
Seluruh pelayan sedang berkumpul di dapur mansion menatap hal konyol yang sedang dilakukan oleh nyonya muda mereka.
" Nyonya tolong perhatikan keselamatan anda, bahan bahan ini mudah meledak, apalagi kalau sampai anda mencampur bahan kimianya seperti itu!!!" Tampak Siska sedang menahan tangan Dea agar menghentikan eksperimennya yang gila dan beresiko.
" Sshuuut Diam dan tenang saja, ini tidak akan meledak, aku hanya ingin membuat campuran bahan pelembut kulit, bagaimana mungkin itu akan meledak!" Celetuk Dea sambil tersenyum manis yang malah meluluhkan hati para pelayan itu.
Siska tak kuasa menahan rasa senangnya melihat senyuman bahagia Dea, demikian pelayan lain tapi di satu sisi mereka semua khawatir dengan apa yang sedang dilakukan nyonya muda mereka.
"Nyonya hentikan, ini berbahaya, bahan bahan ini mudah meledak, harus digunakan dengan kadar yang benar, jika tidak malah akan menyebabkan ledakan!!" Ucap Luhan.
"Ishhh kalian ini cerewet sekali, ini tidak akan meledak, kan sesuai takaran, kenapa kalian bawel sekali sih, lanjutkan saja pekerjaan kalian!" Omel Dea yang malah tanpa sadar memasukkan semua bahan itu bersamaan.
"NYONYA JANGAN!!!" Pekik mereka semua dengan wajah panik. Sontak mereka semua berlari keluar dari dapur itu, Siska dan Luhan langsung menarik nyonya muda mereka.
Dan tiba-tiba....
Duar!!!
Suara ledakan panci terdengar menggelegar dari dalam dapur sampai membuat semua orang berteriak ketakutan.
"Ya Ampun benar benar meledak bhahahahhahaha...." bukannya takut, Dea malah tertawa cekikikan melihat asap membumbung tinggi ke atas langit. Tak ada korban, ledakan itu juga tak parah, hanya reaksi bahan kimia yang bersatu namun suaranya memang sangat mengejutkan.
" Nyonya muda!!!" Teriak mereka merengek.
" Bahahahhahaha... Lihat wajah kalian semua jadi hitam hitam seperti macan tutul bahahahhaha..... Bahahahha..." Dea tertawa terbahak-bahak menatap mereka semua.
Para pelayan juga tertawa karena wajah mereka jadi cemong cemong akibat asap hitam itu.
" Hahaha... Nyonya juga sama," balas mereka.
Semuanya tertawa bersama-sama di sana. Jelas suasana ini adalah suasana yang sangat berbeda dengan suasana mansion sebelumnya.
Karena suara ledakan itu sampai terdengar ke bangsal perawatan, Lin dan Barak langsung memeriksa lokasi ledakan diikuti Sagara dan Bima dengan rasa penasaran.
Jelas kedua netra mereka melihat asap yang sudah mulai menghilang, tapi anehnya tak ada lagi suara teriakan panik malah hanya terdengar suara gelak tawa dari arah dapur utama.
"Sagara, perubahan macam apa ini!?" Tanya Bima sambil tersenyum menatap Sagara.
" Aku tidak merubah apa pun, tapi kenapa mereka begitu senang!?" Balas Sagara yang juga penasaran dengan apa yang terjadi.
"Kalau penasaran kita lihat saja!" Ucap Bima penuh semangat.
Mereka berjalan menuju dapur dan semakin terdengar jelaslah suara gelak tawa di area dapur itu.
__ADS_1
Seorang gadis cantik yang duduk di atas tanah dengan wajah belepotan tertawa cekikikan diantara para pelayan.
Mata Sagara dan teman-temannya disuguhkan pemandangan aneh.
"Apa yang terjadi di sini!?" Sekretaris Lin terbelalak.
" Hahhahaha... Apa apaan ini!?" Bima dan Barak tertawa melihat mereka semua tampak belepotan di sana sini.
Tapi lain halnya dengan Sagara, mata pria itu hanya memerangkap Dea, perempuan yang sudah menjadi istrinya. Menangkap wajah manis dan mempesona Dea yang sedang tertawa terbahak bahak di tengah tengah para pelayan yang juga tertawa bersamanya.
Dia pikir mansion itu akan semakin suram karena dia telah mengurung mereka semua di sana selama berhari-hari. Dia juga pikir, Dea akan menangis bosan karena ulahnya.
Tapi kenyataannya berbeda dengan apa yang dia lihat saat ini. Suasana di mansion itu malah lebih menyenangkan dibandingkan dengan suasana di luar.
Dea tampak membawa kebahagiaan bagi penghuni mansion itu. Jelas Sagara dibuat tertegun dengan sikap gadis aneh itu.
Dia melirik lengannya yang dibalut perban, dia juga tahu kalau Dea yang membantu Merawatnya bahkan menolak siapapun datang membantu karena takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti insiden racun itu.
"Tapi bagaimana bisa dia sepeka itu? Bagaimana Dea bisa melakukan hal hal ini? Apa dia sering mendapat ancaman?" Batin Sagara penasaran.
