Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 137


__ADS_3

Dea kembali ke mansion tulip. Tampak kediaman itu sangat sepi. Seluruh penghuninya diungsikan ke kediaman Maureer, kediaman keluarga mertua Dea.


Yang ada di sana hanya kepala pelayan Kevin, Luhan dan siska yang menunggu kedatangan Dea dan tuan mereka.


Si kembar, Robert dan seisi mansion telah diungsikan ke kediaman keluarga Maurer dengan penjagaan ketat dari pasukan sempurna milik Sagara, Dea dan Dyroth. Untuk menghindari korban tak bersalah, Dea dan Sagara memilih mengungsikan orang orang penting mereka ke kediaman Maureer.


Dea memasuki area mansion, hanya disambut beberapa penjaga saja.


Sambil memijit kepalanya, Dea turun dari mobilnya dan berjalan dengan langkah cepat disambut oleh Kevin, Luhan dan siska.


“ apa suamiku sudah pulang?” tanya Dea.


“ belum tiba nyonya, sepertinya sebentar lagi,” ucap kevin.


Dea mengangguk paham, Rasanya sangat lelah, hari juga sudah mulai gelap. Dea melangkah menuju bangsal yang dia dan suaminya tempati bersama.


Berjalan menyeret kakinya dengan berat, rasanya kepalanya mau pecah, hari ini dia memiliki banyak hal yang harus dia pikirkan, belum lagi pertemuan perdana dengan Gernal tadi membuat Dea terus memikirkan kakaknya yang telah meninggal.


“ huffhhhtt...” Dea menghela nafas berat. Dengan langkah yang berat dia berjalan menuju kamar mandi, menyalakan air untuk memenuhi bath tube, melepaskan pakaiannya lalu masuk ke dalam genangan air dingin di bath tube itu.


Kepala Dea panas, perasaannya berkecamuk, rasanya campur aduk.


“ Hah... rencana pertamaku gagal..” gumamnya sambil masuk ke dalam bak mandi itu.


Dea menenggelamkan tubuhnya di dalam genangan air dingin itu.


Dia menatap ke langit langit sambil melamun. Bayangan wajah Albert tergambar di atas langit langit, seolah kakaknya ada di sana,” kak Albert, kenapa aku merasa familier dengan pria bernama Gernal tadi?” ucap Dea.


Berkali kali dia menghela nafasnya. Rasanya begitu sesak, setiap mengingat mendiang kakaknya, Dea tak bisa melupakan kejadian menyedihkan saat melihat Albert mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Dea dan timnya dari kobaran api dan serangan mayat hidup itu.


“ Kak Albert.... kakak.... “ Dea terus bergumam sampai dia terlelap dalam bak mandi berisi air dingin itu.


Cuaca malam yang begitu buruk. Suhu yang teramat dingin memenuhi ruangan kamar mandi itu. Dea malah tenggelam dalam bak mandi berisi air dingin itu, ketiduran saking lelahnya dengan tekanan mental yang dia hadapi.


Masalah belum berakhir, Anna belum ditemukan, misteri obat itu belum terpecahkan sepenuhnya, Ivan masih berkeliaran di luar sana, rencana yang belum selesai dilaksanakan membuat pikiran Dea terbebani.


Sementara itu, Sagara baru saja tiba di kediaman. Dia terjebak macet sampai satu jam di jalan raya.


“ Di mana Nyonya?”tanya Sagara pada Kevin yang menyambut kedatangannya.


“ Di dalam bangsal tuan, sudah tiba sejak dua jam yang lalu, tapi tak kunjung keluar, nyonya berpesan agar kami tidak mengganggunya,” tutur kevin.


Perasaan Sagara tidak tenang. Dia melangkah dengan cepat bahkan sampai berlari menuju bangsal tempat tinggalnya dengan Dea.


Dia memasuki bangsal itu dengan cepat, meletakkan barang barangnya begitu saja. Menatap kamar yang tampak hening.


Pakaian Dea tergeletak di atas lantai, sepatu wanita itu terletak begitu saja, tidak seperti Dea yang biasanya.


“sayang aku pulang!” ucap Sagara sambil menatap nanar kamar itu. Dia bergegas menuju kamar mandi.

__ADS_1


Langkah Sagara tampak tak tenang, dia memasuki kamar mandi dengan wajah terkejut saat melihat istrinya terlelap di dalam genangan air dingin yang membasahi tubuhnya.


“ Astaga, sayang...” Sagara segera mengangkat tubuh istrinya dari dalam bath tube.


Dia bisa merasakan tubuh Dea begitu dingin seolah terendam es batu.


Dia mengeringkan tubuh istrinya dan memasangkan pakaian baru sembari menghubungi Dokter Barak untuk segera datang ke rumahnya.


“ Dea... sayang.. bangun sayang, aku pulang... “ ucap Sagara sambil mengusap wajah istrinya.


