Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 89


__ADS_3

Setelah kepergian Sagara, suasana di bandara tampak hening. Dea duduk bersandar pada kursi tunggu sambil menatap kosong ke arah langit.


Rasanya ingin dia menangis dan mengejar suaminya. Tapi dia tahu persis perasaan Sagara akan kacau dan pengobatan tidak akan berjalan lancar jika dia melakukan hal itu.


Dea tahu hal ini karena tak sengaja mendengar percayakan Sagara dengan Sekretaris Lin saat di Bangsalnya.


"Aku tidak akan dapat bertahan hidup jika melihat dia menangis dan khawatir padaku, aku bisa saja membohongi dunia dengan mengatakan penyakit ku sudah sembuh tapi pada akhirnya aku akan mati! Dea tidak boleh terlibat atau aku tidak akan mengikuti pengobatan!" Kata kata Sagara terekam jelas dalam ingatan Dea.


Dia tahu karakter suaminya. Tak ada basa basi, yang ada hanya sebuah keinginan pasti yang tak bisa diganggu gugat.


"Kak, apa kakak masih sedih?' Lucy menghampiri Dea dan memeluknya dari samping.


Dea menatap gadis itu sambil tersenyum ," Aku sedih karena berpisah sementara waktu, hidup harus terus berlanjut, aku hanya menikmati momen sedih hari ini, dan tak ada lagi kata sedih untuk hari esok!" ucap Dea.


"Tapi tuan muda pergi sendirian... bukankah akan sangat kesepian," ucap Siska yang duduk di sekitar Dea.


"Benar nyonya, apa tidak sebaiknya anda ikut tuan muda?" ucap Luhan yang tak tega.


Pelayan lain juga setuju, demikian setiap anggota keluarga. Mereka merasa tidak tega melihat keduanya yang bisa dikatakan baru bertemu tetapi harus berpisah lagi.


"Tidak, aku tahu suamiku, aku percaya padanya, kalian juga demikian, kalian harus percaya padanya, jangan membuat dia khawatir dengan mengirim laporan laporan yang tak beres, jika ada masalah cari aku saja, jangan menambah beban pikiran tuan!" tegas Dea.


"Apa kalian paham!?" tanya Dea.


" Paham Nyonya!" jawab mereka serentak.


Dea tersenyum, kedua mertuanya juga bahagia melihat kebajikan pada dir menantu mereka.


"Betapa beruntungnya Sagara memilikimu nak," ucap tuan Maureer.


"Aku juga beruntung Pa, memiliki dia di sisiku" balas Dea.


"Baiklah, kalian semua kembalilah ke kediaman, " Dea berdiri dan mulai tersenyum ceria.


"Aku ingin keluar mencari angin segar, " ucap Dea.


" Kami temani nak," ucap nyonya Maureer.


Dea tersenyum dan menggelengkan kepalanya," Ma.. kaki Mama sekarang sedang sakit, Papa juga butuh istirahat, kalian kembalilah dan ambil waktu untuk beristirahat dengan baik, aku tahu kalian juga khawatir dengan keadaan Kak Gara, " ucap Dea.


" Apa aku boleh menemanimu?" Amira maju ke depan dan bertanya dengan nada ragu.


Dea menghampiri sahabatnya, dipeluknya Amira," Kau tidak boleh, ini masalah kelompok, kau sedang hamil, akan berbahaya," bisik Dea Pelan agar Amira tak berkecil hati.


Amira tentu saja terkejut, Maslaah kelompok pasti Maslaah genting, perempuan itu harus segera berangkat.


" Tinggallah di rumah, kau sedang hamil, atau ajak kak Yonatan membawamu jalan jalan, aku tak mau pikiranku mempengaruhimu ," ucap Dea.


"Baiklah, kau berhati-hatilah," ucap Amira.

__ADS_1


"Nak apa kau yakin? kami bisa menemanimu," ucap nyonya Maureer tak tega.


"Benar adik ipar, jika kau merasa sedih, kami bisa membawamu berkeliling," ucap Adam .


"Benar adik ipar, jangan menyimpan kesedihanmu sendiri!" ucap Mike yang juga khawatir dengan keadaan Dea.


Dea tersenyum, dia dapat merasakan ketulusan orang-orang di sana.


" Papa, Mama, kakak ipar dan kalian semua, tenanglah aku tidak berpikiran sempit, dalam beberapa hari ke depan akan ada berita baik untuk kalian, untuk saat ini biar aku menenangkan diri dulu," ucap Dea.


" Hah... baiklah, tapi jika ada apa apa langsung kabari!" tegas tuan Maureer yang dibalas anggukan kepala oleh Dea.


"Aku ingin Lucy dan Ruka ikut bersamaku," ucap Dea.


" Baik kak! aku akan menemani kakak!" Lucy langsung merangkul Dea dengan penuh semangat, demikian Ruka langsung berdiri di sisi wanita itu.


