
Sagara membawa Dea berkeliling, gadis itu tampak menikmati es krim yang diberikan lelah Sagara.
" Apa kau benar benar tidak mau? ini sangat enak?" tanya Dea sambil mengarahkan satu sendok es krim ke arah Sagara.
" Aku tidak suka makan makanan manis," balas Sagara.
Dea mengangguk," baiklah kalau begitu!" balas gadis itu sambil menikmati es krimnya sampai mulut nya belepotan.
" Kau ini bocah ya? makan es krim saja tak benar!" ucap Sagara menghentikan langkah Dea.
Gadis itu mendongak, pipinya terkena es krim, membuatnya terlihat seperti bocah SD yang dibawa pamannya jalan jalan ke mall.
Dengan pelan Sagara membersihkan sisa es krim di pipi Dea menggunakan sapu tangannya," Makan yang rapi, bocah!" ejek Sagara.
"cihh.. dasar tiang listrik tegangan tinggi, gak bisa ya lihat orang senang!!" celetuk Dea dengan wajah kecut.
Gadis itu berjalan mendahului Sgaara sambil terus menikmati es krimnya.
Sagara tersenyum tipis melihat tingkah Dea yang menggemaskan.
"Dea bukan ke sana, tapi ke arah sini!!" panggil Sagara.
Ckiitt!!!
Gadis itu berhenti mendadak kalau memutar haluan menuju arah yang ditunjuk Sagara.
Gadis itu mengikuti langkah panjang si kaki panjang di depannya.
Jika bagi Sagara hanya butuh satu langkah, maka Dea harus berjalan dua langkah untuk mengimbangi jenjang kaki Sagara.
" Dasar tidak pengertian, aku tahu kakimu panjang, tapi tunggulah aku!!' gerutu Dea sambil mengikuti Sgaara dari belakang, berjalan menunduk mengikuti langkah pria itu hingga....
Bruk!!
Dea menabrak punggung Sagara dan membuatnya hampir terpental ke belakang.
" Dasar ceroboh, perhatikan jalanmu!!!" hardik Sagara.
Dea hanya tertawa cengengesan sambil memasang wajah menggemaskan.
" Astaga, aku seperti sedang membawa anak bayi ke taman bermain, berjalan di sampingku!!" ucap Sagara seraya memijit pelipisnya.
Dea mengangguk dengan patuh, dia berjalan di samping Sagara sambil dipegangi oleh pria itu di punggungnya, jika tidak dia bisa lari ke mana mana.
__ADS_1
" Kita beli pakaian dulu!" ucap Sagara.
" Pakaian? di rumah banyak? buat apa lagi tuan Bos!?" tanya Dea heran.
" Untuk pesta kejutan, kau pilihlah yang menurutmu cocok untuk mengacaukan pesta ulang tahun!" ucap Sagara.
" Pesta ulangtahun ? ahah!!!" Dea mendapat sebuah ide.
Puk!!
Dia memberikan es krimnya pada Sgaara," Pegang dulu, jangan dihabiskan!" ucap Dea lalu gadis itu berjalan terburu-buru memilih beberapa pasang pakaian sesuai ucapan Sagara.
Pria itu tak bisa berkata-kata dengan kelakuan Dea. Seperti anak bayi yang sangat aktif. Dea bergerak ke sana kemari seolah energinya tak ada habisnya.
" Dia benar benar gadis yang aneh! dan kau juga aneh, malah jatuh cinta padanya" gumam Sagara sambil menatap tempat es krim yang sudah kosong.
" Ini juga sudah habis, apanya yang mau dimakan!? dasar!"
Mau bagaimanapun Dea bertingkah, mau bagaimana pun penampilan gadis itu, Sagara akan terus menyukai Dea apapun dan bagaimana pun kondisinya.
Sagara duduk dengan tenang di ruang tunggu sembari menatap tirai pembatas ruang tunggu. Sesekali dia memeriksa ponselnya, lalu menatap ruangan itu dengan tatapan menelisik.
Tak butuh waktu lama, Dea keluar dari dalam ruangan ganti.
Para pelayan yang melihat penampilan Dea dibuat tertawa karena Dea memilih mengenakan sarung panjang yang diikat sedemikian rupa, rambutnya dikuncir dua, wajahnya di coret coret dengan lipstik dan make up, dia mirip dengan onde warna warni yang dipajang di warung.
