
Sagara memasuki ruangannya dengan tergesa-gesa, berusaha agar tak seorang pun melihat kelemahannya.
Bruk!!
Pria itu ambruk, dadanya terasa sangat sakit. Jantungnya berdebar tidak normal, sepertinya saat Dea terjatuh tadi, tak sengaja membentur Dadanya.
"Akhrr... Sialan!!" umpat pria itu. Dia berjalan merangkak menuju mejanya, di mana obatnya sudah disediakan di sana.
Sagara mencengkram dadanya, rasanya sangat sakit dan menyiksa. Beberapa hari belakangan dia memang kelelahan, itu sebabnya dia tak pergi ke perusahaan. Dia berdiam di rumah untuk menenangkan dirinya, tak tahunya kondisinya semakin parah dan kini berada pada puncaknya.
Sagara mengambil obat itu dan segera menelannya. Dia duduk bersandar di atas lantai, sambil menatap langit-langit dengan nafas yang sesak.
Menenangkan dirinya sendiri di dalam ruangannya .
Rasa nyeri di dadanya perlahan membaik, dia menepuk dadanya dengan pelan, keringatnya bercucuran, dia berjuang sendirian memerangi penyakitnya yang tak kunjung sembuh.
"Lin, buat janji temu dengan dokter Arthur!!" ucap Sagara melalui sambungan teleponnya.
Dia bersandar menatap ke arah langit-langit, dia mengambil ponselnya dan menyalakan benda pipih itu.
Dibukanya galeri fotonya, tampak wajah Dea memenuhi galeri foto pria itu.
Dia membukanya, dan menatapnya untuk menenangkan dirinya. Sosok yang benar benar bisa menenangkan hati Sagara, sosok perempuan yang menjadi obat bagi pria itu.
Jika sebelumnya Sagara hanya bisa menatap foto masa kecil Dea dan menggambar bentuk wajah mengejek yang diajarkan Dea, maka saat ini dia sudah bisa melihat wajah Dea saat dewasa.
Rasanya tenang, sama seperti momen saat Dea kecil menyelamatkan dirinya. Memeluk dan mendukungnya berkali-kali sampai hidupnya berubah menjadi lebih baik dari tahun ke tahun.
"Hah... benar benar efektif, aku benar benar jatuh cinta padamu Dea, sejak awal kita bertemu sampai sekarang, masih sama..." ucapnya sambil bernafas lega.
Sagara mengusap dadanya,"aku harus memperbaiki ini, benar benar masalah bagiku!" gumam Sagara.
Jantungnya tidak bekerja dengan baik, dia sudah disarankan untuk menjalani operasi untuk memperbaiki kerusakan pada jantungnya.
Selain karena obesitas waktu itu, penyakit Jantung Sagara juga dipicu oleh banyaknya asap tebal dari kebakaran yang dia hirup waktu itu.
Jantung dan paru parunya hampir rusak belasan tahun lalu. Dia hanya beruntung mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi dan bertemu dengan Dea.
Sagara segera mengganti pakaiannya, keadaannya sudah lebih stabil. Di saat yang sama Lin dan Dokter Barak mengunjungi bangsal pria itu.
" Tuan muda, saya dan Dokter Barak tiba!" ucap Lin sambil mengetuk pintu dari luar.
"masuklah!" balas Sagara dengan tegas.
Sagara duduk dengan tegap di sofa besar dalam ruangannya, dia memakai salah satu dari jubah panjang kebesarannya. Jubah hitam dengan motif bunga emas, salah satu pakaian yang sangat dia sukai.
"Bagaimana keadaanmu!?" tanya Barak yang langsung menghampiri pria itu dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kau periksa!" ucap Sagara dengan nada datarnya.
Tempramen pria itu memang sama sekali tidak bisa ditebak. Sebentar dia akan berbicara dengan lembut dan sebentar lagi dia akan marah dan mengamuk.
Barak memeriksa kondisi pria itu, detak jantung Sagara sudah kembali normal dan pernafasannya juga baik.
"Tak ada masalah, hanya saja segera temui dokter Arthur, aku sudah mengatur jadwal, tiga hari lagi kau berangkat ke tempat dokter Arthur!" jelas Barak.
Sagara paham, dia bangkit berdiri " Lin apa mobil sudah siap? saatnya peninjauan lapangan!" ucap pria itu.
" Sudah saya siapkan di halaman depan tuan, silahkan!" ucap Lin memberi jalan pada Sagara.
Pria itu melangkah dengan gagah, jubahnya berayun, kharismanya sangat memukau.
Para pelayan menunduk hormat pada pemilik kediaman itu. Sangat gagah dan perkasa, siapa pun pasti akan dibuat takluk dengan pria itu.
