
Suara rintik rintik hujan terdengar begitu syahdu di mansion Tulip. Tampaknya semua orang sedang berbahagia.
Semuanya berkumpul di kediaman Sagara, dan menyambut pagi dengan senyuman di wajah.
Para pelayan tampaknya sedang menikmati momen memasak mereka bersama nyonya Maureer,Ruka, Lucy dan Anna.
Sedangkan para pria sedang membersihkan sisa pesta semalam. Pemandangan yang jarang dilihat, ketika orang orang dengan jabatan tinggi mau bekerja sama dengan pelayan untuk membersihkan sisa pesta semalam.
Semuanya bekerja sama dengan baik sambil tertawa bahagia. Suasana di mansion itu benar benar telah berubah total.
"Ayo semuanya kita sarapan pagi, makanannya sudah siap!!" seru nyonya Maureer yang sedang menghidangkan sarapan pagi di atas tikar bersama sama dengan para pelayan.
Semuanya menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat, membersihkan diri lalu siap bergabung di ruangan makan.
Semuanya tampak bersemangat, para pelayan diajak makan bersama di ruangan dan di atas tikar yang sama. Pemandangan hangat seperti ini membuat tuan Maureer tersenyum bahagia.
" Ngomong-ngomong di mana Sagara dan menantu? kenapa sejak tadi tidak kelihatan?" tanya Tuan Maureer.
Sekretaris Lin, Bima dan Barak tersenyum di sudut sana dengan pipi bersemu.
" Biarkan saja paman, mereka pasti melewati malam yang indah semalam!!" celetuk Barak seraya menaikturunkan alisnya.
Para orang dewasa di sana tentu mengerti apa yang dimaksud oleh Barak. Mereka tertawa kecil seraya menatap ke arah bangsal Sagara di mana pasangan muda itu terlelap.
"Selamat pagi semuanya!" Suara bariton Sagara membuat mereka menoleh.Tampak pria itu semakin segar dan senyumannya secerah mentari.
"Wooooooo...." semuanya berseru sambil tersenyum menatap pria tampan dengan jubah kebesarannya itu. Dadanya tersingkap, jelas ada tanda merah di sana membuat semua orang bergemuruh .
" Mau pamer bro!?" celetuk Bima dengan wajah masam seraya melirik tanda merah di dadanya itu.
Sagara menatap dadanya,sontak dia menutupnya karena terkejut," ekhmmm.... bocah diam saja!" celetuk pria itu dengan pipi bersemu merah.
" pffthh bahahahhahaha....." semua orang tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sagara yang malu malu.
Nyonya Maureer yang paham masalah itu langsung menyiapkan sarapan pagi di atas nampan khusus untuk pasangan itu.
" Ini Mama siapkan sarapan buat kalian, jangan berlebihan, rawat dia dengan baik!" ucap nyonya Maurer sambil tersenyum tipis.
Sagara sebenarnya sudah sangat malu. "Ma... terimakasih,' ucap pria itu sambil tersipu malu menerima nampan berisi sarapan pagi itu.
Sagara membawa sarapan pagi mereka ke dalam Bangsalnya. Alasannya tentu saja karena Dea merasa tidak nyaman dengan tubuhnya.
Semuanya menatap pria itu sambil senyum senyum sendiri.
" Semakin dilihat, dia semakin berubah," celetuk Lucy.
" Kau benar Lucy, tuan muda sudah berubah, hidupnya lebih berwarna!" ucap Ruka.
Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan kedua gadis itu. Perubahan Sagara memang sangat jelas terlihat, dia lebih bahagia dan lebih banyak tersenyum.
__ADS_1
Mike dan Adam juga menatap bangga pada adik mereka yang perlahan lahan bisa berubah menjadi lebih baik.
"Kalau Yonatan melihat ini, dia pasti akan sangat heboh!" ucap Mike sambil tertawa.
" tapi ngomong-ngomong, Pa, Ma sepertinya Yonatan menyembunyikan sesuatu dari kita!" ucap Adam yang merasa aneh pada Yonatan yang tak pernah memberi kabar berbulan bulan.
" Mama juga heran. Tiap kali di hubungi dia selalu menolak panggilan Mama dan mengirim pesan, sebenarnya apa yang dilakukan anak nakal ini!?" ucap nyonya Maureer bingung.
" Sudahlah, lagipula dia akan datang ke sini sore ini, kalian bebas mengomelinya nanti!" ucap Tuan Maureer.
Semua orang menantikan kedatangan Yonatan, tapi apa respon mereka jika mereka mengetahui keadaan Yonatan saat ini?
Sementara itu, di bangsal Sagara, Dea tampak menenggelamkan tubuhnya di dalam tumpukan selimut. Pipi nya benar benar Semerah tomat karena malu, dia seperti menyatu dengan tumpukan selimut itu saking malunya dengan apa yang sudah dia dan suaminya alami.
