
Renata Xu Maureer dan Garren Xu Maureer, dua bocah Maureer yang menggemaskan, anak kembar yang dilahirkan oleh Dea lima tahun yang lalu.
Kini keduanya tumbuh begitu cepat. Gege dan Rere memiliki wajah yang sama persis, perpaduan antara wajah ayah dan ibu mereka yang menawan.
Tuk tak tuk tak.
Suara sepatu kayu mereka terdengar di sepanjang lorong menuju bangsal ruangan baca di mana mereka seharusnya belajar. Di sisi mereka ada Robert David Maureer putra pertama Amira Eldrich dan Yonathan Maureer yang lebih memilih tinggal di mansion Tulip daripada harus tidur seranjang dengan ayahnya yang tukang ngorok.
Menurutnya suara Yonatan saat tidur seperti suara kodok yang sedang menangis, dia membenci itu.
Ketiga anak ini berjalan menuju bangsal ruang baca dengan alat tulis dan perlengkapan mereka yang lain.
Tak!!
penggaris kayu menghantam pintar besi bangsal ruang baca. Seorang wanita super berdiri dengan badan tegap dan tatapan tegas ke arah ketiga bocah nakal yang disuruh belajar malah merayap melarikan diri ke paviliun untuk bermain kuda-kudaan.
" Ide siapa!?" tanya Dea dengan nada tegas.
"katakan ide siapa menyelinap keluar dari ruang baca,.lalu bermain kuda kudaan di paviliun!?" Dea menghardik ketiga bocah yang selalu melanggar peraturan itu.
Rere dan Robert saling melirik, keduanya mengulum bibir mereka," i... ide Gege Mom, " ucap Rere dengan suara pelan sambil menunjuk Gege.
" Be.. benar aunty, itu semua ide Gege," ucap Robert.
Gege menatap mereka berdua dengan wajah masam," dasar kalian berdua tidak setia kawan!!!" bisik Gege sambil menatap tajam keduanya.
Robert mendekatkan bibirnya ke telinga Gege," bukannya tidak setia kawan, tapi kali ini kita sudah tertangkap basah Ge," bisik anak itu.
"benar kak Ge, kali ini biarlah kakak jadi kambing hitamnya,' " imbuh Rere.
"Bisik-bisik apa kalian !?' ketus Dea sambil menatap kesal ke arah mereka bertiga.
"Heheh.. ma... Mama, begini Gege... Gege, Robert dan Rere tadi sedikit bosan, jadi kita mau main sebentar," ucap anak itu sambil tersenyum kikuk.
" Be.. benar Ma, la.. lagipula kami tidak punya teman bermain lagi, kami seharusnya ditemani oleh Papa...tapi..." Rere menunduk dengan wajah sendu.
"Re... "Gege dan Robert merangkul gadis kecil itu.
Mendengar kata kata Rere, Dea tak bisa mengomel lagi. Dia terdiam dengan wajah sendu membuat Gege dan Robert menatap Rere dengan wajah masam.
" Sudahlah, ini salah Mama, kalian masuklah ke dalam, Belajar yang benar, Mama tidak akan menghukum kalian, lain kali jangan lakukan lagi," ucap Dea dengan suara sendu.
Ketiga bocah itu masuk ke dalam ruangan baca. Gege dan Robert langsung menatap Rere dengan tatapan tajam.
__ADS_1
" Re... kenapa bicara seperti tadi!? kamu lihat Mama jadi sedih!!" ucap Gege tak habis pikir dengan sifat adiknya.
" Ishh itu juga ku lakukan supaya Mama tidak jadi menghukum kita, itu satu satunya cara!" bisik Rere dengan wajah bersalah. Sejujurnya dia pun tak bisa melihat ibunya bersedih, tapi di malah keceplosan.
"Re.. lain kali kalau mau bicara, kamu pikir dengan matang, Aunty jadi sedih yu," tukas Robert.
Rere mengerucutkan bibirnya, dia duduk di meja belajarnya sambil memutar mutar pensilnya.
" Tapi kan kita memang tidak ditemani Papa untuk bermain, seandainya Papa ada...." Rere terdiam sambil menatap kesebuah figura foto yang terletak di meja belajarnya.
Foto ayahnya yang tersenyum lebar.
"Rere kangen Papa...." ucap gadis kecil itu sambil menangis.
Robert dan Gege jadi panik, mereka dengan cepat menghampiri Rere dan menenangkan gadis kecil.
" Aduh jangan menangis Re, udah udah, ini salah Gege nih!!" celetuk Robert seraya memeluk Rere sambil mengusap air matanya.
" Lah kok jadi salah Gege, salah Robert kali!!" balas Gege tak terima.