Sagara menoleh,” pfthhh bhahahahaa.. kau mau ronda malam? Apa yang kau pakai Dea? Kenapa kau pakai Sarung? Dan wajahmu... bhahahhahaa... kau seperti ondel ondel!” Sagara tertawa terbahak bahak melihat penampilan Dea.
Dea terkikik geli, dia juga tahu dirinya sangat jelek sekarang. Sebenarnya dia ingin menghibur Sagara sebagai balasan karena Sagara sudah berbuat baik pada dirinya.
“ Hahahhaa... bagaimana penampilanku? Apakah sangat cocok untuk mengacaukan pesta ulangtahun seseorang?” ucap Dea sambil tertawa cengengesan.
Sagara mengangkat jari jempolnya,” sangat cocok hahaha.. kau akan jadi badut kalau masuk ke pesta ulang tahun orang, Cepat ganti!!” ucap Sagara yang langsung berubah dari nada girang ke nada tegas bak seorang raja.
Dea terkekeh, dia mengambil ponselnya dan mendekat ke arah Sagara.
“ tuan muda, lihat aku! Momen seperti ini harus kita abadikan!” ucap Dea sambil menyalakan kamera ponselnya dan..
Cekrek!
Satu jepretan foto berhasil dia tangkap. Sagara tampak cemberut di foto itu,” hahaha... lihat wajahmu seperti pantat ayam yang berkerut, ditekuk terus, dasar tukang marah!!” celetuk Dea sambil mencolek hidung mancung Sagara.
Deg deg deg!
__ADS_1
Jantung Sagara berdebar kencang, pipinya bersemu merah. Diperlakukan dengan manis oleh seorang gadis cantik membuatnya salah tingkah.
“ ekhmm.... Sa.. sana ganti baju yang lebih bagus, aku akan malu membawamu jika kau memakai sarung, kau juga akan diejek!” celetuk Sagara sambil mendorong Dea masuk ke dalam ruangan ganti.
“ Dasar pembuat onar!” Kesal Sagara.
“ wleeekkk... aku tahu itu hahaha..” balas Dea sambil menjulurkan lidahnya mengejek Sagara.
Sagara kembali duduk di kursi, dia tersenyum melihat tingkah Dea yang sangat menghibur hatinya. Rasa sakit di dadanya sedikit berkurang, penyakitnya yang membuat dia risau memperburuk suasana hatinya, tetapi kehadiran Dea seolah menjadi obat bagi pria itu.
“ Bagaimana aku akan menjaganya nanti jika aku penyakitan seperti ini? Aku hanya akan membuatnya terbebani, aku harus berkonsultasi dengan Dokter Arthur,” batin Sagara.
Pria itu duduk menunggu lagi. Dia menatap ponsel istrinya, dibukanya ponsel itu dengan kode yang sama dengan kode ponselnya.
“ Dia memakai tanggal pernikahan sebagai password nya, gadis pintar!” gumamnya dengan wajah puas.
“Coba kita lihat apa yang sudah disi nyonya muda kita di sini,” gumam Sagara sambil memeriksa galeri foto istrinya.
Dia mendapati banyak foto dirinya yang ditangkap oleh Dea, siapa sangka pengambilan gambar Dea juga cukup bagus.
“ Dia fotografer yang hebat,” ucap Sagara.
Jarinya menggulir layar itu, menatap semua foto yang diambil Dea saat berkunjung ke perusahaan tadi. Pria itu tersenyum saat melihat selfie Dea dengan latar belakang suasana kantor.
Lalu ada foto musuh abadi yang tampaknya sudah bisa ditebak isi percakapan mereka melalui gambarnya saja,” Lin dan Anna, kalian memang tidak bisa akur!” ucap Sagara.
Saat dia asyik menatap ponsel itu, suara seseorang mengganggu konsentrasinya.
“ Kak Sagara, sedang apa kau di sini!!” Suara lembut seorang gadis berhasil membuat Sagara berbalik.
“ lucy? Kau kah itu?” Ucap Sagara menoleh.
Seorang gadis cantik berambut pendek dengan mata bulat besar dan wajahnya yang kecil terlihat berdiri di depan Sagara dengan kerumunan orang yang mengintip mereka dari luar etalase toko.
“ Kemari kak, aku tidak suka jadi bahan tontonan saat ini!” gadis itu menarik tangan Sagara dan membawanya masuk ke salah satu ruangan ganti.
“Kekacauan apa lagi yang kau perbuat Lucy!” Senggak Sagara sembari mengikuti langkah kaki Lucy memasuki ruang ganti di depan mereka.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen