Romansa Sagara Dea

Romansa Sagara Dea
Romansa Sagara Dea 130


__ADS_3

Grup Sagara tampak melakukan aktivitas mereka dengan normal. Seluruh divisi bekerja dengan baik sesuai pekerjaan mereka.


Bukti dari campur tangan Adam dan Dea di perusahaan itu terlihat nyata. Mulai dari pemberlakukan jam kerja, wilayah kerja tiap departemen, pengaturan waktu dan pembagian bonus lembut diatur begitu rapi hingga suasana kerja menjadi menyenangkan.


Kembalinya Sagara ke perusahaan juga adalah kabar baik bagi para karyawan. Pengambilalihan secara resmi dari Adam telah dilaksanakan secara formal di hadapan seluruh karyawan beberapa hari yang lalu..


Ada pertemuan dan ada perpisahan, seluruh karyawan begitu mengapresiasi kinerja Adam selama ini, banyak yang memuji prestasi dan pencapaian besar Adam selama enam tahun belakangan terutama dalam pemasaran gelang kesehatan digital yang menjadi salah satu produk unggulan perusahaan itu.


Kini bos sesungguhnya memimpin perusahaan, tentu saja ada penyesuaian namun bagi Sagara hal itu cukup mudah ditangani.


" Selamat datang tuan, nyonya, " sambut Sekretaris Lin di depan perusahaan bersama para penjaga.


Sagara dan Dea berjalan berdampingan memasuki gedung pencakar langit itu.


Sagara tak lagi menggunakan eskalator, pria itu telah sembuh dari traumanya dan dapat menggunakan lift untuk mempercepat pekerjaannya.


"Sayang aku ke ruanganku ya," ucap Dea mengantarkan suaminya menuju lift Presdir.


" Apa kita tidak bisa satu ruangan saja?" ucap Sagara dengan wajah cemberut.


Dea terkekeh, dia menangkupkan kedua tangannya di wajah Sagara," Jangan manja, sudah sana pergi, pekerjaan kita banyak!" ucap Dea.


Sagara tersenyum manis," baiklah nyonya bos, sampai jumpa nanti!" ucap Sagara sambil mengecup kening istrinya lalu masuk ke dalam lift.


Dea melambaikan tangannya, setelah lift tertutup wanita itu melangkah menuju lobi perusahaan dan disambut oleh Ruka dan Anna.


" Nyonya, tuan Frederick sudah menunggu anda di ruang rapat," ucap Anna sambil memberikan dokumen rapat untuk proyek kerjasama berikutnya.


Dea menggenggam dokumen itu dengan erat. Bibirnya tersenyum tipis sambil menatap benda itu.


" Baiklah, ayo kita temui!" ucapnya dengan nada ceria. Dea berjalan dengan riang menuju ruang rapat yang berada di lantai satu.


Suasana hati Dea yang penuh semangat tampaknya malah membuat Anna dan Ruka mendelik heran.


"Nyonya kenapa? Tidak biasanya!?" bisik Anna.


" Aku juga tidak tahu, " balas Ruka.


Keduanya berjalan di belakang Dea sambil menatap heran pada wanita itu. Pasalnya, setiap kali mendengar nama Frederick, biasanya Dea akan memasang wajah masam. Tapi hari ini wanita itu tampak sangat gembira.


Dea melangkah dengan cepat memasuki ruangan rapat. Tampak seorang pria dan sekretaris nya serta seorang wanita cantik berambut ikal duduk dengan angkuh di samping Pria yang kerap disapa tuan Frederick itu.


" Hay Fred!" sapa Dea sambil melambaikan tangan nya dan tersenyum.


Seketika Frederick maupun rekan rekannya terdiam dengan wajah terkejut. Sejak kapan Dea menyambut mereka seramah itu? Mengingat hubungan mereka sebenarnya adalah saingan bisnis yang terpaksa bekerja sama demi salah satu klien mereka.


Dea tersenyum," Kenapa? Apa ada yang salah!?" ucap Dea sambil mendaratkan tubuhnya di atas kursi.


Dia tersenyum manis bahkan sangat cantik sampai membuat ketiga orang itu terdiam.

__ADS_1


" Tuan Frederick? Bisa kita mulai!?" tanya Dea seraya mengetuk mejanya.


" Eh.. Ekhmm.. Ekhmm.. Ba.. Baiklah, aku hampir tidak mengenalimu Dea, kau makan apa sampai memasang wajah menyebalkan itu!?' ketus Frederick sambil menatap sinis ke arah perempuan yang terus menjadi lawan debatnya itu.


"Kita bahas rapat atau soal ekspresi ku!?' ketus wanita itu.


Frederick memutar malas kedua bola matanya," Rapat di mulai!"ucapnya dengan ketus.


Meski Frederick dan Dea kerap kali berdebat, tetapi kerja sama mereka yang terbaik dibandingkan dengan semua kolega yang pernah berhubungan dengan Dea.


" Bukan Frederick! Tapi wanita di sisinya ini mengganggu mataku!" batin Dea.