Sagara berjalan dengan langkah besar. Di saat yang sama dari seberang bangsalnya, turunlah seorang malaikat cantik dengan gaun hitam berlurik emas, senada dengan jubah Sagara.
Dea turun sambil merapikan rambutnya yang dia kuncir setengah dengan sebuah pita keemasan yang ditempel di bagian belakang.
Sangat cantik dan elegan, rambutnya yang ikal dengan poni tipis, bedak tipis dengan pemerah bibir yang manis, membuatnya sangat cantik dan menawan.
Sagara tak bisa melepaskan pandangannya dari Dea, gadis itu terlalu memikat untuk dilewatkan begitu saja.
"Apa kita akan segera berangkat?" tanya Dea sambil menghampiri pria itu dengan tangannya yang asik memperbaiki jepitan rambutnya.
"Kita berangkat sekarang, apa kau sudah selesai?" tanya Sagara sambil merapikan rambut Dea.
" Sudah selesai," balas Dea sambil tersenyum.
Sagara menatapnya sejenak, jantungnya berdebar tak karuan, beruntung bukan penyakitnya yang kambuh. Dia hanya merasa sangat nyaman saat menatap wajah istrinya yang lembut dan manis.
"Kita berangkat!" ucap Sagara.
Akhirnya mereka berangkat menuju perusahaan Sagara untuk melakukan peninjauan langsung.
Sagara akan meninjau proses pembuatan jam tangan ekslusif untuk pasangan serta pengembangan aplikasi untuk digabungkan dengan teknologi jam tangan pengontrol kesehatan yang dia dan timnya rencanakan akan dirilis dalam waktu dekat.
Dia memutuskan membawa Dea, karena mulai saat ini segala hal yang berhubungan dengan Sagara juga akan menjadi urusan Dea.
"Tuan muda, apa anda memutuskan melibatkan nyonya muda?" tanya Lin sebelum Sagara masuk ke dalam mobil.
"Tentu saja, mulai saat ini dia akan terlibat," ucap Sagara.
"Dia akan jadi pemiliknya jika aku mati nanti!" ucap Sagara lagi.
Tetapi kata-katanya kali ini sukses membuat Sekretaris Lin tercengang. Dia menatap tuannya yang sudah masuk ke dalam mobil, sungguh sakit hatinya saat Sagara mengatakan hal itu di depannya.
__ADS_1
"Tuan, anda tidak boleh mati. Anda harus selamat!" batin Lin sambil menutup pintu dengan pelan.
Mereka akhirnya berangkat menuju perusahaan Sagara.
Di dalam mobil, Dea tampak antusias," Ke mana kita akan pergi?" tanya gadis itu dengan senyum penuh semangat.
"Ke perusahaan, peninjauan langsung pembuatan produk yang akan datang," ucap Sagara.
Dea mengangguk paham," baiklah," ucap gadis itu.
Sagara menatap Dea, dia mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru," Ini sudah tak berguna, daripada menganggur di laci kamarku, kau pakai saja, nomorku sudah ada di sana!" ucap Sagara memberikan ponsel yang jelas jelas masih sangat baru itu.
"Kau memberikannya padaku!? apa tidak salah? tidak takut aku menghilangkannya atau bahkan membuangnya!?" tanya Dea Heran.
"Kalau hilang atau kau buang, tinggal diganti saja," ucap Sagara dengan gamblang.
" Ka.. kau!! dasar pendendam!!" ketus Dea.
Sagara tertawa," Sudahlah, jangan cerewet, pakai saja, jika tidak kau pakai aku akan menciummu!" ancam Sagara.
Dea menutup mulutnya, dan menggelengkan kepalanya," Akan ku pakai sebaik-baiknya!!" ucap Dea dengan serius.
" Segitu takutnya, dasar kaki pendek," ucap Sagara.
Pria itu memasukkan sebuah black card ke dalam tas kecil Dea, dan beberapa kartu lain yang bisa dipakai Dea untuk mengakses apa pun yang dia mau.
" Kau pakai semua yang ada di tasmu, jangan menolak atau kau ku...
" iya!! iya di pakai! akan ku pakai semua!!" balas Dea sambil menjauh dari Sagara yang berada tepat di depannya.
Sagara tersenyum tipis," Gadis baik!" ucapnya sambil menepuk pucuk kepala gadis itu.
Dea tertegun, semua yang dia alami membawanya kembali mengingat momen bersama Gara, si Teddy bear yang dia rindukan.
"Kak... Ga.. Ra!" ucap Dea pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Kak Gara.. apa itu kau?" tanya Dea sambil menatap Sagara.
Pria itu menatap Dea, dia tertegun sejenak melihat ekspresi penuh kerinduan dari Dea.
"Kau... apa kau..."
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1