Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 34


__ADS_3

Sagara menatap Gadis yang berada dalam kungkungannya itu.


"bi.. bisa tidak lepaskan aku..." ucap Dea dengan suara gugup.


Jantungnya berdebar tak karuan karena tatapan maut dari Sagara yang berhasil membuatnya salah tingkah.


"Aku akan melepaskan mu selama kau berjanji tidak akan kabur," ucap Sagara.


Dea mengangguk dengan cepat," ba.. baik aku berjanji, aku akan menuruti semua perintah mu!!" ucap gadis itu dengan sungguh-sungguh.


Sagara menatapnya, bibirnya tersenyum tipis, tangannya menepuk pucuk kepala gadis itu dengan lembut.


"Kau cocok untuk seni peran, sangat pintar berakting dan menjaga ekspresi mu!!' ucap Sagara.


Dea hanya mengulum bibirnya," apa itu sebuah pujian? dasar pria kaku!!" batin Dea.


"Kita akan pergi ke sebuah acara, kau pakailah pakaian yang ada di ruang ganti, bersihkan tubuhmu dan bersiap-siaplah, dua jam lagi kita berangkat!" ucap Sagara.


" Acara? aku ikut keluar!?" tanya Dea dengan senyum sumringah.


Sagara mengangguk," tapi tidak untuk kabur!" ucap pria itu dengan tegas.


" cihh... aku tidak akan bisa kabur, yang penting bisa keluar hahhaha..." Dea tersenyum dengan ceria dia berjalan menuju ruang ganti yang terhubung dengan kamar mandi.


Sagara menatapnya sambil tersenyum dengan lembut.


Sagara telah selesai memakai pakaiannya, dan berdiri di dalam ruangannya menunggu Dea yang sejak sejam lalu tak kunjung keluar dari kamar mandi.


"Dea cepatlah, kenapa lama sekali?" tanya Sagara seraya menatap kamar mandi.


" tunggu sebentar!!!" teriak Dea dari dalam ruangan itu.


Gadis itu tampak kesulitan memakai gaun yang diberikan Sagara. Resleting gaunnya macet dan sulit di tarik.


"Dea ada apa? haruskah aku masuk!?" tanya Sagara lagi.


"Tidak!!tunggu sebentar!!" Dea panik, cepat-cepat dia berlari ke arah pintu.


"Arkhh sial, kenapa gaunnya susah dikancing sih!? gaun merek mahal tapi kancing sulit!!! " gerutu gadis itu.


Dea menahan gaunnya agar tidak melorot, dia melangkah dengan berhati hati mendekati pintu kamar mandi yang terhubung langsung dengan ruang ganti yang lebar dan besar, hanya dibatasi dengan tirai besar berwarna maroon.


Dia membuka pintu itu, dan tampaklah Sagara berdiri di sana dengan ekspresinya yang datar sambil menatapnya dari ujung kepala sampai ujung rambut.


“ belum selesai juga? Apa yang sedang kau pikirkan? Kita akan segera berangkat,” omel pria itu.


Dea mengerucutkan bibirnya, tangannya menahan gaunnya di belakang, dia tentu saja kesulitan karena gaun itu.


“ Gaunnya tidak bisa dikancing, resletingnya macet, huh!!” ketus Dea dengan wajah ditekuk sambil keluar dari kamar mandi dengan langkah perlahan lahan . Dia benar benar kesal karena gaun itu menyulitkan dirinya.


Dea berjalan sambil menahan gaunnya, mendekati pintu keluar bangsal itu.


"Kau mau kemana dengan gaun seperti itu!?" Tanya Sagara.


"Mau panggil pelayan, aku kesulitan!!' ucap gadis itu.


"Mana kuncinya?" Tanya Dea sambil menatap Sagara. Dia benar benar berusaha agar gaunnya tidak jatuh.


"Kenapa harus panggil pelayan, dasar bodoh!" Ucap Sagara yang langsung menghampiri Dea. Dia menarik tangan Dea, lalu memutar tubuh gadis itu.


"Ma.. mau apa!?" Tanya Dea panik sambil menahan kuat kuat gaunnya.

__ADS_1


Sagara hanya diam, dia menatap punggung gadis itu, tangan Dea mencengkram erat bagian belakang gaun itu.


"Ka.. kau...


"Biar kubantu!" Ucap Sagara.


"Aku tidak mengijinkan orang lain masuk ke kamarku," ucapnya lagi.


"Ta.. tapi... Aku...


"Apa kau malu? Kita kan suami istri," ucap Sagara sambil tersenyum usil.


Dia menarik tangan Dea dan menahan gaun itu dengan tangannya sendiri.


Glek!!


Dea hanya bisa menelan salivanya dengan kasar. Gugup dan panik bercampur menjadi satu, bagaimana bisa seorang pria melihat punggungnya.


Sagara bisa melihat pendekar kecilnya sedang gugup, bibir pria itu tersenyum, dia sangat senang mengganggu Dea yang sama sekali tidak ingat dengan dirinya.


Sagara menarik resleting gaun Dea, tanpa sengaja, jarinya malah menyentuh dengan lembut punggung mulus seputih susu milik Dea.


Deg deg deg...


Darah kedua orang itu berdesir, jantung keduanya berdegup kencang. Sagara tidak pernah bereaksi berlebihan seperti ini pada seorang gadis, untuk pertama kalinya dia merasa begitu gugup.


Sama halnya dengan Dea, pipinya bersemu merah, bahkan seluruh telinganya sudah seperti kepiting rebus, merah dan panas.


"Ekhmm... Sudah, coba lihat aku!" Ucap Sagara yang masih bisa menjaga ekspresinya meski pipinya tak bisa menjaga rahasia, dia juga tersipu.


Dea berbalik dengan ragu-ragu sambil mengulum bibirnya, dia tak berani menatap Sagara.


Pria itu tersenyum. Barulah terlihat dengan jelas, betapa cantiknya gadis itu dalam balutan gaun berwarna ungu berbahan sutra lembut itu. Gaun cantik tanpa lengan, sangat cocok untuk istri seorang Sagara.


Dea terkejut, dia menatap tubuhnya, gaun itu memang sangat nyaman baginya.


"Be.. benarkah? Apa tidak aneh?' tanya Dea.


Sagara menggelengkan kepalanya," pendekar kecil akan cocok dengan pakaian apa pun " ucap Sagara sambil menepuk pucuk kepala gadis itu.


Dea lagi-lagi dibuat merasakan deja vu, dia ingat kalau dirinya pernah merasakan suasana yang sama persis dengan sosok pria yang sampai saat ini masih dia cari keberadaannya.


"Apa kau ingat aku?" Tanya Sagara sambil menatap gadis itu.


Dea terdiam sejenak, dia menatap Sagara dan berusaha mencari tahu arti kata kata suaminya.


" Apa di masa lalu kita pernah bertemu? Aku tidak yakin tuan Sagara," balas gadis itu dengan polosnya.


Sagara tersenyum," sudahlah kalau tidak ingat, kau akan tahu sendiri nanti," ucap Pria itu.


Dea hanya diam saja, mencerna apa maksud perkataan Sagara barusan


"Apa sih nggak jelas banget," gumam Dea.


Sagara hanya tersenyum," apa sebaiknya ku beritahu sekarang?" Pikir pria itu.


"Sebenarnya kita pern...


Tok.. tok.. tok!!


Sagara berhenti bicara saat suara ketukan pintu terdengar.

__ADS_1


"Tuan muda, maaf mengganggu tetapi kita harus tiba dalam waktu 30 menit," ucap Lin dari luar.


"Siapkan mobil!" Ucap Sagara.


"Tuan, kau bilang apa tadi?" Tanya Dea penasaran.


Sagara menatap istrinya. Dia menaruh tangannya di pucuk kepala gadis itu lagi," bukan apa apa, dan jangan memanggilku tuan, atau kau ku cium!!' ancam Sagara


Hempkhh!


Dea sontak menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna," tidak mau!!" Ucap gadis itu panik.


" Hahah.... Dasar pembuat onar, ayo kita pergi!!" Ucap Sagara sambil menarik tangan Dea membawa gadis cantik itu keluar dari ruangannya.


Sagara menggenggam tangan Dea, berjalan menuju mobil van besar yang akan mereka naiki untuk menghadiri acara ulangtahun presdir Lee dari perusahaan yang sedang diincar oleh Sagara untuk bisnisnya.


“Wah nyonya muda, Anda sangat cantik!”puji Ruka yang penampilannya hari ini cukup berbeda dari biasanya.


Dia mengenakan pakaian bodyguard, sama seperti Lin dan Bima. Tampaknya mereka bertiga akan menjaga pasangan itu di acara hari ini. Sedangkan Barak harus kembali ke rumah sakit untuk bertugas.


Dea menatap Ruka sambil tersenyum,” penampilanmu?” tanya Dea.


Ruka membalas senyuman Dea,” saya akan jadi pengawal nyonya hari ini!” ucapnya.


Dea cukup terkejut, acara besar seperti apa yang sebenarnya akan merkea datangi sampai seorang gadis yang dibuang oleh keluarganya sendiri haru memiliki pengawal pribadi?


“ Memangnya kita mau ke acara besar apa sampai harus bawa pengawal?” tanya Dea penasaran.


“ Acara Seminar bisnis sekaligus ulangtahun istri calon kolega bisnis kita, kau akan tahu saat tiba nanti,” jelas Sagara seraya membukakan pintu untuk istrinya.


Dea masuk ke dalam mobil demikian Sagara. Teman temannya yang lain naik mobil terpisah, sedangkan Lin berada di kursi depan van yang dinaiki oleh keduanya.


“ Ulang tahun? Apa perlu membawaku? Kalau begitu akan banyak orang penting di sana, kenapa membawaku, aku ini tidak dianggap keluargaku, justru kau akan dihina oleh mereka!!” ucap Dea yang tanpa sadar menggenggam tangan Sagara dan menatapnya dalam jarak yang begitu dekat sampai membuat suaminya itu terhenyak.


“ Kau yakin membawaku tuan? Kau akan dihina nanti!!”ucap Dea sekali lagi.


Sagara terdiam sejenak, dia menatap kedua netra Dea, tatapan khawatir yang tulus terlihat jelas di kedua mata gadis itu.


Sagara mendekatkan wajahnya ke arah Dea hingga posisi mereka sangat dekat, membuat gadis itu terdiam membeku di depan Sagara.


“ Apa kau mengkhawatirkan aku pendekar kecil?” tanya Sagara sambil mengusap rahang gadis itu.


“ i.. itu... aku... ekhm.... ma..maaf!” ucap Dea yang langsung menghindar dari tatapan menusuk Sagara.


Pria itu tersenyum lagi, “ Tidak perlu khawatir, sudah biasa dengan hal seperti itu," ucap Sagara sambil menepuk pucuk kepala Dea.


“ Dasar, kepalaku sebentar lagi akan semakin pendek kalau kau tepuk terus!!” ketus Dea.


“ Kau kan memang si kaki pendek!!” ejek Sagara.


Dea menatap Sagara sambil menggembungkan pipinya,”kalian yang punya kaki panjang terlalu sombong, dasar tiang listrik!” kesal gadis itu sambil menatap ke arah lain.


Sagara menatap istrinya dengan tatapan lembut, jantungnya kembali berdebar. Baru dia sadari kalau niatnya melindungi Dea ternyata membawa keuntungan lain baginya, bahwa dirinya bisa menikmati suasana aneh seperti ini, bahwa dirinya bisa merasakan gejolak aneh yang belum pernah dia rasakan.


Dia menatap gadis itu, “ sekali lagi kau menyelamatkanku pendekar kecil,” ucapnya pelan.


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


^^^POV author: WAHAI CUPID YANG BIJAKSANA, DIMANAKAH AKU DAPATKAN SEORANG SUAMI SEMANIS SAGARA... AKU MAU SAT!!!🤣^^^


__ADS_2