
Karina berbaring dengan wajah polos sambil menatap ke arah dokter Barak yang tengah memeriksa kondisinya.
Mata gadis itu terus memerangkap wajah Barak seperti anak kecil polos dan lugu yang sedang diperiksa.
Dia mengulum bibirnya, menyapa Barak berkali-kali sampai membuat pria itu jadi salah tingkah.
" Ekhmm.."
" Jangan menatapku seperti itu, nanti kau jatuh cinta!" celetuk Barak tepat setelah menyelesaikan pekerjaannya.
Tapi Karina masih terus menatapnya, lebih tepatnya sedang menatap penutup kepala yang menempel di kepala Barak. Dia baru keluar dari ruang operasi dan lupa melepas penutup kepalanya.
"Nona?" panggil Barak seraya menyerngitkan keningnya.
" Dokter, sepertinya dia menatap sesuatu di kepala anda," bisik Perawat yang mendampingi Barak.
Barak terheran heran, " Kak Adam, kau apakan gadis ini? Kenapa otaknya sampai bermasalah!?" Barak melemparkan pandangannya pada Adam yang sedang sangat serius mengurusi manajemen perusahaan nya.
" Mana ku tahu, kau tanyakan sendiri!!" jawab Adam dengan ketus.
Barak memutar malas kedua bola matanya. Pria workaholic itu memang sangat ketus ketika sedang bekerja.
Barak kembali menatap Karina.
" Lihat apa?" tanya Pria itu pelan, tidak seperti Adam yang berbicara kasar pada Karina.
Tangan gadis itu terangkat, dia menunjuk penutup kepala Dokter Barak," Kenapa Dokter pakai topi anak bayi!?" celetuk Karina dengan polosnya.
" pffthh!!"
Barak dan Perawat itu tertawa saat mendengar ucapan Karina.Betapa polosnya gadis desa itu sampai tidak mengetahui penutup kepala yang dipakai Barak.
" Dasar kampungan!" Adam berbicara.
" Itu penutup kepala untuk operasi, itu saja kau tidak tahu!" ejek Adam dengan nada kasar seperti biasa.
Entah kenapa dia tidak bisa mengontrol bibirnya untuk tidak berkata kasar pada Karina. Apalagi ketika dia mengingat kejadian semalam, dia masih ingin mengomeli gadis bodoh itu.
" Ohhh...." Bibir Karina mengerucut, dia mengangguk paham.
" Karina baru pertama kali lihat!" ucapnya dengan jujur.
" Nona, sebenarnya kau mahluk dari mana!? Apa tidak ada televisi dikampungmu? Apa kau tidak punya ponsel? Kenapa hal hal seperti ini saja kau tidak tahu!" Barak sungguh heran.
Dia tidak pernah menemukan perempuan sepolos dan selugu Karina. Bahkan orang yang tinggal di desa pun saat ini sudah melek teknologi dan tahu banyak informasi.
Karina terdiam dengan wajah murung. Memang benar dia tidak tahu apa-apa.
" Maafkan Karina karena tidak tahu apa-apa," ucapnya pelan.
__ADS_1
Adam melirik gadis lugu itu sambil memijit pelipisnya," Kampungan, bodoh, kalau tidak tahu ya belajar!" ketus Adam sambil menutup laptopnya dan bangkit berdiri dengan wajah kusut.
Dia lelah tapi pekerjaannya harus segera diselesaikan.
"Barak, kakak minta tolong berikan dia sebuah ponsel, nona udik ini perlu belajar cara hidup di kota! " ucap Adam.
" Jangan sampai dia dibodohi seperti semalam!" tambah pria itu dengan nada kesal.
"Kau mau ke mana kak? Bukankah Om dan Tante memintamu menjaganya?" tanya Barak.
Adam melemparkan pandangannya ke arah Karina yang menatapnya dengan tatapan lugu itu," Pekerjaanku banyak, tubuhku lelah,aku harus beristirahat sebentar,kau bantu aku menjaganya!" ucap Adam.
" Ahh jangan beritahu adik ipar dan suaminya kalau aku bekerja di ruangan ini, " ucap Adam.
Barak mengangguk paham.
Adam keluar dari ruangan itu dengan langkah lebar, tapi belum sempat dia keluar suara gadis Desa itu mengehentikan langkah nya.
"Tuan mau kemana?" tanya Karina dengan suara menciut.
Adam berbalik sambil menatap gadis itu dengan tatapan kesal," Bukan urusanmu!"