"Apa yang kalian lakukan!?" Sagara membuka suaranya.
Mendengar suara monster jahat itu, sontak mereka semua terdiam membeku dan langsung berbaris lalu duduk berlutut ketakutan di depan Sagara. Pria kejam yang menjadi majikan mereka.
Meliha reaksi para pelayan, Dea berdecih dan menatap kesal ke arah Sagara tanpa takut kalau pria itu bisa membunuhnya dalam sekejap.
"Nyo.. nyonya, anda tidak boleh bicara seperti itu, tuan muda adalah suami anda, anda harus menghormatinya!" Tegur Lin yang tak suka kalau tuan mudanya direndahkan seperti itu.
Dea menutup mulutnya," haishh sial, mulutku ini keterlaluan, aku tidak seharusnya melakukan itu!" Batin Dea merutuki dirinya sendiri.
Gadis itu berjalan ke barisan depan lalu berdiri di hadapan Sagara sambil tersenyum lembut sampai membuat Sagara bahkan Bima terpana oleh keanggunan gadis itu.
" Maafkan saya tuan muda Sagara yang bijaksana dan baik hati seperti ibu peri, " celetuk Dea sambil membungkuk tiga kali seperti yang dilakukan para pelayan.
" Pffhtt ibu peri, hahah dia malah lebih mirip Ibu tiri!" Barak tertawa kecil di ujung sana.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa dapurku sampai kacau seperti itu!?" Tanya Sagara dengan nada membentak pastinya.
Dea terkejut," apa dia harus membentak!? Dasar batu!" Gumam Dea menggerutu di depan Sagara.
" Apa kau tidak mau menjawab!? RUKA, SISKA KEMARI!!" Teriak Sagara.
"Eh.. eh ehh.. ja.. jangan jangan jangan!!" Dea menghalangi mereka berdua.
__ADS_1
" Biar ku jelaskan!" Ucap Dea sambil tersenyum di depan wajah Sagara.
" Tadi aku sedang membuat eksperimen untuk bahan kosmetik ku, tapi karena salah takaran, dan malah tertuang semua ke dalam panci, akhirnya meledak, tidak ada korban jiwa, tidak ada yang terluka, semua aman kecuali dapurnya!!" Jelas Dea panjang lebar sambil berharap Sagara tidak murka.
Pria itu menatap sekeliling, para pelayan yang tadinya tertawa, sekarang malah terlihat sangat ketakutan.
" Kalian semua berdirilah!" Ucap Sagara.
"Baik tuan" balas mereka.
Sagara lalu menatap Dea, sekujur tubuh gadis itu sangat kotor, wajahnya juga dipenuhi bercak hitam, " Dasar bocah!' ucap Sagara yang tangannya malah menempel di pipi Dea.
Dia mengusap noda hitam di pipi gadis itu sambil terus menatap wajah cantik menggemaskan itu.
Deg deg deg...
"Ya Tuhan asrkrhhh meleyot aku maaaas.... Panas euui panas, jantungku gak aman, berdegup degup dag digdug serrrhh asrrkhhh mimpi apa aku dibelai cowo tampan!!!" Batin Dea berteriak kegirangan.
Tapi jelas di mata Sagara pipi gadis itu malah memerah Semerah tomat dan suhu tubuhnya semakin panas.
" Ada apa denganmu, pipimu memerah, Barak periksa dia, apa dia terluka karena ledakan tadi!!" Teria Sagara yang malah panik karena suhu tubuh Dea tiba tiba meningkat.
Dea terkikik geli, demikian yang ada di sana, mereka semua menahan tawa karena reaksi Sagara yang berlebihan.
" Tuan Sagara," Dea menyentuh tangan Sagara yang terletak di pipinya," ini namanya merona karena malu, saya pertama kali dia sentuh pria di pipi, ya pasti malu dan guguplah hahaha... Itu saja tidak tahu!!" Ejek Dea sambil tersenyum malu malu.
Sagara terkejut, dia melihat tangannya, jujur saja ini juga pertama kalinya bagi dia melakukan hal konyol itu.
"Eh.. ekhmm.. " Sagara langsung menarik tangannya dari wajah Dea, pipinya juga malah ikut merona.
"Wahh wajah tuan juga ikut merona bahahahhaha.... Cieee tuan malu ya sama istri sendiri!!" Goda Dea sambil menunjuk wajah pria itu.
"Ti.. tidak seperti yang kau pikirkan, dasar pengacau!!" Ketus Sagara, dia langsung pergi dari sana dengan wajah kesal.
" Bwahahahhahaha.... Malu malu kucing!!" Celetuk Dea.
Lin, Barak dan Bima juga semua pelayan yang ada di sana dibuat tertawa dengan tingkah mereka berdua. Terutama melihat wajah Sagara yang memerah karena malu.
"Wahh dia bisa malu juga, ini bagus hehehehehhehe......" gumam Dea sambil tersenyum manis.
.
.
__ADS_1
.
Hay Hay Hay, JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR YA🤗🤗