Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
S2 Adam dan Gadis Desa


__ADS_3

Rumah Sakit,


Adam bangun dari tidurnya yang tak nyenyak. Sekujur tubuhnya terasa pegal karena dia berbaring di atas kursi kamar inap yang tak empuk.


Rasanya pinggangnya seperti terbakar dan encok tak karuan karena posisi tidur yang salah.


"Arkhh... Sialan, badanku pegal semua!" Pria itu melenguh kesal sambil menepuk-nepuk pinggangnya yang terasa sakit.


Semalaman dia tidur di atas kursi itu dengan posisi yang sangat tidak nyaman.


Adam menghela nafas, dia tak lagi bisa terlelap. Rasanya sangat lelah dan letih.


Dibukanya matanya, dia bangkit berdiri sambil meregangkan tubuhnya.


Kemejanya tampak berantakan, wajahnya kusut dan kantung matanya terlihat jelas.


Drrrt.... Drrrt...


Ponsel pria itu berdering. Sungguh sebuah kebetulan yang sangat tepat. Dia menatap benda pipih itu dan mendapati nama Sagara di sana.


" Kak kenapa kau di rumah sakit!? Kami mencari mu semalaman, ada apa denganmu!?" suara Sagara terdengar khawatir.


Adam menghela nafas berat, di saat yang sama kedua netranya bertemu dengan netra hitam pekat sang gadis Desa yang terbangun dari tidurnya.


Tampak gadis lugu dengan luka lebam di wajahnya itu meringkuk ketakutan di atas kasur sambil menatap Adam dengan wajah terkejut.


"Aku baik-baik saja, katakan pada Papa dan Mama kalau aku sudah menemukan gadis itu, kami di rumah sakit sekarang," ucap Adam.


" Hah... Ku pikir terjadi sesuatu padamu, karena seharian moodmu tidak bagus!" Sagara terdengar lega karena kakaknya baik-baik saja.


Adam tersenyum tipis," dasar bocah ini, aku bukan anak kecil, aku bisa menjaga diriku, kau fokuskan saja perhatianmu pada anak anak dan istrimu!" ucap Adam.


" Haihh, maunya juga begitu kak, aku tau tak ada yang bisa menyentuhmu, tapi istriku begitu cerewet, ia memintaku melacakmu karena takut kau galau dan malah mengakhiri hidupmu!" jelas Sagara sambil setengah tertawa.


" Aku tidak sebodoh itu Sagara, sudahlah, katakan pada Papa dan Mama untuk datang ke rumah sakit, aku tak bisa mengurus gadis ini lebih lama lagi, masih banyak yang harus ku kerjakan," ucap Adam sambil menatap Karina dengan tatapan dingin yang menakutkan.


" Jangan terlalu keras padanya kak, siapa tahu dia jodohmu!!" suara Dea terdengar begitu ceria di seberang sana.


" Astaga Dea, kau benar benar ya, dia bukan tipe kakak, ada ada saja!"


"Sudahlah, ku tutup dulu, kalia suami istri sama sama menyebalkan!" ketus Adam sambil menutup panggilannya secara sepihak.


Wajahnya yang tadinya tersenyum manis dan penuh kehangatan langsung berubah menjadi dingin dan menyeramkan begitu percakapan itu selesai.


Karina memeluk kedua kakinya dengan wajah takut. Dia ingat pria itu, pria yang dia senggol saat di restoran tadi malam dan juga pria yang menyelamatkan dirinya dari penjahat.


"Kau!" Adam menatap Karina sambil berkancah pinggang.


"Siapa namamu!?" tanya Adam dengan ketus.


"Sa-saya.. Sa-saya ka-kar.."

__ADS_1


"Bicara yang jelas!" senggak Adam.


Pria itu tak habis pikir. Mau apa seorang gadis desa sepolos itu datang ke kota sendirian. Berjalan di tengah malam di tempat yang sepi.


Karina terdiam. Dia terlihat takut dengan sosok Adam yang menyeramkan.


"Hah... menyebalkan!" Adam menghela nafas kasar. Dia berjalan mendekati brankar Karina, lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sisi tempat tidur gadis itu.


" Bicara!"


Adam menatapnya dingin.


"Sa-saya Karina Mahendra tuan," ucap gadis itu tergagap.


" Darimana asalmu? kenapa kau berjalan sendirian di tengah malam!? Apa kau mau mati!? "


"Seorang gadis bertubuh kecil bahkan beratmu tak seberat brankar ini dengan beraninya jalan di tengah malam, apa kau mau cari masalah? Atau mau jadi berita duka!?"


" Kau tidak memikirkan orangtuamu atau keluargamu yang menunggumu di rumah!?" oceh pria itu.


Entah kenapa Adam sangat ingin menceramahi gadis bodoh itu. Dia kesal karena Karina seolah tidak peduli dengan hidup yang bisa berakhir kapan saja di tangan-tangan orang gila itu.


"Sa-saya tidak punya keluarga," ucap Karina sambil menunduk.


Kedua matanya menganak sungai, dia gadis yang cengeng dan juga terlalu polos.


Adam lagi lagi menghela nafas kesal," ck... Sudah tahu begitu, kau harusnya menjaga dirimu baik-baik!"


" Sudahlah, kau berbaring dan istirahat dengan baik, yang kau cari akan segera datang beberapa menit lagi!" ucap Adam.


" A-apa anda mengenal saya?" tanya Karina.


Adam bangkit berdiri," Aku tidak kenal," jawabnya ketus sambil menekan tombol di dekat brankar Karina lalu berjalan menuju sebuah kursi.


Adam duduk di sana, mengeluarkan laptop dari dalam tas yang dia minta diantarkan asistennya kemarin malam.


Pria itu memakai kacamata nya, dia tampak hebat dengan benda itu. Mulai bekerja seperti orang gila.


Karina hanya diam dengan wajah takut. Dia baru pertama kali datang ke rumah sakit sebesar itu, dia menatap semua peralatan yang tampaknya maha dan canggih di dalam ruangan itu.


Matanya menelusuri seluk beluk ruangan yang menurutnya sangat megah itu.


" Ruangan ini besar sekali, seperti kantor kepala desa," gumam Karina dengan polosnya.


Dia menatap jarum infus yang tertancap di tangannya.


"Sakit..." gumamnya sembari menyentuh tangan nya yang dipasangi infus.


Ditatapnya lagi benda yang mengeluarkan kepulan embun di sudut ruangan itu.


"Apa itu panci pemanas air seperti di televisi!? Kecil sekali! "

__ADS_1


"bukankah airnya sudah mendidih? Kenapa terus menerus di masak?"


"Benda apa itu? Kenapa mirip seperti pengupas wortel tapi bentuknya berkali-kali lipat lebih besar??" dia menunjuk AC.


Karina bergumam, menatap segala hal baru yang dia temukan di dalam ruangan itu.


Dia sangat penasaran, sampai dia bergerak turun dari ranjangnya.


Dia melangkah tertatih, dia lihat tubuhnya yang dipasangi pakaian pasien," Siapa yang mengganti pakaianku!? Apa dia!?" Mata Karina membulat sempurna.


"Perawat yang mengganti, jangan berpikir macam-macam! "


"Memangnya apa yang bisa dilihat dari tubuh kurusmu itu!?" ketus Adam.


Karina mengerucutkan bibirnya. Ternyata Adam mendengar kata-kata nya.


Gadis itu melangkah perlahan-lahan mendekati Purifier Air yang tengah mengeluarkan kepulan air.


Dengan wajah penasaran dia mendekati benda itu, bahkan mendekatkan wajahnya ke arah kepulan air itu.


"Ini apa? Di mana airnya? Kenapa ada asap asapnya!?" gumam Karina yang malah semakin mendekat saking penasarannya.


"Jangan terlalu dekat, embunnya tidak baik!" Adam dengan nada kesal menarik bahu gadis itu.


Karina yang begitu ringan malah hampir terjatuh, dia berjalan mundur dengan sempoyongan karena tenaga Adam yang terlalu kuat.


Kedua kakinya tidak seimbang hingga dia terayun.ke belakang,.


"Ehhh.... Aduhh!!"


Grep!!


Tangan kekar Adam meraih pinggang gadis itu dan menopang tubuh Karina agar tidak terjatuh ke lantai.


Kedua pasang mata itu saling bertatapan satu sama lain. Karina tampak tertegun dengan wajah polosnya menatap pahatan indah di hadapannya.


"Wah... Tuan sangat tampan, seperti om Sharukh Khan!" celetuk gadis itu dengan polosnya. Jarinya bergerak sendiri menyentuh jakun Adam.


Glek!


Adam terhenyak, " Sedang apa kau!?" Pria itu kesal. Dilepaskannya Karina dan langsung berjalan menjauh.


"Jangan bergerak sembarangan, dasar kampungan!" ketus Adam.


.


.


.


Hay jangan lupa dukung author ya🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2