
Sinar mentari bersinar begitu indah, cahayanya menghangatkan seluruh bumi. Sinarnya menerangi bunga-bunga indah yang bermekaran dengan kekuatan cinta sang mentari.
Langkah riang ketiga bocah petualang yang sangat suka tantangan itu diiringi dengan tarian kupu-kupu yang mengelilingi mereka sambil menari-nari seolah menyambut kedatangan mereka di gunung yang penuh dengan kejutan itu.
Cukup jarang penduduk mengunjungi gunung itu terutama karena di area itu intensitas hujan cukup tinggi sehingga menyebabkan jalanan licin dan berbahaya. Belum lagi cerita mitos tentang gunung itu telah tersebar ke masyarakat. Orang-orang menyebutnya sebagai gunung cantik berhantu.
Bukan tanpa alasan para penduduk menyebut gunung yang cukup kecil ini sebagai gunung cantik berhantu. Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang sering mendengar suara jeritan misterius dari area hutan dalam gunung itu. Selain jeritan, juga terdengar suara-suara seperti nyanyian wanita di tengah malam.
Siapa yang tidak terkejut, belum lagi beberapa pencari kayu bakar di area itu juga para petani yang pernah lewat dari sana mengaku kalau mereka sering melihat sosok putih dengan kecepatan tinggi mengikuti mereka.
Alhasil, selama beberapa tahun belakangan, gunung itu sepi pengunjung bahkan tak tersentuh oleh penduduk.
Namun semua cerita itu hanyalah mitos tak berdasar bagi ketiga bocah aneh yang memilih menantang maut.
“ menurut pemikiran rasionalku, pasti ada sesuatu di balik suara-suara aneh yang diceritakan oleh warga tadi, karena tak mungkin ada suara jika tidak ada sumbernya!” celetuk Robert sambil menatap si kembar.
Kini mereka berdiri di jembatan panjang, akses menuju hutan belantara di mana sumber suara itu berasal.
“ arrrrrkhhhhhhhhhhhhhh.....”
Tiba-tiba suara teriakan seolah menjerit kesakitan terdengar. Ketiganya cukup terkejut bahkan sampai membuat Rere bersembunyi di bawah ketiak kakaknya.
“ Suara apa itu?” ucap Rere dengan panik.
Tuk!!
Gege menyentil kening adik perempuannya yang menurutnya tidak punya pendirian, kadang takut kadang terlalu pemberani.
“ Dasar aneh, suara itu jelas suara manusia, pasti ada sumbernya, jangan-jangan di sini ada markas mafia seperti di film-film itu!” celetuk Gege sambil menatap ke arah gunung itu.
Tapi dia sama sekali tidak menjauhkan adiknya dari dirinya, dia memeluk dan menepuk punggung gadis itu agar Rere tenang.
“ Benar, pasti ada sumbernya!” ucap Robert yang juga penasaran.
“ Kalau begitu ayo cari tahu!! Siapa tahu ada yang butuh bantuan di sana!” seru Rere yang moodnya sudah berubah lagi.
Robert menatap Rere dengan wajah heran, sedangkan Gege tak heran lagi dengan kelakuan aneh adiknya yang bisa bertukas suasana hati dalam sekejap mata.
“ Ku pikir dia ketakutan tadi,” ucap Robert sambil menunjuk Rere.
Gege tertawa,” kau belum benar-benar mengenal dia kak Robert, ayo kita menjelajah!” ajak Gege.
__ADS_1
Ketika bocah itu masuk ke dalam hutan melewati jembatan besi yang panjang itu. Bagi ketiganya, keberadaan jembatan besi yang mereka temukan itu sebenarnya cukup aneh. Gunung itu jarang dikunjungi tetapi malah ada sebuah jembatan besi sebagus dan tampak sangat kokoh di sana. Jelas-jelas jembatan ini digunakan untuk akses mobil berat.
Anehnya di area yang mereka lewati sebelumnya akses jalan untuk mobil besar memiliki area yang sulit.
“ kak, gunung ini aneh!” ucap Rere sambil menatap ke atas, di mana banyak pohon rindang mengitari mereka.’
Robert merasa ada yang aneh dengan hutan yang baru mereka masuki, perasaannya tidak tenang,” Ge, Re sebaiknya kita kembali atau cari tempat lain, aku merasa aneh dengan hutan ini!” ucap Robert dengan suara berbisik.
Mendengar suara waspada Robert, kedua bocah itu langsung merapat ke sisi Robert.
“ kau benar kak, ada yang aneh, dan tadi aku melihat jejak mobil seperti mobil tempur milik kemiliteran,” bisik Gege.
“ Sebaiknya kita kembali, di beberapa sudut aku menemukan alat pelacak sinyal yang ditempatkan secara acak, aku takut ini berhubungan dengan organisasi dunia bawah , aku sering mencuri dengar pembicaraan Papa di kantornya, orang-orang dunia bawah sedang dalam masa genting saat ini!” ucap Robert,
“ Wahh ini akan seru kak, kita bisa main detektif!” bisik Rere dengan wajah berbinar binar.
