
"Ma... Kami mau ikut ke perusahaan, boleh ya.. Pliiss...." Gege dan Rere tengah membujuk ibunya agar mengijinkan mereka berdua ikut ke perusahaan di mana ayah dan ibunya bekerja.
" Tidak! Sekali Mama larang harus dilakukan!" tukas wanita itu sambil menyiapkan sarapan di atas meja.
Dea berjalan mondar mandir dengan celemek bir muda di tubuhnya, rambut panjangnya yang cantik dia kuncir tinggi ke atas.
Hanya mengenakan daster merah muda polos dengan pita cantik di bagian belakang mampu menunjukkan aura seorang bos besar pada wanita itu.
" Sayang, supnya sudah tiba... Minggir sedikit!! Ini berbahaya!!" suara Sagara terdengar berhati-hati, pria itu melangkah dengan cepat sambil mengangkat panci sup ayam yang panas.
Dia meletakkan benda besi itu di atas meja, " Shhh... Ini panas!!" celetuk Sagara sambil menaruh jari tangannya di telinga sang istri.
" Kau tidak terluka kan?" tanya Dea sambil menatap jari jari suaminya.
Sagara tersenyum," tidak sayang," balas pria itu dengan nada manja sambil senyum senyum manis.
Gege dan Rere yang diabaikan menatap jengah pada kelakukan ayah mereka yang selalu saja menjadi seperti boneka jika berada di depan ibu mereka.
" Cihh... Giliran sama Papa aja, Mama bicaranya lembut, sama anak sendir judesnya kayak kuntilanak jembatan Ancol!" celetuk Gege dengan wajah cemberut.
" pffthh... Hahaha... Kuntilanak jembatan Ancol, sayang itu nama panggilan kamu! Hahahahha..." Sagara tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan putranya.
Dea menatap suaminya sambil berdecak kesal," Genderuwo diam! Jangan ikut campur!" ketus Dea sambil menatap sebal pada suaminya.
Sagara tertawa, dia menepuk pucuk kepala istrinya dengan lembut.
Degh!
Jantung Dea berdebar tak karuan, wajah dan senyuman manis Sagara saat menepuk pucuk kepalanya mengingatkan wanita itu pada kenangan masa lalu yang indah.
Tak disangka, waktu yang dia dan suaminya lewatkan begitu banyak, sampai hal sekecil ini pun membuat Dea masih merasa seperti mimpi ketika bertemu Sagara lagi.
"Jangan marah-marah, kita makan saja yuk," ucap Sagara dengan lembut sambil menarik pelan Dea dan membawa wanita itu duduk di kursi.
" Tapi lauknya masih belum semua..." ucap Dea sambil menatap ke arah dapur.
" Sudah biar aku saja, duduk yang manis!" ucap Sagara.
Pria itu langsung melangkah dengan senyuman lebar di wajahnya. Celemek merah muda dengan gambar Minnie mouse itu tampak sangat lucu, menggantung di tubuhnya yang kekar dan tegap.
Sagara menata semua sarapan pagi mereka di atas meja makan. Dea duduk dengan tenang sedangkan si kembar masih berdiri dengan wajah cemberut karena dicueki ibu mereka sendiri.
" Mama... Mama.. Mama.... kamu mau ikut ke kantor!" teriak kedua bocah itu sambil menghentakkan kedua kaki mereka di atas lantai.
Memohon agar ibu mereka memberi ijin.
"Ini libur sekolah, Kami mau jalan jalan bareng Papa dan Mama, pliss ya... Boleh ya maa... Janji gak nakal!!" ucap Rere dengan mata memelas seperti anak anjing yang begitu menggemaskan.
" Benar Ma, kalau di rumah kami bosan, kalau ikut ke kantor kami bisa belajar bisnis sejak dini, agar saat kami besar kami bisa membantu Papa dan Mama menjalankan perusahaan!" ucap Gege dengan segala bujuk rayunya.
__ADS_1
" Tidak!" balas Dea dalam satu kata yang tegas dan berhasil membungkam mulut kedua bocah nakal itu.
" Tapi Mami.... Kami mau..."
Keduanya berhenti bicara saat melihat tatapan tajam dari ibu mereka.
" Duduk dan makan sarapan kalian!" tegas Dea.
" Masalah perusahaan bukan urusan kalian, lagipula siapa yang akan menyerahkan perusahaan pada kalian sekalipun kalian sudah besar!? Kalian bangun usaha kalian sendiri, jangan mengharapkan Papa dan Mama!" tukas wanita itu..
Dea memang sangat tegas dalam mendidik anaknya. Meski keras, namun dia berhasil membangun karakter anaknya yang pantang menyerah dan berjiwa hebat.
Sagara asik menata makanan, dia tersenyum dengan cara Dea menjaga dan mendidik anak mereka.