" Ge... yang lebih tua harus mengalah, ini perempuan loh, kalau salah ya kamu yang harus disalahkan!!" celetuk Robert dengan senyuman jahilnya.
" Apa apaan sih!? gak jelas kamu Robert, ngelantur aja!!" celetuk Gege dengan wajah masamnya.
Gege menatap mereka berdua dengan mata membulat sempurna," Yang benar saja!? malah aku yang disalahin!? dasar kalian kutu busuk!!!" teriak Gege.
"pfthh bahahah.... dia marah, tandanya itu benar!!" seru Robert sambil tertawa cekikikan mengejek Gege.
"Hup!! aku tidak mau bicara dengan bocah bocah menyebalkan seperti kalian!!" celetuk Gege dengan wajah kesal.
"Ada yang marah nieee.... hahahaha...." Rere dan Robert tertawa cekikikan mengejek Gege yang tengah marah.
Gege menatap ke sembarang arah, dia menyembunyikan wajahnya dari Robert dan Rere.
" Hihi untunglah Rere tersenyum lagi," batin anak itu dengan senyuman lembut di wajahnya. Dia senang saat melihat adiknya tertawa, namun akan sangat menderita jika melihat Rere menangis.
Sementara itu, di depan bangsal nyonya rumah, Dea tengah duduk di ayunan yang tergantung di pohon besar di tengah taman itu menatap kosong ke arah bangsal suaminya yang sudah enam tahun tak ditinggali oleh pria itu.
" Kapan kau kembali Sagara.... aku merindukanmu.... " gumam Dea sambil menatap kosong ke arah bangsal suaminya.
Enam tahun telah berlalu sejak kabar kematian Sagara Maureer. Sejak saat itu tak ada lagi sosok Sagara yang berdiri di sisi Dea. Seja saat itu, Dea berjalan sendiri menghadapi dunianya.
Suami yang dia cintai tak kunjung kembali. Hatinya sedih dan pilu, dia menderita karena merindukan Sagara.
__ADS_1
" Lin, apa ada kabar dari London!?" bisik Bima yang berdiri di bangsal di sisi Utara mansion itu, menatap Dea yang duduk dengan wajah sendu di tengah tengah taman.
"Kau mengharapkan kabar apa, melacak mereka saja kau kesulitan, kita bertiga bahkan dipulangkan dengan tujuan agar tak mengetahui lokasi mereka!" ketus Lin.
"Ahh kau benar, tapi ini sudah bertahun-tahun, nyonya Muda tidak boleh terus seperti ini," ucap Bima.
"Mau bagaimana lagi, bukan kita yang mengatur takdir!" ucap Sekretaris Lin dengan wajah sendu.
Mereka berdiri di sana sambil terus menatap area mansion itu.
Sama halnya dengan Dea, wanita itu duduk melamun sampai dia mengantuk dan malah ketiduran di ayunan besar itu.
Dea terlelap, kepalanya hampir terjatuh.
"Dasar nona rubah ini, masih saja sama," seseorang datang dan duduk di samping Dea.
Wanita itu tak kunjung bangun, merasa ada sesuatu yang hangat di sisinya, Dea menarik tangan pria itu lalu memeluknya dengan erat," Kau pulang... hmmm.... aromamu benar benar masih ku ingat," gumam Dea seraya menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
Tampan, berkharisma dan sangat bugar pria itu menatap Dea sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Disingkirkannya anak rambut yang mengganggu tidur wanita itu, di belainya dengan lembut Surai hitam ibu dua anak itu sambil menitikkan air mata kerinduan.
Tiba-tiba saja..
" Paman kacamata bulat, kau siapa!? kenapa duduk bersama Mama!?" suara gadis kecil terdengar di telinga pria itu, membuatnya menoleh dan mendapati Rere dan Gege berdiri di hadapannya dengan wajah penasaran.
"Apa dia ibu kalian?" tanyanya.
Kedua bocah itu mengangguk sambil menatap penasaran ke arah orang itu.
" Kau siapa!?" celetuk Gege dengan wajah dinginnya yang menohok.
" Gege, Rere, kenapa kalian meninggalkan tugas kalian di ruang baca!!" suara Robert membuat kedua bocah itu menoleh.
" Kak Robert, ada paman aneh!!' celetuk Gege sambil menunjuk pria itu.
Robert menghampiri mereka, begitu menatap pria itu dia terdiam seribu bahasa," Bodoh kalian, paman aneh apanya, itu Papa kalian!!!" celetuk Robert sambil mengarahkan kepala kedua bocah itu untuk menatap Sagara yang telah kembali dari kematian!!
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1