“ Re... berbahaya, organisasi seperti itu bukan lawan kita, sebaiknya kita ambil bukti dan laporkan pada Mama!” usul Gege.
Rere memang anak dengan tingkat penasaran yang sangat tinggi. Tetapi jika kedua kakaknya itu sudah berbicara serius dai akan berhenti dan mengikuti kemauan mereka.
“ baiklah, aku akan mengambil gambar dengan kamera digital pemberian kakek!” ucap Rere.
Saat tengah berjalan di antara semak-semak yang lebih tinggi dai tubuh mereka, ketiganya mendengar suara langkah kaki.
“ Ada orang!” bisik Gege yang langsung menarik Robert dan Rere ke dalam semak-semak itu untuk bersembunyi.
Merek melihat dengan mata kepala mereka ada tiga orang pria dan seorang anak remaja perempuan tampak berlari dengan menggunakan jubah putih yang sudah berlumuran darah. Di kaki mereka ada semacam gelang baja tanda pengenal dan di leher mereka terpasang sejenis kabel yang tertanam ke batang leher mereka.
“ kak lihat itu... wahhh ini sudah seperti film-film mafia yang menculik orang untuk dijadikan bahan eksperimen!” ucap Rere dengan penuh semangat.
“ Shhhtt jangan banyak bicara!” Gege menutup mulut adiknya.
Ketiga bocah itu bersembunyi di sana dengan tenang. Jelas di mata mereka beberapa orang itu berlari sekencang kencangnya seolah sedang ketakutan. Tak butuh waktu lama, beberapa pria berbadan kekar dengan seragam berwarna hitam mengejar mereka dengan membawa senjata.
“ Kejar mereka, jangan sampai mereka melewati jembatan!!” ucap orang-orang itu.
Rere, Gege, dan Robert terdiam membeku, tentu saja mereka takut tetapi di sisi lain juga penasaran. Ketiga terdiam membisu seolah mereka menjadi patung saat melihat orang-orang berbaju hitam itu mengejar bahkan tak segan melepaskan tembakan senjata.
“ Kak... bagaimana ini, kita harus segera pergi dari sini!” ucap Rere yang ketakutan. Dia menutup telinganya dan menangis karena suara tembakan itu.
“ Tenang Re...kakak di sini, kakak di sini..” Gege memeluk adiknya.
__ADS_1
Robert menatap area itu, dia merekam semua yang dia lihat tadi. Ketiganya duduk dia tas rumput kering di dalam semak-semak yang cukup rimbun untuk menutupi tubuh mereka itu.
“ kau akan mengambil gambar mereka!” ucap Robert yang bergerak perlahan lahan gar mendapatkan sudut yang pas tetapi tiba-tiba... Krak!! Dia tak sengaja menginjak ranting.
“ kak Robeerrtt..” ucap si kembar dengan wajah panik.
“ Siapa di sana!” suara hardikan salah satu pria berbadan besar itu menggelegar, dia berlari ke arah semak-semak di mana si kembar berada.
“ ba.. bagaimana ini!!!” ucap Gege panik.
Tiba-tiba muncul seorang pria berkaki panjang di depan mereka, menggunakan seragam yang sama tetapi aneh, salah satu tangannya tampak tidak asli.
“ ada apa? Lanjutkan tugasmu!” ucap pria itu dengan nada memerintah.
“ Tadi saya dengar..” pria itu tampak curiga.
“ Suara kakiku, cepat kejar mereka!” ucap pria itu.
“ baik Komandan!” ucap pria itu lalu berlari mengikuti yang lain.
Pria kaki panjang itu tiba-tiba berbalik. Ketiga bocah itu terdiam , menahan nafas mereka sambil menutup mata mereka dengan wajah ketakutan.
“ Cari arah utara matahari terbit, jalan dua ratus meter dan lewati sungai, lalu jalan luruh ikuti pohon pinus, kalian akan menemukan jalan keluar, jangan pernah masuk ke tempat ini lagi!!” ucap pria itu.
“ atau aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri!” ucap pria itu sambil menatap ketiga anak di dalam semak-semak itu.
Rere, Gege, dan Robert menutup mulut mereka dengan wajah syok sambil mengangguk. Mereka menatap pria itu, pria berambut panjang dengan topeng yang menutupi setengah wajahnya, ada bekas luka bakar di sisi kiri wajahnya.
“ Cepat pergi!” ucapnya.
Ketiga bocah itu langsung berlari terbirit-birit sambil menahan tangisan mereka.
Pria itu menatap ketiganya sambil mengeraskan rahang, dia terhenyak, tatapannya tak bisa diartikan, dia terus menatap ketiga bocah itu terutama si kembar.
.
.
.
Like, vote dan komen
__ADS_1