
"Kemarilah, kakak dan Amira sedang merencanakan launching produk kecantikan berupa satu set krim perawatan kulit yang ramah ibu hamil, dan akan dipadukan dengan peluncuran aplikasi konsultasi kecantikan seperti jam tangan kesehatan ini!" Ucap Dea menunjukkan jam tangan kesehatan milik perusahaan suaminya yang telah dirilis beberapa Minggu lalu.
"Wahh ide yang bagus, tapi bukankah pasarnya terlalu sempit? Jika hanya untuk Ibu hamil bukankah orang-orang akan merasa produk ini tidak terlalu besar?" Tanya Lucy.
Dea tersenyum sambil menepuk lengan Lucy," justru, ketika produk ini ramah untuk ibu hamil, kan semakin aman dipakai oleh semua kalangan, dari remaja hingga orangtua terutama yang memiliki masalah kulit sensitif!" Ucap Dea.
"Ramah untuk Ibu hamil sebenarnya hanya cara untuk mendapatkan perhatian pasar, sejujurnya pasar produk ini sendiri lebih luas dari yang kamu pikirkan!" Tambah Amira.
Lucy menatap kedua perempuan itu. Beberapa hari ini dia sering berbincang dan bercerita dengan keduanya. Lucy menyadari kalau Dea dan Amira sangat cerdas, berbeda dari kebanyakan wanita di luar sana.
"wahh.. kalian membuatku takjub! Aku yakin produk ini akan berhasil!" Ucap Lucy sambil tersenyum sumringah.
"Tentu saja akan berhasil, yang mengerjakan adalah kakakku!" Suara Dyroth terdengar begitu ceria. Dia menghampiri mereka sambil membawakan buah cempedak yang diidamkan oleh Dea, juga Semangka kuning yang diinginkan Amira.
"Ini makanannya!" Ucap Dyroth.
Kedua wanita hamil itu tersenyum dengan wajah berbinar-binar,"terimakasih Dyroth!! Kau sangat mengerti keinginan kakak!" Seru Dea sambil tersenyum sumringah.
"Terimakasih Dyroth, maaf merepotkan mu!" Ucap Amira.
Dyroth tersenyum lalu melirik susu dan cemilan yang disiapkan oleh Lucy," kenapa minum susu sekarang? Susu itu untuk malam dn pagi saja, siapa yang menyiapkan ini!? Sungguh tidak tahu apa apa!" Ucap Dyroth.
"Itu... biar kami meminumnya!" Ucap Dea seraya melirik Lucy yang berwajah kecut.
"Aku yang siapkan, bukan waktunya ya?" Ucap Lucy dengan suara sendu.
"Maaf, akan ku buang saja! Aku memang tidak tau apa apa!" Ucap Lucy dengan wajah cemberut dan langsung mengambil nampan itu lalu pergi dari sana.
"Ehh Lucy, biar kakak minum, kamu sudah menyiapkannya!!" Ucap Dea.
" Biar kami minum Lucy, tak apa apa!" Tambah Amira.
Lucy mengulum bibirnya, dia sangat sedih karen sampai sekarang tak mengerti kebutuhan kakak kakaknya. Ingin membantu tapi malah mengacaukan jadwal yang sudah diatur unik kedua ibu hamil itu.
" Heheh... Nggak apa apa kak, biar Lucy yang minum!" Ucap gadis itu sambil meneguk susu itu dan memakan cemilannya dengan lahap sambil menahan air matanya.
"Lu..Lucy..." Dea terkejut demikian Amira.
"heheh, kak Lucy kembali ke perusahaan dulu ya, ada syuting hari ini, besok aku kembali!!" Ucap gadis itu sambil melambaikan tangannya lalu pergi dari sana sambil menangis.
Dea dan Amira terkejut bukan main.
"Sekarang kita butuh seseorang bermulut pedas untuk bertanggungjawab atas masalah ini!!" Kesal Dea sambil menatap tajam Dyroth yang malah duduk santai seolah tak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Dyroth!?" Panggil Dea.
"Hmm...apa kak? Coba cempedak ini sangat enak!" Ucap Dyroth sambil tersenyum.
"Dasar pembuat onar, sana kejar Lucy!!!" Hardik Dea dengan wajah kesal.
"Ehh... A.. apa aku salah bicara!?" Tanya Dyroth.
" Tentu saja salah, Sana kejar dia, dia sedang menangis karena kata katamu!!" Ucap Amira.
Dyroth terkejut, bukan maksudnya membuat Lucy menangis,"dasar si cengeng itu, hah... Merepotkan!" Ketus Dyroth.