"Tidur saja! Dasar bodoh!" ketus pria itu.
Karina langsung menutup mulutnya begitu saja. Wajahnya pias, menyesal dia bertanya pada pria itu Padahal niatnya ingin berterimakasih karena sudah menyelamatkan dirinya tadi malam.
Dia menatap Adam sampai pria itu menghilang di balik pintu.
Karina telah menemui bermacam-macam manusia di muka bumi ini.Dan Adam salah satu di antara yang paling kejam dan cerewet menurutnya.
Jelas belum kenal satu sama lain, tapi bisa-bisanya Adam memarahi Karina padahal gadis itu masih terluka.
"Apa kau mengenal Kak Adam?" Tanya Barak penasaran.
Karina menatap Barak dengan wajah polos," tidak pak dokter," jawabnya.
Barak terhenyak, ekspresi dan nada bicara Karina benar-benar seperti anak kecil.
"Ba-baiklah, kalau begitu istirahatlah, nanti ponselmu akan diantar ke sini, kau bisa cari tahu nama semua benda di ruangan ini!" ucap Barak.
" Saya tahu Pak Dokter, saya tidak bodoh!"
" Hanya tidak terbiasa dengan kota besar!" jawab Karina dengan jujur nan sarkas.
Kata-kata Barak tersendat di bibirnya. Dia tak bisa membalas mulut pedas gadis itu.
Dia hanya mengangguk lalu melenggang pergi dari ruangan itu karena merasa atmosfer nya kurang baik.
" Shhh... Kenapa aku merasa tertekan saat berbicara dengan dia, " batin Barak seraya mengusap lehernya.
__ADS_1
Sementara itu, Adam kembali ke apartemen nya. Tubuhnya terasa lelah, keringatnya sudah sangat mengganggu. Dengan cepat dia melepas pakaiannya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Membasuh sekujur tubuhnya dan menenangkan pikirannya. Lagi-lagi yang ada di otak cerdasnya itu hanya masalah pekerjaan.
Proyek di sana sini yang harus segera dia tangani sebagai seorang Presdir.
Orang-orang di perusahaan nya takut betul pada dirinya. Bahkan asisten maupun sekretaris nya saja berpikir seribu kali jika ingin mengganggu pria itu.
Adam adalah pria yang kejam, kata-katanya tajam dan menusuk, bahkan terkesan tak berperasaan sama sekali.
Apalagi dunia kerja, dia harus bersikap tegas agar bisa mempertahankan posisinya sebagai seorang pimpinan.
Saat Adam sedang mandi, tiba-tiba wajah lugu dan polos gadis desa itu terbayang di kepalanya.
Karina yang sedang mendekati alat penjernih udara dengan wajah polos itu seolah melayang-layang di kepala Adam.
" Kenapa aku memikirkan gadis bodoh dan kampungan itu!?" Adam menggelengkan kepalanya tak percaya kalau dirinya malah teringat dengan gadis aneh itu.
Baru kali ini dia melihat seorang perempuan sepolos itu, mulai dari pakaian sampai semua gerak-geriknya seperti anak kecil yang tak pernah melihat dunia luar.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Adam berbaring di atas kasur untuk beristirahat sejenak.
Lelah dan mengantuk menjadi satu.
Belum sempat kedua matanya tertutup, ponselnya berdering begitu keras.
" Ada apa Mika?" Sekretaris Adam menghubunginya.
"Tuan, nona Prita datang ke kantor, dia memaksa masuk ke dalam ruangan anda," ucap Mika dari seberang sana.
Adam menghela nafas kasar. Dia memijit pelipisnya," kenapa wanita ini selalu menggangguku!?" kesal Adam.
"Sudahlah, biar aku yang tangani!" ucap Adam dengan nada dingin.
Dia memutus panggilan teleponnya. Lalu menghubungi pihak kepolisian setempat untuk mengurus pembuat masalah itu.
Setelah menghubungi pihak kepolisian dia berbaring dan terlelap begitu saja karena tubuhnya sudah terlalu lelah.
"Sial!! " Adam tiba-tiba tak bisa tidur.
Dia duduk menatap ruangannya yang gelap sambil mencengkram kepalanya sendiri," Kenapa wajah si gadis Desa itu masih muncul!? Arkhhh... Aku mau tidur!!! Berhenti menggangguku dasar kampungan!!!" Adam berteriak kesal sambil menepuk kepalanya yang sudah rusak karena membayangkan Karina terus menerus.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1