Dia meletakkan Dea di atas kasur dan membungkus tubuh istrinya dengan selimut.


Cepat cepat Sagara menaikkan suhu ruangan kamar mereka. Wajah istrinya sangat pucat, bibir Dea membiru dan denyut nadinya melemah.


" Hipotermia! Apa dia mengalami hipotermia!?" Sagara tak tenang. Suhu tubuh istrinya terus menurun, dengan panik dia membuka pakaiannya, hanya dengan celana pendek, dia masuk ke dalam selimut dan memeluk tubuh istrinya yang sedingin es.


Sagara berusaha menghangatkan tubuh istrinya sambil menghubungi Barak dan memberitahu kondis Dea.


Tak butuh waktu lama, Barak tiba di kediaman itu bersama Dyroth.


"Sagara aku datang!" teriak Barak dari luar.


" Masuklah!!" titah Sagara dari dalam.


Dengan cepat Bara dan Dyroth masuk ke dalam ruangan itu.Tampak Sagara memeluk istrinya dari belakang dan terus menghangatkan Dea.


" Hipotermia!! Dia mengalami gejala hipotermia!!" ucap Sagara.


Barak memeriksa denyut nadi Dea melalui pergelangan tangan wanita itu.


" Kau menyelamatkan nya Sagara, denyut nadinya sudah mulai normal!" ucap Barak.


Sagara menghela nafas lega, dia masih memeluk istrinya beberapa saat.


Setelah dipastikan stabil, Sagara menyerahkan Dea pada Barak.


"Dyroth, aku mau bicara denganmu!" ucap Sagara sambil memakai jubah panjangnya.


Dia dan Dyroth berjalan keluar dari Bangsal. Jelas sekali di waja Sagara tergurat kekhawatiran.


Dia mengajak Dyroth duduk di taman depan.


" Kakak ipar apa yang terjadi?" tanya Dyroth.


"Dea ketahuan, sepertinya kita harus bergerak sendiri, aku akan memimpin pasukan malam ini!" ucap Sagara.


Tentu saja mendengar keputusan Sagara ini membuat Dyroth terkejut.


"Tapi kak, ini terlalu berbahaya, kak Dea juga belum pulih!" ucap Dyroth.

__ADS_1


Sagara menggelengkan kepalanya," Aku tidak bisa melihat dia mengorbankan dirinya lagi Dyroth, sudah cukup kejadian hari ini! Aku akan melindunginya!" balas Sagara dengan tegas.


Dyroth juga memikirkan hal yang sama. Akan sangat beresiko jika Dea melanjutkan rencananya tadi.


" Lalu apa rencanamu kak?" tanya Dyroth.


" Serangan langsung! aku sudah dapat informasi markas keparat itu, posisi Anna dan Yefta juga sudah dipastikan!" tukas Sagara.


Kali ini tim inti kelompok Elf bergerak begitu cepat. Bima dan Ruka melakukan pelacakan dengan seluruh tim dan berhasil menemukan lokasi markas Ivan.


Selain itu berkat pelacak di kulit Ivan, mereka dengan mudah mengikuti pria itu.


" Ada seseorang yang memberikan informasi padaku saat aku kembali ke mansion!" ucap Sagara.


" Siapa kak!? Jangan sembarang percaya! Bisa saja itu jebakan!" ucap Dyroth.


Sagara menepuk bahu Dyroth," Aku yakin kau pasti ingat dengan sosok itu, sebentar lagi dia akan menunjukkan dirinya pada kota, Dea juga sangat merindukan nya!" ucap Sagara.


Dyroth tampak bingung, dia tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Sagara.


" Persiapkan tim inti Macron dan bawahanmu, markas itu cukup jauh dari kota ini!" ucap Sagara.


" Lalu bagaimana dengan kak Dea?" tanya Dyroth.


Di saat yang sama sebuah Van hitam memasuki kediaman itu.


Yonathan dan istrinya Amira tiba bersama Mike dan Adam.


" Kami akan menjaga Dea, kalian segeralah berangkat!" ucap Yonathan.


" Aku ikut dengan kalian, masalah ini juga berhubungan denganku!" tambah Adam.


Bantuan tiba, selain itu beberapa pria misterius tampak mengelilingi kediaman mansion Tulip.


" Ku lihat kau menempatkan banyak anak buah di luar," ucap Mike .


" Mereka bukan anak buahku, mereka milik seseorang yang sangat melindungi Dea!" ucap Sagara.


" Tunggu aku sebentar, aku akan cepat!" ucap Sagara sambil berlari memasuki Bangsalnya.


" Lihat saja Ivan, kau akan habis di tanganku!" geram Sagara sampai giginya bergeretak.


.


.


.


Like, vote dan komen 🤗

__ADS_1


__ADS_2