
Dea duduk di bangsalnya yang kini berbeda dengan pertama kali dia tiba di kediaman itu.
Dea menggenggam roknya dengan kuat. Dia sangat sedih hari ini, selain kesepian dia juga merindukan Amira, gadis yang sangat dia sayangi.
Dea menahan dirinya agar tidak menangis, tapi sialnya, kristal kristal bening itu meleleh dan menyeruak dari kelopak matanya.
"Hiks hiks hiks... Apa yang sudah kulakukan sampai dia selalu marah-marah begitu!? Aku hanya ingin membantunya tapi dia memarahiku seperti nenek sihir!!!" Gerutu Dea.
Gadis itu menangis sesenggukan, dia sangat kesal dan kecewa dengan sikap Sagara yang dingin dan kejam.
" Huwaa....... Aku tidak pernah minta dinikahi olehnya, aku juga minta diceraikan tapi dia menolak, jadi maksudnya aku harus apa!?" Gerutu Gadis itu lagi.
Dia menangis sesenggukan, mengusap kedua matanya sampai memerah dan bengkak. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan karakter Sagara yang sulit dimenangkan.
" Dasar jahat!!!" Dea menghentakkan kedua kakinya di atas lantai.
Dia berdiri lalu berlari masuk ke kamarnya dan menarik boneka beruang di kamar itu.
" Sagara jelek, dasar Tuan Sagara jahat!! Kau sangat Jahat!!!" Pekik Dea sambil memukuli boneka itu, melampiaskan amarahnya sampai kepala boneka itu copot di tangannya sendiri.
"Berminggu-minggu tidak pulang, mengurung manusia di rumahnya, apa ini penjara hah!? Keluar saja aku tak bisa dasar sinting!!! Semoga kau menginjak kotoran hari ini, semoga kau sial hari ini!!!" Pekik Dea sambil mencabik-cabik boneka beruang itu seperti orang kesetanan.
Kapas boneka beruang itu sampai beterbangan ke atas, dia memukulinya sampai ruangannya dipenuhi kapas dari boneka yang sudah tak lagi berbentuk itu.
"Kudoakan kau sial!!" Teriak Dea lalu tiba-tiba dia berhenti bergerak.
"Unggg!?" Dea berhenti bergerak dengan posisi boneka menggantung di tangannya, dia menaikkan sebelah alisnya, sebuah ide terlihat di kepalanya.
" Hihihi.... Aku benar benar akan membuatmu hidup tidak tenang tuan muda Sagara!" Gumam Dea sambil tertawa cekikikan seraya memeluk boneka tak berbentuk itu.
"Siapa suruh kau membuatku menangis berkali-kali, dasar suami durhaka!" Batin gadis itu.
Sementara itu,
"Haacchuuh!!! Haacchuuhhh!! Sniff snif!!" Sagara bersin bersin tanpa sebab.
Dia mengusap hidungnya dengan wajah jengkel," Lin ganti penyaring udaranya, sangat tidak bermutu!" Kesal Sagara.
" Itu bukan salah penyaring udaranya tuan muda yang terhormat, tapi kau sedang dijelek-jelekkan oleh orang yang kau buat sakit hati!" Celetuk Bima sambil geleng-geleng kepala menatap Sagara.
Dia duduk di atas meja sambil memilah dokumen kerjanya.
"Bima, apa aku terlihat sedang bercanda? Ku bilang ganti ya ganti!" Ketus Sagara sambil mengikat lengannya yang batal dibalut oleh Dea.
"Cihh.. sombong kali kau anak muda, terserahlah, aku keluar dulu, semoga karma tak menjemputmu!" Ucap Bima sambil berjalan keluar dari ruangan Sagara.
Suasana hati Sagara sangat kacau hari ini. Dia dibuat kesal, marah, dan terganggu karena Dea.
"Lin ikat ini!!" Titah Sagara dengan rasa tidak nyaman menyesakkan dada yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
Lagi-lagi dia mengingat wajah sedih Dea saat dia melemparkan perlengkapan perawatan luka itu keluar. Entah kenapa dia merasa menyesal dengan tindakannya tadi, tetapi lebih kesal lagi setelah melihat cara Bima menatap istrinya.
Sagara tanpa sadar tersesat dalam kebingungan menentukan pilihan hatinya.
"Ikat yang benar!!" Ketus pria itu.
"Ini sudah benar tuan,' ucap Lin sambil mengikat tangan Sagara.
"Kenapa kurang ketat, kau bisa kerja bagus tidak!? Jangan makan gaji buta!!" Kesal pria itu lagi.
Lin hanya bisa geleng-geleng kepala, tempramen keras kepala tuannya membuat dia pusing tujuh keliling.
"Sudah sana, awas!!" Ketus pria itu sambil bangkit berdiri. Dia tarik perban panjang itu lalu diikatnya luka di lengannya begitu saja.
"Dasar tidak berguna, gajimu ku potong setengah bulan ini!!" Kesal Sagara.
"Tuan muda, salah saya apa!?" Tanya Lin dengan wajah lelah.
