
Sementara anak anak berusaha melarikan diri dari gunung cantik berhantu itu setelah bertemu orang-orang misterius, Sagara dan Dea serta orang-orang mereka dalam keadaan panik saat ini.
Seluruh area sekolah telah disusuri untuk mencaritahu keberadaan ketiga bocah nakal itu.
Begitu berita ini dikabarkan, seluruh anggota keluarga menjadi panik dan terkejut. Terutama orangtua mereka.
Dea merasa tubuh seolah runtuh ketika mendengar anak anaknya hilang dari sekolah.
Kamera keamanan telah diperiksa, dan mereka jelas melihat tak ada yang mengajak ketiga bocah itu.
Alur yang diciptakan oleh si kembar benar benar berhasil mengelabui semua orang yang melihat rekaman CCTV keamanan sekolah itu.
" Pak, kok bisa gak lihat!? Mereka masih kecil!? Apa ada orang mencurigakan tadi!?" tanya Dea dengan nada mendesak. Dia sampai menangis saling khawatir nya dengan keadaan anak anaknya juga keponakannya.
""Benar nyonya, saya tidak merasa ada yang mencurigakan, tadi Nona Rere mengatakan pada saya kalau kepala sekolah memanggil saya, saat tiba di ruang kepsek ternyata beliau tidak memanggil saya, di saat itu saya sadar saya sudah dibohongi dan mereka menghilang dari taman," jelas pak penjaga itu dengan tangan gemetaran.
Jika sampai terjadi sesuatu pada ketiga anak itu, maka tamatlah riwayat seisi sekolah itu.
" Astaga, apa yang sebenarnya terjadi!!!" Dea mengeluh kesal.
" Sebenarnya mau apa mereka bertiga keluar dari gerbang!??' ucap Dea tak habis pikir. Dia mencengkram kepalanya sendiri, benar benar pusing karena tingkah anak-anaknya yang nakal.
" ini bukan pertama kalinya, sudah di hukum tapi terus diulang, mau seperti apa aku berbicara pada mereka!!!" Dea mengeluarkan semua kekesalannya.
Selama ini, dia mengurus anak anaknya sendirian, segala tingkah laku mereka yang nakal dan rasa penasaran mereka yang terlalu ekstrim harus dihadapi seorang dir oleh Dea.
Rasanya tentu sangat melelahkan, namun berkali kali dia memberi semangat pada dirinya sendiri agar bisa bersabar mengurus kedua bocah pembuat masalah itu.
Karena dia tahu, dia orangtua mereka yang memilih untuk membawa mereka ke dunia ini, dan harus menanggung segala konsekuensinya ketika dia memilih melahirkan anak anaknya.
Rasanya sangat berat, terutama.ketika pekerjaannya banyak, dia mengurus beberapa nama brand kosmetik dengan hal cipta miliknya, juga mengurus manajemen pemasaran di kantor suaminya.
Pekerjaan yang banyak membuatnya harus pintar membagi waktu untuk merawat anak anaknya.
"Aku juga punya batas, mereka terlalu nakal, aku tidak bisa bernafas kalau begini!!!" ucap Dea yang tiba terduduk sambil memeluk dirinya.
Dia menangis, rasanya sangat sedih, dia tak ingin menyalahkan anak-anaknya tetapi di satu sisi dia juga merasa kesal dengan tindakan sembrono si kembar.
__ADS_1
" hiks hiks hiks... Aku bukan ibu yang baik... Ahhh aku bukan ibu yang baik, ini salahku sampai mereka jadi nakal seperti ini, semuanya salahku huhuhuhu... . Ini salahku, mereka hilang juga salahku!!!! " Dea memukuli kepalanya sendiri.
Dia merasa tak sanggup dan merasa gagal sebagai seorang ibu.
Hati Sagara hancur saat melihat istrinya menangis. Dia bisa melihat perjuangan Dea yang begitu berat selama enam tahun ini.
Dea mengurus mansion, anak anak, juga mengejar cita-cita nya.
Dia dulu adalah perempuan yang bebas, yang penuh dengan keceriaan, yang penuh dengan ide ide cemerlang, tetapi sekarang sosok Dea adalah seseorang yang terlalu lelah.
Dea berjuang sendirian, meski ada pengurus rumah, dia tak bisa membiarkan hal hal yang berkaitan anak anaknya diatur oleh orang lain.
