Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 63


__ADS_3

Dea berjalan tergesa gesa memasuki aula acara dnegan kartu undangan milik Sagara yang dia ambil dari kamar sebagai ijin masuk Gedung itu.


Perasaannya berkecamuk antara menggebu gebu ingin menyampaikan semua kerinduannya pada sosok Teddy Bearnya serta perasaan takut dan tidak nyaman yang sejak tadi menyerangnya.


Dea berjalan cepat bersama Ruka menuju aula acara sesuai arahan pengawal. Mereka berjalan dengan cepat, dan tepat perkiraan Dea, terjadi hal mengejutkan pada suaminya.


“ Ru.. Ruka, a… apa apaan ini!” Dea terkejut bukan main saat melihat suaminya di serang sekaligus oleh dua pria berbadan tegap lainnya yang tampaknya sangat membenci Sagara.


Sagara diseret begitu saja ke arah lift dan di dorong oleh Mike dan Adam saat pria itu bergelut dengan traumanya.


Mata Dea membulat sempurna, gadis itu sangat syok saat melihat suaminya dipukuli oleh kedua orang yang dia ketahui memiliki hubungan dekat dengan Sagara.


Sekretaris Lin dan yang lainnya mencoba menghentikan, tetapi anak buah kedua pria itu menghalangi mereka agar tidak ikut campur.


Keributan besar itu menjadi bahan pertunjukan bagi para tamu.


Adam dan Mike tertawa jahat tanpa tahu kalau lift kecil itu dapat merenggut nyawa adik mereka.


"Hahaha kalian lihatlah, inilah Sagara sumpah yang sebenarnya, hanya sepotong sampah yang tak berguna, begitu takut pada kotak kecil ini!!!" teriak Adam mempermalukan Sagara di hadapan para tamu undangan.


Mike tersenyum, dia merasa sangat puas saat melihat Sagara yang menghina orang tua mereka dipermalukan seperti saat ini tanpa tahu bahwa semua yang diucapkan Sagara tentang orangtuanya adalah fakta.


Mike menatap kedua orangtuanya, bukannya senyuman senang karena mereka berhasil membereskan pembuat masalah, sorot mata kedua orangtua mereka malah menunjukkan hal sebaliknya, mereka sakit hati, mereka terluka, hati mereka hancur berkeping-keping karena anak anak mereka tidak bisa akur.


Persis seperti keinginan Sagara, bahkan saat mendorong Sagara tadi, Mike melihat senyuman tipis dan tatapan puas saat Sagara menatap ayah dan ibu mereka yang hancur berkeping-keping.


"Dam! Papa dan Mama menangis!!" ucap Mike dengan wajah terkejut.


Adam menoleh pada ayah dan ibu mereka, dia juga sangat kaget saat melihat keduanya menangis begitu pilu di depan sana sambil berteriak agar mereka berhenti.


"Bukankah mereka harus bangga kita sudah melumpuhkan keparat ini!?" ucap Adam heran.


Hingga suara teriakan Dealora Eldrich membuat mereka terkejut.


" APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SUAMIKU KEPARAT SIALAN!!"Pekik Dea.


Dea berlari dengan amarah menggebu-gebu, demikian halnya dengan Ruka yang juga memanggil anak buah Sagara untuk bergabung dengan mereka.


Tak butuh waktu lama tempat itu dikepung oleh anak buah Sagara.


" Beraninya kalian menyentuhnya!!!" Dea berteriak sambil menangis.

__ADS_1


"Siapa gadis ini!?" pikir mereka. Pasalnya wajah Dealora Eldrich tidak pernah ditampilkan ke publik bahkan Sagara merahasiakan identitas Dea.


Namun tak dipungkiri ada beberapa yang mengenal gadis itu sebagai anak bangsawan pembawa sial yang dijauhi semua orang karena auranya yang buruk.


Gita bahkan sangat syok saat melihat Dea berlari masuk dan dengan berani berteriak di acara itu tanpa peduli pemilik acaranya adalah mertuanya sendiri.


Dea menatap tajam ke arah Lin dan yang lainnya," Manusia bodoh!!" umpat gadis itu.


"Nyonya muda!!" Sekretaris Lin dan yang lainnya menghentikan perkelahian mereka dengan anak buah kedua pria itu lalu menghampiri nyonya mereka.


"Siapkan mobil!!" titah Dea dengan tegas sambil berlari.


Dea saat ini benar benar panik, dia menatap lift yang terus berjalan.


Gadis itu berlari sekuat tenaganya menaiki tangga darurat mengejar lift itu diikuti oleh Bima dan Barak.