Sungguh sakit kepala menghadapi orang itu, tidak bisa ditebak maunya apa, yang dia lakukan hanya marah marah tanpa alasan yang jelas.
Sagara berjalan keluar dari bangsal itu, berdiri di teras dengan jubah biru panjang yang menutupi tubuhnya yang kekar.
Bagaikan pangeran dari negeri awan, pria itu tampak sangat tampan mempesona di bawah terangnya sinar matahari yang indah.
Kedua netranya melanglang buana mengamati langit cerah dengan bongkahan gula kapas beterbangan ke sana kemari di bawah selendang biru cakrawala yang menawan.
Harum semerbak bunga memenuhi area itu, burung-burung berkicau dan kupu-kupu beterbangan dengan begitu riang.
"Tunggu dulu!' mata pria itu membulat sempurna. Tatapan lembut tadi kini berubah menjadi tatapan tajam menusuk.
"Kupu-kupu!? Suara burung!? Bunga!?" Matanya terbelalak kala menyadari perubahan besar di hadapan bangsalnya dan bangsal Dea.
Bunga bunga indah bermekaran, bunga yang dipindahkan ke halaman itu tampak berwarna-warni, sangat cantik dan menawan.
Taman yang tadinya hanya sebuah taman hijau berumput kini berubah menjadi taman bunga dengan aroma yang sangat menenangkan.
Sangat terkejutlah pria itu melihat perubahan besar di mansion nya.
Cat warna warni dituangkan, lukisan indah digambarkan, suasana yang sangat hangat dan nyaman membuat Sagara terpikat olehnya.
"Siapa yang melakukan ini!?" Batin Sagara.
Dan berakhirlah kedua netranya di bangsal istrinya," bangsalnya juga dipenuhi bunga, apa ini pekerjaannya!?" Batin Sagara.
Dia berjalan ke tengah halaman, menatap ke sana kemari memeriksa halaman rumputnya yang berubah jadi taman bunga.
"Kevin!!! Kevin!!! " Teriak pria itu menggelegar.
Drap! Drap! Drap!!
__ADS_1
Kevin berlari dengan langkah bak kijang. Suara panggilan sang Guntur tentu saja membuat yang mendengarnya menjadi tegang.
"Siap tuan, ada apa tuan muda!?" Tanya pria itu sambil membungkuk hormat.
Sagara menatapnya," siapa yang mengubah taman ini?" Tanya pria itu dengan nada dingin, datar dan berat.
"Nyo... Nyonya muda tuan, para pelayan juga ikut membantu," jelas Kevin. Kali ini dia tampak membela Dea dan melibatkan seluruh pelayan.
"Kalian membantu nyonya muda!?" Tanya Sagara.
"Mo..mohon maafkan kami tuan, kami sudah beritahu pada nyonya, tapi nyonya mengatakan kalau tamannya akan lebih cantik jika diberi bunga, kami semua juga setuju. Mohon jangan hukum nyonya tuan!!" Ucap Kevin sambil berlutut.
Para pelayan yang lewat juga mendengar itu, sontak mereka semua menghadap Sagara dan ikut berlutut untuk membela nyonya muda mereka yang baik.
" Benar tuan,kami semua membantu nyonya, mohon jangan hukum nyonya!!!" Ucap mereka serentak sambil memohon pada sang majikan.
Sagara tentu saja kaget, sejak kapan pelayannya menjadi sedekat itu dengan Dea.
Padahal Sagara bukannya hendak menegur mereka, dia malah sedang terpesona dengan keindahan dan ketenangan yang sudah lama tidak dia rasakan.
Keindahan yang mengingatkannya dengan masa lalu yang manis dengan mendiang sahabatnya.
"Mohon maafkan kami tuan!!" Seru mereka semua dengan serentak.
Dari ujung sana, Dea tampak berdiri dengan spatula di tangannya sambil berkancah pinggang menatap Sagara dengan wajah kesal," dasar jahat, iblis jahat, hanya taman kecil itu saja kau sampai marah, ihhh kudoakan kau mencret mencret besok!!" Kesal Dea sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya di atas lantai.
"Apa anda sedang kesal nyonya!?" Suara Bima mengejutkan gadis cantik itu.
"Ehh... Bima," Dea menoleh.
" Benar! Lihat perilaku si pria kaku mirip tiang listrik itu, setiap hari tegangannya tinggi selalu, hanya sebuah taman saja dia sampai menghukum pelayan seperti itu!!" Kesal Dea.
Bima tersenyum, dia terus menatap Dea dengan jantung berdebar-debar. Wajah kesal gadis itu membuatnya gugup dan senang sekaligus.
"Kau cantik!' Bima keceplosan.
"Hmm? Apa tadi!?" Tanya Dea.
" Tamannya cantik," ucap Bima sambil tersenyum.
" Tentu saja, hasil kerja keras kami, " ucap Dea.
"Lihat saja kau tuan Sagara, akan ku buat perhitungan denganmu!!" Geram Dea seraya mencengkram spatulanya dengan erat.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