Rasa bersalah membuat Sagara terdiam. Semua pengorbanan istrinya selama ini harus dia bayar dengan tuntas.
"Dia mengorbankan seluruh hidup nya dan memilih melahirkan anak anak kami dengan segala konsekuensi yang harus dia tanggung, dan aku sebagai seorang kepala keluarga belum melakukan apapun sampai detik ini!!" batin Sagara.
Pria itu menunduk, dia menarik lembut tubuh istrinya sampai Dea ikut berdiri.
Dipeluknya wanita itu dengan erat, di belainya pucuk kepala wanita itu tanpa mengatakan apapun.
"Aku akan menyelesaikan semuanya untukmu, aku akan menemukan mereka, serahkan padaku sayang," ucap Sagara.
Dea menangis," maafkan aku... Maafkan aku sayang, aku yang salah," ucap Dea.
Sagara menggelengkan kepalanya," bukan salahmu, bukan salahmu, ku sudah berusaha keras, kau ibu yang baik, kau ibu yang hebat, sekarang giliranku, aku akan menemukan mereka!" ucap Sagara.
" Segera susuri seluruh area di sekolah ini juga area sekitar!" titah Sagara.
" Lin apa peta area ini sudah kau dapatkan!?" tanya Sagara.
" Sudah tuan, area sekolah ini dikelilingi dengan rumah penduduk, di arah Utara ada sungai, dan di Selatan sekolah ada gunung kecil yang tak jauh dari sini, jaraknya sekitar 200 meter!" jelas Lin.
Sagara terdiam sejenak, dia membawa istrinya untuk duduk menenangkan diri," duduklah, tenangkan dirimu, kami akan mencarinya,"ucap Sagara sambil menatap mata istrinya dengan sungguh-sungguh.
" Tapi... Mereka pasti pergi jauh..." ucap Dea.
Sagara mengusap pipi istrinya," percaya padaku, serahkan mereka padaku, kau hanya harus duduk dan tinggal menunggu kabar baik," ucap Sagara.
__ADS_1
Pria itu tampak berbeda. Dia berubah dan tampak sangat tegas dalam setiap tindakannya. Cara dia menenangkan, pikirannya yang rasional dan tenang membuat orang-orang di sekitar nya juga tenang.
Bagi Dea, Sagara tampak bercahaya, Sagara adalah lentera yang menariknya keluar dari dalam dunia kegelapan setelah dia terpuruk dan hancur.
Sagara bersinar, membuat hatinya berseri dan percaya akan kemampuan suaminya.
Pria itu tampak fokus dengan misinya saat ini, misi penting menemukan lokasi anak anaknya. Dia menatap peta area yang dibawa oleh Lin, menyusun rencana untuk mencari ketiga bocah nakal itu.
Sagara mengarahkan anak buahnya, bahkan Dyroth yang biasanya ribut dan menolak dipimpin terdiam seribu bahasa saat melihat sosok kakak iparnya yang sangat hebat.
"Kak Dea, aku tidak tahu kalau kakak ipar adalah sosok yang setenang ini!" bisik Dyroth sambil terus menatap Sagara dengan wajah terpukau.
" Aku saja terkejut, dia telah berubah," ucap Dea dengan ekspresi yang tak bisa dibaca.
"Kenapa wajahmu seperti itu kak? Bukankah bagus kalau dia berubah lebih baik?" bisik Dyroth lagi.
Dea tersenyum getir," memang ada bagusnya, tetapi aku sama sekali tidak tahu apa yang membuatnya berubah menjadi sedingin ini, dia mencari anak anak seolah mereka bukan darah dagingnya, dia terlalu tenang dan ini membuatku tidak nyaman," jelas Dea.
"Kak, jangan terlalu banyak berpikir, bukankah hal itu wajar? lagipula kakak ipar tampak baik," ucap Dyroth.
Dea menatap pria itu, dia menepuk kepala Dyroth, masih saja Dea memperlakukan Dyroth bak anak kecil.
"Kau perlu banyak belajar," ucap Dea.
Dyroth hanya bisa menyerah, dia tak tahu apa yang membuat Dea mengatakan hal itu.
" Dia berubah, jelas dia menjadi pria yang dingin, dia mencari anak anak, seolah mereka bukan anaknya, tak ada rasa takut ataupun panik, ahhh... Apa yang kupikirkan!?" batin Dea.
Pikirannya kacau, dia terus mengkhawatirkan sesuatu yang tak seharusnya dia pikirkan.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1