ucap Gernal . Pria itu melangkah menuju meja di seberang mereka.


Dea terdiam dengan wajah melongo. Perasaannya campur aduk, dadanya bergemuruh, dia sampai tak tahu haus berbuat apa saat merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat pria itu.


“ Tu.. tuan Gernal!” panggil Dea.


Gernal menoleh sambil tersenyum.


“ a.. apa mungkin kita pernah bertemu?” tanya Dea penuh harap. Berharap kalau Gernal adalah sosok yang dia rindukan.


Gernal terdiam sejenak, dia tak bisa membalas kata-kata wanita itu.


“ Delaora Yale!” suara seseorang membuyarkan percakapan mereka.

__ADS_1


Dea langsung tersadar saat melihat Ivan Maxim telah tiba di hadapannya bersama Kobe asisten pria itu.


“ Anda?” Dea menaikkan sebelah alisnya seolah dia tak ingat dengan Ivan. Ekor mata wanita itu melirik Gernal yang tampaknya melanjutkan percakapannya dengan gadis manis tadi. Dea mengingat tujuannya ke restoran itu, untuk menjebak Ivan!


“ Ahh.. Anda pasti lupa, saya Ivan Maxim, sekitar dua tahun lalu kita pernah bertemu, saya sudah sering memperhatikan Anda nona manis,” ucap Ivan dengan senyuman jahatnya.


Dea memiringkan kepalanya,” saya tidak ingat, mohon maaf, silakan pergi,” ucap Dea dengan nada dingin lalu kembali duduk di atas bantal duduknya .


Ivan tersenyum, Dea berhasil mengelabui pria itu seolah Dea tak mengenal Ivan.


“ Benar-benar menantang!” gumam Ivan sambil menatap Dea dari ujung kepala tak tertinggal satu inci pun.


“Bisakah Anda pergi dari sini?” ketus Dea.


Ivan semakin tertantang, hal ini yang membuat perhatiannya terkecoh, bukannya pergi dia malah duduk di hadapan Dea dan menutup tirai itu agar tak ada yang melihat mereka.


“ Kobe, pesan makanan untukku!” ucap Ivan dengan senyuman serigala jahat di wajahnya.


“ ck.. menyebalkan!” Dea berdecap kesal sedang Ivan tersenyum beringas.


Sementara itu, di meja seberang, tampak Gernal begitu gelisah. Ia terus menatap tajam ke arah Ivan yang berusaha mendekati Dea.


“ Kau baik-baik saja?” Tanya Lora seraya menggenggam tangan Gernal dengan lembut.


Gernal menghela nafas berat,” adikku... dia mencoba menggoda adikku, apa aku bisa baik-baik saja Lora,” ucap Gernal dengan nada ketus.


Lora perempuan cantik berambut panjang itu tersenyum,” Tenanglah, adikmu sudah punya rencana, bukankah kau berjanji akan memperhatikan saja? Tenanglah, dan percaya pada adikmu,” bujuk Lora.


Gernal hanya bisa menghela nafas kasar,” Kakak akan melindungimu!” gumamnya.


.


.


.


Like, vote dan komen

__ADS_1


__ADS_2