Wanita itu diam diam menyeleksi pelaku dibalik kejadian aneh itu. Salah satu yang dia curigai adalah Frederick, untuk memastikan dia sengaja memanggil pria itu ke perusahaan.


Frederick adalah perancang busana muda yang sudah berkiprah di kancah internasional. Karya karyanya bersanding dengan karya designer terkenal.


Kali ini dia merambat ke ranah kosmetik, dan atas permintaan klien besar, dia dan Dea harus bekerja sama untuk membuat konsep mereka berjalan lancar.


Selama rapat terlaksana, wanita berambut ikal itu hanya duduk, menghela nafas berat, mengeluh bahkan mengomentari hal yang tidak perlu dia komentari sampai membuat telinga Dea dan Frederick sendiri menjadi panas.


" kenapa perusahaan ini miskin sekali, tempat duduknya tidak nyaman!" kesal gadis bernama Ovi itu.


Dea menatap Frederick demikian pria itu," siapa ondel-ondel tepung kanji itu!?" ketus Dea.


" cih... Tunanganku!! tunangan yang dipaksakan, aku jug tidak mau membawanya, entah apa maksudnya mencampuri urusanku!" balas Frederick dengan nada ketus.


" Pffthh... hahhahaha.... Kau dijodohkan dengan ondel ondel, maka kau akan jadi lupis hijau hahahah.... Sama sama melempem!!" celetuk Dea sambil tertawa cekikikan mengejek Frederick.


"Kerja sama diperpanjang tiga bulan!!" ucap Dea sambil tersenyum.


Frederick menghela nafas," Selama kau berhasil!" ucap Frederick.


Dea tersenyum,lalu tiba-tiba.


Brak!!


Wanita itu menggebrak meja.


" Arkhhh!!!"


Seisi ruangan terkejut bukan main terlebih gadis sombong itu. Dia sampai syok saat mendengar suara pukulan Dea di atas meja.


" Si.. Sialan, kau mengejutkan ku!!! " pekik Gadis itu sambil bangkit berdiri dan menatap tajam ke arah Dea.


" Apa apaan kau dasar perempuan murahan!!!!" pekik gadis itu lagi.


Dea menatapnya sambil tersenyum sinis,"Apa dia biasanya seperti ini?" tanya Dea.


Frederick menatap Dea heran," Aku mana tahu, tapi saat kami bertemu dia sangat kalem, " bisik Frederick.

__ADS_1


Dea terdiam, "apa mungkin dia selanjutnya!?" batin Dea.


" Keluar kau dari ruangan ini!!" ucap Dea dengan nada kesal.


"Apa apaan kau, beraninya kau menyuruhku keluar!? Aku tamu di sini dasar perempuan sialan!!" pekik Ovi histeris.


Frederick, sekretaris nya bahkan semua yang ada di sana terdiam dengan wajah terkejut saat mendengar kata kata kasar Ovi.


" KELUAR!!" Tegas Dea.


" Aku tidak mau!!! Arkkhhh sialan, apa maumu hah!? Kalau aku tidak mau keluar kenapa!!? dasar sok cantik!!!" pekik Ovi histeris.


Ternyata apa yang Dea lakukan berhasil memancing gadis itu. Benar saja, perilakunya aneh, dia seperti dikendalikan oleh seseorang, wajahnya yang tadinya segar tiba tiba berubah menjadi pucat.


Dea terdiam menatap perempuan itu, namun dia tak hanya mengamati perilaku perempuan itu, tetapi juga mengamati reaksi orang-orang di sekitar mereka.


" Cepat keluar!" Dea berjalan mendekati Ovi dan menarik paksa perempuan itu.


" Lepaskan aku!!"


Plak!!!


Satu tamparan mendarat di wajah Dea sampai membuat wajah wanita itu memar.


" Ka.. Kau!! Beraninya kah memukul nyonya!!" pekik Ruka sambil menarik tangan Ovi.


Namun Ovi malah melakukan perlawanan yang mengejutkan.


Dea menatap seluruh tempat itu, "Aku harus menyeretnya keluar!" batin Dea.


Dengan cepat Dea bergerak, dia menarik tangan Ovi keluar dari ruang rapat menuju lobi dan...


Brukk!!


Dia mendorong Ovi ke tengah tengah lobi.


" Arrkhhh!!!!! Siaaalaaann... Apa yang kau lakukan, ka menyakiti aku!!!!" pekik Ovi seolah oleh dia telah kenangan kedua tangan dan kakinya.


Semua orang menjadi heboh. Di saat seperti ini, Dea menatap ke sana kemari, menandai beberapa orang mencurigakan yang berperilaku aneh terhadap kejadian itu.


Dea melirik Anna dan Ruka, tampak Ruka begitu khawatir tetapi ada yang aneh dengan Anna.


" Anna!? Apa dia...." Dea terdiam membisu, tidak menyangka apa yang baru saja dia telah temukan!


.


.


.

__ADS_1


Like, vote dan komen 🤗


__ADS_2