Dia tidak akan menegur Dea di depan anak-anaknya saat Dea melakukan kesalahan, Dia akan mendukung Dea lalu memberikan beberapa koreksi atas kesalahan kecil yang dilakukan Dea.
" Anak-anak, kalian dengarkan kata kata Mama kalian, bukan tanpa alasan Papa dan Mama melarang kalian ke kantor hari ini, sejujurnya Papa juga ingin membawa kalian," ucap Sagar sambil duduk berjongkok di samping anak dan istrinya.
" Benar kan Ma? Sebenarnya kita akan membawa mereka bukan?" tanya Sagara dengan senyuman lembut.
Dia memberikan kode agar Dea melunak.
" Ehkkmm.. " pria itu berdeham.
Dea paham maksud suaminya, dia menghela nafas sejenak," Sayang, ada masalah di perusahaan, Mama melarang kalian ikut karena masalah ini terlalu berbahaya," jelas Dea sambil menggenggam tangan kedua anaknya.
" Bukan Mama tidak sayang, bukan Mama egois, bukan mama hanya ingin menghabiskan waktu bersama Papa, tapi Mama ingin menyelesaikan masalah ini dulu, baru membawa kalian," tutur wanita itu..
" Nak, menurutlah, Papa dan Mama melakukan ini bukan tanpa alasan, kalian masih terlalu kecil, kami tidak mau kehilangan kalian hanya karena hal seperti ini!" bujuk Sagara.
" Tapi Pa,Ma di kantor seru, kami mau lihat!!" rengek Rere lagi.
" Benar, kami mau ikut, Kak Robert juga sudah di jemput om dan Tante, kami bosan!!" keduanya merengek meminta ikut.
Sagara menatap kedua anaknya sambil menghela nafas, dia menatap istrinya lagi," Maafkan aku sayang, tak ku sangka kau menghadapi hal seperti ini setiap hari!" bisik Sagara sambil memeluk istrinya dari samping.
" Hahh... Aku ibunya, aku harus terima segala konsekuensinya sayang," balas Dea.
" Ma, kami mau ikut, boleh ya.. Boleh ya..." kedua bocah itu semakin cengeng. Mereka merengek lagi dan lagi.
Dea benar benar berusaha menahan agar dirinya tidak marah.
Sagara menatap kedua anaknya, dia tiba tiba berdiri lalu menarik nafas dalam-dalam," Patuhlah!" ucap pria itu dengan nada menghardik nan tegas.
Seketika seluruh ruangan terdiam. Bahkan pelayan yang mendengar suara Sagara terhenyak dengan wajah gugup.
Nyali si kembar langsung menciut, keduanya menunduk dengan mata berkaca-kaca.
" Sayang..." Dea menatap suaminya yang tampak memasang wajah dingin.
__ADS_1
Sejujurnya Sagara bingung cara menghadapi si kembar.
Kedua anak itu menangis, mereka terdiam dengan tangan mereka yang memilin ujung pakaian mereka.
Sagara berjongkok dan.
Hap!
Dia menggendong kedua anak itu dalam pangkuannya.
" Maafkan Papa sayang, Papa akan bawa kalian ke kantor, tapi jangan menyesal saat kalian melihat kejadian di kantor nanti!" ucap Sagara.
Wajah si kembar langsung berubah menjadi bahagia. Bibir mereka melengkung ke atas, tersenyum begitu ceria saat mendengar ucapan ayah mereka.
"Tapi sayang, hari ini..." Dea tampak khawatir.
Sagara tersenyum lalu tiba tiba mendekat ke kening Dea.
Cup!
" Tenanglah, ada aku," ucap Sagara sambil mengecup kening istrinya.
Si kembar melihat bagaimana ayah mereka begitu mencintai ibu mereka. Senyuman indah mekar di wajah keduanya.
"Pa, Ma," Gege tiba tiba berbicara.
" Ada apa sayang?" tanya Dea dan Sagara dengan lembut.
" Kami tinggal di rumah saja, tapi kalian janji, setelah masalahnya selesai, kami ikut ke kantor!" ucap Gege.
Dea dan Sagara saling menatap. Siapa sangka anak mereka belajar dengan cepat.
" Kalian serius sayang?" tanya Sagara.
" Serius Papa, kami akan menunggu di rumah," ucap Rere.
Sagara dan Dea tersenyum dengan hati terharu. Kedua anak itu memiliki hati yang lembut dan pengertian.
" Wahh anak anak Papa benar benar hebat! Papa sayang kalian !!" seru Sagara sambil memeluk mereka dengan erat.
" Mama Juga!!" balas Dea sambil memeluk mereka bertiga.
"Hahahahha...... Ingat ya Pa, Ma bawa kami kalau sudah selesai!" seru Gege.
" Baik sayang!!" balas Dea dan Sagara serentak.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 🤗