Akhirnya seluruh anggota keluarga, pelayan dan teman teman yang lainnya pergi dari tempat itu.


Dea masih berdiri di sana sambil menatap kepergian mereka semua.


Tetapi ekor matanya sejak tadi sudah mengawasi tiga pria berbadan kekar yang tampak mengawasi mereka dari pintu masuk dan beberapa pria lain yang tersebar di sekitar area bandara itu.


"Kalian temani aku ke rumah sakit!" ucap Dea.


" Rumah sakit!? nyonya muda sakit apa!?" tanya Ruka terkejut.


" Benar kak, apa kakak sedang tidak enak badan!?" tanya Lucy.


Ruka dan Lucy saling menatap dengan wajah bingung. Apa yang dimaksud Dea sebenarnya.


" USG? buat apa kak? kakak kan tidak hamil!?" celetuk Lucy.


" Benar nyonya, buat apa melakukan USG? apa anda sedang ha..." Ruka terdiam, demikian Lucy.


Keduanya menatap Dea dengan wajah syok.


" Ka.. kakak... se.. sedang hamil!?" mata Lucy membulat sempurna.


Dea tersenyum menepuk perutnya sambil mengangguk lembut.


"Wa.. waww!!" seru Ruka tiba tiba dengan wajah terkejut bahkan sampai mundur beberapa langkah ke belakang hingga...


Bruk!!


Dia menabrak seseorang yang berdiri di belakangnya.


" Perhatikan langkah anda nona!" ucap pria berwajah dingin dengan tatapan tajam itu.


" Ma.. maaf," ucap Ruka yang langsung menghampiri Dea .

__ADS_1


" Jadi anda sedang hamil nyonya!? wahh ahhaha.... ini berita baik!!" ucap Ruka yang sangat bahagia.


"Sudah berapa usianya?" tanya Ruka.


" Baru tiga minggu," ucap Dea.


" Wahhh!! selamat nyonya!!" ucap Ruka lagi sambil tersenyum bahagia.


Lucy pun demikian, dia menatap Dea dengan mata berbinar-binar dan langsung memeluk Dea dengan erat," selamat kak!! Kak Gara pasti akan sangat senang!!' ucap Lucy.


" Terimakasih, tapi kakak mohon jangan beritahukan hal ini pada Sagara, atau dua akan membatalkan pengobatannya!" tegas Dea.


" Jangan sampai dia tahu, tunggu hingga proses pengobatannya berjalan, aku sendiri yang akan memberitahukannya," jelas Dea.


Ruka dan Lucy mengangguk penuh semangat.


" Baik Nyonya!!' seru Ruka yang sangat senang.


Gadis itu begitu menyukai anak-anak, mengetahui nyonya mudanya sedang mengandung membuatnya begitu bahagia tak sabar ingin bertemu keponakannya.


"Wahh hahahah..." Ruka melompat lompat dengan riang sambil menggenggam tangan Dea.


" Saya tidak sabar nyonya, apa dia laki laki atau perempuan? kembar atau tidak!? bagaimana keadaannya? apa sudah bisa menendang!?" celetuk Ruka yang sangat penasaran.


" Pfthh... hahaha..." Dea dan Lucy tertawa cekikikan mendengar pertanyaan Ruka.


" Sepertinya anda kebanyakan tidur saat pelajaran Biologi nona, janin berusia tiga Minggu masih sekecil kacang tanah, belum jelas jenis kelamin, belum memiliki bentuk hanya seperti gumpalan darah, tetapi itu hidup, pertanyaan macam apa yang anda lontarkan!" suara seorang pria membuat Ruka terhenyak.


"Eh.. be.. benarkan itu!?" ucap Ruka sambil menoleh ke arah pria itu.


" Pfthh bahahah... Ruka kau tidak tahu itu!? " Lucy tertawa terbahak-bahak .


Pipi Ruka bersemu merah karena malu," Yahh.. aku hanya sangat bersemangat, " ucap Ruka sambil tersenyum kikuk..


Dea terkekeh, dia menatap pria bertubuh tegap, tinggi dengan wajah tampan berkulit sawo matang itu.


"Selamat atas kehamilannya Nyonya," ucap pria itu sambil tersenyum.


" Terimakasih Yefta! " ucap Dea.


Pria itu menatap Dea sambil tersenyum,"Kau baik baik saja!? kenapa tidak ada kabar !? dasar pembuat masalah!!" ucap pria itu dengan ketus sambil menarik tangan Dea.


Dea menggenggam lengan pria itu," Keadaanku sangat baik Yefta, aku tahu kau mengawasiku!! kau tahu segalanya!" balas Dea.


Lucy dan Ruka menatap mereka dengan wajah penasaran, siapa pria itu? dan apa hubungannya dengan Dea!?


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2