"PERGI SEKARANG DYROTH!!" Senggak Dea dan Amira serentak.
" Ba.. baiklah, dasar duo kuntilanak cerewet!!" Balas Dyroth sambil berlari mengejar Lucy.
Dea dan Amira tertawa cekikikan melihat kedua sejoli itu.
"Dea, sepertinya Dyroth menyukai Lucy," ucap Amira sambil tertawa.
Dea membalas dengan anggukan kepala," kau benar! sepertinya dia menyukai Lucy, kau lihat wajah tengilnya itu saat menatap Lucy tadi, berbinar binar!" ucap Dea.
"Dia ini tipe lain di mulut lain di hati, kasihan Lucy," balas Amira.
Langkah kaki Lucy semakin cepat, dia berjalan menuju dapur lalu meletakkan nampan itu di sana begitu saja.
Masih menangis, gadis muda itu berjalan tergesa gesa menuju bangsal di mana dia tinggal.
Dia menghubungi manajernya," Kak Olivia jemput aku di mansion Tulip! aku ingin keluar!!" ucap Lucy sambil mengusap air matanya.
Gadis itu masuk ke dalam bangsal tanpa tahu kalau ada Dyroth yang mengikutinya sejak tadi.
Dyroth berdiri di sisi bangunan bangsal seraya melirik ke arah bangsal yang ditempati Lucy.
" Dia menangis hanya karena hal kecil itu? dasar cengeng!" batin Dyroth.
Di dalam kamarnya, Lucy mengganti pakaiannya, tentu saja ketika dia keluar dia akan menggunakan identitasnya sebagai seorang aktris ternama. Penampilan adalah yang terpenting bagi pekerjaannya.
Lucy merias dirinya tapi tak menggunakan make up karena dia masih tak berhenti menangis.
" Kenapa aku bodoh ? sampai sekarang tak paham keinginan kakak ipar, arkhhh apa kata kakak ipar nanti kalau aku bodoh begini!?" Lucy merutuki dirinya sendiri.
Hanya karena masalah kecil itu dia sampai menangis sedih.
__ADS_1
Lucy keluar dari bangsal begitu menerim panggilan dari manajernya yang sudah tiba di depan mansion itu.
Lucy keluar dengan kacamata hitam, syal, cardigan dan masker menutupi wajahnya.
Dia bergegas sambil membawa beberapa barang yang dia butuhkan untuk syuting nanti.
Lucy tampak kerepotan dengan semua barang-barang itu. Meski dia artis besar, Lucy punya kebiasaan menyiapkan barang pribadinya sendiri.
Lucy berjalan tergesa-gesa hingga tiba-tiba..
"jangan sok kuat, minta bantuan kalah berat!" Dyroth menyambar paper bag dn tas yang dibawa oleh Lucy, membuat gadis itu langsung menoleh heran ke arah Dyroth.
"Ka.. kau!!" Lucy terkejut.
Dyroth menatapnya sambil tersenyum," Aku sudah berjanji pada kakak untuk menjagamu, ini bentuk tanggungjawab nona!" balas Dyroth sambil tersenyum licik lalu melangkah dengan cepat sembari menarik tangan Lucy.
" Lepaskan aku, dasar manusi kaku!!" ketus Lucy.
" Diamlah, atau ku cium!?" Dyroth tiba tiba menunduk dan mendekat ke wajah Lucy, hampir saja wajah mereka bersentuhan.
Lucy dan Dyroth terdiam membisu dengan kedua netra yang saling menatap satu sama lain.
Dyroth menatap mata Lucy yang menurutnya sangat indah dan tenang sampai membuat jantungnya berdebar kencang. Dia menatap kedua netra itu dengan lembut.
Keduanya berada dalam posisi ambigu itu untuk beberapa detik. Seolah waktu berputar dengan lambat, alunan detak jantung mereka semakin tak terkendali.
Lucy yang ditatap malah jadi salah tingkah, sampa tak tahu harus berbuat apa.
Tiba tiba.
"Apa yang sedang kau pikirkan nona kecil!" celetuk Dyroth seraya mencubit gemas pipi gadis itu.
"eh... emm...a... aku!" Lucy tampak gugup.
" Ayo cepat berangkat, aku akan menemanimu!" ucap Dyroth sambil melangkah menjauh dengan senyuman sumringah di wajahnya.
" Hampir saja aku menciumnya, menggemaskan sekali!" batin Dyroth berteriak kegirangan.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 🤗