"Kenapa kalian biarkan dia terluka!? apa kalian bodoh hah!? kau juga dokter Barak, kau tahu penyakitnya!!!" teriak Dea sambil menahan tangisannya.


Dea berlari sekencang-kencangnya sampai dia tiba di lantai ke empat dan langsung mendekati lift dan menekan tombol lift itu.


Sementara itu di dalam lift. Jantung Sagara berdebar tak karuan, dia segera melepaskan jam tangan yang dia pakai agar istrinya tidak tahu.


Sesak, kepalanya seperti akan pecah. Pria itu mencengkram kepalanya, memukuli telinganya berkali-kali.


Tubuh Sagara bak dihimpit oleh benda keras, dia tak bisa bergerak hanya bisa meringkuk ketakutan, kesakitan dan menangis dalam kepedihan.


" Akrhhh.... to.. to.. tolong... ak..aku.... uhuk... Akhh... " Sagara mengalami sesak nafas, sama persis seperti saat dia terjebak di dalam lift bersama kedua sahabatnya.


Kini di dekatnya dia melihat jelas kedua sahabatnya tergeletak lemas di atas lantai sambil menatapnya dengan tatapan sedih.


" Kenapa kau tidak menolongku, tolong aku... uhuk... uhuk... uhuk... tooolong... tolong Gara!!!" Suara kedua anak kecil itu terngiang di kepala Sagara.


Membuatnya berhalusinasi, membuatnya sesak dan semakin sakit.


Sagara pucat, dia tak bisa bernafas, semakin lama semakin sulit, dia hampir mati. dia akan segera mati.


Suara pintu lift terdengar. Dalam cahaya remang-remang, dalam kegelapan setitik cahaya kecil berlari menyongsong Sagara.


" Sagara!!"


"Kak Gara!!! Tidak...tidak... sadar, ini aku... Kak Gara aku di sini!".

__ADS_1


" SADARLAH AKU DI SINI KAK!!!"


Dea berteriak, dia menarik dan memeluk Sagara dalam dekapannya, menangis sesenggukan sambil menenangkan suaminya yang ketakutan.


Dada Dea sangat sesak, dia tak kuasa melihat keadaan Sagara yang begitu memprihatinkan.


"Bantu aku!!" teriak Dea sambil menangis.


Bima dan Barak juga syok, mereka tak pernah menyangka akan sampai separah ini.


Mereka menarik Sagara keluar dari dalam lift.


Dea memeluk suaminya sambil menangis. Ditatapnya wajah itu dengan air mata bercucuran.


" Kak Gara.. hiks hiks hiks...Kak Gara... tidak apa apa... Dea di sini, Dea datang, sadarlah, tidak apa-apa!!" Ucap gadis itu berkali kali sambil mengusap wajah suaminya.


Sagara masih sesak nafas, dia mendengar suara Dea, mendengar suara penyelamat nya membuatnya berani membuka kedua matanya.


Bagaikan bulan yang indah, wajah itu berada tepat di depan mata Sagara, sedang menatapnya sambil menangis. Memanggil namanya dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


" Kak Gara ini aku, sadarlah hiks hiks hiks... ini aku kak!!" Panggil Dea sambil menangis sesenggukan.


Suara itu, tangisan itu, kata kata itu bagaikan angin segar di kala lelah. Hati Sagara perlahan terasa tenang, sama persis seperti belasan tahun yang lalu, saat Dea kecil menyelamatkan Sagara muda dari toilet sekolah.


" Pendekar kecilku, " gumam Sagara sambil meneteskan air matanya.


Dea mengangguk," iya ini aku hiks hiks hiks....." Dea mendekap Sagara dengan erat sambil menangis sesenggukan.


Saat dia melihat keadaan Sagara yang menyesakkan dada, dunia Dea seolah runtuh. Sekujur tubuhnya gemetar saat melihat pria yang dia cintai terkapar lemah di dalam ruangan kecil yang paling dibenci oleh Sagara.


Dea marah, kesal dan jengkel dengan sikap orang-orang di sekitar Sagara. Dea marah pada dunia yang terus menerus menyakiti suaminya.


Dea tahu, hubungan Sagara dengan keluarganya tidak baik. Dea tahu banyak hal karena di masa lalu mereka telah saling berbagi luka.


Dea menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana mereka hanya diam saat Sagara di dorong ke jurang kematian.


"Tunggu giliran kalian!!!" Dea menggigit bibirnya dengan kuat, meredam amarahnya yang memuncak.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen


__ADS_2