"Sayang bagaimana caranya kau bernafas kalau kau menutup kepalamu seperti itu?" tanya Sagara yang duduk di sisinya.
" Arkhhh bagaimana caranya aku melihat mu sekarang? aku sangat malu!!" teriak Dea dari balik tumpukan selimut itu.
Sagara tersenyum geli," kenapa malu, lagian aku sudah lihat semuanya," ucap Sagara dengan jahil.
" Kak GARA!!!" Pekik Dea yang malunya sudah melewati ambang batas.
Begitu bangun pagi tadi, dia menyadari betapa ganasnya permainannya semalam, entah bagaimana dia bisa melakukan hal mengejutkan itu.
" Sayang, kau sangat hebat semalam, bagaimana kau bisa melakukan itu!?" goda Sagara dengan senyuman jahilnya.
Dea menghempaskan selimut dan menatap Sagara dengan wajah cemberut tetapi pipinya bersemu merah.
" Sagara.... kenapa kau ungkit ungkit terus, aku malu!!! " ucap Dea merengek.
Mata Sagara tertuju pada bekas karya seninya di leher Dea, banyak sekali sampai seperti bekas alergi.
Pria itu tertawa, dia menarik Dea dan...
cup!
Sagara mengecup bibir istrinya," kenapa harus malu hmm? itu wajar baby," bisik Sagara dengan tangannya yang dengan jahilnya menelusup masuk ke dalam kaos Dea dan menyentuh punggung istrinya.
" Ahhh... Sagara!!" Senggak Dea dengan wajah terkejut.
Sagara tertawa cekikikan, rasanya sangat menyenangkan mengganggu perempuan itu.
"kenapa hmm?" Tanya Sagara.
" Malu...." gumam Dea.
Sagara memeluk istrinya dengan erat, mengecup pucuk kepala Dea berkali kali," tak apa, lama lama terbiasa," bisik Sagara.
Bugh!!
__ADS_1
" Dasar mesum!" balas Dea yang membuat Sagara semakin bahagia.
" Kita makan ya. Makan pagi biar ada tenaga buat ronde selanjutnya!" celetuk Sagara.
Mata Dea membulat sempurna," dasar otak mesum, ronde selanjutnya apa!?" ketus Dea.
Sagara mengusap wajah istrinya, jujur saja melihat wajah polos Dea saat ini dan penampilan Dea saat ini membuatnya sangat gugup dan bergairah. Tapi apa daya, dia tahu batas tenaga istrinya, apalagi ini pertama kali bagi keduanya.
Sagara mengambil sarapan mereka, " Baiklah saatnya maka pagi sayang, biar aku suapi," ucap Sagara.
Dea tersenyum, dia menatap suaminya dengan wajah bahagia, meski malu tapi dia tahu itu kewajiban yang menyenangkan.
Sagara menyuapi istrinya dengan telaten, demikian Dea menyuapi suaminya dengan makanan enak itu.
Mereka menikmati sarapan pagi mereka dengan lahap, bahkan begitu cepat selesai.
" Siapa yang memasak? ini enak sekali," puji Dea seraya menatap masakan itu.
" Mama yang masak, Mama memang hebat soal masakan," ucap Sagara.
Dea mengangguk setuju," kau benar! sepertinya aku harus belajar banyak dari Ibu mertua!" celetuk Dea.
"Kenapa kau harus belajar lagi? kita tinggal datang ke rumah Mama dan minta makan, pasti dibuatkan, untuk apa repot-repot?" celetuk Sagara.
Tuk!!
Dea menepuk bahu suaminya," kau mau membuat citraku buruk di depan mertuaku hmm? aku juga harus belajar, supaya bisa memasak makanan enak untukmu setiap hari, apalagi kalau kita sudah punya anak nanti!" ucap Dea penuh semangat.
"Kau mau punya anak denganku?'" tanya Sagara dengan wajah berbinar binar.
"hmmm tentu saja, sepasang anak pasti akan menyenangkan!" seru Dea dengan wajah bahagia.
Sagara tersenyum jahil," kalau begitu sepertinya tugas kita semakin berat sayang, kita harus rajin menabung!" ucap Sagara seraya meminggirkan piring kosong mereka ke atas meja.
" Maksudnya? menabung bagaimana!?" tanya Dea heran.
Sagara mengungkung istrinya dan menatapnya dengan tatapan jahil " Kita harus banyak berusaha, supaya di sini ada baby!!" celetuk Sagara yang malah menarik selimut dan melakukan apa yang mereka lakukan semalam.
" Huwaa dasar mesum hahahhahah...." Dea berteriak.
" Mesum itu wajib hukumnya antara suami istri!!" balas Sagara dengan jahil.
.
.
.
Like, vote dan komen 🤗
__ADS_1